Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 163 : Lalu Siapa?!


__ADS_3

.


.


.


Selena menatap senang perpustakaan yang ramai oleh banyak orang. Dengan tak sabar ia segera turun dari mobil dan berlari masuk membuat Leo, Wei, dan Rafindra berlari mengejar.


Selena dengan lincahnya berlari menelusuri rak-rak untuk mencari buku yanga akan ia baca bersama dengan Leo. sedangkan Leo, Wei, dan Rafindra panik mencari Selena yang tiba-tiba hilang begitu saja.


“Ya tuhan…kemana hilangnya istriku”


Sedangkan si empu yang tengah dicari menaiki tangga untuk mengambil buku yang sudah terkunci oleh matanya. Seorang pria yang sudah paruh baya memanggil Selena agar turun.


“Ya Paman?”


Selena turun dengan perlahan dan membungkuk hormat kepada pria itu. pria itu tersenyum lembut dan mengelus kepala Selena.


“Cari apa? Ada yang bisa Paman bantu?”


“Aku ingin baca buku ini Paman! Apa Paman tau buku apa ini?”


Pria itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat pria yang sudah paruh baya itu membuat Selena mengajak pria itu duduk di meja yang belum dihuni. Pria itu menepuk beberapa kali pundak Selena, Selena merasa aneh dengan pria di depannya ini.


“Anak yang baik…kau benar-benar anak yang baik…bisakah Paman bicara sebentar denganmu?”


“Tentu! Paman juga bisa bicara lama denganku!” jawab Selena dengan senyum cerahnya.


“Paman punya sesuatu untukmu, tapi tutup matamu dulu” ucapnya.


Selena menutup matanya, pria itu mengeluarkan beberapa kartu dari sakunya dan menatanya dimeja lalu meminta Selena membuka matanya. Selena membuka matanya dan menatap berbinar kartu-kartu cantik yang tersusun di meja.


“Pilihlah kartu mana yang kau suka”


“Emmmmmm”


Selena meletakkan jari telunjuknya di sebuah kartu, pria baruh baya itu mengambil dan melihatnya lalu tersenyum dengan hangatnya.


“Kebahagiaan akan segera mengikutimu, kau akan mendapatkan cinta sejatimu. Kau akan mendapatkan semua apa yang menjadi milikmu, kau akan terlepas dari kesedihanmu dan kau…akan mendapatkan apa yang menjadi tujuanmu selama ini. Selamat untukmu”


“Benarkah?! Paman serius?”


“Yahhhhh, tapi…ada satu pesan Paman untukmu agar kau bisa menggapai itu semua”


“Apa itu? Katakan kepadaku Paman…”


“Jangan pernah melihat kebelakang…ataupun memundurkan langkahku. Kau harus terus maju, sesulit apapun rintangan didepanmu kau harus terus maju. Setelah satu kesedihan…kau akan mendapatkan kebahagiaanmu bersama cinta sejatimu. Dan anak-anakmu kelak, akan mengikuti langkah yang ditempuh Ibunya”


“Dan bertahanlah, ujianmu yang sebenarnya…akan sampai didepan mata. Dan ingat, level tertinggi mencintai adalah melepaskan”


Pria itu memberikan kartu yang dipilih Selena dan merapikan kartu-kartu yang lain. Selena tersenyum senang melihat 2 burung phoenix yang hinggap di pohon ek (Pohon oak) membentuk angsa dan bulan purnama yang berbentuk seperti dream catcher. Biasakah ia melihat ini dikehidupan sekarang?.


“Paman akan pergi…”


“Terima kasih Paman…aku benar-benar senang” ucap Selena berdiri dan membungkuk hormat. Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Selena kembali duduk ditempatnya dan memandangi kartu itu…cantik…oh ya! Leo pasti sedang mencarinya!! Ia harus segera menemui Leo.


Selena memasukkan kartu itu kedalam saku celananya dan membaw abuku yang ia ambil untuk pergi mencari suaminya. Leo yang sedari tadi panik mencari keberadaan istrinya mengacak rambutnya, bisa-bisanya matanya tak fokus kepada istrinya.


“Leo!!”


Leo seketika membalik badannya mendengar suara istrinya, ya tuhan…akhirnya istrinya kembali.


