Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (7) : Another Child


__ADS_3

.


.


.


Setelah sampai di Selandia Baru, Daniel segera menyetir mobilnya ke tempat yang dikirimkan oleh Rafindra. Ia benar-benar gelisah, ia takut Selena dan Leona akan kenapa-napa, ia takut Selena secara tak sengaja akan menyakiti Leona. Tidak tidak tidak, ia tak bisa membiarkan Selena maupun Leona terluka.


“Putar baliklah, jaga saja Leon dan Ryu!”


“Baik Tuan muda!”


Setelah beberapa saat mengemudi mobil Daniel berhenti disebuah kastil tua yang tampak tak begitu terawat, tanpa basa-basi ia langsung masuk dan mencari keberadaan Rafindra dan Selena.


“Lepaskan aku sial*n!!”


“Nona!! Mohon tenangkan diri anda!!”


“Kubilang kepas!!”


Daniel mendongkak, menatap suara yang sepertinya berasal dari lantai dua namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara tangisan seorang anak kecil.


“Leona?!”


“Hwaaaaaa!! Mama!! Mama!!”


Daniel kembali menuruni anak tangga dan menghampiri Leona yang digendong oleh seorang bodyguard yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.


“Leona, sayang…ada apa?” Daniel langsung menggendong Leona dan memeluknya, ia menatap sebuah perban yang menghiasi kepala Leona, apa Leona terluka? Apa ini karena Selena?.


“Hwaaaa Mama!! Mama!!”


“Apa yang terjadi? Bagaimana Leona bisa terluka?”


“Nona muda terjatuh dari tangga saat hendak mengikuti Nona besar, Tuan muda”


“Jaga Leona sebentar, aku akan menemui Selena”


“Ikut!! Aku mau Mama!!”


“Tidak, Leona disini dulu. Nanti kalau Mama sudah lebih tenang Leona boleh ketemu Mama”


Daniel memberikan Leona dan bergegas menaiki anak tangga, saat sampai di lantai 2 ia menatap sebuah ruangan yang pintunya terbuka namun ada banyak pecahan kaca diluar ruangan itu.


Brakkkkkk!!


Mata Daniel membulat melihat seorang bodyguard terpental keluar dari ruangan itu, ia langsung masuk keruangan itu dan menatap beberapa pria berjaz putih yang tengah memegang erat tubuh Selena.


“Tuan muda…” ucap Rafindra sembari menutupi hidungnya yang berdarah.


“Selena!!!”


“Menyingkir!! Lepaskan aku!! Aku akan menghabisi anak itu sekarang juga!!”


“Keluarlah, biar aku yang tangani Selena”


“Tapi-”


“Keluarlah”


Beberapa orang keluar dari ruangan itu menyisahkan Daniel dengan beberapa orang yang masih setia memegangi tubuh Selena. Daniel memungut sebuah lencana yang berada di antara serpihan kaca dan mendekati Selena.


“Ada apa lagi? Kenapa sampai seperti ini?” Daniel berucap dengan lembut sembari melirik beberapa botol cairan yang berserakan dilantai bersama dengan suntikan, sepertinya mereka gagal menyuntikan obat bius.


“Nona besar! Saya mohon tenang!!”


Daniel memeluk Selena dengan erat dan meminta pria-pria itu untuk pergi, Selena memukuli dada Daniel agar pria itu melepaskannya.


“Lepaskan aku sial*n!!!”


“Jika kau tidak tenang, aku tidak akan melepaskanmu”


“Lepaskan aku…”


Daniel melepaskan pelukannya, Selena berjalan kearah balkon kamar, menuang sebuah wiskey di gelasnya dan meminumnya. Kening Daniel mengkerut, melihat kekecewaan pada mata Selena.


“Ada apa? Coba ceritakan kepadaku” Daniel mencoba berbicara, pria itu duduk di hadapan Selena.


“Leo punya anak dari wanita lain”


Blarrrrrrrrr!!!.


