
.
.
.
Daniel dan Leo sontak menoleh kearah sumber bersuara, Leo dengan spontan menghampiri istrinya yang tengah berjalan kearah dapur dengan mata yang masih tertutup.
“Kenapa kemari hm? Lapar ya?”
“Iya…mau sandwich dan roti panggang…” ucap Selena sembari mengosok matanya.
“Jangan digosok matanya, duduk dulu ya. Biar kubuatkan” Leo menduduk istrinya didepan Daniel, Selena meletakkan kepalanya di meja makan membuat Daniel tersenyum lucu. Beginilah kalau mengantuk tapi perut kelaparan.
“Besok ada acara sayang?” tanya Leo.
“Iya…besok ketemu Sekretaris dan Assistant Papa Mama…”
“Hm? Kenapa mendadak sekali?”
“Ya…aku harus belajar cara mengurus perusahaan Papa dan tambang emas Mama”
“Aku kan bisa, kenapa tidak minta ajar kepadaku saja?” tanya Daniel.
“Selesaikan dulu latihanmu, belum sampai buku 4 sudah mau mencari alasan agar tidak latihan?” kesal Selena.
Leo langsung menahan tawanya mendengar ucapan istrinya. Daniel belum sampai dibuku 4? Jika kakek mertuanya tau Daniel bisa mati karena malu.
Beberapa saat kemudian Leo selesai dengan makanan yang di minta istrinya, ia meletakkan makanan diodepan istrinya dan Selena langsung memakannya dengan semangat.
“Ini enak, terima kasih sayang!” ucap Selena.
Leo hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tangan kekarnya menyentuh perut buncit istrinya.
“Kau itu sudah tumbuh didalam tubuh Mamamu dan masih membuat Mamamu susah hm? Jika tidak ada Papa, minta Mamamu makan tepat waktu bukannya malah membantu Mamamu makan tidak tepat waktu. Apa kau tidak tau jika makan tengah malam tidak baik untuk Mamamu?”
Glek
Selena menelan ludahnya dengan kasar, duhhhh kenapa suaminya tiba-tiba membahas ini? Jangan-jangan Daniel sudah memberitau kepada suaminya jika ia sering makan tengah malam?.
“Sayang…jangan memarahi anakmu seperti itu. Tak masalah, dia kan anakku juga…tidak masalah jika dia-”
“Sttth, kedepannya…aku ingin kau tidak memanjakan anak-anak kita. Aku ingin kau mendidik mereka sama seperti Papamu, mendidikmu”
“Tapi itu…aku tak ingin anak-anak kita menjadi tertekan sayang. Cukup aku, aku tak ingin anakku merasakan apa yang kurasakan”
“Percaya kepadaku, jangan memanjakan mereka. Didik mereka seperti Papamu mendidikmu dulu, karena aku ingin. Mereka tumbuh besar seperti Mamanya”
Leo mendongkakan dagu istrinya dan mencium bibir merah marum itu. Lama Leo mencium bibir itu sebelum melepaskannya, Selena dengan nafasnya yang tersengal-sengal menatap suaminya. Ia benar-benar akan pingsan jika suaminya ingin meminta jatahnya lagi.
“Makan makananmu, setelah itu langsung istirahat. Aku ingin bicara dengan Daniel dan Rafindra sebentar”
“Baiklah”
Selena segera menghabiskan makanannya, setelah selesai ia mencium pipi suaminya dan menuju kamarnya untuk menonton film. Leo menatap istrinya yang masuk kedalam kamar.
“Adakah masalah selama aku tidak ada Daniel?”
“Tidak ada sama sekali, kenapa memangnya?”
“Tidak, aku hanya khawatir. Istriku adalah calon Jenderal besar, dia adalah masa depan semua kamp. Aku hanya takut jika dia akan mengalami depresi lagi”
“Apa…maksudmu mengatakan hal itu?” tanya Daniel mengerutkan keningnya. Entah kenapa ia benar-benar tidak suka dengan perkataan Leo.
“Ah tidak, bisa aku minta satu hal kepadamu?”
“Ya…asal itu bukan permintaan yang aneh-aneh”
“Gantikan aku menjaga istriku”
Brakkkkkk!!
Daniel langsung mengebrak meja makan dengan kuat membuat Leo langsung menatap keaah Daniel yang menampilkan wajah piasnya.
“Apa maksudmu mengatakan hal itu huh?! Aku menerima permintaanmu untuk menjaga Selena selama kau tidak ada! Tapi apa yang kau maksudkan memintaku menggantikanmu menjaga Selena huh?! Kau sedang main-main denganku Leo?!”
