
.
.
.
Ruvelis menunggu dengan cemas didepan pintu ruang operasi, sudah 7 jam…kenapa tidak ada tanda-tanda operasi akan selesai? Ya tuhan…apa putrinya baik-baik saja? Apa George berhasil menyelamatkan putrinya? Ya tuhan…tolong selamatkan putrinya.
Lampu ruang operasi mati membuat semua orang seketika berdiri, dan beberapa saat kemudian George keluar sembari membuka maskernya.
“Bagaimana? Bagaimana kondisi Nara?” tanya Ruvelis dengan spontan.
“Tingkat kesadarannya 10%, maaf…dengan ini…aku menyatakan putrimu mengalami koma”
Ruvelis seketika itu juga kehilangan kesadarannya, George yang panik langsung membawa tubuh Ruvelis ke UGD dibantu oleh Deon. Tuan dan Nyonya besar Alexandra menangis pilu melihat kondisi cucu mereka yang tidak baik-baik saja. Mereka akan melakukan apapun bahkan mereka akan mengorbankan apapun asalkan cucu mereka bisa sembuh.
Tak berselang lama brangkar Selena didorong keluar dari ruang operasi oleh beberapa suster. Tubuh kecil yang dihiasi selang-selang ditubuhnya bahkan kepala kecil itu tertutup oleh perban sekarang.
Tak berselang lama disusul keluarnya Jenssica dari ruang operasi dengan wajah pucatnya. Wanita itu tampak linglung membuat Nyonya Leonardo dengan spontan langsung berlari memeluk putrinya.
“Sabar ya sayang…Nara pasti baik-baik saja”
Jenssica tak menyahuti ucapan Mamanya, pandangannya mulai kabur…dan disaat itu juga tubuh Jenssica ikut tumbang.
.
.
.
Ruvelis membuka matanya dengan terkejut dan segera bangun sembari menatap kesekeliling. Ia…dirawat? Lalu…di mana putrinya sekarang?! Di mana ruangan putrinya?.
Ruvelis melepaskan infus yang melekat ditangannya dan segera keluar dari ruangan itu. Matanya dengan gelisah mencari di mana sekiranya putrinya dirawat.
“Jenderal besar? Kenapa anda keluar? Anda harus istirahat, tubuh anda masih lemah” ucap Jenderal Asahi sembari menopang tubuh Ruvelis yang hampir ambruk.
“Putriku…di mana dia?”
“Nona kecil masih berada di PICU bersama dengan Tuan George, saya akan memanggil dokter Micle untuk anda”
Ruvelis menyingkirkan tangan Asahi dan segera berlari menuju PICU. Saat sudah berada di PICU Ruvelis segera masuk walaupun ia sudah dicegah oleh suster agar tidak masuk.
“Kau sudah sadar?! Bagaimana keadaanmu?” ucap George yang terkejut melihat sahabatnya. Ruvelis sudah tidak sadarkan diri selama 1 bulan lamanya.
“Bagaimana dengan putriku? Apa dia baik-baik saja?”
“Masih belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Kau masih lemah, kenapa kemari? Aku akan mengantarkanmu ke kamarmu. Dan Jenssica akan datang membawakan makananmu”
“Jangan memerintahku George!”
Ruvelis mengampiri putrinya, ia menggenggam tangan putrinya lalu menciumnya.
“Nara…sayang…Nara bisa dengar Papa sayang? Nara…sayang…bangun ya…Papa rindu Nara…Papa sangat merindukan Nara” lirih Ruvelis, ia tak bisa tenang…ia benar-benar tidak bisa tenang sedikitpun. Selama ia tidak sadar bayangan putrinya pergi meninggalkannya benar-benar terasa sebuah kenyataan.
George terkejut melihat detak jantung Selena di mesin elektrokardiogram. Dengan spontan ia langsung memeriksa denyut nadi keponakannya.
“Detak jantungnya mulai normal! Tingkat kesadaran 35%! Ruvelis, terus ajak putrimu bicara!” ucap George dengan wajah senangnya. Ya tuhan…ini sebuah keajiban!!.
“Nara! Nara, Nara bisa dengar Papa sayang?! Nara…Nara jangan takut lagi…Papa disini, Papa tidak akan meninggalkan Nara sendirian lagi…bangun ya sayang…Papa rindu Nara” ucap Ruvelis sembari mencium sudut mata putrinya.