A-apa?


“Tidak mungkin! Leo tak mungkin melakukan hal semacam itu!”


“Anak itu berusia 5 tahun, jadi saat Leo di kamp…wanita itu mengandung”


“Itu mustahil!!! Jika itu benar-benar terjadi, Jeff akan menceritakannya kepadaku!!” ucap Daniel.


“Kau pikir aku percaya?”


“A-apa?” bingung Daniel, jika bukan karena hal itu lantas apa yang memicu amarah Selena sampai mengamuk seperti ini?.


“Wanita itu berani menghina suamiku, dan anak haramnya berani melukai hidung putriku…aku ingin membunuhnya” ucap Selena menguatkan cengkramannya pada gelas hingga membuat gelas itu pecah.


“Tunggu sebentar! Apa yang kau maksudkan?!”


“Mama…sungguh, Leona baik-baik saja…Mama tak perlu menghawatirkan Leona” Leona dengan kaki pendeknya menghampiri dang Mama dan memeluk kaki panjang Selena. Selena memalingkan wajahnya, tak mau menatap sang buah hati. Entah kenapa, melihat wajah Leona yang sekilas terlihat mirip dengan anak haram itu membuat emosinya kembali muncul.


“Pergilah Leona”


“Ma, Leona sungguh baik-baik saja. Mama tak perlu cemas”


Selena menghembuskan nafasnya dan mengangkat tubuh putrinya lalu mendudukannya di pangkuannya.


“Bukankah Leona tau Mama paling tidak suka Leona terluka?”


“Leona tau, Leona minta maaf…Leona akan berhati-hati kedepannya. Mama jangan marah lagi, kasihan kakek”


“Hah…Leona belum tidur semalaman, tidurlah sekarang”


“Iya”


Leona turun dari pangkuan sang Mama dan keluar dari kamar itu, Selena mengusap wajahnya dengan kasar. Daniel yang melihat itu prihatin, sepertinya Selena membutuhkan waktu sejenak untuk memanjakan diri.


“Ayo ikut aku”


“Kemana?”


“Lihat matahari terbit”


Daniel menarik tangan Selena pergi tanpa perlu menunggu persetujuan dari sang empu.


*********


Selena menatap tenang matahari yang mulai menampakan sinarnya, ucapan Daniel benar adanya…ia butuh istirahat, ia juga harus mementingkan dirinya sendiri dan tak terus-terusan terjebak dalam dunia perbisnisan. Ia juga harus punya waktu untuk dirinya sendiri ditengah-tengah kesibukannya.


“Latte?” tawar Daniel menyodorkan sebuah latte yang baru saja ia beli.


“Terima kasih”


Daniel dan Selena bersandar di mobil sembari menikmati matahari yang terbit, senyum terukir dibibir indah Daniel ketika menatap Selena yang sudah mulai tenang tak emosian seperti tadi.


“Mau healing beberapa hari?”


“Hari ini jadwal Ryu cuci darah”


“Besok, kita titipkan anak-anak pada Rafindra. Jika perlu aku akan meminta Joe kemari”


“…, terserah” jawab Selena setelah beberapa saat memikirkan ucapan Daniel.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Selena menggandeng tangan putrinya Leona masuk kedalam mansion keluarga Iskandar. Semua orang yang berada di mansion itu langsung berdiri dan membungkuk homat kepada Selena kecil seorang wanita yang duduk dengan anggun di sofa dengan seorang anak kecil berumur 5 atau 6 tahun disampingnya.


“Selamat datang Nyonya muda”


“Katakanlah ada apa, ada hal penting apa sampai-sampai aku harus datang kemari” ucap Selena sembari memberikan Leona kepada Rafindra agar di gendong. Dibandingkan pertanyaan yang baru saja ia ajukan ia lebih penasaran siapa wanita dan anak kecil yang beraninya tidak memberikan hormat kepadanya.


“Adik ipar…duduklah” ucap kakak angkat Leo.


“Siapa dia?”