“Sayang…maaf, kau pasti mencariku…”


“Ya tuhan…kau kemana saja? Aku panik, kupikir kau hilang tadi” ucap Leo sembari membawa istrinya kedalam pelukannya.


“Lihat ini! Aku mendapatkan buku ini, mau baca bersama?”


“Ini…di mana kau mendapatkannya?”


“Disana tadi, ayo baca denganku. Setelah itu aku mau pergi ke mall”


“Ke mall? Untuk apa sayang? Ada yang kau inginkan?” tanya Leo, tumben sekali istrinya mau pergi ke mall.


“Rahasia…ayo baca disana, disana sepi…” bisik Selena.


“Oh…kenapa akhir-akhir ini kau suka tempat yang sepi hmmm?” tanya Leo berbisik ditelinga istrinya.


“Aku ingin dimanja olehmu…bukankah sudah lama kau tidak memanjakanku?” ucap Selena mengalungkan tangannya di leher suaminya sembari mengedipkan sebelah matanya.


Leo memalingkan wajahnya dengan pipi dan telinga yang memerah. Darimana istrinya belajar mengatakan hal ini? Tidakkah istrinya tau bahwa itu bisa membuat seorang pria kehilangan pengendaliannya?.


Leo mengangkat tubuh istrinya, ia tersenyum menatap wajah cantik nan manis itu. Selena mendekatkan wajahnya pada sang suami dan menempelkan hidung mereka.


“Aku mencintaimu Dear…” ucap Selena.


“Aku lebih mencintaimu…”


Leo mencium lembut bibir istrinya dan membawa istrinya ketempat yang sepi. Menemukan tempat yang dirasa cocok untuk bermesraan Leo menurunkan istrinya.


“Disini sangat sepi Leo…” ucap Selena.


“Bukankah ini yang kau inginkan tadi?”


Leo duduk di kursi dan menarik tangan istrinya hingga jatuh ke pangkuannya. Selena tersenyum dan mengecup bibir suaminya lalu membuka buku yang ia ambil tadi.

__ADS_1


“Kenapa akhir-akhir ini juga kau suka membaca novel romantis seperti ini?”


“Entah, Leo tidak suka? Kalau Leo tidak suka kita cari buku lain saja”


“Tidak, kalau kau mau baca, baca saja…kutemani”


“Hehe…terima kasih!!”


Namun baru beberapa menit membaca novel itu Selena tertidur, Leo menghembuskan nafasnya lalu tersenyum. Akhir-akhir ini istrinya juga suka sekali tertidur, dan ia tidak bisa mencegah hal itu. Apa ini adalah hal umum yang terjadi kepada setiap Ibu hamil? Sepertinya ia harus belajar banyak tentang hal ini.


“Tuan…”


Leo hanya menganggukkan kepalanya, Rafindra dengan hati-hati menggendong Selena dan beberapa saat kemudian diambil alih oleh Leo.


“Kita langsung ke penthouse, di mana Daniel sekarang?” tanya Leo.


“Tuan Daniel sekarang sedang bertemu dengan teman-temannya Tuan…”


“Telfon Daniel, jika sudah selesai minta di menemuiku di penthouse. Ada yang ingin kusampaikan kepadanya”


“Baik…saya akan segera menelfon beliau. Mari Tuan, mobil sudah siap”


*************


Sedangkan disisi lain para Alexandra bersama Hendrick menatap serius kearah berkas yang ada di tengah meja. Apa yang mereka lakukan? Mereka juga tidak tau ingin melakukan apa. mereka hanya berpikir tentang masalah Jennifer yang membunuh anggota keluarga Georgino.


“Aku mengenal baik wanita itu, dia tidak mungkin membunuh anggota keluarga besar tanpa alasan yang jelas” ucap Hendrick.


“Kau benar Hendrick, aku benar-benar tidak percaya jika alasan Jennifer membunuh Alice hanya karena bosan” ucap Deon.


“Kapan hari kematian Alice?”


“Izinkan saya menjawab, Nona Alice meninggal pada tanggal 9 bulan 9 dan tahun XXXX. Atau…9 tahun yang lalu, di Canberra”


“Apa ini kebetulan Hendrick? Angkanya 999, Wei tidak tau mengenai ini?” tanya Jeff.