“Ciara!! Micle!!”
Mendengar nama mereka disebut Micle dan Ciara langsung masuk kedalam PICU. Ciara menatap tak percaya melihat detak jantung Nona kecilnya yang sudah mulai stabil.
“Tingkat kesadaran 40%! Kerja bagus Ruvelis!” ucap George. Jika tau detak jantung keponakannya akan cepat stabil dengan adanya Ruvelis disisi Selena ia akan menguyur wajah Ruvelis dengan air disaat pria itu pingsan 1 bulan yang lalu agar segera sadar.
Ruvelis tersenyuh melihat air mata keluar dari sudut mata putrinya. Dengan lembut Ruvelis mencium pelipis mata itu. tak berselang lama hembusan nafas berat serta rintihan terdengar keluar dari bibir Selena, Ruvelis, George, Micle dan Ciara pun ikut senang melihat hal itu! Ruvelis kembali meneteskan air matanya, putrinya kembali…pelanginya kembali ke pelukannya.
“Sayang…jika Nara membuka mata Nara…Papa janji, setelah Nara sembuh…Papa akan turuti semua permintaan Nara”
.
.
.
Ruvelis tak henti-hentinya mengucap syukur sembari mengusap air matanya karena putrinya sudah bisa di pindahkan keruangan VVIP. Putrinya tak lagi berada di PICU, namun ia tidak akan bisa benar-benar lega karena putrinya belum sadarkan diri.
“Tingkat kesadaran 78%, aku yakin…jika kondisinya meningkat aku jamin 2 hari lagi dia akan sadar, Selamat untukmu”
Ruvelis langsung berdiri dan memeluk sahabatnya dengan erat. George hanya bisa tersenyum dan membalas pelukan Ruvelis dengan beberapa tepukan punggung.
“Sudah, jangan menangis lagi. Bagaimana bisa seorang Jenderal besar sepertimu menangis seperti anak kecil seperti ini?”
Ruvelis melepas pelukannya, ia menatap tubuh putrinya dari jendela. Ia menyentuh kaca jendela itu dengan air mata yang kembali menetes.
“Nara anak yang kuat…Papa yakin Nara bisa bertahan…”
“Teruslah berdo’a, aku yakin putrimu akan segera sadar. Jenderal muda Nara tidak mungkin lemah” hibur George.
“Benar…putriku anak yang hebat…aku yakin dia akan segera sadar…”
Hendrick yang datang dengan nafas tersengal-sengal langsung menghampiri Ruvelis dan George. Ruvelis menghapus air matanya dan bertanya mengenai kedatangan Hendrick yang secara tiba-tiba.
“Wanita-wanita itu terus menangis membuat kepalaku sakit! Segera urus mereka! Tubuhku gatal-gatal karena mereka terus memohon ampun kepadaku” ucap Hendrick.
“Kau benar…sudah waktunya memberikan wanita-wanita itu pelajaran”
Ruvelis memakai coat hitamnya dan segera pergi bersama dengan Hendrick. Hendrick mengantar Ruvelis ke markas tempat di mana tawanan baru disekap. Saat sudah sampai di tujuan Ruvelis segera turun dari mobil dan masuk.
Saat pintu terbuka Ruvelis langsung menatap wanita-wanota yang tengah diikat dan menangis sesegukan meminta ampunan sembari berlutut dihadapan Jennifer agar dilepaskan.
“Kau akhirnya datang, Ruvelis”
“Kau menunggu lama?”
__ADS_1
“Tidak juga” jawab Jennifer.
“Jenderal besar! Tolong ampuni kami!! Kami memohon belas kasih anda!!!” wanita-wanita itu berteriak dengan frustasi. Ini tempat yang gila! Benar-benar gila!.
“Bagaimana keadaan keponakanku? Apakah dia sudah baik-baik saja?”
“Tingkat kesadarannya sangat baik, George bilang lusa Nara akan sadar”
“Baguslah, aku benar-benar lega” ucap Jennifer sembari tersenyum lembut.
Mata Ruvelis kembali fokus kepada wanita-wanita itu, hanya 5 jam disini sudah tidak tahan kah? Pasti saat disini Jennifer sudah banyak memberikan pelajaran kepada mereka.
