
.
.
.
Leo tersenyum sembari membelai wajah istrinya yang terlelap karena kelelahan. Cantik…manis…dan lembut berpadu menjadi satu. Wanita paling sempurna dimatanya, wanita yang paling ia cintai seumur hidupnya, dan wanita yang sangat ingin ia lindungi di dunia ini.
“I love you…Dear…”
Leo mengecup lama kening istrinya. Apapun…apapun akan ia korbankan…apapun akan ia berikan asalkan, bidadari didepannya ini baik-baik saja.
“Aku akan memberikan semuanya, aku akan memberikan semuanya…maka dari itu, tersenyumlah…jangan sakit. Itu membunuhku…aku mencintaimu sayang, sampai aku mati…aku hanya akan mencintaimu seorang”
Leo memeluk erat tubuh telanjang istrinya sebelum terlelap bersama menyusul istrinya kealam mimpi.
*****
Flashback On!
Leonardo, anak laki-laki itu menatap seorang bayi perempuan yang baru berusia beberapa hari didalam sebuah incubator.
“Cantik…”
“Leo, namanya Nara…kau harus menjaganya mulai sekarang” ucap Ruvelis membelai kepala Leo membuat anak laki-laki itu mendongkakkan kepalanya.
“Paman, dia cantik…dia mirip Paman”
“Tentu saja, dia anak Paman. Jadi…Leo mau ya, bantu Paman menjaganya?”
“Mau!”
Seorang pria menepuk bahu Ruvelis membuat pira itu membalikan badannya. Ia tersenyum melihat sahabatnya yang akhirnya datang, ia memenangkan taruhan lagi.
“Kau hebat juga, bisa mendapatkan anak perempuan secantik ini” ucapnya.
“George! Kau ini mengejekku lagi! Ingat! Kau dan Hendrick sudah kalah taruhan denganku! Masih berani mengejekku pula!”
“Iya-iya, aku ingat” pria bernama George menghembuskan nafasnya dengan kesal, ia sangat bahagia karena akhirnya sahabatnya ini mempunyai seorang buah hati, tapi disisi lain ia juga kesal karena ia kehilangan begitu banyak uang karena taruhan ini.
“Papa, boleh aku membawanya pulang?” tanya Leo.
“Tidak boleh…dia masih lemah, tidak boleh keluar dulu dari incubator” jawab George sembari menggendong putra tunggalnya.
“Hummmm…dia sangat cantik, aku ingin menikahinya saat dewasa nanti!”
Ucapan Leo langsung membuat para Alexandra menatap kearah Leo seketika. George menelan ludahnya, putranya ingin menikahi satu-satunya keponakan yang dimiliki para Alexandra bersaudara? Ia tidak yakin putranya akan aman jika begini, mengingat bagaimana tabiat mereka semua.
“Kau itu masih kecil, jangan bicara tentang pernikahan”
“Daripada Paman! Sudah tua belum menikah!”
“APA?!”
__ADS_1
“Deon, putraku hanya bercanda…jangan dianggap serius” ucap George, ia tau bagaimana tabiat Deon jika sudah kesal dengan seseorang.
“Boleh…nanti jika sudah besar, Leo mau ya menikah dengan anak Paman?”
“Kakak!!!!!” para Alexandra berseru dengan nada tidak terima.
“Mau mau! Leo mau!”
“Anak baik…”
“Di mana Hendrick? Pria itu bilang dia akan datang juga hari ini”
Seorang pria secara tiba-tiba masuk keruangan khusus itu. Ruvelis dan George tersenyum melihat Hendrick yang akhirnya datang juga. Hendrick menatap kesal kedua sahabatnya, bisa-bisanya kedua orang itu mempermainkannya seperti ini.
“Aduh…ada pria yang kehilangan setengah kekayaannya disini”
“Iya…kasihan sekali ya”
“Kalian berdua…keluar!!!!” teriak Hendrick membuat Deon dan Jeff langsung keluar dari ruangan khusus yang disediakan untuk keluarga Alexandra saja.
“Hendrick, jangan berteriak seperti itu. Putriku baru saja tertidur” ucap Ruvelis melipat kedua tangannya.
“Apa?! Karena kau sudah punya anak kau bisa seenaknya memarahiku begitu?!” kesal Hendrick.
Bugh!
Ruvelis menendang perut Hendrick membuat pemuda itu meringkuk kesakitan dilantai. George dan para Alexandra sontak menahan tawanya melihat itu, sudah tau bagaimana tabiat Ruvelis malah bicara seperti itu.
“Aku bilang…putriku baru saja tertidur, dan jika sampai dia bangun…aku akan memotong tanganmu” ucap Ruvelis dengan tatapan tajamnya.
“Ya?”
“Apa dia bangun?” tanya Leo sembari menunjuk kearah incubator.
Keringat dingin langsung memenuhi wajah Ruvelis, George, Hendrick, dan para Alexandra. Ruvelis menelan ludahnya dengan kasar, gawat jika sampai Papanya tiba-tiba datang kemari!.
“Hiks hiks…Hwaaaaa!!!!” bayi perempuan itu menangis dengan keras memnbuat Ruvelis langsung mengeluarkan bayi kecil itu dari incubator dan mengendongnya dengan hati-hati.