“Wei sepertinya tidak tau, jika aku tidak salah ingat. Seharusnya kejadian itu terjadi 1 minggu setelah kematian George. Ahhhhhh benar-benar menyedihkan saat mengingat hari kematian George. Leo mogok makan, tidak mau melakukan apa-apa. Selena pun ikut-ikutan sampai Ruvelis frustasi” ucap George menghembuskan nafasnya dan menyandarkan tubuhnya pada sofa.


“Tunggu…bukankah saat itu Jennifer sedang menjalankan tugas di Hokkaido?! Jika Alice mati di Canberra sedangkan Jennifer ada di Hokkaido bagaimana itu bisa terjadi?!” ucap Thomas.


Semuanya saling menatap, tunggu…sepertinya mereka melupakan sesuatu. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Hendrick dan Jeff membuat yang lainnya kebingungan.


“Panggil Rafindra dan tangan kanan Ruvelis yang lainnya, aku ingin bicara dengan mereka. Dan juga, panggil Micle” ucap Hendrick.


“Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin memanggil mereka?” tanya Deon.


“Nanti kujelaskan, panggil saja dulu mereka” jawab Jeff.


.


.


.


“Maaf sebelumnya karena aku memanggil kalian secara tiba-tiba kemari. Seperti yang kalian ketahui, Jennifer sudah tiada karena dendam keluarga Georgino kepadanya”


“Kami mengerti Jenderal besar”


“Dan ada yang ingin kusampaikan kepada kalian, bahwasanya faktor kematian Jennifer adalah dendam Yeni kepada Jennifer yang sudah melenyapkan putrinya yang bernama Alice” ucap Hendrick.


“Rafindra, kau sudah lama menjadi mata-mata di keluarga Georgino dan juga kau adalah bawahan terlama milik Ruvelis. Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, apa yang kau ketahui tentang kematian Alice”


Rafindra bertekuk lutut mendengar ucapan Hendrick. Hendrick hanya bisa menganggukkan kepalanya, Rafindra adalah satu-satunya Ruvelis yang sangat ia kagumi kepintaran serta etikanya.


“Izinkan saya menjawabnya Jenderal besar”


“Izin diberikan”


“Nona Marghareth Jhon Alice Georgino, meninggal pada tanggal 9 bulan 9 dan tahun XXXX. Saat itu dia sedang berada dikota Canberra, dia ditemukan tewas dengan tubuh yang terpotong menjadi 2 dan kepala yang terpenggal. Dari hasil penyelidikan polisi, yang membunuh Nona Alice adalah seorang wanita kidal. Selain itu, tidak ada hasil lain yang bisa ditemukan polisi”


“Lalu, bagaimana bisa Jennifer ditetapkan sebagai tersangka?”


“Ini…saya juga kurang paham mengenai hal ini. Informasi yang saya dapatkan selama disana adalah…Nyonya Jennifer yang mengaku telah membunuh Nona Alice”


“Musthail!!! Jennifer tidak kidal!! Wanita itu juga tidak akan pernah mengaku sudah membunuh siapa!! Sangat tidak masuk akal jika dia tiba-tiba mengaku begitu saja!!!” geram Liekai.


“Kendalikan emosimu Liekai” dingin Lewis.


“Kau boleh berdiri”


Rafindra berdiri setelah itu membungkuk kepada Hendrick. Hendrick mengingit bibir bawahnya, sudah jelas jika bukan Jennifer yang menghabisi Alice. Tapi jika bukan Jennifer lalu siapa yang membunuh Alice?.


“Aku ingin tanya kepada kalian semua, siapa yang mengetahui keberadaan keponakanku saat itu?” ucap Alexa.


Ucapan Alexa langsung membuat kakak, adik, beserta Hendrick menoleh kearahnya. Apa yang Alexa katakan?! Jangan katakan pria itu mencurigai Selena sebagai orang yang membunuh Alice?!.


“Izin menjawab Jenderal muda” Jenderal bernama Cein bertekuk lutut.