“Apa kau istri Leonardo?”


Selena mengerutkan keningnya, parasit darimana lagi kali ini?.


“Aku istri sah Leo secara agama maupun Negara, sekarang katakan. Apa tujuanmu datang ke mansion suamiku ini” ucap Selena sembari duduk dihadapan wanita itu, Tuan dan Nyonya besar Leonardo berdiri dan kembali duduk di tempat yang berbeda. Pelayan menuangkan teh pada cangkir Selena.


“Aku tidak minum jasmine tea”


“Katakan, dan jangan membuang waktuku”


“Perkenalkan aku Mona, dan ini putraku Arkan”


“Aku tidak bertanya” dingin Selena, apa wanita itu tidak mengerti bahasanya? Ia menyuruh untuk mengatakan apa yang menjadi keperluan wanita itu datang! Tapi kenapa dia malah memperkenalkan diri?.


“Arkan, dia putraku dengan Leonardo”


Blarrrrrrrrrrr!!!!


Bagai petir disiang bolong, Selena dan Rafindra langsung terdiam membatu di tempat mereka. semua anggota keluarga Iskandar menelan ludah dengan kasar, duh…mati…keluarga Iskandar benar-benar dalam bahaya sekarang.


Leona menatap bingung Rafindra yang menampilkan ekspresi yang tidak bisa dibaca, ia menatap Rafindra dan anak itu secara bergantian. Wanita itu bilang apa? Papanya punya anak lain selain dari Mama tercintanya?.


“Kakek?” ucap Leona meminta jawaban dari Rafindra.


“Saya mohon agar anda tidak terlalu memikirkan ini Nona”


“Tapi-”


Setelah kebisuan sesaat dari Selena, wanita itu menghembuskan nafasnya dan meminum teh lemon yang baru disajikan. Hahhhhhh…masalah lagi, tidak bisakah ia beristirahat sejenak dari masalah? Satu belum selesai datang lagi satunya.


“Lalu?” tanya Selena.


Tak hanya Mona, semua anggota keluarga Iskandar langsung mengerutkan keningnya akan respon tenang Selena.


“Dulu Leo menyuruhku mengugurkan anak ini tapi tidak kulakukan. Karena kudengar Leo sudah tiada, maka aku ingin meminta hak anakku sebagai salah satu anaknya”


Selena meletakkan cangkir tehnya dan menatap anak itu dengan dingin, anak lelaki itu langsung bersembunyi di balik lengan Ibunya. Selena menatap anak itu dan menatap Leona, cih…kenapa mereka bisa terlihat mirip?.


“Hak anakmu?”


“Ya, aku ingin anakku juga punya hak yang sama seperti anakmu”


“Hanya seorang anak haram diluar nikah yang tidak diinginkan oleh suamiku, bagaimana bisa menuntut warisan?”


“Meskipun Arkan lahir diluar nikah, tetap saja dia juga anak Leo…darah dagingnya, dan bisa dikatakan. Dia adalah anak tirimu”


Selena mengerutkan keningnya, apa wanita ini tidak mengerti hukum yang berlaku sekarang? Bukankah anak diluar nikah tidak bisa mendapatkan warisan? Atau ia yang salah baca buku?.


“Apa kau tidak tau jika, seluruh aset serta kekayaan yang dimiliki suamiku semasa hidupnya sudah diberikan kepadaku? Semua aset itu sudah atas namaku, bahkan sebelum suamiku meninggal…dia sudah dengan adil membagi warisan untuk ketiga anaknya. Anak yang diakui secara sah baik agama maupun Negara, anak yang lahir dari istri sah…bukan anak diluar pernikahan” sinis Selena. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat…sudahlah.


Mona mengerutkan keningnya, Leonardo punya 3 anak dari wanita ini? Sial*n, jika begitu akan sulit bagi putranya mendapatkan harta warisan.


