Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 139 : Tampak sangat berbeda


__ADS_3

.


.


.


Selena menghentikan mobilnya didepan kastil Mamanya. Para Mafia yang melihat itu langsung menghampiri mobil Selena. Para Mafia itu seketika gemetar melihat Selena yang turun dari mobil dengan badan yang dipenuhi oleh darah, bahkan wajah rupawan milik Nona besar mereka terlumuri sepenuhnya oleh darah. Sungguh…ini pertama kalinya mereka melihat Nona besarnya yang seperti ini.


“No-nona besar…”


“Bawa mereka masuk, obati. Aku ingin minum”


Selena masuk begitu saja kedalam kastil itu, para Mafia menelan ludahnya. Apa yang baru saja dilakukan oleh Nona besar mereka? Kenapa sampai berlumuran dartah seperti itu.


Salah satu dari mereka membuka pintu mobil Selena, pria itu langsung menutup mulutnya ketika melihat puluhan kepala didalam mobil mewah itu. Inikah yang dimaksud Jennifer dengan ‘Ruvelis’?!. Tak mau berlama-lama, ia langsung memberikan Jennifer kepada Mafia lain untuk dibawa masuk.


“Kenapa Wei bisa pingsan begini?”


“Nanti tanya saja saat bangun”


“Lalu, kepala-kepala ini…”


“Biarkan, tidak ada perintah lain dari Nona besar”


Setelah meminum air, Selena membasuh wajahnya menggunakan air dingin. Senyum sinis tampak terukir dibibir indah itu.


“Kalian masih bisa bersenang-senang sekarang, setelah aku mencapai apa yang menjadi milikku. Kupastikan kalian kehilangan semuanya, hahaha…jika dengan ini kalian masih belum berhenti. Maka kalian yang harus mengikuti alur permainanku”


Setelah mengeringkan wajahnya Selena kembali masuk kedalam mobilnya dengan pakaian yang sama. Ia akan membawa kepala-kepala ini untuk ditunjukan kepada Hans.


Mobil mewah itu berhenti didepan perusahaan Hans. Selena masuk membawa 2 buah kepala langsung membuat penjaga mencegah langkah Selena.


“Maaf Nona, anda tidak diperolehkan masuk”


“Kalau begitu berikan ini kepada Boss kalian. Bilang ini adalah pemberian dari mantan wanita Tuan muda Hans! Dan bilang kepada Hans! Say Goodbye!”


Selena memberikan kepala itu kepada penjaga membuat penjaga itu langsung membuang kepala yang diberikan Selena. Apa wanita itu sudah gila?! Apa wanita itu tidak takut ditangkap polisi?!.


Selena masuk kedalam mobilnya, untung saja karyawan perusahaan itu belum datang. Akan merepotkan jika berurusan dengan polisi. Tapi meskipun ia ditangkap polisi, pasti bisa keluar dengan cepat.


Daniel yang tengah membeli kebab terkejut melihat mobil Leo berkeliaran di pagi buta seperti ini. Tumben pria itu keluar di jam ini, biasanya tidak mau keluar kamar dengan alasan menemani istri tercinta.


Drtttttt drttttttt…


Ponsel Daniel berdering, Daniel mengerutkan keningnya. Leo? Tunggu…


“Ada apa? Kenapa menelfon? Aku baru saja melihat mobilmu berkeliaran”


“Apa?! Kau melihat mobilku?! Apa kau tau di mana istriku?! Aku baru bangun tidur! Dan istriku tidak ada di perusahaan!”

__ADS_1


“Ha? Ha? Ha?”


“Ha! Ha! Ha! Di mana kau melihat mobilku?! Mobil mana yang kau maksud?!”


“Mobil yang warna abu-abu, sepertinya mobil sports yang belum dikeluakan”


“AHHHHH!! Mobil itu masih ilegal!! Aku sudah menyimpannya di ruang bawah tanah!! Kejar mobil itu!! Pasti istriku ada didalam! Aku akan segera ke tempatmu!”


“Ha?! Apa Selena sudah punya SIM sampai mengendai mobil itu?!”


“Jangan banyak bicara! Cepat pergi! Jangan sampai polisi tau!”


Tut…


Daniel mematikan telfon sepihak dan langsung masuk kedalam mobilnya mengejar mobil milik Leo. Sial*n! Jika ia tau yang mengendarai mobil itu Selena, ia akan langsung mengejarnya.


Daniel menambah kecepatan mobilnya, matanya melirik kearah spion. Beberapa mobil sports hitam mengikutinya, sepertinya itu bawahan Leo atau mungkin bawahan Daniel.