“Daniel…”
“Aku tidak suka perkataanmu! Perkataan yang seolah-olah kau akan pergi entah kemana
dan tidak akan pernah kembali lagi! Aku memang mencintai Selena! Tapi aku tidak akan pernah mengedepankan egoku untuk memilikinya! Selena sangat mencintaimu! Dia membutuhkanmu! Terlebih ketiga anakmu! Jika sampai kau mengatakan hal yang benar-benar memuakkan lagi, aku akan membunuhmu!”
Daniel berbicara sembari menatap geram kearah Leo, ia tau kemana arah pembicaraan yang dimaksudkan Leo.
“Kita memang adik kakak Leo! Tapi aku tidak akan menuruti permintaanmu kali ini!!” ucap Daniel sebelum pergi begitu saja meninggalkan Leo yang hendak berbicara.
Leo menghembuskan nafasnya, ia mengusap rambutnya kebelakang dengan kasar. Baru saja…baru saja ia merasa seperti sedang berbicara kepada istrinya. Respon dan gaya bicara Daniel yang tidak ingin dibantah benar-benar mirip dengan istrinya ketika tidak menyukai ucapan seseorang.
“Aku harus bagaimana sekarang…maaf Daniel…”
Leo menatap kedua tangannya, kini ia mengharapkan satu hal…semoga ia bisa menggendong kedua anak kembarnya. Ia sangat berharap bisa menggendong kedua anak kembarya walaupun itu untuk terakhir kalinya.
“Hiks hiks…maafkan aku sayang…maafkan aku…”
.
.
.
Selena menatap canggung suaminya serta Daniel yang saling diam, entah kenapa ia merasa atsmosfer bumi sekarang barubah drastis. Apa yang dibicarakan mereka berdua kemarin malam sampai seperti ini? Ia juga menjadi tidak punya nafsu makan.
“Kenapa? Kalian…sedang bertengkar?”
“Aku sudah selesai”
Daniel pergi begitu saja dari ruang makan meninggalkan Selena dan Leo dalam keheningan. Selena menggenggam dengan erat tangan suaminya membuat Leo dengan sontak menatap kepada istrinya.
“Apa yang terjadi dengan kalian? Sayang…apa kau membuat Daniel marah?”
“Bersiaplah, aku akan mengantarmu. Nanti mau dijemput jam berapa?” tanya Leo seraya tersenyum, ia lebih baik mengalihkan topik pembicaraan ini. ia tak mau istrinya terpikirkan masalahnya dengan Daniel semalam.
“Tapi…”
__ADS_1
“Shttttt, ayo cepat bersiap, nanti terlambat”
Sejenak Selena menatap suaminya dan menganggukkan kepala, sudahlah…nanti saja. lebih baik ia bersiap diri untuk menemui tangan kanan Papa dan Mamanya.
“Paman Raf, Paman bawa bajuku?”
“Saya sudah menyiapkannya Nona besar”
Selena membersihkan mulutnya dan segera masuk kedalam kamarya untuk menganti pakaian. Selena bercermin, melihat dengan lucu perutnya yang membuncit. Rasanya benar-benar menakjubkan ketika mengingat sebentar lagi seorang bayi akan keluar dari perutnya.
“Ryu…sehat-sehat ya sayang, Mama tidak sabar bertemu denganmu dan kakak Leon Leona”
Selena memakai pakaian yang disiapkan Rafindra, sebuah gaun cantik berwarna putih. Perlu ia akui, Pamannya Rafindra mempunyai kemampuan istimewa dibidang ini.
Setelah siap Selena segera keluar menghampiri Leo yang tengah memakai dasi. Leo menatap istrinya, matanya terpukau melihat istrinya yang bak seorang dewi yunani dengan gaun khas era romawi kuno. Wahhhh, selera fashion Rafindra memang tidak main-main.
“Leo, bagaimana? Apa gaunnya cocok untukku?”
“Kau cocok memakainya, aku akan membelikanmu beberapa baju yang sama nanti”
“Hehe…sepertinya perawatanku dengan Oma tidak sia-sia”
“Perawatan?” tanya Leo mengerutkan keningnya. Sejak kapan istrinya melakukan perawatan? Dan…sepertinya wajah istrinya masih tetap sama, masih cantik seperti sebelumnya.
“Ya, Oma bilang sejak aku keluar dari keluarga Alexandra aku semakin dekil. Aku tidak terima jadi menerima permintaan Oma untuk melakukan perawatan, dan sekarang…Oma yang dekil karena setiap hari pergi ke tambang”
Leo menahan tawnaya mendengar ucapan snag istri, come on…pewaris Alexandra dekil? Hah! Ia akan membeli semua salon kecantikan yang ada di dunia ini jika memang itu terjadi.
