
.
.
.
Para bodyguard Yeni turun dari mobil mereka dengan tatapan geram melihat deretan mobil mewah yang berani menghadang jalan mereka. Jika sampai malam ini mereka gagal membunuh istri Tuan muda pertama merereka, maka mereka akan menjadi santapan hiu lapar.
Deon turun dari mobilnya, para bodyguard itu langsung terduduk lemas dijalanan melihat siapa yang menghadang jalan mereka.
“Kenapa? Kaget? Kemana tatapan geram kalian tadi?”
“Je-jenderal…”
“Mau membunuh Selena? Kalian ingin membunuhnya?”
“Je-jendral…i-ini…”
Para bodyguard itu menatap satu sama lain. Bagaimana bisa Jenderal muda Negara berada disini? Bukankah para Jenderal sedang menjalani memiliteran hingga 2 bulan kedepan?. Lalu kenapa Jenderal muda ada disini dengan memakai pakaian lengkap kemiliteran? Mereka harus menjawab apa sekarang?.
“Apa? Kalian bisu?”
“Selena Yunki Leonardo? Kalian berniat membunuhnya bukan? Sebelum membunuhnya, bunuh aku terlebih dulu”
Para bodyguard itu semakin tak berani berkata-kata lagi. Kenapa orang besar ini bisa mengetahui rencana mereka? Apa hubungan pria didepan mereka ini dengan istri Tuan muda pertama mereka?.
“Thom, bawa mereka ke markas. Bunuh mereka disana”
“Baik…kakak…”
“Sampah seperti kalian…beraninya ingin menyentuh keponakanku…” sinis Thomas.
“Ke-keponakan?” ucap bodyguard-bodyguard itu gemetar.
“Ming, pantau keluarga Georgino. Urusan kemiliteran…biar diurus Lonza”
“Okey…”
__ADS_1
.
.
.
Yeni mengepalkan tangannya penuh kegeraman. Kenapa sampai saat ini tak ada satupun anak buahnya yang mengirim kabar apakah mereka sudah membunuh wanita sial*n itu?!. Apa sekumpulan orang itu gagal?! Atau mereka tertangkap oleh Jennifer?! Sial*n! Jika begitu Jennifer pasti membunuh semua anak buahnya.
“Jennifer…awas saja kau…aku akan membunuhmu dilain kesempatan”
Yeni melemparkan cangkir tehnya kesembarang arah. Ibu dan anak itu…benar-benar membuat sangat geram. Ia harus melakukan cara apalagi untuk menyingkirkan kedua wanita sial*n itu?!. Bawahannya masih belum berhasil membunuh Selena, dan sekarang kedatangan Jennifer benar-benar membuat ancaman besar dalam hidupnya.
“Apa kau tau masalah antara Hans dan Jenssica?” tanya Yeni kepada tangan kanannya.
“Nyonya, masalah ini belum saya ketahui. Namun sepertinya masalah itu berkaitan tentang pernikahan Tuan muda yang tiba-tiba”
Sudut bibir Yeni terangkat. Ternyata putranya mempunyai masalah dengan Jenssica mengenai hal itu. Sepertinya\, memisahkan putranya dari wanita sial*n itu tak serumit yang ia kira. Ia hanya perlu bertemu dengan Jenssica dan meminta wanita itu untuk membawa pergi anak sial*n itu.
“Kirim pesan kepada Jenssica, aku ingin bertemu dengannya”
Drttttt drtttttt…
“Hello bitch…” ~ Jennifer.
“Ka-kau?!”
“Kenapa? Kaget kenapa aku menelfonmu tiba-tiba? Kau tak perlu kaget Yeni…bodyguardmu aman bersamaku sekarang, bagaimana? Masih mau menyentuh putriku?” \~ Jennifer berkata dengan begitu dingin membuat Yeni langsung mengepalkan tangannya geram. Wanita sial*n ini\, beraninya mengatainya pela*ur.
“Kau! Sebenarnya apa maumu hah?!”
“Mauku? Kau tak perlu tau…” ~ Jennifer.
“Hei, bagaimana kita buat perjanjian damai? Kau bawa pergi putrimu dari putraku. Dan aku akan mengurus perceraian mereka”
“Hahahahaha!!! Are you kidding me?!!” ~ Jennifer disebrang sana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Yeni. Wanita tua itu benar-benar suka sekali bercanda. Apa Yeni pikir dia sudah gila hingga mau menuruti ucapan Yeni?.
“Kenapa kau tertawa? Bukankah kau menyayangi putrimu, maka bawa pergi dia dan aku tak akan mengusiknya lagi”
__ADS_1
“Hahahaha, kau membuat perutku sakit Yeni…apa kau pikir dengan hal itu semua masalah sudah selesai? Tidak…jangan terlalu bodoh Yeni. Aku tak akan membawa pergi putriku…karena…bukan putriku yang harus pergi. Melainkan keluargamu. Bersiaplah. Hadiahku sudah tertata rapi…nikmati saja permainanku. Dan tentu saja…jangan macam-macam dengan putriku” ~ Jennifer.
