Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 170 : Goodbye Bitch


__ADS_3

.


.


.


“Karena…”


“Kau benar-benar menantang kesabaranku…”


“Karena aku mencintai Leonardo!! Anaknya!! Aku mencintai Leonardo!! Tapi Leonardo membenciku!! Jadi aku membunuh ayahnya untuk membuatnya menderita!! Beraninya pria itu menolak cintaku!!” teriak Alice sembari memejamkan matanya.


Crakkkkkk…


Alice sontak membuka matanya. Matanya seketika membulat melihat Selena yang mematahkan pisau menjadi dua, ba-bagaimana anak itu melakukannya?.


Kedua mata jade Selena menatap tajam Alice, Selena mengambil langkah panjang dan berdiri didepan Alice dengan kedua tangan yang mengepal.


“Coba katakan sekali lagi…”


“A-apa?”


“Kau…mencintai Leo…?”


“Ya! Kenapa?! Apa kau punya masalah dengan itu?! Terserahku ingin mencintai siapa saja!! Sekarang pria itu sudah mati!! Aku akan datang ke sisi Leonardo dan menghiburnya!! Dengan begitu dia tak akan punya alasan menolakku lagi!! Aku akan segera membuatnya mencintaiku!!!” Alice kini berteriak seperti orang gila, ia memang gila! Ia terlalu mencintai Leonardo, dan ia sangat membenci Leonardo karena pria itu menolak perasaannya!!.


“Lancang sekali kau mencintai Leo…”


“Kenapa memangnya?! Kau bukan siapa-siapa Leo!! Jadi jangan mengatur siapa yang berhak menjadi pendampingnya!!”


“Aku berhak!! Karena aku adalah calon istrinya!!! Aku calon istri Leo!! Dan aku tidak mengizinkan wanita manapun mencintai calon suamiku!! Langkahi dulu kepalaku jika kau ingin menikah dengan calon suamiku”


“A-apa?”


“Aku dan Leo tumbuh bersama sejak kacil, keluarga Leo memperlakukanku dengan begitu baik. Dan kau…sudah melenyapkan orang yang berulang kali menyelamatkan hidupku. Aku akan memotong tubuhmu, aku akan mengeluarkan semua organ tubuhmu. Dan membuat keluargamu merasakan apa itu makna ‘Kehilangan’”


“Ti-tidak…”


Selena memundurkan satu kakinya dan langsung menendang kursi hingga Alice terjatuh ke tanah. Selena mengambil samurainya dan memposisikannya tepat di leher Alice.


“Jangan pikir karena kita sesama wanita maka aku akan bersimpati kepadamu, karena aku…tidak akan memberikan simpatiku kepada orang yang tidak pantas!”


“Kuperingatkan kau sekali lagi!! Jika kau berani macam-macam!!”


“Shttttt…kurangi bicaramu dan siapkan teriakanmu untuk nanti…jangan harap kematian yang mudah dariku”


Setelah itu…hanya terdengar teriakan menyakitkan dari mulut Alice. Selena menikmati setiap detik yang ia gunakan untuk menyiksa wanita yang sudah berani mengunci matanya ini. Hingga detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu…teriakan Alice mulai melemah.


“Hanya sampai disini? Masih ada waktu 20 menit lagi…let’s play again bitch”


“Tidak…kumohon…ampuni aku…”


Wajah, leher, lengan dan kaki Alice kini sudah penuh dengan sayatan. Selena tersenyum sinis, permainan belum selesai dan jangan harap ini berakhir sebelum ia yang mengakhirinya.


Selena melepaskan ikatan Alice, Alice dengan sekuat tenaga mencoba menjauh dari Selena dengan kedua kaki yang pincang. Selena membiarkan hal itu, toh, ia akan biarkan wanita itu berjalan-jalan sebelum kedua kaki itu hilang dari tempatnya.


“Siapapun tolong aku…”


Selena menatap kamera yang tengah merekam aksinya, ia mengambil kamera itu dan merekam Alice yang sedang mencoba melarikan diri. Ini kamera Papanya, ia mencurinya hari ini. Ia tidak punya ponsel, jadi ia menggunakan kamera sebagai benda untuk mengabdikan moment menyenangkan ini.