“Kabar baik untuk kalian, karena putriku akan segera sadar. Hukuman mati untuk kalian dibatalkan”
“APA?! Apa kau sudah gila Ruvelis?!” tanya Hendrick dan Jennifer bersamaan.
“Terima kasih!! Terima kasih Jenderal besar!!”
“Aku belum selesai bicara. Dan sebagai gantinya…Hendrick! Kirim mereka ketempat pelacuran, mereka tidak boleh bebas sebelum aku yang membebaskan mereka”
Blarrrrrrr!!!
Bagai tersambar petir disiang bolong. Wanita-wanita itu langsung membeku mendengar ucapan Ruvelis. Me-mereka akan dikirim ke tempat pelacuran?! Itu bahkan lebih buruk dari sebuah kematian!!.
“Tidak!! Tolong ampuni kami Jenderal besar!! Kami bersalah!!”
“Keputusanku sudah bulat, besok kirim mereka” ucap Ruvelis.
Hendrick dan Jennifer sama-sama menelan ludah dengan kasar. Sudah mereka duga, tidak mungkin Ruvelis mau membebaskan orang yang sudah menyakiti putrinya begitu saja. Dulu semua orang yang berani mengusik Ruvelis akan langsung dihukum mati tanpa ada hukuman pengganti. Tapi sepertinya lebih baik dihukum mati daripada dikirim ketempat pelacuran seumur hidup.
Drttttt drttttttt…
Ruvelis dengan spontan mengeluarkan ponselnya, perasaannya mulai tak karuan pasalnya yang menelfon adalah George. Apa sesuatu terjadi kepada putrinya?!.
“Ruvelis!! Cepat datang ke rumah sakit!! Putrimu-”
Degh!!
Tut…
Ruvelis segera mematikan telfonnya dan bergegas masuk kedalam mobil Hendrick dan langsung menuju rumah sakit. Saat sampai dirumah sakit ia mantap perawat-perawat yang menangis. Pikirannya semakin kalut, ia langsung masuk kedalam lift dan menuju lantai tempat di mana putrinya dirawat.
Tubuh Ruvelis langsung lemas melihat keluarga besarnya tengah menangis sesegukan. Tanpa berlama-lama Ruvelis langsung membuka pintu ruang rawat putrinya.
Ruvelis tak mampu berkata-kata lagi ketika melihat putrinya tengah terbaring dengan tatapan yang tertuju kepadanya. Ia tidak sedang bermimpi bukan? Jika ini hanyalah mimpi, ia tak ingin terbangun selamanya.
“Na-ra…Na-nara…”
Ruvelis langsung berlari memeluk putrinya. George ikut terharu melihat reaksi Ruvelis, ia tak bisa membayangkan batapa bahagianya pria itu saat ini.
“Nara…Nara…hiks…Papa benar-benar takut sayang…” ucap Ruvelis sembari menangis sesegukan memeluk putrinya..
“Sayang…mana yang sakit? Katakan kepada Papa sayang…”
“Sakit sekali ya sayang? Sabar ya…nanti juga hilang sakitnya” ucap George sembari tersenyum lembut. Ia mengerti apa yang sedang keponakannya ingin sampaikan, gadis itu pasti merasa sakit yang amat dibagian kepalanya.
Perlahan mata indah itu kembali tertutup, Ruvelis kembali menatap putrinya dan spontan menatap kearah George.
“Tak pa…itu hanya efek obat tidur…jangan terlalu khawatir. Ayo keluar dulu, kau tidak makan dengan baik karena menjaga Nara”
“Tidak, aku ingin disini. Aku ingin menemani putriku”
“Ada yang ingin kubicarakn juga, ayo”
Mendengar hal itu Ruvelis langsung menganggukkan kepalanya, dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dan keluar bersama dengan George.
“Bicaralah” ucap Ruvelis sembari menarik istrinya kedalam pelukannya. Jenssica menangis bahagia dipelukan suaminya, akhirnya putrinya sadar. Tubuhnya terasa mati saat George tiba-tiba mengatakan bahwa detak jantung putrinya mulai melemah.
“Putrimu mengalami pukulan kuat dikepala bagian belakangnya. Kepala bagian belakang adalah tempat yang sangat rawan, kau melihat hasil X-Raynya sendiri bahwa terjadi keretakan serius dikepala bagian belakangnya bukan?”