“Nona, mari…sudah waktunya berangkat”
“Baiklah”
Leo memeluk bahu istrinya dan membawa istrinya keluar dari penthousenya. Rafindra menatap para bawahannya yang tengah berjajar rapi di sepanjang lorong. Melihat Tuan dan Nonanya sudah masuk kedalam lift membuatnya langsung menanggil para bawahannya untuk mendekat.
“Siapkan penjagaan, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Tidak ada hari yang aman di perusahaan, jadi lakukan pekerjaan kalian semaksimal mungkin”
“Kami menerima perintah anda!”
.
.
.
Leo mencium kening istrinya sebelum istrinya dibawa masuk kedalam perusahaan oleh Rafindra. Leo menatap perusahaan megah didepannya ini, perusahaan utama milik keluarga Alexandra…bukan hanya menguasai militer dan pertambangan. Keluarga Alexandra juga menjadi menguasa dunia bisnis. Perusahaan yang berkali-kali
lipat lebih kuat dari perusahannya ini…akan menjadi milik istrinya. Tapi…apa istrinya sanggup menjalankan perusahaan sebesar ini? Ditambah istrinya belum mempunyai pengalaman di bidang bisnis.
“Sanggupkah aku meninggalkanmu disaat seperti ini? Maaf…maafkan aku…maaf aku tak bisa menepati janjiku padamu”
Leo menaikkan kaca mobilnya, ia menangis sesegukan didalam mobil mewahnya. Bodoh, ia merasa menjadi pria terbodoh yang pernah ada. Ia tak bisa menepati janjinya sendiri kepada wanita yang ia cintai, ia pria pengecut yang tidak bisa menepati ucapannya sendiri.
“Arghhhhh!!! Ahhhhh!!! Kenapa?!!!! Kenapa harus disaat yang seperti ini?!!!!” Leo berteriak sembari memukuli kemudinya.
Lama melampiaskan amarahnya Leo akhirnya mengemudi menuju perusahaan miliknya,sekarang hanya ada satu hal lagi yang bisa ia lakukan untuk istrinya.
Saat sampai diperusahaannya Leo langsung masuk dan menuju keruangannya, para tangan kanan Leo seketika tersentak kaget melihat Direktur mereka dengan mata yang sembab.
“Tuan…apa anda baik-baik saja?”
“Ya?”
“Hari ini juga, urus perpindahan semua asetku. Atas namakan semuanya atas nama istriku”
Para tangan kanan itu saling melirik, sudah ia duga…hari ini akhirnya datang juga.
“Tapi Tuan muda, masih ada harapan…anda tidak boleh putus ada seperti ini” Math berbicara sembari menahan air matanya.
Leo menghampiri pria itu dan menepuk beberapa kali bahunya.
“Mungkin memang takdirku seperti ini, ini adalah hal terakhir yang bisa kulakuakn untuk istriku. Kelak…kalian harus membantu istriku, layani dia seperti kalian melayaniku. Dia seorang wanita yang terlihat kuat namun sangat rapuh, jadi kelak…kalian harus melayaninya lebih baik lagi”
“Tuan muda!! Kami mohon jangan seperti ini!! Nyonya muda sangat membutuhkan anda, sekarang Tuan kecil juga sudah lahir…bagaimana nasib mereka jika anda tidak ada?” ke-3 Sekretaris wanita Leo tak lagi bisa menahan tangis mereka, membayangkan bagaimana nasib Nyonya mereka jika Tuan mudanya tidak ada.
“Kalian dengarkan aku, maaf jika aku harus melakukan ini kepada kalian. Tapi tolong, ini tugas terakhir kalian dariku. Aku minta, pengabdian kalian kepadaku…kalian berikan kepada istriku. Wanita yang kalian anggap Nyonya kalian, adalah wanita yang sangat kucintai…aku sangat mencintainya. Jadi kumohon…saat nanti aku tidak ada. Dialah yang akan menjadi Tuan kalian”
“Apa anda tidak memikirkan perasaan Nyonya, Tuan muda?” ucap Math dengan tubuh gemetarnya.
“Setiap hari aku memikirkannya, aku hanya bisa berharap semoga ketiga hadiah terakhirku untuknya…bisa menjadi obat rasa sakit yang kuberikan kepadanya. Dan di hari terakhirku, aku minta kepada kalian. Telfon istriku, minta dia datang untuk menemuiku…”
“A-apa? A-apa ma-maksud anda?”
