
.
.
.
1 bulan kemudian…
Ruvelis membuka ikatan mata istrinya saat sampai ditempat tujuan. Jenssica menutup mulutnya tak percaya melihat hadiah yang disiapkan oleh suaminya. Suaminya menghias menara Eifel untuknya? Ah…romantis sekali. Jenssica membalik badannya dan memeluk erat suaminya.
“Selamat hari pernikahan sayang…”
“Selamat hari pernikahan untukmu juga sayang…aku mencintaimu”
“Aku lebih mencintaimu” bisik Ruvelis.
Sepasang suami istri mendekati Jenssica dan memeluk wanita itu dengan erat.
“Selamat untuk hari pernikahan kalian…”
“Terima kasih Pa…Ma…”
Ruvelis memberikan bucket bunga kepada Jenssica dan mencium lembut bibir istrinya.
“Semoga…keajaiban datang kepada kalian…” ucap Nyonya Alexandra.
“Semoga ma…aku sangat berharap…” jawab Ruvelis seraya membelai lembut perut datar istrinya.
Jenssica melepaskan pelukan suaminya, ia berlari kearah adiknya yang membawa sebuah hadiah yang akan ia berikan kepada suaminya. Ia kembali mendekati Ruvelis, memberikan hadiah itu kepada suaminya.
Ruvelis menatap heran kado itu, ini pertama kalinya istrinya berinisiatif memberikannya kado tanpa di kode terlebih dulu. Ia membuka kado itu dengan perlahan, sebuah kaus?. Ia mengambil kaus itu dan membukanya.
“Hai Daddy?” tanya Ruvelis kebingungan.
Tuan dan Nyonya Alexandra yang mendengar hal itu langsung berteriak senang. Mereka saling berpelukan dengan erat. Sedangkan Ruvelis masih kebingungan, apa maksud kaus ini?.
Ruvelis kembali membuka kado kecil yang tertutup kaus itu. Tangannya dengan gemetar mengambil test pack darisana. Tubuhnya gemetar dengan hebatnya ketika melihat garis 2 di test pack itu. Test pack yang selama ini hanya menunjukan garis satu kini menunjukan garis 2.
Dengan raut wajah bahagianya Ruvelis mengangkat tubuh istrinya, ia menciumi perut datar istrinya. Akhirnya, hari ini datang juga. Ia akan menjadi seorang Ayah! Seorang anak akan berlari di rumahnya sembari memanggilnya Papa!! Ahhhhh…membayangkannya saja sudah membuatnya benar-benar senang.
“Sayang! Turunkan aku!”
“Kau benar! Anaknya bisa terluka, maafkan aku…” ucap Ruvelis langsung menurunkan istrinya. Ia memeluk erat istrinya sembari menciumi puncak kepala istrinya.
“Terima kasih! Terima kasih! Ini hadiah terbaik yang pernah kuterima selama ini!”
“Bagaimana kata dokter sayang? Apa kau dan kandunganmu baik-baik saja? Sudah berapa bulan”
“Eh? Sepertinya aku belum memeriksakannya ke dokter, aku hanya menggunakan test pack”
“Kalau begitu ayo kedokter!” ucap Ruvelis langsung menggendong istrinya masuk kedalam mobil.
Tuan dan Nyonya Alexandra tersenyum hingga meneteskan air mata bahagianya melihat itu. Akhirnya, seorang anak diberikan kepada putra sulung mereka. Anak-anak mereka yang lain pasti senang saat mereka tau jika mereka akan menjadi seorang Paman.
.
.
__ADS_1
.
Ruvelis dan Jenssica dengan mata yang berkaca-kaca melihat layar monitor. Seorang janin kecil sedang tumbuh didalam rahim istrinya, Ruvelis mencium dahi istrinya sembari menangis terharu. Penantiannya selama 5 tahun akhirnya membuahkan hasil, ia benar-benar bahagia hari ini.
“Wah, Tuan…Nyonya…selamat usia janinnya memasuki minggu ke-7”
“Terima kasih…aku berjanji akan membahagiakanmu dan anak kita”
“Boleh aku tau apa jenis kelaminnya?”
“Hahaha, Tuan…apa yang anda katakan? Janinnya masih sangat kecil, tunggu beberapa bulan. Kita bisa mengetahui jenis kelamin bayinya”
“Tuhan…aku bernar-benar mengharapkan seorang putri” Ucap Ruvelis.
“Bagaimana jika seorang putra?” tanya Jenssica tersenyum lucu.
“Maka ayo membuat sampai kita mendapatkan anak perempuan! Aku akan menjadikan putri kecil kita sebagai putri kesayangan keluarga”
“Ya…aku juga mengharapkan seorang putri. Seorang putri, yang mewarisi bakat kedua orang tuanya”
“Pasti…pasti…aku yakin!”
Sedangkan diluar ruangan terdengar suara keributan membuat Ruvelis langsung bergegas keluar dari ruangan meninggalkan istrinya yang tengah diberi nasihat oleh dokter.
“Jennifer, Lonza…ada apa ini?”
