
.
.
.
Hans menggendong Selena bak sebuah karung masuk kedalam kamarnya. Ia melemparkan Selena ke tempat tidur. Geram tentu saja, bagaimana bisa Selena dekat dengan pria lain disaat ia masih berada disana?!. Ia harus mengajari Selena baik-baik tentang statusnya!.
Selena gemetar ketakutan melihat kemarahan suaminya. Sungguh ia tidak tau kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat suaminya sampai semarah ini. Tubuhnya gemetar hebat, ia takut Hans akan menyakitinya.
Hans melepas jaznya dan melonggarkan dasinya. Ia langsung menindih tubuh Selena diatas tempat tidur. Ia menatap Selena dengan geram. Tampak Selena yang sudah mulai mengeluarkan air matanya.
“Sudah kukatakan kepadamu bukan?! Ingat statusmu!!!” bentak Hans.
Selena tak berani berkata apapun. Ia membeku saat Hans dengan kasar ******* bibirnya, ia mencoba memberontak namun itu membuat Hans semakin menekan nya ditempat tidur.
Hans mengigit bibir bawah Selena membuat bibir itu terbuka memudahkan nya memasukan lidahnya dan mengabsen seluruh isi mulut Selena.
Beberapa menit kemudian Hans bangkit dari atas Selena. Ia merutuki kebodohan nya, bagaimana bisa ia begitu marah dan ******* bibir Selena?!. Itu ciuman pertamanya! Sial*n!. Dan sialnya ciuman itu membuatnya tersulut hasrat untuk melakukan lebih dari sebuah ciuman.
Selena membungkus tubuhnya menggunakan selimut sedangkan Hans langsung keluar dari kamar itu. Selena menangis sesegukan, ia takut. Ia benar-benar takut dengan Hans yang seperti itu.
“Joe…aku takut…”
Hans menyalakan shower air dingin. Ia memukul dinding, awalnya ia hanya ingin menakuti Selena namun ia malah hampir kebablasan. Sungguh, bibir mungil nan tipis itu membuatnya sangat ingin mencicipinya. Bagai dilumuri gula itulah yang ia rasakan saat mencium bibir Selena.
__ADS_1
“Sial*n kau Selena…” Hans berucap dengan geram. Ini pertama kalinya ia tegang seperti ini.
_____
Selena membuka matanya perlahan, ia melihat ponselnya yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. Ia segera masuk kekamar mandi setelah itu menyiapkan sarapan.
Saat sudah selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya, Selena segera membereskan rumah agar ia bisa secepatnya pergi ke kampus.
Hans memakan makanan nya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Entah kenapa ia sangat canggung dengan Selena setelah kejadian kemarin malam.
Selesai dengan pekerjaan nya Selena segera menganti bajunya dan langsung mengambil laptopnya untuk segera berangkat ke kampus. Selena berjalan dengan gelisah, ia tidak dapat menemukan taxi. Ia harus bagaimana? Kelasnya akan dimulai sebentar lagi.
Sebuah mobil sports mewah berhenti didepan Selena.
“Ayo masuk, kita satu kampus. Jangan malu” kata Joe.
“Aku sudah bicara dengan dosen, aku akan datang ke kampus jika kau ada. Dosen sudah menyetujuinya, jadi aku akan menjemputmu saat akan ke kampus"
“Terima kasih…terima kasih…” kata Selena.
“Sama-sama”
Saat sampai Selena langsung masuk kedalam kelasnya begitupun dengan Joe. Disini Selena mengambil fakultas kedokteran dan hukum sedangkan Joe mengambil fakultas management dan teknologi informasi.
Setelah kelas selesai Selena langsung mengambil soal dan materi seperti biasanya.
__ADS_1
“Selena!! Ayo makan dulu!!” ajak Joe.
“Ba-baiklah”
Selena dan Joe langsung menuju kantin untuk makan.
“Setelah ini kau mau kemana?”
“Aku akan ke UDI untuk mengambil soal dan materi”
“Untuk apa kau kesana?”
“Aku juga berkuliah disana”
Joe yang mendengarnya seakan tak percaya. Jadi Selena juga berkuliah di UDI?! Kalau begitu ia akan meminta Papanya mendaftarkannya disana! Dan ia akan mengambil jurusan yang sama dengan Selena!.
“Oh ya Selena…mungkin privasi mu, tapi bolehkah aku tau siapa pria yang membawamu kemarin malam?”
“Di-dia ka-kakak ku” jawab Selena gugup.
Joe menganggukkan kepalanya mengerti. Jika Selena tak mau menceritakan masalahnya ya sudah, ia tidak bisa memaksakan keinginanya juga.
.
.
__ADS_1
.