“Jangan berbelit-belit George, katakan intinya” ucap Ruvelis.
“Karena hal itu, putrimu mengalami kelumpuhan total Ruvelis”
Ucapan George langsung membekukan semua orang yang berada disana terutama Ruvelis. Tubuh pria itu seketika goyah, Jenssica dengan spontan langsung memeluk suaminya. Jangankan suaminya, ia sendiri saya syock ketika mengetahui hal ini.
“Dengan pukulan yang membuat kepala bagian belakangnya retak, putrimu mengalami lumpuh total. Tapi kabar baik, ini bukanlah kelumpuhan permanen”
“Benarkah!?” tanya Tuan Alexandra.
“Benar Paman, cucu anda bisa pulih seiring berkembangnya waktu. Dia akan menjalani perawatannya dirumah sakit. Dan…Ruvelis…ada yang ingin kusampaikan kepadamu, bahwa putrimu kemungkinan besar…kehilangan sebagaian memorinya. Tapi sebuah keajaiban Ruvelis, selain kelumpuhan dan kehilangan memori tidak ada masalah lain ditubuh putrimu. Organ-organ tubuhnya yang lain masih bekerja dengan baik.”
“Itu tak masalah, asalkan putriku bisa tubuh dengan sehat. Itu sudah cukup untukku, terima kasih…terima kasih untuk bantuanmu” ucap Ruvelis sembari tersenyum lembut.
“Sama-sama, aku sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri” jawab George.
Ruvelis memeluk erat istrinya, untunglah pelanginya berhasil kembali kedalam pelukannya. Terima kasih tuhan…dikehidupan ke-2 putrinya ia akan berusaha lebih baik lagi untuk menjaganya.
.
.
.
.
Ruvelis tertidur lelap sembari memeluk tubuh kecil putrinya. Jenssica yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Tubuh dan hatinya seketika terasa mati saat putrinya mengalami koma dan suaminya mengalami kritis. Namun ia beruntung, kedua malaikatnya tidak pergi meninggalkannya sendirian.
“Cepat sembuh ya sayang…Mama sayang Nara…”
“Ranjang ini terlalu kecil, besok minta orang untuk menganti ranjang ini dengan tempat tidur” ucap Tuan Alexandra.
“Baik Tuan…”
“Kenapa tidur disini? Nanti kalau ada selang yang tercabut bagaimana?” ucap Rey yang datang bersama dengan Bei.
__ADS_1
*Rey (Ayah Joe)
“Rey? Kapan sampainya?” tanya George.
“Baru saja, kenapa baru memberitauku tentang keadaan Nara? Kau tak tau betapa khawatirnya aku saat Hendrick memberitauku tadi”
“Maaf…kami benar-benar panik. Tapi kau tak perlu khawatir, keadaan calon menantu keluarga kita sudah baik-baik saja” jawab George sembari tersenyum.
“Beraninya kalian membahas itu saat aku ada disini…”
Rey dan George seketika memucat mendengar suara dingin Alexa. Duhhhh…kenapa bisa lupa jika Paman muda satu itu ada disini?.
“Hehe…kami hanya bercanda Alexa…jangan terlalu dibawa serius”
“Tapi aku tidak menemukan unsur bercanda didalam ucapanmu tadi George”
“Jangan bertengkar disini, Ruvelis baru saja tertidur. Nanti kalau terbangun kalian sendiri yang menerima akibatnya” Nyonya Alexandra berkata sembari memijat pelipis matanya melihat tingkah anak dan keponakannya. Dan juga apa Alexa belum jera melihat kemarahan putra sulungnya jika terusik dari tidurnya?.
Alexa membuang wajahnya tak mau melihat George. Rey menatap sekeliling, ada yang hilang…di mana Rafindra? Di mana pria itu? Tumben sekali tidak berada di samping Ruvelis, pria itu biasanya berada 24 jam di samping Ruvelis. Oh bukan Ruvelis, Nara yang ia maksud, karena semenjak Nara lahir pria itu dibebas tugaskan dari sisi Ruvelis dan beralih profesi menjadi Baby sister untuk Nara.
“Di mana Rafindra?”
“Dia sedang di ICU untuk masa pemulihan, apa Hendrick tidak menceritakannya kepadamu?”
