
.
.
.
Drtttttt drttttttt
Ponsel Daniel berdering, Daniel menatap layar ponselnya. Sekretaris Leo menelfonnya?. Daniel meletakkan jari telunjuk di bibirnya menyuruh teman-temannya untuk diam.
“Hm?”
“Tuan muda Jasson, maafkan saya…saya baru saja selesai menagani rapat. Jadi saya baru sempat menelfon anda sekarang”
“Hm…aku hanya ingin bilang kepadamu, bisa kau memberikan beberapa Mafia milik Tuan mudamu kepadaku?”
“Mafia? Beberapa Mafia sedang di nonaktifkan oleh Tuan muda. Apa ini berhubungan dengan Nyonya?”
“Ya, ini berhubungan dengan Nyonya mudamu”
“Ah, kalau begitu saya akan meminta mereka ketempat anda sekarang juga”
“Oh, dan juga. Perusahan Tuan mudamu dan perusahaanku tidak terlalu jauh bukan? Bisa kau datang kesana dan meminta Assistantku memberikan Document yang ada didalam brangkas? Aku memerlukannya hari ini juga”
“Baik, saya akan datang ke perusahaan anda sekarang juga”
“Terima kasih”
Tut…
“Kau baru menelfon siapa?” tanya Alex.
“Sekretaris Leo”
“Oh…kukira siapa”
“Daniel, sepertinya hubunganmu dengan sainganmu baik ya…”
“Tentu saja, kami rekan bisnis”
Daniel kembali meminum tehnya, teman-teman Daniel memajukan bibirnya. Mereka merasa bahwa Daniel adalah pria paling aneh yang pernah mereka temui, Daniel tidak mau menyentuh rokok, minuman beralkohol, bahkan wanitapun dia sangat menjaga jarak dengan wanita manapun. Entah kenapa rasanya tidak mungkin jika Daniel tiba-tiba menyukai seorang wanita. Mereka sangat penasaran dengan wanita yang bisa memikat hari seorang Daniel. Dan mereka akan melihatnya besok!.
Drttttt…drttttt…
Ponsel Daniel kembali berdering, Daniel segera mengangkat telfon itu saat mengetahui telfon berasal dari Selena.
“Kenapa hm?”
Teman-teman Daniel kecuali Alex menutup mulut mereka tak percaya mendengar ucapan lembut yang keluar dari mulut Daniel. Biasanya sarkasme dan begitu dingin kenapa tiba-tiba seperti ini? Rasanya mengerikan…
“Hummm…di mana…sedang diluar ya?”
“Iya…aku sedang diluar, kenapa bangun? Sudah malam loh”
“Tidak ada yang menemaniku disini…aku tidak bisa tidur lagi”
“Hm? Bukankah ada Joe?”
“Tidak…Joe tidak ada disini”
__ADS_1
“Aku akan segera kembali, mau menitip sesuatu?”
“Hmmmm…aku ingin dessert strawberry yang kau belikan kemarin”
“Okey, 1 jam lagi aku sampai. Kau bisa menonton film terlebih dulu”
“Hmmmm Okey…”
Tut…
Daniel memasukkan ponselnya kedalam saku jaz, ia membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan lalu menatap teman-temannya. Teman-temannya ini memiliki keahlian yang berbeda-beda, sepertinya ia bisa memanfaatkan mereka.
“Ah lupakan, kalian pasti tidak bisa membantuku”
“Apa?! Apa kau meremehkan kami?! Katakan! Kau perlu bantuan apa?!” sahut teman-teman Daniel dengan wajah kesal mereka. Bisa-bisanya Daniel meremehkan mereka secara bersamaan seperti ini.
Daniel mengembang senyum sinis melihat reaksi teman-temannya. Alex menggelengkan kepalanya, dalam hal meminta bantuan…Daniel benar-benar bisa meminta bantuan tanpa mengeluarkan uang konpensasi.
“Hah, aku hanya butuh orang untuk mengawasi keluarga Georgino”
“Kami akan mengirimkan Sekretaris kami agar menjadi mata-mata dikeluarga Georgino”
“Deal! Jangan ingkari ucapan kalian! Sudah ya, aku mau memanjakan ratuku terlebih dulu”
Setelah mengatakan hal itu Daniel langsung keluar dari ruangan mewah itu membuat semuanya membeku, tunggu…sepertinya ada yang salah. Tapi apa ya?.
“Haih…idiot-idiot ini” batin Alex kesal sendiri. sudah tau ditipu Daniel masih saja tidak menyadarinya.
“Daniel!! Kau belum memberikan kami uang kompensasi! Jangan kabur dulu!” Martin yang menyadarinya segera keluar dari ruangan itu, tapi apalah daya. Pria itu sudah hilang begitu saja bagai ditelan bumi.