Selena kembali meletakkan kameranya, ia menarik rambut Alice dan menyeret wanita itu kembali masuk kedalam gang itu. Alice mencengkram dress putih yang dikenakan Selena membuat dress mahal itu ternodai oleh darah.


“Kumohon ampuni aku, aku mengaku bersalah!! Tolong ampuni aku!!”


“Pengakuan bersalahmu, tak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi”


Selena merobek pakaian yang dikenakan Alice, Alice berteriak dengan keras ketika tubuh bagian atasnya hampir terekspos. Selena menatap datar pemandangan didepannya. Dengan lihai ia mengikat kedua tangan Alice menggunakan pakaian yang ia robek.


“A-apa…apa yang mau kau lakukan?”


“Tubuh yang begitu indah, perut ramping dan kaki jenjang bak seorang model. Tubuh inikah yang akan kau gunakan untuk memikat Leo? Memikat calon suamiku?”


Alice menggigit bibir bawahnya, iblis…gadis didepannya ini adalah seorang iblis. Gadis ini bukan manusia, gadis ini adalah iblis. Dan ia tidak bisa lari dari iblis ini.


“Lepaskanlah aku…kumohon…”


“Sudah sampai ditahap ini…mau menyerah kah? Sayangnya…siapapun yang sudah memancing api milikku, harus memadamkannya sendiri”


Selena meraih samurainya, melihat itu Alice kembali berteriak.


“15 menit…”


Crassssss…


Selena menusuk pada Alice menggunakan samurainya, Alice langsung berteriak memecah cakrawala. Darah segar keluar dari paha Alice diimbangi dengan tubuh yang bergetar dengan hebatnya. Rasa sakit dengan seketika menjalar keseluruh tubuhnya.


“Aku berharap…dengan kematianmu, itu bisa membuat Leo menjadi lebih baik”


“Arghhhhhh!!! Ahhhhh!! Haaaaa…that’s hurts…wahhhhhh” tangis Alice pecah seketika.


Selena menarik samurainya, menatap darah yang mengalir keluar dari paha Alice. Bagus…sangat bagus…wanita ini masih punya banyak darah walaupun ia sudah memberikan sayatan sebelumnya.


“Mari kita lihat reaksi keluargamu jika mereka menemukan jasadmu 4 jam lagi”

__ADS_1


“Tidak!!! Kumohon jangan!!! Tolong ampuni aku!!!” teriak Alice dengan begitu putus asa.


Selena hanya menatap dingin wajah putus asa Alice. Wanita didepannya ini pastinya adalah wanita yang sangat dimanja keluarga, selalu membawa nama keluarga disetiap ucapan yang membuatnya tak mampunyai kemampuan sedikitpun untuk melawan bahaya didepannya.


“Bodoh…”


Selena menginjak paha Alice yang terluka dan dengan sekali ayun ia memotong kaki kanan Alice.


Alice kembali berteriak membelah cakrawala, rasa sakit yang tak mampu ia jabarkan dengan sebuah kata-kata. Cacat, tubuhnya cacat sempurna sekarang, tubuh yang selalu ia rawat dengan baik demi membuat Leonardo mau meliriknya kini tak berguna lagi.


“Ahhhhhhhhh!!!!!!”


Selena menatap kelangit, melihat air hujan yang mulai turun. Hujan…sebelumnya ia sangat menyukai hujan hamun hari ini ia benci hujan…


“Membunuh Papa angkatku, dan mencoba menggoda Leo dengan tubuhmu. Apa kau pikir kau pantas melakukan itu semua huh?”


Selena berjongkok dan menjambak rambut Alice, Alice menggigit bibir bawahnya mencoba untuk tidak kembali berteriak.


Cuih!


Selena seketika membeku tatkala Alice meludahi wajahnya. Selena melepaskan jambakannya dan mengusap wajahnya, wanita ini…baru saja meludahi wajahnya?.


“Sepertinya…lidahmu juga tidak perlu berada ditempatnya lagi”


Selena menarik tangan Alice memaksa wanita itu agar berdiri.