Tut…
Telfon dimatikan begitu saja\, Yeni melempar ponselnya dengan geram. Sial*n! Bisa-bisanya ia dipermalukan seperti ini oleh wanita rendahan itu. Wanita itu tak hanya mempermalukannya\, dia bahkan juga berani mengancamnya. Ingin mendekap keluarganya dari A.S?! Jangan harap! Ia harus membunuh Jenssica secepatnya\, dengan begitu…tak akan ada lagi halangan untuknya membunuh jala*g kecil itu.
“Kirim beberapa bodyguard lagi, pantai terus wanita jala*g itu”
*
Hans meneguk minumannya dengan pikiran campur aduk. Botol-botol wine berserakan di mana-mana, Hans mengepalkan tangannya geram mengingat senyuman istrinya saat berdansa dengan 2 pria sekaligus didepan matanya. Sekarang di mana istrinya?! Apa istrinya tak pulang malam ini dan bermalam di tempat Daniel!?.
“Hans! Kau minum berapa botol?! Hentikan!” ucap Peter mengambil wine dari tangan Hans. Apa pria ini sudah gila hingga minum sebanyak ini?!.
“Kenapa kau disini? Pergilah! Aku tak mau melihatmu!” usir Hans.
“Hanya karena istrimu tidak pulang kau minum sebanyak ini?! Apa kau sudah gila?!” kesal Jansen.
“Lalu aku harus melakukan apa?! Istriku tidak pulang! Dia bermalam ditempat pria lain! Dia berdansa dan tersenyum dengan pria lain!” bentak Hans geram.
“Lalu?! Kau marah dengan itu semua?! Lalu bagaimana dengan saat istrimu melihatmu menggandeng tangan wanita lain didepan matanya?! Apa kau juga memikirkan perasaannya?! Wajar jika istrimu mencari pria lain jika pria itu bisa memperlakukannya dengan lebih baik daripada dirimu! Apa kau ingat perlakukanmu kepadanya saat awal pernikahan kalian?! Kau pernah menamparnya! Mengambil kesuciannya secara paksa! Kau menjadikannya sebagai alat penghangat ranjangmu Hans! Apa kau pernah memikirkan perasannya?! Kau beruntung istrimu memiliki sifat penyabar serta pemaaf! Jika kau memiliki istri yang tidak memiliki itu! Kau akan dibunuh oleh istrimu sendiri! Dia memang istri kontrakmu! Dan seharusnya kau memperlakukannya dengan baik! Hari ini aku sadar…Selena pantas mendapatkan yang lebih baik!” geram Peter. Apa yang tertahan dihati dan mulutnya akhirnya keluar juga.
Jansen, William, dan Hans terdiam bungkam mendengar penuturan Peter. Hans tak dapat mengeluarkan kata-lata lagi, perkataan Peter membungkam mulutnya seketika.
“Kita memang sahabat Hans…kau tau, aku paling tidak tahan dengan pria yang menyakiti wanita. Maaf Hans, aku berhenti…aku berhenti menjadi bawahanmu!”
“Kenapa kau membela Selena Peter!?” bentak Jansen.
“Lalu?! Apa aku harus membela pria yang memang seharusnya diperlakukan seperti itu?! Kau tau sendiri apa yang sudah dilakukan Hans terhadap istrinya! Aku tak bisa diam lagi Jansen! Kenapa Hans marah melihat istrinya dengan pria lain padahal Hans juga sering bersama wanita yang berbeda-beda dibelakang istrinya! Selena punya hak berdekatan dengan pria yang notabenenya adalah tunangannya sendiri! Ditambah Nyonya Georgino akan terus mencari cara menyakiti Selena! Apa kau pikir aku bisa diam melihat itu semua?! Tidak Jansen! Jangan naif! Hans memang tak pantas untuk Selena!”
Jansen terdiam bungkam seketika. Ia menatap Hans yang hanya diam tak bergeming sedikitpun. Sejak dulu Peter tak pernah seperti ini.
“Kau menjadikan Selena istri kontrakmu. Kupikir dengan kau melakukan itu kau akan bisa merubah sifatmu. Ternyata tidak sama sekali Hans. Kau hanya menjadikan Selena…budak *** mu! Kau menjadikannya sebagai pelampiasan nafsumu saja!”
Setelah mengatakan hal itu Peter langsung keluar dari rumah Hans. Hans membanting botol winenya jingga hancur berkeping-keping. Sial*n!.
.
__ADS_1
.
.