Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 132 : Flashback III


__ADS_3

.


.


.


Nyonya Alexandra melambaikan tangannya kepada Jenssica saat gadis itu masuk kedalam mobil Ruvelis. Ruvelis masuk kedalam mobilnya dan mengantar Jenssica pulang ke kediamannya.


Didalam mobil Jenssica tak mampu berbicara apapun kepada Ruvelis setelah ia mengetahui bahwa calon suaminya ini mempunyai kepribadian ganda karena trauma masa kecilnya karena diakibatkan oleh ledakan dasyat yang membuat 2 adik kembarnya meninggal dunia.


“Kenapa diam?” tanya Ruvelis memulai pembicaraan.


“Aku hanya lelah”


“Kau bisa tidur, aku akan mengantarmu pulang”


.


.


.


Jenssica membuka matanya dengan perlahan, ia tersentak kaget melihat ia bangun bukan dikamarnya. Ini…hotel?!.


Jenssica sontak menatap kesemua arah, ia menatap Ruvelis yang tengah membaca buku sembari meminum teh. Jenderal muda yang sangat dikagumi karena bakat dan ketampanannya.


“Putraku punya kepribadian ganda sejak dia kecil, itu mulai muncul sejak dia kehilangan 2 adik kembarnya. Aku benar-benar senang karena akhirnya ada seorang wanita yang bisa menerima kekurangannya. Kuharap…kau bisa mengubah sifat Ruvelis kedepannya…dan kuberitau satu rahasia, Ruvelis…sangat menginginkan seorang anak perempuan karena tidak ada anak perempuan yang lahir dikeluarga kami”


Perkataan Nyonya Alexandra seketika terngiang-ngiang dikepalanya. Tidak tidak, ia tidak boleh berpikiran buruk seperti ini. Tapi sejujurnya ia merasa tidak enak karena calon Mama mertuanya menyinggung masalah anak.


“Jenderal muda…”


“Hm?”


“Hmmmm umurku akan segera genap 17 tahun dan aku juga akan segera lulus S1. Bagaimana kalau kita menikah saat hari ulang tahunku?”


“Saat hari ulang tahunmu? Boleh juga, 1 bulan lagi kan? Aku akan menyiapkan semuanya, cepat mandi. Aku akan membawamu menemui teman-temanku”


“Bajunya?”


“Sudah ada”


Jenssica menganggukkan kepalanya dan segera masuk kedalam kamar mandi. Ruvelis menghembuskan nafasnya dan menatap buku yang tengah berada di tangannya. Sejujurnya ada alasan lain kenapa ia ingin menikahi Jenssica. Ia ingin memenuhi syarat sebagai pewaris, ia juga ingin memenuhi janji terakhirnya kepada kakak Jenssica dan Jennifer yaitu Nicole, Nicole pernah mengatakan kepadanya, bahwa dia ingin ia menikahi salah satu dari adiknya. Dan Jenssica lah yang berhasil menarik perhatiannya, soerang gadis cantik dan pintar namun bermulut kejam dan pantang menyerah


.


.


.


Jenssica mengerutkan keningnya melihat Ruvelis yang menghentikan mobilnya didepan sebuah club malam terkenal. Untuk apa pria ini mengajaknya kemari? Apa ini salah satu hobi Ruvelis?!.


“Ayo turun, teman-temanku ada didalam”


Ruvelis menggenggam tangan Jenssica turun dari mobil dan langsung kedalam club itu tanpa adanya halangan sedikitpun. Ruvelis membuka pintu sebuah ruangan yang terletak di lantai 3, saat pintu terbuka pria-pria didalam sana langsung menoleh secara bersamaan kearah Ruvelis.

__ADS_1


“Yo, kau sudah datang? Mana calonmu?”


Ruvelis melirik Jenssica yang bersembunyi dibalik tubuhnya.


“Mereka tidak akan macam-macam denganmu”


“Wahhhh tak disangka calon istri dari Jenderal muda sepertimu pemalu begini” ucap Hendrick dengan sudut bibir yang terangkat.


“Jangan menakuti anak dibawah umur Hendrick!” dingin George yang tengah menggendong seorang anak laki-laki yang baru berusia beberapa bulan.


“Kau bawa Leo kemari?” tanya Ruvelis.


“Yahhhh tidak ada yang menjaganya dirumah, jadi aku membawanya kemari”


“Me-mereka bu-bukankah para Tuan muda?” cicit Jenssica.


“Ya, jangan takut. Mereka bermoral”


Mata Jenssica menatap Leo yang berada di gendongan George. Anak yang lucu! Benar-benar lucu!.


Ruvelis yang melihat tatapan Jenssica kepada Leo tersenyum. Jenssica menyukai anak-anak? Baguslah.


“George, berikan Leo kepadanya”


“Tidak apa-apa? Sejak tadi Leo rewel, aku akan memberinya susu setelah itu, jika dia tidak rewel kau kau bisa menggendongnya” ucap George.


Ruvelis membawa Jenssica duduk, Jenssica dengan mata yang berbinar menatap George yang tengah menyusui Leo.


“Leo…kenapa? Sudah kenyang ya?”


George yang melihat Jenssica yang tidak sabar untuk menggendong putranya tersenyum dan memberikan Leo agar di gendong oleh Jenssica. Jenssica tersenyum senang melihat Leo yang tertawa didalam gendongannya. Ia menepuk punggung bayi kecil itu beberapa kali hingga bayi itu bersendawa.


“Hm? Ini pertama kalinya dia tidak rewel di gendongan orang lain”


“Benarlah? Lalu di mana ibunya?” tanya Jenssica.