“Beraninya kau meludahi wajahku…”


Selena mendorong tubuh Alice hingga jatuh tersungkur. Selena mencengkram rahang Alice dan secara paksa menarik lidah Alice keluar, Alice yang melihat itu panik. Ia menggigit jari Selena namun tak membuahkan hasil, Selena dengan sakali sayat melepaskan lidah itu dari tempatnya.


“ARGHHHHHHHH!!!!!!”


Darah segar mengalir keluar dengan begitu banyak dari mulut Alice, Selena tersenyum sinis melihat itu.


“10 menit…”


Selena melepaskan ikatan pada tangan Alice, wanita itu langsung memegang mulutnya. Air mata mengalir tanpa henti dari kedua mata Alice, ia salah. Ia salah…tak seharusnya ia mencari masalah dengan keluarga Iskandar jika tau keluarga itu punya iblis yang disembunyikan seperti ini.


“Kau punya darah yang begitu banyak, pantas saja kau belum mati-mati ketika aku memohong kaki dan lidahmu. Jadi sepertinya…kau akan masih tetap hidup saat tangan dan kakimu benar-benar lenyap dari tubuhmu. Dan kau…akan berakhir dengan kepala yang terpenggal.


Selena menatap jam tangannya, sudah berlalu 3 menit. Waktu cepat sekali ya berlalu.


Selena kembali mengambil samurainya yang sempat ia letakan, dengan cepat ia memotong kaki kiri Alice. Alice tak mampu berteriak lagi, suaranya terasa tercekat. Ia tak bisa mengatakan apapun lagi.


“Apa kau tidak punya permintaan terakhir? Jika tidak maka aku akan mengakhiri nyawamu, karena waktumu…hanya tersisa 5 menit lagi”


Hujan turun semakin lebat, Selena mengambil botol air dan meminumnya. Matanya sesekali melirik Alice yang mulai kehilangan kesadarannya, oh…ingin mati begitu saja? Tidak…tidak akan ia biarkan.


Selena menatap sekelilingnya, Ray kurang ajar! Bisa-bisanya pria itu tidak menyiapkan karung untuk membawa tubuh wanita ini, apa ia harus menyeret tubuh wanita ini nanti jika sudah mati?!.


Selena menarik kembali pedangnya ia kembali menatap jam tangannya dan dengan cepat langsung memenggal kepala Alice.


“8…7…6…5…4…3…2…1…death…goodbye”


“Hahahaha!!! I’m win!!!” Selena tertawa dengan senangnya. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali menjadi dingin, ia menatap tubuh didepannya, ia memotong kedua tangan itu dan juga membelah tubuh itu menjadi 2 dan mengeluakan semua organ dalamnya.


Selena melepas sarung tangannya, dan mengambil jantung milik Alice. Ia akan berikan ini kepada Papanya, Papanya pasti menyukainya.


Bau anyir darah tercium begitu kuat, Selena dengan tangan yang berlumuran darah menyibakan rambut yang menutupi wajahnya. Menyenangkan…benar-benar menyenangkan. Hari ini ia membunuh seorang wanita pada tanggal 9, bulan 9, jam 09.00 PM, dan juga diulang tahunnya yang ke-9.


“Selamat ulang tahun untukmu…Selena…”


Selena tiba-tiba terduduk di tanah, Selena mencengkram erat mayat Alice mencoba meredakan rasa sakit di kepalanya. Ah sial*n!.


Selena bangkit dan mengambil kamera Papanya, ia menghentikan rekaman video itu dan mengeluarkan cip didalamnya. Setelahnya ia menyeret anggota tubuh Alice satu persatu dan membawanya ke sembarang arah. Ia tak akan membiarkan polisi datang tanpa adanya kerja keras untuk menemukan mayat wanita ini.


Setelah selesai Selena menulis sesuatu di dinding menggunakan darah Alice. dan ketika selesai ia membawa kamera dan jantung Alice pergi dari tempat itu.


9999, You lost and I’m win! Next time…you die.


