
"Aku memang lemah dimatamu, tapi jika kesabaranku telah habis jangan harap kau ada di dunia ini lagi. Camkan kata-kataku"
.
.
.
Selena tersenyum sinis melihat hanya tinggal 1 bodyguard yang belum tumbang melawannya. Dengan cepat ia mengeluarkan pisau dan menusuk dada bodyguard itu.
“Kukatakan kepadamu…aku adalah…putri tunggal Jenderal besar Ruvelis. Anak yang tidak pernah diduga kehadirannya”
Bodyguard itu tersenyum tipis sebelum ambruk dipelukan Selena. Selena dengan perlahan meletakkan tubuh itu di lantai.
“Saya tau itu…anda putri kesayangan Jenderal besar Ruvelis…saya tau itu, saya akan menjaga anak anda dengan baik…anda harus tetap hidup…dan mencari keadilan…terima kasih…suatu kehormatan bagi saya, untuk mati ditangan anda…jika saya masih diberi kesempatan hidup…saya akan mengabdikan hidup saya untuk anda…Jenderal muda Nara” pria itu berkata dengan lirih sebelum menutup matanya.
Air mata Selena jatuh mengenai pipi pria itu, ternyata pria ini tau siapa dirinya. Pantas, saat kejadian itu pria ini lebih memilih diam dan melihat. Selena menatap pria yang menusuk perutnya hari itu, diantara semuanya…pria itu yang pertama tumbang melawanannya.
Semua orang yang berada di kediaman megah itu gemetar ketahutan tanpa terkecuali. Bahkan Jansen dan William tak mampu berkata apapun. Ternyata gadis yang selama ini diremehkan keluarga Georgino, memiliki kemampuan hebat seperti ini.
Selena berdiri dan mengusap darah yang berada di pipinya.
“Keluarga Chu…jika saja Nona muda Yolanda tidak ikut campur, maka aku akan melepaskan kalian. Sayang saja, Yolanda ikut campur. Dan mulai besok…jangan harap dunia akan mengenal keluarga Chu lagi”
“Wanita breng*ek!!! Beraninya kau!!!!” Tuan Chu berteriak dengan geram.
“Selama kalian tidak ikut campur, aku tidak akan menghukum orang yang tidak mempunyai sangkut paut” ucap Selena sembari menatap para bodyguard yang tengah gemetar.
“Jansen, kenapa? Kau tak berani membentakku lagi? Oh…atau jangan-jangan…Paman Deon sudah mengancammu ya?”
Jansen diam tak berani mengatakan apapun. Jika ia salah bicara, maka semua orang yang ada disini akan tewas dengan mengenaskan. Ia benar-benar tak menyangka, istri kontrak sahabatnya adalah iblis mengerikan seperti ini.
“Kenapa kalian semua diam? Mental kalian langsung ciut berlawanan dengan gadis yang baru berusia 18 tahun?”
“A-apa yang kau inginkan?” ucap Stefen.
“Diantara kalian semua, siapa yang sudah memukul Mamaku?”
Ucapan Selena langsung membuat sekujur tubuh Yolanda gemetar hebat. Ia tak akan hidup jika sampai Selena tau bahwa ialah yang sudah membuat Jennifer seperti itu.
Selena tersenyum sinis melihat Yolanda yang gemetar ketahutan. Ternyata wanita itu…
Selena mencabut pisau yang menancap disalah satu mata bodyguard yang sudah tewas. Ia melemparkan pisau itu tepat mengenai mata sebelah kiri Yolanda. Yolanda kembali berteriak kesakitan. Jansen dan William langsung menutup mata mereka melihat itu, ternyata orang yang sudah membuat Yolanda kehilangan sebelah matanya adalah Selena.
“Wanita sial*n ini!!!!” geram Tuan Chu.
