
.
.
.
Leo membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia meletakkan makanan diatas meja dan membuka tirai dan jendela membuat sinar matahari masuk menyinari Selena yang masih tertidur. Leo tertawa lucu melihat istrinya yang tidak dibangunkan oleh sinar matahari, sebegitu lelahnya kah istrinya?
“Sayang…ayo bangun, kau harus makan dulu”
“Dear…aku mengantuk…biarkan aku tidur”
“Nanti lagi tidurnya, sekarang makan dulu ayo, atau…kau mau menginap dirumah sakit saja?” ucap Leo membuat Selena langsung bangun dari tidurnya. Ia tidak mau menginap dirumah sakit lagi, buburnya hambar…tidak enak sama sekali.
Leo duduk ditepi tempat tidur dan mengambil makanan dan menyuapi istrinya yang masih setengah mengantuk. Setelah selesai makan Leo menggendong istrinya ke kamar mandi dan membersihkan tubuh istrinya.
“Beberapa hari lagi, aku sudah aktif. Jaga diri baik-baik ya sayang”
“Hm? Bukannya jadwalmu masih 1 bulan lagi berangkatnya?” tanya Selena memajukan bibirnya.
“Bukannya masuk lebih cepat bisa pulang lebih cepat?” jawab Leo sembari tertawa pelan.
“Tidak mungkin, Paman masuk tepat waktu pulangnya 2 bulan lebih awal tuh. Kalau kau masuk lebih awal bisa-bisa kau tidak pulang-pulang nanti. Nanti kau kebablasan pulang-pulang bawa gelar Jenderal besar” ucap Selena sembari melipat kedua tangannya.
Leo tersenyum dan memeluk istrinya dengan erat. Istrinya mengemaskan begini mana rela ia meninggalkan istrinya sendirian disini?. Tapi sesuai tradisi keluarga Alexandra, pria yang ingin menikahi anggota keluarga Alexandra harus memiliki gelar dan posisi di kemiliteran, sedangkan wanita yang hendak masuk ke keluarga Alexandra harus
mempunyai pekerjaan tetap. Dan pekerjaan itu diwajibkan dokter atau pengacara, karena semua anggota keluarga Alexandra adalah seorang Jenderal dan dokter kemiliteran.
“Jangan sedih dong, oh ya…kapan kau akan melanjutkan pelatihanmu?”
“Entahlah Dear, aku tidak tau…mungkin menunggu semuanya selesai dulu”
“Baiklah, terserahmu…nah, sudah bersih. Ayo ganti pakaian, dan kita kerumah sakit menjenguk Mama”
Selena menganggukkan kepalanya dan merentangkan kedua tangannya meminta Leo mengendongnya keluar dari kamar mandi. Leo tersenyum lembut dibuatnya, istrinya manja sekali hari ini.
.
.
.
Selena dan Leo berjalan berdampingan masuk kedalam rumah sakit, mereka langsung masuk kedalam lift dan menuju ruang VIP kelas 1. Lantai di mana Jennifer dirawat.
Selena membuka pintu dengan perlahan, ia menatap sendu Mamanya yang masih menutup mata. Apa Mamanya belum sadar juga sejak kemarin?.
“Mamamu menghirup terlalu banyak gas bius, itu membuatnya tak sadarkan diri. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia akan segera baik-baik saja” jawab Alex yang masuk dan menganti infus Jennifer.
“Bagaimana keadaan Yolanda?” tanya Selena.
“Hm? Oh, wanita itu. Mata sebelah kanannya terpaksa harus dilepaskan, dan Nyonya Georgino masih mengamuk di lantai VVIP kelas 3” ucap Alex sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar, jika Yeni terus mengamuk. Pasti Daniel akan mengurangi gajinya nanti. Dan lebih parahnya, pria itu pasti tidak akan memberinya bonus akhir bulan.
Drtttt…drttttt…
Ponsel Leo berdering, Leo mengangkat telfonnya yang berasal dari Hendrick.
__ADS_1
“Ya, Paman?”
“Leo, kau pergilah ke kamp sebentar. Bawakan brangkas yang ada diruangan utama”
“Hanya itu?”
“Iya”
“Baiklah”
Tut…
Selena menatap suaminya yang tengah tersenyum kearahnya. Ia menganggukkan kepalanya memberi izin suaminya untuk pergi ke kamp militer. Tapi untuk apa Paman Hendrick meminta suaminya mengambilkan brangkas?.
“Aku akan segera pulang, jangan nakal ya disini” ucap Leo sembari mengecup puncak kepala istrinya sebelum keluar dari ruangan Jennifer.