Mobil mewah milik Leo berhenti ditengah sebuah jembatan, Selena keluar dari mobil itu membuat Daniel seketika menginjak rem. Apa itu benar Selena?! Kenapa tubuhnya penuh dengan darah begitu?.


Daniel bergegas turun dari mobilnya begitupun dengan para bawahan Leo. Selena menatap sekilas Daniel dan pria-pria berbaju hitam itu.


“Selena, darimana saja? Leo mencarimu kemana-mana” ucap Daniel. Ia harus memberitau keberadaan Selena kepada Leo sekarang.


“Hm? Aku hanya ke kota sebelah”


“Kenapa? Kenapa kau kesana tanpa memberitau siapapun?”


“Ny-nyonya muda…”


“Kenapa aku kesana? Aku membunuh mereka semua, memenggal kepala mereka dan mengeluarkan semua organ diperutnya dan *******-***** jantung mereka. Mau lihat? Aku punya videonya”


Sebuah mobil sports berwarna putih berhenti, Leo keluar dari mobil itu diikuti tangan kanannya yang berada di mobil lain.


“Sayang! Ya tuhan…apa yang terjadi kepadamu? Kenapa berdarah seperti ini? Ayo kerumah sakit” ucap Leo langsung menghampiri istrinya. Rasa kantuknya seketika lenyap melihat istrinya berlumuran darah. Dan…kenapa ada kepala terpenggal disini?.


“Mereka menyakiti Mama…aku memeganggal kepala mereka semua” Selena mulai melembutkan suaranya, suaranya tak sedingin sebelumnya lagi.


Ucapan Selena sontak membuat semua orang yang berada disana terkejut. Leo menatap Daniel, Daniel menganggukan kepalanya sembari menyiapkan sebuah suntikan.


“Ya tuhan…lalu apa kau terluka? Di mana yang terluka? Tunjukan kepadaku”


“Aku tidak terluka, ini darah mereka…bukan darahku”


“Leo, bawa Selena kerumah sakit. Aku akan membereskan ini”


“Aku tidak mau…aku tidak mau kerumah sakit…aku mau disini saja”


Daniel dengan hati-hati menyuntik bahu Selena menggunakan obat bius. Tubuh Selena seketika lunglai, Leo dengan sigap menangkap tubuh istrinya.

__ADS_1


“Cepat bawa Selena kerumah sakit” ucap Daniel sembari mencabut jarum suntik dari bahu Selena. Leo menganggukkan kepalanya dan membawa istrinya masuk kedalam mobil.


.


.


.


Leo menunggu dengan cemas didepan UGD. Ia terus berdo’a agar istri dan anaknya berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Tak berselang lama dokter wanita keluar dari UGD membuat semuanya langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Bagaimana kondisi istriku? Dia baik-baik saja bukan?”


“Istri anda berada dalam kondisi baik-baik saja, bayi anda juga sehat. Tidak ada masalah dikeduanya, hanya saja…saya menyarankan untuk lebih banyak istirahat”


“A-ah, ba-baik…terima kasih”


“Istri anda sudah baik-baik saja, anda bisa menemuinya didalam. Dan istri anda tidak perlu dirawat” papar dokter wanita itu lagi.


Leo segera masuk kedalam UGD dan menghampiri istrinya yang terbaring lemah diatas brangkar.


“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Apa kau merasa tidak nyaman?”


“Aku baik-baik saja…aku ingin pulang, aku lelah”


“Baik, kita pulang sekarang ya”


Leo menggendong istrinya keluar dari UGD. Pakaian Selena yang penuh dengan darah sudah diganti oleh yang baru oleh dokter wanita tadi, bau anyir darah sudah tidak terlalu tercium sekarang. Selena memeluk erat leher suaminya, ia lelah…ia benar-benar ingin istirahat.


“Kita akan pergi ke spa dulu, setelah tubuhmu bersih. Kau bisa istirahat dengan nyaman, rambutmu penuh dengan darah, pasti tidak nyaman”


“Hemmmm…aku tidak suka baunya”


“Iya, baunya akan hilang nanti. Setelah itu, aku akan memberikan lilin aromaterapy kepadamu. Kau bisa tidur nyenyak setelah itu”


“Hemmmm…terima kasih”


“Untuk apa berterima kasih? Kau istriku, sudah tugasku memenuhi kebutuhanmu”


“Hem? Kemarin malam aku kesusahan membujukmu untuk memenuhi kebutuhanku”


“Mulai, kemarin malam siapa yang menyerah duluan? Sekarang mau mulai perang lagi?” tanya Leo sembari tersenyum lembut.


“Tidak…aku lelah, aku ingin istirahat. Nanti saja jika ingin” ucap Selena memeluk erat suaminya.


Leo tersenyum dan mencium puncak kepala istrinya yang penuh darah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2