“Hmph, anda lebih baik diam Tuan. Jika anda tidak ingin bernasib sama dengan putri anda”
Selena mendekati Yolanda, ia mencabut pisau itu dengan kasar. Ia membuat goresan indah dileher jenjang Yolanda.
“Potong lidahmu, atau potong tangan kananmu” ucap Selena.
Yolanda tak bisa menahan rasa sakit yang ia dapatkan. Ia meraba tangan Selena, ia langsung mengores lehernya cukup dalam membuatnya langsung terkapar di lantai. Tuan Chu menatap tak percaya putrinya yang sudah tak bernyawa. Bagaimana bisa…gadis berusia 18 tahun bisa semenyeramkan ini?.
Selena menatap dingin Yolanda yang sudah tewas, akhirnya…orang yang sudah berani menyakiti Mamanya. Mati juga.
“Kau!!! Dasar wanita iblis!!! Aku tak akan sudi punya menantu sepertimu!” geram Yeni.
“Memangnya ada wanita yang sudi menjadi menantumu?” sinis Selena.
“Keluarga Chu dan keluarga Georgino diam-diam bertemu saat masih berada didalam hukuman Jenderal besar, tunggu saja ya…titah Jenderal besar selanjutnya”
__ADS_1
“Dan ya…untuk keluarga Chu, saya tunggu dipengadilan ya”
Selena membawa pergi pria yang sempat ambruk didalam pelukannya. Pria seperti ini…ia tidak boleh membiarkannya mati begitu saja.
Selena mengecek saku pria itu dan menemukan sebuah kunci mobil. Ia menekan kunci mobil itu membuat salah satu mobil berbunyi. Ia memasukkan pria itu kedalam mobil, walaupun kemampuan menyetirnya masih bisa dibilang buruk. Ia harus membawa pria ini kerumah sakit.
.
.
.
Selena terduduk tak berdaya dihadapan Leo, Daniel, dan Joe. Sudah 2 jam mereka ber-3 memberikan pencerahan tiada henti. Kakinya sudah keram terus berlutut.
Emerland dan suaminya tertawa lembut melihat wajah tak berdaya Selena yang benar-benar mirip dengan Jenssica. Siapa suruh kabur dan pulang-pulang membawa luka.
“Ughhhhh…Leo…kakiku sakit…” ucap Selena membuat Leo langsung menggendong istrinya dan mendudukannya diatas tempat tidur.
“Kalau aku bilang tidak boleh ya jangan dilakukan sayang, kau tau aku hampir mati jika kau tidak pulang malam itu juga”
“Kan aku sudah baik-baik saja…jangan marah lagi ya…please…” ucap Selena sembari mencium pipi suaminya.
Leo menghembuskan nafasnya, bagaimana ia bisa marah jika istrinya mengemaskan begini. Leo mencubit kedua pipi istrinya, siapa yang tidak panik jika Daniel bilang istrinya pulang membawa pria yang sudah sekarat.
“Kenapa bandel sekali hm?”
“Leo…apa pria itu baik-baik saja?” tanya Selena.
“Kau masih memikirkan pria lain saat ada aku disini?” kesal Leo.
“Aduh…jangan cemburu dong, Leo…dia sepertinya…salah satu tangan kanan Papa yang mengundurkan diri beberapa tahun lalu”
“Karena dia memanggilku, Jenderal muda Nara”
Leo mengerutkan keningnya. Tak banyak yang tau sebutan istrinya di kamp militer. Sepertinya benar apa yang baru saja diucapkan istrinya, itu adalah tangan kanan Ayah mertuanya yang mengundurkan diri beberapa tahun yang lalu tanpa alasan yang jelas.
“Dia baik-baik saja, tingkat kesadarannya perlahan mengalami kenaikan. Dan hari ini, kau sudah boleh pulang”
“Benarkah?!” tanya Selena senang.
“Kau sudah melakukan pembunuhan, itu menyakinkan Alex jika kau sudah baik-baik saja”
“Hehe…”
“Dan…lusa, aku akan masuk kamp militer. Tidak bisa diundur lagi”
“Apa?!!! Huwaaaa!!! Alex…buat aku sakit lagi!!!”