Selena berjalan dikota yang begitu itu, ia duduk di halte bus sembari bersenandung kecil.


Disisi lain…


At Sydney – Australia!


Rafindra bersama dengan rekan-rekannya mencari dengan panik kesetiap penjuru kota Sydney. Sial*n!!! Bagaimana bisa mereka lalai seperti ini?! Bagaimana bisa mereka kehilangan Nona mereka disaat ada begitu banyak penjagaan dikota ini?!.


“Bagaimana?! Selena sudah ditemukan?!” Hendrick dengan wajah pucatnya bertanya kepada Rafindra,


“Maaf Jenderal besar, kami belum berhasil menemukan Nona…”


“Cari terus sampai dapat!!”


Hendrick menatap geram para tangan kanannya yang ia perintahkan untuk menjaga Selena. Hanya anak umur 9 tahun saja tidak bisa mereka jaga?! Selena hanya seorang anak yang baru berumur 9 tahun Okey?! Apa dengan orang sebanyak ini itu masih belum bisa menjaganya?!. Sekarangpun Ruvelis tidak bisa dihubunggi, entah kemana pria itu pergi mencari putrinya.


Sedangkan Ruvelis menyetir dengan kecepatan penuh, ia harus menemukan putrinya. Ia tak ingin kehilangan putrinya lagi, sial*n!!! Jika tau seperti ini ia lebih baik membawa Leo pulang ke London daripada membawa putrinya kemari!.


“Nara…Nara di mana sayang…jangan membuat Papa khawatir…”


Ruvelis mencengkram kemudi dengan kuat, CCTV dirusak. Putrinya hilang, dan para bawahannya tak sadarkan diri karena gas bius. Ya tuhan…ia benar-benar tak bisa membiarkan sesuatu terjadi kepada putrinya.


Ruvelis menginjak rem dengan spontan, ia baru ingat jika kameranya juga tidak ada di tempat Leo. Didalam kamera itu ada cip, ia bisa melacak keberadaan cip itu!.

__ADS_1


Lama berkutik dengan ponselnya akhirnya Ruvelis menemukan keberadaan sang putri. Pria itu kembali menginjak gas dan menuju tempat yang ditunjukan ponselnya, beberapa saat berkendara akhinya Ruvelis berhenti ketika melihat putrinya sedang duduk di halte bis dembari tersenyum. Ya tuhan…untunglah jika putrinya baik-baik saja.


“Nara!” Ruvelis memanggil putrinya. Selena yang terpanggil langsung menoleh dan berlari kearah Papanya. Ruvelis menggendong putrinya dan menciumi seluruh wajah kecil putrinya.


“Ya tuhan…Nara kemana saja…Nara membuat Papa khawatir sayang…Nara baik-baik saja? Nara tidak terluka bukan?”


“Nara disini saja Papa, Nara tidak kemana-mana. Tapi tangan Nara terluka, tadi digigit”


“Coba mana tunjukan sayang…”


“Tunggu dulu Papa”


Selena turun dari gendongan Ruvelis dan mengambil jantung lalu menunjukannya kepada sang Papa. Ruvelis seketika membeku melihat itu, jantung…darimana putrinya mendapatkan ini. Dan…kenapa baju putrinya ada banyak bercak darah seperti itu?!.


“Lihat ini Papa…ini untuk Papa”


“Nara…”


Ruvelis langsung menggendong putrinya, ia memeluk erat putrinya. Ya tuhan…apa yang sudah dilakukan putrinya selama ia tidak ada? Dan jantung siapa ini?.


“Papa…?”


“Nara…kita pulang ya sayang…Mama juga khawatir dengan Nara”


“Mama? Mama ada disini juga Papa?”


“Tidak disini, Mama ada di tempat Leo. Sekarang Nara ikut Papa pulang dan temui Mama ya sayang”


“Nanti kalau Mama marah bagaimana?”


“Mama tidak akan memarahi Nara, Papa janji”


“Janji Mama tidak akan memarahi Nara?”