“Hah, kau beruntung mendapatkan pria seperti itu”
“Hah?! Kau menyukai suamiku?!” kesal Selena.
“Bukan hei! Ya gila saja aku menyukai pria! Aku ini masih normal!” kesal Alex.
“Lalu kenapa masih tidak punya pacar?”
Jlep!
Selena menjulurkan lidahnya mengejek Alex yang terdiam membeku. Ia keluar dari ruangan Mamanya dan pergi menemui Daniel yang berada di lantai teratas rumah sakit.
“Selena? Kau sudah datang? Kenapa kemari? Di mana Leo?” tanya Daniel berdiri dari tempat duduknya.
“Aku tidak tau, anak itu selalu menghilang dan muncul tiba-tiba. Seperti hantu film horror”
“Bicara film horror…ayo ke bioskop! Aku traktir! Ajak Joe juga!”
“Serius? Tumben sekali” ucap Daniel menyipitkan matanya.
Selena mengeluarkan ponselnya dan menelfon suaminya . Leo yang baru saja ingin masuk kedalam mobil langsung mengangkat telfon dari istrinya.
“Ya sayang?”
“Dear, boleh aku ke bioskop dengan Daniel dan Joe?”
“Iya boleh, tapi jangan makan popcorn Okey? Ingat, kau alergi jagung”
“Iya”
“Bye, I love you”
“Me too”
Tut…
Selena kembali menghubunggi Joe, Selena mengerutkan keningnya melihat Joe yang tak kunjung mengangkat telfon darinya. Tak biasanya Joe begini.
Disisi lain\, Joe menatap tajam para bodyguard yang sebelumnya berada di café Canaria. Bajin*an-bajin*an…jika ia tidak memberikan pelajaran yang benar-benar membuat jera\, maka mereka tak akan pernah memahami peringatannya untuk menjauhi adiknya.
__ADS_1
“Nona muda! Nona muda Selena menelfon anda berulang kali! Saya binggung harus melakukan apa!” ucap salah satu bodyguard memberikan ponsel Joe.
Joe langsung mengambil ponselnya dengan cepat, apa sesuatu sudah terjadi hingga Selena menelfonnya berulang kali seperti ini?.
“Tutup mulut kalian jika tidak ingin mati lebih cepat” dingin Joe mengangkat telfon dari Selena.
“Joe!! Ayo pergi ke bioskop! Aku traktir!”
“Hm? Bioskop? Kenapa tiba-tiba?”
“Hah…kau tidak mau ya…ya sudah…”
“Bu-bukan!! A-aku akan menyusul ke bioskop! Bioskop mana?”
“Bioskop yang baru buka hari ini!”
“Baiklah, 30 menit lagi aku akan sampai. Dengan Daniel juga?”
“Iya!”
“Baiklah, pergilah dengan kakak terlebih dulu. Aku akan kesana sebelum filmnya mulai”
“Okey! Bye bye!”
Tut…
Joe menatap tajam para bodyguard yang terikat di lantai dan beberapa diantara mereka sudah tidak sadarkan diri. Anggap saja Selena malaikat yang menolong mereka dari kematian. Tapi ia pastikan, besok semua orang ini tak akan berasakan yang namanya udara bebas lagi.
“Kalian seharusnya berterima kasih kepada Selena, jika tidak…aku sudah memutilasi tubuh kalian”
Joe membersihkan ponsel dan tangannya dari noda darah lalu menganti pakaiannya diruangan lain. Sebenarnya ia masih heran dengan adiknya, adiknya bisa saja langsung membunuh para bodyguard ini di tempat. Tapi kenapa adiknya hanya membuat bodyguard-bodyguard ini pingsan?.
Joe menatap foto Yeni yang berada di tangannya, wanita ini…sudah seharusnya wanita ini merasakan pembalasan dendam dari seorang Joe. Kemarin, ia mati-matian menahan amarahnya ketika Yeni mencaci maki adiknya hingga adiknya bisa melakukan hal seperti itu. Tapi ini sebuah permulaan yang bagus untuk membuat adiknya tak takut melawan siapapun.
.
.
.
Yeyyyyy, udah sampe di Chapter 92. Tinggal beberapa Chapter lagi menuju Finally.
.
.
.
Kayaknya ada yang lebih ditunggu daripada Upnya Clara ya ( Salah satu komentar yang menarik perhatian beberapa Readers). Btw\, banyak kali ya yang nyariin komentarnya kak Bar*ie Un*u. Tenang...sama kayak Thor kok\, nanti kalo muncul kasih tau ya.
.
.
.
__ADS_1