Our Last Love

Our Last Love
Chapter 17 : Sebuah rasa nyaman


__ADS_3

.


.


.


Hans mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel ternama di Negara indah ini. Selena mencengkram roknya dengan kuat. Apa Hans akan melukainya lagi? Apa ia melakukan kesalahan lagi sehingga Hans mau mengajaknya ke hotel?.


Lama berkendara mobil Hans berhenti disebuah hotel. Ia langsung menarik tangan Selena masuk kedalam hotel itu. Hans mengeluarkan Black card dan segera mengambil keycard kamar hotelnya.


Resepsionist hotel senyum-senyum sendiri karena Hans menyewa kamar yang jarang digunakan siapapun. Alias digunakan oleh para pengantin baru dimalam pertama mereka. Jarang ada yang bisa menempati kamar itu karena harganya yang fantastis.


“Mereka suami istri yang serasi ya…”


“Tapi kenapa istrinya terlihat ketakutan begitu?”


“Hanya mereka yang tau”


Hans membuka pintu kamar hotelnya dan segera menutupnya tak lupa menguncinya. Ia menghempaskan tubuh Selena di tempat tidur yang dihiasi oleh bunga mawar merah berbentuk love.


Hans menekan Selena di tempat tidur, Selena menyentuh pergelangan kakinya yang sakit karena tak sengaja bersentuhan dengan kaki Hans.


“Ada apa?” tanya Hans.


“Ka-kakiku sakit…tadi tidak sengaja jatuh saat dikamar mandi…” cicit Selena.


Hans membeku seketika. ia dengan cepat menaikan rok Selena membuat gadis itu menutupi wajahnya karena malu. Hans menyentuh luka memar di kaki Selena membuat gadis itu mendesis kesakitan.

__ADS_1


“Sakit sekali?” tanya Hans dengan wajah merahnya menahan hasrat yang sebentar lagi tak bisa ia


bendung.


“Iya…tapi tidak sesakit tadi, tadi sudah diobati oleh dosen…”


Hans menghembuskan nafas lega mendengarnya. Ia pun beranjak dari tubuh Selena dan mengambil kotak P3K. Ia duduk disebelah Selena dan dengan perlahan mengobati memar Selena.


“Besok tidak perlu kekampus, istirahat saja”


“Aku dapat libur 3 hari…”


Hans tersenyum senang mendengarnya. Selama 3 hari itu, ia bisa puas bermain dengan Selena. Membuat Selena tertahan dirumah dan menemaninya. Ah, hanya memikirkan hal itu membuatnya langsung bergairah.


“Ah…Hans, jangan sentuh telapak kakiku. Itu mengelitik” kata Selena.


Hans tersenyum evil, ia mengelitik pelan membuat Selena menggigit bibir bawahnya menahan tawanya yang akan segera keluar. Hans semakin mengelitik telapak kaki Selena membuat tawa Selena total pecah seketika.


“Hahahaha!! Hans, sudah cukup! Itu mengelitik!” kata Selena.


“Biar…” jawab Hans mengelitik perut Selena.


“Hahahaha! Hans! Sudah cukup, aku lelah…” kata Selena.


Hans tertawa kecil, ah sepertinya hari ini ia tidak bisa melakukannya lagi. Lebih baik ia menunggu sampai Selena siap menerimanya, agar ia tidak semakin bersalah karena meniduri Selena saat Selena tidak sadar.


“Sudah tidurlah, kau pasti lelah”

__ADS_1


“Ti-tidur? Di-dimana?”


“Disini, denganku. Memangnya dimana lagi?” kata Hans tak kalah bingungnya.


Selena mengelengkan kepalanya cepat.


“Ti-tidak bisa…a-aku akan pesan kamar lain saja”


“Untuk apa? Tempat tidurnya besar”


Hans paham akan kegugupan Selena. Mereka belum pernah tidur bersama (Saat Selena sadar), wajar jika Selena takut jika ia mengajak Selena tidur disatu tempat tidur yang sama. Apalagi Selena masih ingat betul sisi kasarnya. Dalam beberapa minggu terakhir Selena sudah mulai terbiasa bersamanya. Bahkan Selena sudah berani menatapnya saat berbicara. Ia tidak bisa mengugurkan itu semua hanya dengan hal ini.


“Kalau begitu baiklah” kata Hans mengambil guling dan menyusunnya ditengah menjadi pembatas.


“Ini batas kita, tidak ada yang boleh melewati ini”


Selena menganggukkan kepalanya, ia barbaring dan menatap langit kamar hotel yang begitu menawan. Tak berselang lama Selena tertidur dengan lelapnya membuat Hans tersenyum.


Hans mengecup dahi Selena, Selena pasti kelelahan. Dari jam 7 pagi sampai jam 2 pagi Selena terus-terusan dihajar oleh materi. Awalnya, inilah yang membuatnya ragu saat Selena mau masuk ke University. Apa Selena sanggup bertahan jika terus seperti itu?.


“Sweet dream, my wife…”


Nyaman Hans rasakan saat bersama Selena. Inilah yang membuatnya perlahan luluh akan Selena, ia tidak memperdulikan jiwa dinginnya. Rasa nyaman mampu membuat egonya luntur. Rasa nyaman itu membuat tujuan utamanya menikahi Selena luntur dengan sendirinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2