“Papa janji”


Ruvelis membawa putrinya masuk kedalam mobil, Selena menyentuh kaca jendela. Menatap samurainya yang tergeletak ditepi jalan. Samurainya…


“Papa…samurai Nara ketinggalan”


“Nanti biar Mama Jen yang kemari mengambil, sekarang Nara pulang dulu dengan Papa”


Ruvelis menyetir mobilnya sembari memeluk erat putrinya, tidak…ia tak akan membiarkan siapapun tau jika putrinya melakukan kejahatan seperti ini. Ia tak akan membiarkan polisi menyelidiki sampai tuntas.


“Sekarang, Papa minta Nara tidur…sudah malam, Nara pasti lelah” ucap Ruvelis.


“Tapi Nara belum mengantuk Papa”


“Shtttt…anak baik…tidur ya sayang…Nara sudah lelah, Nara tidur sekarang…”


Dengan perlahan mata Selena terpejam, Ruvelis mengeratkan pelukannya. Ia harus segera menelfon Jennifer, hanya wanita itu yang bisa membantunya saat ini.


Ruvelis melepaskan tangannya pada kemudi, membiarkan mobil itu melaju dengan sendirinya. Ia meraih ponselnya dan segera menelfon Jennifer.


“Ya Ruvelis?”


“Sekarang juga, datang ke Canberra dan selesaikan masalah yang dibuat putriku”


“Apa lagi yang diperbuat Nara?”


“Putriku membunuh seseorang disini, jalan XR5. Bereskan tempat ini, dan bawa kembali samurai milik putriku. Dna ini perintah resmi untukmu”


“Perintah anda saya terima Jenderal besar Nami”


Tut…


Ruvelis menyandarkan tubuhnya lalu menghembuskan nafas…ia benar-benar tak bisa berpikir jerih sekarang. ia harap hanya ia dan Jennifer yang tau mengenai masalah ini. Ia tak ingin orang lain tau, jika tidak…putrinya bisa berada dalam masalah dan terjebak dalam ambisi gila seperti dirinya.


Ruvelis menatap buah hatinya lekat-lekat, ya tuhan…apa yang sudah ia perbuat sampai mendapatkan seorang anak yang sangat mirip dengan dirinya?. Tak hanya fisik melainkan juga kepribadian, ia harap putrinya juga bisa tumbuh dewasa seperti dirinya.


“Maaf sayang…Papa harus melakukan ini demi kebaikanmu sendiri…maaf jika Papa akan lebih overprotective kepadamu kedepannya” Ruvelis meneteskan air matanya, benar…demi keamanan putrinya ia harus mengunci rapat-rapat kebebasan milik putrinya.


.


.


.


Jenssica menangis sesegukan sembari memeluk putrinya yang terlelap, ya tuhan…syukurlah putrinya kembali dalam keadaan baik-baik saja. Dunianya seketika terhenti ketika mendapat kabar bawah putrinya hilang saat disini.


“Hiks hiks…Nara…Nara…”


Ruvelis mengepalkan tangannya melihat istrinya yang tengah memeluk erat putrinya.


“Mulai hari ini dan seterusnya, Jenderal muda Nara. Tidak akan pernah diperbolehkan keluar dari jangkauan keluarga Alexandra. Sebelum usianya cukup, ia akan di didik dikemiliteran dan diawasi 24 jam oleh keluarga Alexandra. Dan juga! Akan terjadi pembatasan pertemanan, selain Ray, Aiden, Said, anak keluarga Iskandar dan Jasson…siapapun tidak diperolehkan menjalin hubungan dengan Jenderal muda Nara”


Hendrick seketika membulatkan matanya mendengar perintah dari Ruvelis. Apa Ruvelis sudah gila?! Hanya karena ini pria itu mau menghilangkan kebebasan milik putrinya?!.


Rafindra beserta rekannya hanya mampu terdiam mendengar keputusan bulat yang diambil Tuan mereka, mereka sudah menduga bahwa Jenderal besar Ruvelis akan membatasi akses keluar Nona besar mereka. Tapi mereka tak menyangka akan sampai seperti ini. Ini semua terjadi karena kelalaian mereka.


"Kami menerima keputusan anda Jenderal besar Nami"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2