“Tidak, Hendrick hanya bilang jika Nara koma”
“Panjang ceritanya, nanti minta Ruvelis yang menjawabnya”
George berdiri dan mendekati Selena, pria itu dengan sangat hati-hati membenarkan posisi tidur Selena agar selang tidak tercabut saat ia tiba-tiba lengah nanti.
“Shttttt…anak baik…” ucap George sembari membelai lembut bahu Selena membuat gadis kecil itu kembali terlelap dengan damainya.
“Kenapa kepalanya sampai diperban seperti itu?” tanya Rey.
“Kepala bagian belakangnya mengalami keretakan serius, dan itu membuatnya akan mengalami lumpuh total sementara”
Degh!!
Tubuh Rey seketika goyah mendengar jawaban George. A-apa? Keretakan serius dikepala bagian belakang?! Itu adalah daerah yang sangat rawan!! Bagaimana bisa Nara terluka dibagian itu?!.
“Jika ingin bertanya nanti saja, sekarang ayo keluar, biarkan mereka istirahat”
Rey dan lainnya mengangguk, mereka keluar membiarkan Jenssica yang menemani Ruvelis dan Selena. Jenssica dengan lembut membelai wajah rupawan suami serta anaknya.
“Hmmmm…Jenssica…ada apa?” ucap Ruvelis membuka matanya dengan perlahan, saat pria itu hendak bangkit Jenssica mencegahnya. Mata Ruvelis bergulir menatap putrinya yang tengah tidur. Untung saja putrinya tidak terbangun.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya bersyukur kalian tidak pergi dariku”
“Kenapa bilang begitu? Pasti terlalu memikirkan kondisi Nara saat ini ya?”
“Iya…aku takut…aku sangat takut…” ucap Jenssica mulai mengeluarkan air matanya. Dengan tangan kiri yang bebas Ruvelis mengusap air mata istrinya.
“Jangan takut…aku yakin Nara akan sembuh…aku yakin Nara akan tumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lainnya. Aku berjanji akan membuat Nara sembuh…aku berjanji kepadamu…”
“Kau adalah pria yang selalu menepati janjimu…aku percaya kepadamu…”
*****
Ruvelis meneteskan air matanya karena terharu melihat putrinya yang sudah bisa berjalan sendiri walaupun hanya beberapa langkah. Akhirnya…setelah 1 tahun pengobatan yang dilakukan George, putrinya bisa kembali berjalan.
“Papa!! Nara bisa jalan!!”
Ruvelis langsung menggendong putrinya menciumi wajah kecil putrinya dengan air mata yang terus menetes.
“Hebat…Nara memang anak yang hebat…” ucap Jenssica membelai kepala putrinya.
“Papa Mama!! Nara sudah bisa jalan!! Rambut Nara juga sudah tumbuh!! Nara benar-benar senang”
“Papa dan Mama juga sangat senang sayang, putri Mama memang anak yang hebat. Mama bangga dengan Nara”
“Tapi Papa…” ucap Selena dengan raut wajah yang seketika berubah sedih.
“Kenapa? Kenapa putri Papa jadi sedih begini?”
“Bekas lukanya pasti jelek…”
“Tidak…tidak akan membekas sayang, nanti Papa bawa Selena ke Jerman untuk menghilangkan bekas lukanya ya. Kebetulan ada teman Papa George disana”
“Apa itu benar Papa George?”
“Benar sayang”
“Yeyyyyy!! Nara bisa ketemu Leo!!!”
“Oh benar, Leo juga sedang belajar di Jerman” ucap George yang teringat putranya yang tengah dikirim ke Jerman untuk belajar.
.
.
.
Flashback Off
.
.
.
Note:
Hallo para Readers tersayang, mulai dari bab sebelumnya sampai seterusnya Thor akan Up 1 bab yang isinya 2100-2500 kata. Sebelumnya rata-rata 1000 kata per Chapter, jadi kalau semisal thor telat update tolong di maklumi ya. Tapi Thor akan usaha buat Up tepat waktu yaitu 1 minggu 2-3 Chapter (Yang seharusnya dihitung jadi 4-6 chapter) sesuai keinginan Thor yang mau tamatin sebelum lebaran (Kalo sebelum puasa Thor yang ketar-ketir).
See you next day semuanya...
__ADS_1