“Nara…sayang…Nara kenapa hum? Papa terlalu berisik ya sayang?”
“Hwaaa…”
“Nara…”
Ruvelis menatap tajam Hendrick membuat pria itu langsung dibuat ketakutan seketika.
“Hendrick…kau membuat putriku terbangun…”
“Ru-ruvelis…a-aku ti-tidak se-sengaja…”
“Hwaaaaa!!! Haaa!! Hwaaaa…”
“Nara…sayang…Papa tidak marah dengan Nara, kenapa? Nara lapar ya sayang? Nara mau minum susu sekarang?” ucap Ruvelis sontak menatap putrinya yang tengah menangis.
__ADS_1
Ruvelis duduk disebelah Liekai, pria itu dengan lembut membelai kepala putrinya mencoba menenangkan putrinya yang menangis. Liekai dengan wajah kesalnya menunjukan jari tengahnya kepada Hendrick.
“Nara bosan ya dirumah sakit? Nara mau pulang ya?”
Dengan perlahan tangisan bayi kecil itu mulai berhenti.
“Ternyata Nara sudah bosan ya…beberapa hari lagi kita pulang ya sayang…putri cantik Papa tidak boleh menangis lagi, Papa jadi sedih…”
“Ruvelis, bolehkah putrimu memakai nama mendiang istriku?” tanya George hati-hati, jangan sampai ia membangunkan iblis Ruvelis lagi.
“Medeltoon?” tanya Ruvelis dan dibalas anggukan oleh George. Ruvelis mengerutkan keningnya, George mau putrinya emmakai nama mendiang Nyonya Iskandar? Kenapa?.
“Please…”
“Boleh, nama yang bagus…aku juga belum menentukan nama panjangnya”
“Hei hei hei!! Bagimana jika dia juga memakai nama keluargaku?” tanya Hendrick dengan mata berbinarnya.
“Margareth? Kenapa kau mau melakukannya?” tanya Ruvelis dan George bersamaan. Apa Hendrick yakin ingin memberikan nama keluarganya agar dipakai oleh putri kecil Alexandra? Apa itu tidak terlalu beresiko? Tapi biarlah…itu bisa diurus nanti.
“Benar! Karena dia juga keponakanku! Jadi biar dia memakai nama keluargaku juga!” jawab Hendrick.
Ruvelis tersenyum, ia sudah menemukan nama yang cocok untuk putri kecilnya. Bayi kecil itu menggenggam jari telunjuk Ruvelis.
“Sayang, namamu adalah… Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra, Ratu kecil dari keluarga Alexandra” bisik Ruvelis dengan lembut di telinga bayi kecil itu. Bayi kecil itu tertawa senang seolah-olah mengetahui apa yang sedang dibicarakan Papanya.
“Sesuai janjiku padamu Ruvelis, anakmu…akan menjadi Jenderal muda dari kamp utama. Dia akan dikenal sebagai Jenderal muda Nara…dan setengah kekayaan keluargaku, akan menjadi miliknya…seutuhnya” ucap Hendrick sembari membelai kepala bayi kecil itu.
“Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra, nama yang bagus…itu nama yang sangat cantik. Nama itu akan dipakai olehnya, sebagai pewaris utama keluarga Alexandra…dan Selena Yunki Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra adalah namanya di keluarga Leonardo” Tuan besar Alexandra datang dan mengatakan hal yang membuat para Alexandra tertegun seketika.
“2 nama1 orang? Maksudnya pa? Memangnya bisa begitu?” tanya Liekai.
“Ya…Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra, itu adalah nama resminya. Namun…Papa ingin melindunginya, jadi biarkan…dia dikenal dengan nama Selena Yunki Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra. Nama Ruvelis tidak terlalu terlihat disana”
“Itu nama yang cantik pa, terima kasih” ucap Ruvelis.
Ruvelis menempelkan dahinya dikening sang putri tercinta.
“Naranya Papa harus tumbuh dengan baik…Papa akan melindungi Nara, apapun yang terjadi”
Hendrick dan George tersenyum melihat perilaku sahabat mereka. Sebelumnya Ruvelis adalah seorang Jenderal besar yang tangguh dan berhati dingin, pria yang tidak akan segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi jalannya, namun kehadiran Jenssica itu membuat sikap Ruvelis perlahan berubah. Dan, dengan kehadiran putri tercintanya sekarang, itu akan membuat perubahan besar dalam diri Ruvelis. Jenderal besar yang ditakuti di mana-mana, bisa bersikap begitu lembut kepada putrinya.
“Nara…adalah anugerah terindah yang Papa dapatkan, terima kasih ya sayang…sudah hadir dalam hidup Papa. Papa mencintai Nara lebih dari segalanya”
Ruvelis memberikan ciuman diseluruh bagian wajah putri kecilnya tanpa terkecuali.
“Sudah cukup kau menciuminya, berikan dia kepada Papa. Papa juga ingin menggendongnya”
“Ini putriku pa, Papa gendong Liekai saja biar aku menggendong Nara” jawab Ruvelis. Ia masih ingin menggendong putrinya, ia tidak mau memberikan putrinya kepada siapapun hari ini, termasuk Mamanya.
.
.
__ADS_1
.