“Karena aku ingin mati didalam pelukannya, aku ingin mengucapkan betapa aku mencintainya untuk terakhir kalinya. Aku ingin menatap wajahnya sebelum kedua mata ini tertutup untuk selamanya. Dan aku ingin…memeluk kedua buah hatiku untuk yang pertama dan terakhir kalinya”
“Hiks hiks hiks, anda tidak boleh bicara seperti itu…anda pasti bisa sembuh, kami yakin itu…”
“Dan aku minta…berikan warisan yang sepadan untuk ketiga buah hatiku. Dan jika mereka sudah tumbuh besar nanti, katakan kepada mereka…bahwa Papanya, akan selalu mencintai mereka dialam sana”
***********
Selena menghentikan tangannya ketika hendak membuka pintu ruang Direktur, a-ada apa ini? Ke-kenapa firasatnya tiba-tiba buruk seperti ini? Kenapa perasaannya tiba-tiba gelisah seperti ini?.
“Nona, apa ada yang salah?” tanya Rafindra langsung menyadarkan Selena. Selena menggelengkan kepalanya dan membuka pintu itu dengan perlahan.
Puluhan orang dengan pakaian formal yang berada diruangan itu langsung berdiri dari tempat duduk mereka saat mendengar suara pintu yang terbuka.
“Selamat pagi semuanya” ucap Rafindra dengan wajah dinginnya.
“A-anda…”
Semua mata itu saling melirik, inikah tamu spesial yang dikatakan Tuan Rafindra akan datang hari ini sampai-sampai meminta mereka berpakaian sangat rapi? Tapi gadis ini punya wajah yang familiar dimata mereka…siapa ya?.
“Sudah lama tidak bertemu, kalian pasti sudah lupa dengan ku”
Orang-orang yang berada disana seketika syock, suara ini…suara yang terakhir kali mereka dengar 13 tahun lalu. Suara dingin Tuan mereka yang bercampur dengan suara lembut dari Nyonya mereka.
“A-anda…”
“Sepertinya kalian sudah mengingatku”
“Kami memberi hormat kepada Nona besar Alexandra!!!” ucap semuanya serempak sembari bertekuk lutut. Ya tuhan…gadis didepan mereka ini adalah Tuan mereka! Tuan kecil mereka yang terakhir kali mereka lihat 13 tahun yang lalu!.
“13 tahun tidak bertemu, sepertinya aku masih mengingat nama-nama kalian”
__ADS_1
Selena tersenyum lembut kepada para tangan kanan Papa dan Mamanya. Orang-orang yang banyak membantu keduaorang tuanya, sekarang ia ingin membalas budi atas jasa yang mereka berikan selama ini.
“Aku sangat berterima kasih atas jasa kalian kepada perusahaan dan pertambangan milik Papa dan Mama. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada kalian selama ini. Sekali lagi, terima kasih”
“A-anda tidak perlu berterima kasih, su-sudah tugas kami menjalankan perintah dari mendiang Jenderal besar…”
“Kalian bisa berdiri, ini bukan kamp. Jadi jangan terlalu formal kepadaku”
“Nona, silahkan duduk. Kaki anda akan bengkak lagi jika terlalu lama berdiri” ucap Rafindra.
“A-ah, maafkan ketidak sopanan kami”
Salah satu wanita memakai sarung tangan dan membawa Selena duduk di kursi, Selena tersenyum dan berterima kasih dan mempersilahkan para tangan kanan itu untuk duduk.
“Ma-maaf…tapi kami lebih baik berdiri”
“Lalu kalian akan berdiri sampai kapan?” tanya Selena sembari tersenyum kearah Rafindra.
“Sa-sampai…”
“Aku baru kembali ke kamp jam…2 siang nanti. Yakin mau berdiri selama 5 jam?”
Para tangan kanan itu seketika duduk ditempat masing-masing membuat Rafindra menahan tawanya, Nona besarnya dilawan.
“Kemarin aku sudah meminta Paman Raf memberikan daftar hal apa saja yang harus diperbaiki di perusahaan ini, kalian sudah melakukannya?”
“Kami sudah melakukannya Nona…”
“Yakin?”
Selena berdiri dan mendekati kaca, ia menyentil kaca itu membuat kaca besar itu langsung retak dibuatnya. Semua orang yang berada disana menelan ludahnya, ahhh kapan ya terakhir kali mereka menyaksikan hal ini?.