“Aku tidak mau tau, bagaimanapun Arkan harus mendapatkan haknya sebagai anak Leonardo. Dia juga keturunan keluarga Iskandar”


“Lalu kenapa saat suamiku memintamu mengugurkan anak itu kau tidak melakukannya? Apa kau sengaja mempertahankan kandunganmu agar bisa menjebak suamiku? Agar dia mau menikahimu dan menjadikan anak harammu sebagai salah satu ahli waris dari kekayaannya? Jika seperti itu kenapa kau tidak datang dari dulu-dulu sebelum Leo menikah denganku dan membuatnya bertanggung jawab disaat itu juga? Kenapa baru sekarang kau muncul dan mengaku-ngaku mempunyai anak dari suami orang lain? Bahkan sampai meminta hak untuk seorang anak yang tak jelas asal-usulnya” jelas Selena panjang lebar, wanita ini salah jika ingin berdebat dengan calon pengacara seperti dirinya.


Wanita itu hanya menatap dingin Selena dan kembali meminum tehnya, sepertinya ini akan sedikit sulit…dilihat dari cara bicaranya, wanita dihadapannya ini…pasti seseorang yang sudah handal dalam urusan semacam ini.


“Karena Leonardo mengancamku, jika sampai orang lain tau bahwa dia pernah menghabiskan malam dengan wanita lain maka dia akan melenyapkan keluargaku” santai wanita itu.


Sudut bibir Selena terangkat, hah…wanita ini suka sekali membual…jika memang suaminya tidur dengan wanita ini hingga menghasilkan seorang anak, kenapa suaminya mau membunuh keluarga wanita ini jika sampai wanita ini menceritakan hal ini kepada orang lain?.


“Coba katakan, bagaimana malam indahmu bersama dengan suamiku” dingin Selena sembari menopang dagunya. Dibawa santai saja.


Pertanyaan Selena langsung membuat Rafindra mengeluarkan keringat dingin, tidak bisa! Ia tidak bisa membiarkan Nonanya berada disini lebih lama! Tapi bagaimana caranya ia membawa pergi Nonanya?! Kenapa otaknya tiba-tiba tidak bisa berpikir?!.


“Apa maksudmu?” tanya Mona tak suka.


“Punya rekaman videonya? Aku ingin melihat, bagaimana panas dan liarnya suamiku menghabiskan malamnya di ranjang wanita lain”


“Kau sudah gila ya?!” ucap Mona berdiri dengan wajah piasnya.


Selena berdiri dan menatap tajam wanita didepannya ini, cihhhh…sejak kapan selera suaminya serendah ini?.


“Kapan? Di mana? Dan siapa saksi yang melihatmu menghabiskan malam dengan suamiku”


Mona mengepalkan tangannya geram, pertanyaan wanita itu benar-benar membuatnya naik pitam!


“Aku punya 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, menurutmu…apakah mungkin anakmu bisa mengungguli anakku?”


Byurrrrrr!!


Mona menyiramkan teh tepat kearah Selena namun Rafindra dengan sikap langsung memasang badan untuk Nonanya.


“Mohon jaga sikap anda, karena saya…tak akan segan-segan memukul wanita”


“Tanggal 11 bukan 6 di hotel XXz!! Jika kau tak percaya, datangi saja hotel itu maka kau akan tau kebenarannya!” geram Mona.


“Tak perlu, kebetulan aku punya kenalan yang notabenenya adalah pemilik hotel megah di New York itu”


Selena mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang.


“Ada yang bisa saya bantu? Nona cantik”


“Berikan aku semua pengunjung hotelmu pada tanggal 11 bulan 6”


“Hei, apa kau bercanda? Tahun berapa?”


“Banyak bicara, carikan saja. Sampai salah…”


“Iya iya iya! Akan kucarikan sekarang juga! Tapi hasilnya baru besok! Aku sedang liburan dengan istriku!”


“Mau kupecat sekarang juga?”


“Sayang! Aku akan ke New York sekarang! Muahhhh! Iya-iya Selena, aku akan segera pergi ke bandara. Jika sudah nanti kukirimkan hasilnya kepadamu! Bye bye!”