“Sial*n! Tertipu lagi!”
.
.
.
At Salvador – Brazil, 07.00 AM!
Selena membuka matanya dengan perlahan, matanya menatap Daniel yang tengah tertidur dengan lelap di sofa dengan sebuah buku ditangannya. Dengan hati-hati Selena turun dari tempat tidurnya sembari membawa infus serta selimut cadangan. Dengan perlahan ia menyelimuti tubuh Daniel dan mengambil buku yang sedang dipegang pria itu lalu kembali ke ranjangnya.
“Sayang…kenapa sudah bangun? Dingin ya? Mama kecilkan ya ACnya” ucap Jennifer sembari masuk kedalam ruangan Selena dengan membawa baju ganti.
“Iya, bisa Mama kecilkan ACnya?”
Jennifer menganggukkan kepalanya dan mengecilkan AC. Ia duduk ditepi ranjang selenadan membelai lembut perut datar Selena.
“Mama tak menyangka, sebentar lagi Mama akan mempunyai cucu. Pasti mereka akan cantik dan tampan sepertimu dan Leo”
“Iya dong! Mereka harus mirip denganku dan Leo, kalau mirip Daniel kan bisa bahaya ma” jawab Selena sembari tersenyum.
“Dokter Vany bilang, 3 hari lagi kau sudah boleh pulang. Hanya perlu menunggu kondisi janinmu baik-baik saja”
“Aku akan makan dan minum vitamin dengan teratur! Mama jangan khawatir!” ucap Selena sembari tersenyum ceria.
“Mama percaya kepadamu, Mama berangkat sekarang ya sayang. Jaga diri baik-baik”
Jennifer mengecup dahi Selena dan keluar dari ruangan putrinya. Hari ini juga, ia harus pergi ke A.S untuk menangani masalah yang belum sempat ia selesaikan. Dan ia berharap, masalah ini bisa selesai hari ini juga karena ia juga harus menangani keluarga Georgino. Terutama Hans…
__ADS_1
“Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Micle masuk kedalam ruangan Selena sembari tersenyum.
“Sudah lebih baik”
“Aku heran, biasanya wanita hamil akan mengalami moring sickness, tapi kenapa kau tidak?”
“Bayiku pintar, Papanya sedang tidak ada disini. Jadi dia tidak mau menyusahkanku, jika dia sudah lahir nanti aku yakin dia akan lebih patuh kepada Leo daripada kepadaku” jawab Selena sembari memajukan bibirnya.
Micle hanya tersenyum menanggapi ucapan Selena, matanya melirik Daniel yang tentang tertidur dengan damainya. Tumben sekali, kemarin-kemarin pria itu yang bangun terlebih dulu daripada Selena. Kenapa hari ini jadi Selena yang bangun terlebih dulu?.
“Mau makan apa? Aku akan menyiapkannya”
“Hmmm…nanti saja, tunggu Daniel bangun”
“Baiklah, kau perlu sesuatu?”
“Aku perlu sesuatu”
“Apa?”
“Suamiku”
“Hei! Suamimu sedang jauh, jangan meminta itu”
Selena memajukan bibirnya, ia ingin suaminya. Apa salah ia menginginkan suaminya sendiri? Pamannya juga kejam sekali tidak mau memberikan Leo kepadanya.
2 jam kemudian…
Daniel membuka matanya dengan perlahan, ia menatap tubuhnya yang terbungkus oleh selimut. Hm? Siapa yang memberikannya selimut? Dan juga siapa yang mengecilkan AC?.
“Kau sudah bangun?”
“Hm? Selena, tumben sudah bangun. Jam berapa sekarang?”
“Jam 9”
“Ha?! Kau bilang jam berapa?! Sudah jam 9?! Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?!”
“Kau sudah makan? Mau makan apa? Kubelikan sekarang”
“Aku ingin kebab dan juga…jus blueberry”
“Baiklah, setelah mandi aku akan pergi membelinya”
Daniel melipat selimut yang ia gunakan dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai ia langsung keluar untuk membelikan Selena makanan.
Daniel menghentikannya didepan sebuah toko kebab yang sering ia kunjungi saat berada di Brazil. Dan entah semuah keberuntungan atau kesialan, ia bertemu dengan teman-temannya lagi.
“Daniel? Tumben kau kemari” ucap Martin.
“Coba kutebak, wanitamu ingin makan kebab bukan?” ucap Derian.
“Tuan, 3 kebab seperti biasa” ucap Daniel.
“Baik, mohon ditunggu”
Daniel duduk disebelah Alex sembari menunggu pesanannya siap. Setelah pesanannya siap Daniel segera pergi bersama teman-temannya untuk menuju rumah sakit.
.
__ADS_1
.
.