
.
.
.
Hans masuk kekamar Selena sembari membawa buah-buahan ditangan nya. Ia duduk disisi ranjang dan mencium rambut panjang Selena. Ia menepuk pelan pipi Selena membuat manusia yang sedang terlelap itu terbangun.
“Bangun, makan dulu…"
Selena bangun dibantu oleh Hans. Hans dengan telaten menyuapi Selena, Selena hanya bisa menerima suapan dari Hans dengan perasaan campur aduk. Apa suaminya ini salah minum obat? Kenapa sikapnya berubah sekali? Atau obatnya sudah habis?.
“Jangan salah paham, aku hanya melakukan apa yang diminta Ilham” kata Hans dingin.
Selena menundukan kepalanya dan mengucurkan bibirnya. Hilang sudah rasa kagumnya kepada Hans.
Hans terkekeh pelan melihat raut wajah Selena yang langsung berubah drastic. Akhir-akhir ini ia suka sekali menggoda Selena dan membuat Selena menunjukan wajah kesalnya yang menurutnya sangat lucu.
“Tidak mau lagi…kenyang…”
“Baru 5 suap…ayo makan lagi”
Selena menggelengkan kepalanya tidak mau. Hans mengembuskan nafas dan memberikan segelas air putih kepada Selena. Hans pun keluar untuk mengembalikan mangkuk sedangkan Selena langsung kembali terlelap.
Hans menghembuskan nafasnya melihat Selena yang sudah tidur. Ia membenarkan posisi tidur Selena dan mematikan kampu yang masih menyala. Ia duduk disamping Selena dan mengelus pipi Selena lembut.
“Kau cantik dan baik, tapi sayang…aku tidak mencintaimu” kata Hans.
Mata Hans bergulir menatap bibir mungil Selena yang memucat. Bibir merah yang selalu ia cium tampak begitu pucat sekarang. Hans mendekatkan wajahnya, ia mencium bibir Selena lembut namun ia langsung menghentikan aksinya itu saat seseorang membuka pintu kamar. Sial*n, siapa yang berani mengganggunya lagi?!.
“Tuan…”
__ADS_1
“Ada apa kau kemari? Ganggu orang saja!” ketus Hans kesal.
Pria itu menunduk sembari meminta maaf. Jika bukan karena hal yang mendesak ia juga tidak mau mengganggu Tuannya.
“Tuan, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani. Besok Assistant Gerry harus menyerahkan nya ke perusahaan pusat”
“Taruh saja disitu, nanti kubaca. Keluar”
“Baik…Selamat malam Tuan…”
Pria itu keluar dan menutup pintu. Hans mengusap rambutnya kasar, bisa-bisanya seorang bocah membuatnya kecanduan seperti ini. Dulu banyak wanita yang melemparkan diri mereka sendiri kedalam pelukannya, namun ia tidak tertarik dengan satupun wanita itu.
Namun semua itu berubah saat seorang wanita datang kepadanya menunjukan sebuah foto gadis cantik nan manis membuatnya langsung ingin menjadikan gadis itu sebagai peliharaannya. Ia masih ingat betul bagaimana wajah Selena saat pertama kali bertemu dengannya.
Hans menghembuskan nafasnya, ia menikahi seorang wanita yang memiliki umur 10 tahun lebih muda darinya. Ia menjadi Sugar Daddy, entah kenapa rasanya mengelikan jika memikirkan hal itu. Mungkin jika selisih umurnya dengan umur Selena hanya 4-5 tahun tidak masalah.
Mata Hans kembali memandangi wajah Selena.
Hans langsung masuk kedalam kamar mandi dan menguyur tubuhnya dengan air dingin.
“Dia sedang sakit Hans! Jernihkan pikiranmu! Dasar idiot!” gerutu Hans memaki dirinya sendiri.
.
.
.
Esoknya>
Selena membuka matanya perlahan, ia menatap Hans yang tengah meminum kopi di sofa. Apa pria itu berada disini semalaman untuk menjaganya?.
__ADS_1
“Sudah puas melihatnya?” datar Hans tersenyum miring.
Selena langsung mengalihkan pandangannya membuat tawa kecil keluar dari bibir Hans. Pintupun terbuka, dokter Alex masuk membawakan Selena bubur dan beberapa vitamin.
“Dokter, kapan aku boleh pulang?” cicit Selena.
“Setelah sembuh pastinya”
Selena memajukan bibirnya mendengar jawaban dokter Alex. Siapa yang tidak tau tentang itu? Tapi ia sudah sembuh. Kenapa masih tetap disini? Ia ingin bekerja.
“Kau harus tetap disini sampai sembuh total, kalau pingsan lagi kan merepotkan” cibir Hans.
Selena menundukan kepalanya mendengar ucapan Hans. Hans berdiri dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Selena dan dokter Alex sendirian.
“Dokter, sungguh…aku sudah sembuh. Biarkan aku keluar, aku ingin bekerja”
“Tidak bisa Nona…tubuh anda masih lemah, anda terlalu memaksakan diri”
“Please…” pinta Selena dengan puppy eyesnya.
Dokter Alex menghembuskan nafas melihat kelucuan Selena, jika sudah memohon sampai seperti itu ia mana bisa menolak. Sejak dulu tingkat kekuatannya melawan hal-hal lucu -100%.
“Baiklah, tapi setelah infusnya habis” kata dokter Alex langsung keluar dari ruangan.
Selena menatap datar infusnya yang penuh. Sepertinya ia memang tidak bisa keluar dari sini untuk waktu dekat ini.
.
.
.
__ADS_1