Tut…


Selena memasukkan ponselnya kembali ke saku jaznya dan menatap dingin Mona serta Arkan.


“Jika sampai itu tidah benar…kau akan tau konsekuensi dari berbohong didepan Anderson Devano…Selena”


Mona mengepalkan tangannya dengan erat, sekujur tubuhnya gemetar menahan amarah. Ia harus bisa menahan emosinya, jika tidak…semuanya bisa kacau. Mengingat rumor yang beredar, wanita yang dinikahi Leonardo bagaikan sebuah mata pedang sekaligus orang yang berhati batu.


“Paman Raf”


“Saya siap menjalankan perintah Nona!”


“Hubungi semua pemilik rumah sakit di Negara ini, lakukan tes DNA. Jika sampai ada kesalahan, penggal saja kepala mereka”


“Siap laksanakan!!”


“Wanita, jika sampai kau berbohong…kau harus siap dengan segala konsekuensi, salah satunya…kematian. Paham?”


“Leona, Mama ada urusan. Kau tetap disini dengan kakek buyut”


“Iya Ma”


“Dan kalian, jaga putriku baik-baik”


“Baik Nyonya muda”


Mona mengepalkan tangannya melihat punggung Selena yang mulai menjauh, wanita sial*n itu!! Bisa-bisanya wanita itu tidak percaya jika Arkan adalah anak Leonardo! Tunggu saja, sampai hasil tes DNA keluar…ia akan membuat wanita itu kehilangan muka dan ia juga akan menuntut hak anaknya! Anaknya tetap menjadi anggota keluarga Iskandar meskipun lahir diluar nikah sama seperti Nona muda keluarga Jasson!.

__ADS_1


“Kakek buyut”


“Kemari sayang” Tuan besar Iskandar merentangkan tangannya meminta Leona memeluknya. Leona berlari memeluk kakek buyutnya, pria paruh baya itu tersenyum dan mencium pipi Leona.


“Leona sudah semakin besar”


“Tentu saja, aku makan dengan baik!”


“Anak pintar, ayo ikut kakek…kakek akan tunjukan kucing barumu”


“Kakek belikan untukku?! Serius?”


“Apa yang tidak untuk Leona…”


Pria paruh baya itu membawa Leona pergi, Mona yang melihat itu langsung meminta anaknya agar pergi bersama Tuan besar Iskandar. Putranya juga harus mendapat pengakuan dari keluarga ternama ini.


“Ka-kakek buyut…” panggil Arkan takut-takut.


“Pergilah, aku ingin menghabiskan waktu bersama cicitku. Ayo sayang”


Leona memutar kepalanya, menjulurkan lidahnya mengejek Mona serta anaknya. Mona mengepalkan tangannya membuat kakak ipar Selena serta Nyonya besar Iskandar manahan tawanya, benar-benar mirip dengan Mamanya saat masih kecil.


“Ma…” panggil anak laki-laki itu.


“Jangan khawatir, kau akan diterima disini sebentar lagi”


“Kau salah mencari musuh wanita, menantu keluarga Iskandar…bukanlah orang yang berpikiran sempit. Katakan yang sejujurnya, jika sampai dia tau kau berbohong…keluargamu akan dilenyapkan tanpa tersisa satupun”


“Aku tidak berbohong! Arkan memang anak Leonardo!” geram Mona.


“Cucu kebangganku…tidak mungkin mengkhinati pujaan hatinya, wanita yang mati-matian ia dapatkan dari keluarga ternama tidak mungkin dia sia-siakan. Jadi jangan main-main, dengan cucu menantuku” dingin Nyonya besar Iskandar, wanita ini membuat masalah…kenapa baru datang sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja? Keluarganya bisa terkena masalah sampai masalah ini sampai ditelinga Zachery, pria itu bisa merobohkan keluarga Iskandar detik di mana berita ini sampai ke telinganya.