“Hei…jangan bicara seperti itu”
“Hiks…aku tidak mau kau pergi…”
“Apa kau mau aku dicap menantu kurang ajar oleh para Pamanmu huh?”
“Hiks…Paman memang kejam!! Mereka tidak menyayangiku lagi hiks…”
“Hei…jangan bicara begitu…sudah dong, jangan menangis lagi”
Selena memeluk erat suaminya, ia benar-benar tak rela jika harus ditinggal suaminya selama 3 tahun. Mereka tidak akan bisa saling berkomunikasi apalagi saling bertemu. Peraturan kamp 3, tidak semudah kamp 2. Kamp 3 memiliki peraturan yang lebih ketat daripada kamp lainnya.
“Hiks…benar-benar tidak bisa ditunda lagi?” ucap Selena.
__ADS_1
Leo memeluk erat istrinya, ia memberikan beberapa kecupan lembut di pipi istrinya. Jujur, ia juga tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian disini.
“Sayang….kau tau sendirikan, bagaimana kamp 3? Aku bisa-bisa tidak pulang jika mengundur waktu lagi”
“Tidak pulang?! Jika kau tidak pulang, aku akan keluar dari kamp utama!” kesal Selena.
“Mana bisa begitu, sudah…jangan menangis lagi…” ucap Leo menghapus air mata istrinya.
“Dan besok, datanglah keapartementku” bisik Leo.
Tangisan Selena seketika berhenti, ia langsung mendongkakan kepalanya mendengar ucapan suaminya. Leo punya apartemnet? Kenapa ia tidak tau jika suaminya punya apartement?.
.
.
.
At Cambridge – Amerika serikat, 07.00 AM
Selena turun dari taxi dan menatap gedung apartement mewah didepannya ini. Ia melihat ponselnya, benar…ini lokasi yang ditunjukan GPS. Tak mau berlama-lama, ia segera masuk kedalam gedung apartement dan menuju bagian resepsinonist.
“Hallo Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?”
“Apartement Tuan muda Iskandar, ada dilantai berapa?”
“Oh? Anda Nyonya muda Iskandar?!”
“Iya”
“Mari kami antar Nyonya”
Resepsionist itu tersenyum ramah dan mengantarkan Selena masuk kedalam lift. Ia menekan lantai teratas. Saat lift terbuka resepsionist mempersilahkan Selena untuk masuk kedalam apartement.
“Terima kasih”
Resepsionist hanya tersenyum ramah kepada Selena, Selena melangkahkan kakinya keluar dari lift dan membuka pintu apartement. Ia tertegun melihat apartement yang begitu luas dan bersih. Ia meletakkan tasnya disofa dan mencari keberadaan suaminya.
“Dear…kau di mana?”
“Sayang…kau sudah datang? Aku ada didapur” Leo bersuara dengan keras membuat Selena langsung menuju dapur. Ia tersenyum melihat suaminya yang tengah memasak makanan.
Selena memeluk suaminya dari belakang, ia harus berpuasa untuk tidak memakan makanan Leo selama 3 tahun. Leo tersenyum dan memetikan kompor lalu membalik badannya.
“Sudah lapar ya? Ayo makan dulu”
Leo meletakkan masakan terakhirnya dimeja makan dan membawa istrinya duduk. Selena menatap hidangan didepannya dengan mata yang berbinar. Leo memasak semua makanan kesukaan mereka.
Leo manrik tangan istrinya hingga terduduk dipangkuannya, ia mengambil sesendok makanan dan memasukannya kedalam mulut istrinya.
“Makan yang banyak, kau harus sehat”
“Jika aku gendut nanti bagaimana?”
“Aku akan tetap mencintaimu, bagaimanapun kondisimu”
.
.
.
__ADS_1