“Paman Raf”
“Saya disini Nona”
“Minta Paman Hendrick mengganti semua kaca yang ada disini dengan kaca yang seperti ada di kamarku. Itu tahan dengan pukulanku”
“Baik…”
“Adakah hal penting yang perlu kukerjakan disini? jika tidak aku akan bertanya kepada kalian”
“A-ah, se-sebentar lagi a-akan ada rapat. Tu-tuan X yang bi-biasanya me-menghadiri tiba-tiba tidak bisa hadir”
“Apa yang biasanya Papa dan Mama lakukan saat kalian bicara gugup seperti ini?”
Glek
“Tolong jangan singgung perasaan Nona” ucap Rafindra berbisik.
“A-ah, kami terlalu gugup bertemu dengan anda. Ini pertemuan pertama kami dengan anda setelah 13 tahun, jadi kami belum mempersiapkan diri dengan baik untuk kejutan hari ini” salah seorang wanita yang seumuran dengan Rafindra berbicara sembari tersenyum lembut. Dia adalah Amelia, tangan kanan dari Jenssica yang mengurus bagian keuangan.
Ucapan Amelia membuat senyum terukir di bibir Selena dan hal itu membuat Rafindra bisa kembali bernafas lega.
Selena kembali duduk di kursi kerja milik Papanya, ia menarik laci dan mengeluarkan sebuah rubik dari sana lalu memainkannya.
“Bagaimana kondisi Lie?”
“Tuan muda Lie…keadaannya sudah lebih baiknona besar. Keluarga Georgino menyewa psikiater untuknya”
“Heh, mencoba menghilangkan hiburanku? Siapkan mobil, pergi ke mansion Georgino”
“Hari ini Nona Bellina sudah boleh keluar dari rumah sakit, saya takut jika saat ini keluarga Georgino sedang berkumpul Nona”
“Heh, aku tak akan membiarkan Lie sembuh secepat ini Paman Raf. Keluarga Georgino tak akan berani macam-macam denganku, karena Hans…berada di pihakku. Siapkan mobil”
“Tapi…”
“Kau mulai membantahku?”
“Saya akan segera menyiapkan mobil anda”
Rafindra pergi dari ruangan itu meninggalkan keheningan yang mencekam di ruangan itu,para tangan kanan itu tak ada yang berani bergerak sedikitpun dari tempat duduknya ketika melihat Tuannya yang sepertinya sedang marah.
“Apa perusahaan ini punya kerjasama dengan perusahaan Georgino?”
“Ti-tidak Nona, perusahaan tidak menjalin kerja sama dengan perusahaan Tuan muda Hans”
“Bukan perusahaan Hans yang kumaksud, perusahaan keluarga Georgino. Yang dipegang langsung oleh Lucio”
“Ma-maksud anda Tuan besar Georgino? Ayah Tuan muda Hans?”
“Ya, suami Yeni. Namanya Lucio kan?”
“Anda menyebut nama Tuan keluarga besar seperti menyebut anak tetangga Nona…Tuan besar, dia benar-benar putri anda”
“Be-benar”
“Jadi?”
“Pe-perusahaan Tuan besar Georgino ingin bekerja sama dengan perusahaan ini. Na-namun ka-kami belum membahasnya”
“Aku melarangnya, jika sampai kalian menerima tawaran kerja sama dari perusahaan keluarga Georgino. Awas saja kalian”
Glek
“Nona, mobil sudah siap”
“Baiklah. Siapkan proposal rapatnya, aku yang akan menghadirinya”
Selena pergi begitu saja setelah mengatakannya. Para tangan kanan itu saling melirik satu sama lain, sebenarnya…masalah apa yang dibuat keluarga Georgino sampai-sampai Tuan mereka seperti itu? Ya tuhan…siapapun yang berani macam-macam dengan keluarga Alexandra pasti tidak akan dibiarkan begitu saja. Jika dulu keluarga Emerland dan beberapa keluarga besar lain runtuh ditangan mendiang Tuan mereka akankah keluarga Georgino runtuh ditangan Tuan baru mereka?.
“Oh ya, apa kalian tau siapa yang menjadi suami Nona besar?” salah satu tangan kanan Ruvelis bertanya kepada rekan-rekannya.
“Maksudmu?”
“Apa kalian tidak lihat perut Nona besar yang membuncit? Beliau pasti sedang mengandung sekarang. jadi siapa yang berhasil menjadi suami Nona besar? Apa itu Tuan muda Jasson? Atau Tuan muda Said? Oh atau Tuan muda Weil? Atau Sultan muda Ray? Atau jangan-jangan Mafia Italy waktu itu?”
“Ah, kita tertinggal banyak informasi mengenai Nona besar. Sepertinya kita harus membuka ponsel”
.
.
__ADS_1
.