Kakak angkat Leo menatap istrinya dengan wajah cemasnya, jika sampai anak itu benar-benar anak dari Leo bagaimana? Anak itu dan Leona sekilas terlihat mirip, Leon, Leona maupun Ryu tidak satupun diantara ketiganya yang memiliki gen fisik Selena. Jadi pastinya Leona mendapatkan gen dari Leo…tapi sungguh, hatinya benar-benar menolak kenyataan itu mengingat bagaimana perjuangan Leo mendapatkan restu dari keluarga Alexandra bahkan sampai adiknya dan Selena menikah pun hanya Paman Alexandra yang memberikan restu mereka terhadap adiknya. Ya tuhan…


“Ini adalah salah satu tempat di mana Nona kami di didik, jika sampai kau berani mengotorinya…jangan salahkan kami main tangan”


**********


Selena masuk kedalam kediaman Iskandar berniat untuk menjemput putrinya untuk makan siang diluar, namun mata dinginnya langsung tertuju kepada seorang wanita yang dengan tidak tau malunya duduk disofa sembari menikmati teh. Apa wanita itu miskin sampai tidak mau pulang kerumahnya sendiri? Perlu ia belikan?.


“Mulai sekarang, jangan melayani orang yang tidak penting”


“Baik Nyonya muda…”


“Apa maksudmu? Aku sudah melahirkan anak laki-laki untuk keluarga Iskandar, bukankah sudah sepantasnya aku mendapat perlakuan ini?”


“Aku juga punya 2 anak laki-laki, yang keduanya diakui oleh keluarga Iskandar bahkan keduanya sudah mendapat gelar resminya. Jika terjadi perebutan ahli waris? Apa anakmu akan terlibat? Tidak mungkin. Jangankan perlakuan baik, tempatmu tidak ada disini”


“Heh, aku jadi penasaran di mana Leonardo menemukan istri seperti dirimu”


“Yang terpenting bukan di tempat tinggal seorang pela*ur”


“Kau!!!”


“Sepertinya ada yang belum kau ketahui, jarak usiaku dan Leo adalah 6 tahun…sejak aku masih bayi dia sudah berada di sampingku. Dia tak pernah meninggalkanku selain untuk pengejar pendidikan dan kewajibannya, entah kenapa rasanya mustahil untuk bisa percaya jika anak itu adalah anak suamiku”


“Heh, apa kau tau apa yang dikatakan Leonardo saat berada diatas tubuhku ‘Aku sangat menyukai tubuhmu ini sayang, jauh lebih menyenangkan daripada wanita-wanita yang pernah kutiduri’” sinis Mona.


Sudut bibir Selena terangkat, entah ia harus berterima kasih atau melakukan apa kepada wanita ini karena telah membuat gairah membunuhnya kembali berkobar setelah dimatikan selama 3 tahun.


“Lalu apa kau tau apa yang dikatakan suamiku saat berada diatas tubuhku ‘Aku mencintaimu, sampai aku mati aku hanya akan mencintaimu. Aku hanya milikmu, Ratu dihatiku hanya dirimu tak ada siapapun yang bisa mengeser posisimu. Sampai nafas terakhirku aku hanya akan mencintaimu, hanya kau wanita yang pernah menyentuh tubuh ini. Aku bersumpah, jika sampai ada wanita lain yang menjadi milikku…aku akan menyerahkan kepalaku untukmu’ aku punya rekamannya jika kau tidak percaya”


Ucapan Selena langsung membuat semua orang yang berada disana terdiam bungkam. Kisah cinta Selena dan Leo memang romantis, itu diakui oleh keluarga Iskandar, Alexandra, dan teman-teman keduanya.