“Ibunya sudah tiada saat melahirkannya”


Jenssica menganggukkan kepalanya, Ruvelis membelai kepala Jenssica dan meminta gadis itu untuk masuk kedalam kamar agar bisa bermain dengan Leo.


“Aku boleh bermain dengannya?” tanya Jenssica dengan mata berbinarnya. Serius Ruvelis memebrikannya izin bermain dengan bayi lucu ini?1.


“Boleh, tapi Leo jangan sampai terjatuh ya”


Jenssica menganggukkan kepalanya dan membawa bayi itu masuk kedalam sebuah kamar.


“Dia cantik, dia punya jiwa keibuan yang besar” ucap George.


“Ya, itulah mengapa aku tertarik kepadanya”


“Jadi, kapan kalian akan menikah?” tanya Jordan.


“1 bulan lagi, dia akan genap berumur 17 tahun”


“Dan, bagaimana dengan calon istrimu? Dia baik-baik saja? Dia tidak tertekan dengan syarat keluarga Jasson?” tanya Hendrick.

__ADS_1


“Dia baik-baik saja, hanya saja dia mengeluh karena tidak bisa memasak. Dan juga hampir setiap malam dia mengeluh karena tidak bisa mengingat dengan jelas silsilah keluargaku” jawab Jordan.


“Tapi Ruvelis, dari keluarga mana calon istrimu?” tanya Jordan.


“Dia berasal dari keluarga Leonardo, kau tau Jennifer? Dia kakaknya Jennifer”


“APA?! Wanitamu kakaknya Jennifer?! Mafia kejam itu?!” ucap Hendrick, Jordan, dan George tak percaya.


“Wah wah wah, kau beruntung. Kau dari keluarga Jenderal, dan calon istrimu dari keluarga dokter! Hebat juga kau” ucap George.


“Hn”


George tersenyum menatap Leo. Ia, Ruvelis, Hendrick, serta Jordan sudah bersahabat sejak lama. Ia mengenal benar seperti apa Ruvelis, Ruvelis hebat dalam segala hal. Pria ini tak pernah berkedip saat berhadapan dengan musuh, wajar jika saat pertama kali bertemu dengan Jenderal besar kamp utama dia langsung mengangkat Ruvelis sebagai Jenderal muda. Tentunya itu tak jauh dari latihannya selama 14 tahun.


“Tapi…Jenssica punya masalah dengan kesuburannya” ucap Ruvelis membuat sahabat-sahabatnya membeku disaat itu juga.


“Kau bilang apa?!” ucap Jordan dan Hendrick tak percaya.


“Yah…dokter mengatakan bahwa kemungkinan dia bisa mengandung sangat kecil”


“Kau serius?!” tanya George dan Ruvelis hanya menganggukkan kepalanya.


Ke-3 pria itu seketika saling menatap, ya tuhan…masalah ini bukanlah masalah kecil. Keluarga Alexandra adalah keluarga yang sangat terpandang. Anggota keluarga Alexandra memiliki kesehatan yang sangat baik, tapi…apakah tidak akan menimbulkan masalah jika Ruvelis menikahi wanita yang memiliki kemungkinan mengandung sangat kecil?.


“Tapi kita hidup di zaman modern, banyak pengobatan dan terapi yang bisa kami lakukan”


“Ruvelis, meskipun kita hidup di zaman modern. Tapi ini bukan masalah sepele. Apa Paman dan Bibi sudah mengetahuinya?”


“Belum, aku tak berani mengatakan hal ini kepada mereka. Aku takut mereka akan kecewa dan tidak bisa menerima Jenssica”


“Begini saja! Jika kau punya seorang anak aku berjanji akan memberikannya setengah harta keluargaku dan aku berjanji akan memberikannya gelar Jenderal muda bagaimana?!” ucap Hendrick mencoba mengalihkan pembicaraan agar Ruvelis tidak mengalami mood buruk, jika tidak…iblisnya bisa keluar lagi nanti.


“Aku juga! Jika kau punya anak, aku akan memberikannya setengah kekayaan keluargaku!” sahut George.


“Jika anakmu perempuan nikahkan dengan anak laki-lakiku bagaimana?” tanya Jordan sembari tersenyum.


“Bilang sekali lagi?!” ucap Ruvelis langsung mencengkram kerah baju Jordan.


“A-aku ha-hanya be-bercanda”


“Lupakan” ucap Ruvelis masuk kedalam kamar mandi.


George dan Jordan saling bertatapan sinis! Pria itu! Beraninya merebut kesempatan putranya!.


“Hei! Ayo kita taruhan! Jika Ruvelis punya anak perempuan, maka biarlah anak perempuan Ruvelis memilih antara anakku atau anak laki-lakimu nanti. Jika dia memilih anakku, berikan aku setengah uangmu” ucap George.


“Boleh! Jika dia memilih putraku maka kau harus memberikan setengah kekayaanmu kepadaku”


“Deal!” jawab George.


“Mimpi!! Aku tak akan memberikan anakku kepada putra kalian!!! Mimpi siang bolong kalian berdua!!” teriak Ruvelis dari arah kamar mandi. Sedangkan George dan Jordan hanya bisa tertawa dibuatnya.


Hendrick memijat kepalanya melihat kelakukan ke-3 sahabatnya. Ia heran dengan George dan Jordan, sudah tau bagaimana sifat Ruvelis malah taruhan seperti itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Ruvelis mempunyai anak perempuan nanti, pasti pria itu sangat overprotective kepada anaknya nanti.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2