“Aku yakin itu anak perempuan! Dia akan mirip seperti kakakku!!” kesal Jennifer.
“Enak saja! Aku yakin dia anak laki-laki yang mirip dengan kakakku!”
“Mana ada! Yang pasti aku yakin jika dia anak perempuan yang mirip kakakku!!” ucap Jennifer tak mau kalah.
“Okey! Ayo kita taruhan!”
“Aduh…anakku belum lahir kenapa kalian sudah membahas masalah itu?” ucap Ruvelis. Yang satu adiknya dan satu adik iparnya, entah kenapa. Jika 2 orang ini bertemu pasti tidak akan ada yang namanya ketenangan. Semoga saja anaknya nanti tidak memiliki sifat seperti mereka.
“Menantu Mama sedang hamil sekarang, lebih baik. Kalian pindah ke-kediaman utama, banyak orang yang akan menjaganya. Bukan apa, Mama hanya ingin yang terbaik untuk mereka berdua”
“Baiklah ma, terserah Mama saja” jawab Ruvelis.
*
Beberapa bulan kemudian.
Lonza dan Jennifer membeku melihat keponakan mereka yang baru saja lahir. Mereka saling melirik, sekarang siapa yang menjadi pemenangnya. Adik-adik Ruvelis menertawakan wajah bodoh Lonza dan Jennifer. Siapa suruh main taruhan sebelum waktunya.
“Yak! Bayinya sangat sehat! Jempol untuk kalian semua!” ucap dokter wanita bernama Bella sahabat wanita Jenssica sekaligus sepupu dari Micle.
Para Alexandra tersenyum puas mendengar ucapan dokter wanita itu, bagaimana tidak dijaga dengan baik. Keponakan pertama, bagaimana tidak dijaga dengan baik?.
Ruvelis mencium kening istrinya yang masih terlelap karena obat bius. Istrinya sudah berusaha, sekarang anaknya sudah lahir. Ia berharap semoga istrinya masih memperdulikannya nanti.
“A-anak perempuan yang sangat mirip dengan kakak ipar…” ucap Jennifer.
“Bagaimana? Siapa yang memenangkan taruhannya?”
“Ma…bagaimana bisa menang? Ini anak perempuan yang mirip dengan kak Ruvelis…aku harus bagaimana?” tanya Lonza.
__ADS_1
“Nah! Karena ini anak perempuan, dia akan memakai nama kakakku!” ucap Jennifer senang.
“Enak saja! Ini anak kakakku juga! Dia akan menyandang nama kak Ruvelis!”
“Diam kalian berdua! Jika sampai cucuku bangun, kupatahkan kaki tangan kalian!” sinis Tuan Alexandra langsung membungkam mulut Jennifer dan Lonza.
“Bella, bagaimana dengan kondisi keponakan baruku?” tanya Deon, adik pertama Ruvelis.
“Semuanya dalam kondisi yang sangat baik. Tidak akan kecacatan sedikitpun, semua hasilnya memuaskan”
“Hmmmm…baguslah…dia bisa mewarisi keluarga Alexandra kelak”
Bayi perempuan itu dengan perlahan mengerakan tangannya, membuka mata dengan perlahan membuat semuanya langsung mendekat. Lagi-lagi, Lonza dan Jennifer membeku dibuatnya.
“Bagaimana bisa keponakan kecilku sangat mirip dengan kak Ruvelis?!. Kenapa bisa begini?! Ini namanya Ruvelis junior!"
“Haha…itu karena saat hamil istriku terus mengatakan bahwa ingin seorang anak perempuan yang mirip denganku”
“Wahhhh!!! Ucapan kakak ipar benar-benar ampuh!”
Dengan perlahan Jenssica membuka matanya, matanya dengan lemah menatap incubator. Anaknya…sudah lahir? Apa anaknya baik-baik saja?.
“Putri kita baik-baik saja, dia sangat sehat. Terima kasih…” ucap Ruvelis menjawab pertanyaan dikepala istrinya.
“Kau ingin menggendongnya?” tanya Bella.
“Apa sudah boleh?”
Bella tersenyum, ia mengambil bayi itu dan meletakkan disebelah Jenssica. Jenssica menatap buah hatinya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi. Anaknya…benar-benar mirip dengan suaminya.
“Putriku…” Jenssica dengan perlahan mencium pipi bayi kecil itu. Ruvelis tersenyum, ia membelai kepala istrinya dan memberikan kecupan.
“Namanya…sudah terpikirkan sayang?” tanya Jenssica.
“Kami semua sudah membicarkaannya kemarin, namanya Selena…tapi aku akan memanggilnya…Nara” ucap Ruvelis tersenyum lembut.
“Dia bisa memakai 2 marga, Alexandra dan Leonardo” ucap Tuan Alexandra membelai kepala cucu kecilnya.
“Terima kasih pa…” ucap Jenssica.
“Selamat datang…Naranya Papa…” bisik Ruvelis ditelinga bayi kecil itu.
.
.
.
Jenssica Yunki Maria Leonardo aka Nyonya Alexandra
.
__ADS_1
.
.