“Sedari dulu prinsipku adalah, mengganti barang yang hilang tanpa mencarinya tapi itu tidak berlaku untuk Leo. Jadi wanita, jangan macam-macam…aku bisa menjungkir balikan keluargamu hanya dengan membalik telapak tangan sekalipun keluargamu sebesar keluarga Jasson”


“Jangan melunjak! Memang siapa kau hingga bisa melakukan hal seperti itu?! Leo pernah bilang kepadaku jika tunangannya bukanlah siapa-siapa! Dia juga bilang bahwa tunangannya hanyalah seorang wanita dari keluarga miskin yang tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga Ciel! Jadi jangan melunjak karena aku adalah Nona besar keluarga Bai!!” geram Mona.


Selena menatap dingin Mona, wanita ini jika semakin dibiarkan akan semakin melunjak.


“Aku tak ingin berdebat, panggil Leona”


“Aku masih ingin bicara denganmu!” geram Mona.


“Aku tak punya waktu untuk berbicara dengan hewan”


Jlep!


Selena menaiki anak tangga, putrinya pasti ada di kamar kakek mertuanya mengingat ia meminta tak seorangpun boleh memasuki kamar suaminya jika tidak ada kepentingan yang mendesak.


“Adik ipar!”


“Ada apa?”


“Nenek memanggil”


Selena kembali menuruni anak tangga dan mengikuti kemana Herra pergi. sedangkan disaat yang bersamaan Leona dan Arkan saling tarik menarik sebuah kalung.


“Kau ini apa-apaan?! Kakek buyut yang memberikan ini untukku!!” geram Leona.


“Tidak mungkin!! Jelas-jelas Mamaku bilang jika ini untukku karena aku adalah calon pewaris keluarga Iskandar!!”


“Mustahil!! Leon yang akan menjadi pewaris keluarga ini!! Lepaskan”


Plak


Sebuah pukulan tak terlalu kelas mendarat di punggung tangan Arkan, Tuan besar Leonardo menatap tajam anak laki-laki itu membuat anak berumur 5 tahun itu mundur ketakutan.


“Apa yang kau perebutkan dengan cicitku? Ini adalah kalung pewaris, dan kau tak akan pernah memakai ini”


“Huh! Dengar sendiri kan?!”


“Ayo turun, Mamamu sudah datang” Tuan besar Iskandar menggandeng tangan Leona menuruni anak tangga.


“Pelan-pelan turunnya, jaga langkah kakinya, tetap tegak, pandangan kedepan, jaga postur tubuh”


“Iya, benar seperti ini kakek?”


“Sudah benar, hati-hati”


Leona dengan hati-hati memperhatikan langkahnya, karena ia sedang berada di kediaman Iskandar sekalian ia minta diajari etika naik turun tangga agar anggun seperti Mamanya.


“Sekarang kakek lepas ya, Leona coba turun sendiri”


“Iya, aku sudah bisa”


“Kakek hati-hati, usiamu tak lagi muda” ucap kakak angkat Leo.


“Aku tau”


Tuan besar Iskandar menuruni tangga dengan perlahan, haihhhhh usianya tak lagi muda. Baru sebentar ia mengajari cicitnya ia sudah kelelahan.


“Arkan, kemari sayang” panggil Mona.


Mendengar namanya yang dipanggil oleh sang Mama membuat anak laki-laki itu bergegas menuruni tangga dan tanpa sengaja tangannya mengyenggol lengan Leona membuat gadis kecil itu kehilangan keseimbanganan-nya.


“Leona!!!!”


Dugh!


Tuan besar Iskandar langsung menghampiri cicitnya dan membantu Leona untuk berdiri, Arkan yang melihat itu langsung ketakutan ia langsung berlari dan bersembunyi di punggung sang Mama.


“Akhhh…”


“Leona, sayang…kau baik-baik saja?”


“Huuuuuuuu…”


“Jangan menangis sayang…jangan menangis, coba lihat kakek…biar kakek mengobati lukamu”


Sedangkan Selena kini tengah terpaku di tempatnya melihat sang putri tercinta jatuh dari tengga tepat didepan matanya. Tubuhnya gemetar membuat para bodyguard yang berjaga di lantai bawah langsung bersimpuh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2