“Izin diberikan”


“Saat itu, saya adalah orang yang bertugas untuk menjaga Nona muda. Saat itu mendiang Jenderal besar dan Nona muda menuju Canberra, mendiang Jenderal besar beserta Nona muda kesana untuk menjemput Tuan muda Iskandar agar pulang. Namun Tuan muda Iskandar menolak untuk kembali hari itu dan memilih untuk menetap di


Canberra selama beberapa hari, saat itu Jenderal besar tengah sibuk menangani masalah di perbatasan sehingga beliau mengirim saya untuk menjaga Nona muda. Namun pada tanggal 9 pengawasan saya kepada Nona Selena lengah. Nona muda hilang pada jam 04.45 PM dan kembali jam 00.09 AM bersama dengan mendiang Jenderal besar dalam keadaan tertidur”


Wajah Hendrick, para Alexandra, dan Rafindra seketika memucat. Tidak…tidak mungkin, tidak! Mereka tidak boleh berpikiran sampai seperti ini. Tidak mungkin jika Selena yang melakukan pembunuhan hari itu. Jikapun Selena yang melakukan hal itu, apa motifnya?.


“Asahi…jangan bilang…” ucap Hendrick.

__ADS_1


“Benar Jenderal besar, kematian Nona Alice. Diperkirakan terjadi pada pukul 09.00 PM, dokter yang mengotopsi jasad beliau yang mengatakannya”


Hendrick seketika dibuat pingsan oleh ucapan Asahi, Asahi yang panik langsung kebingungan memanggil dokter untuk segera datang.


Para Alexandra menggigit bibir bawahnya, sial*n!! Jika sudah sepertinya, hanya ada 1 cara! Yaitu langsung bertanya kepada si empu!.


“Siapkan pesawat, saat Hendrick bangun kita langsung terbang ke A.S” dingin Alexa.


“Izin berbicara Jenderal muda”


“Izin diberikan”


“Nona besar, Tuan muda, Tuan muda berserta Nona muda Jasson akan segera menuju ke Jerman. Lebih baik baik, penerbangan dilakukan menuju Jerman”


“Terserah” jawab Alexa.



Sesuai dengan printah Alexa, saat Hendrick sudah sadar semuanya langsung menuju Jerman. Mereka sampai di Jerman saat malam hari dan itu bertepatan dengan disusulnya pesawat pribadi Leo yang mendarat. Dan itu membuat penjaga bandara kebingungan akan mengawal yang mana.


Hendrick keluar dari pesawat di dudul yang lainnya, Deon melepaskan kacamata hitamnya dan menatap pesawat milik Leo. Sungguh kebetulan mereka bisa sampai di waktu yang hampir bersamaan.


“Kalian berjaga disana saja” ucap Deon.


Para penjaga bandara langsung bergegas menghampiri pesawat Leo dan menggelar karpet mewah. Pintu pesawat terbuka, Daniel dan Joe keluar dengan mantel tebal merek disusul turunnya Leo yang memakai pakaian tak kalah tebalnya.


“Disini benar-benar dingin” ucap Leo menggigil kedinginan, sejak kecil ia benar-benar tidak bsia tahan dengan dingin.


“Hm? Di mana Selena? Apa dia tidak ikut?” tanya Hendrick. Jika Selena tidak ikut percuma mereka kemari.


“Yeyyyyy!!! Jerman!!!”


Selena berlari turun dari pesawat Leo dengan kaos putih polos tanpa lengan dan celana jeans panjangnya. Para Alexandra melotot melihat itu, apa gadis itu tidak merasa kedinginan sama sekali?! Suhu mencapai -9°C! Dan bisa-bisanya gadis itu memakai kaos tanpa lengan.


“Hei!!!! Di mana mantelmu?!! Pakai!!” teriak Jeff.


Selena menoleh, matanya berbinar melihat Paman-pamannya. Melihat itu ia langsung berlari dan meloncat ke pelukan Alexa. Sedangkan Lewis langsung memasang mantel ditubuh keponakannya agar tidak kedinginan.


“Paman…aku gerahhhhhh”


“Gerah gerah! Kau ini terlalu sering bermain dengan macan tutul salju jadi begini!! Paman kirim ke kutub selatan baru tau rasa!” kesal Hendrick.


“Ayo! Aku ingin memancing ikan disana!”


“Hah?!”


“Pakai ya mantelnya, tuh…kasihan suamimu kedinginan begitu” ucap Louis membuat Selena langsung turun dari gendongan Alexa dan menghampiri suaminya. Ia terlalu senang bertemu dengan Paman Alexanya sampai lupa suami sendiri.


“Dingin sayang…”


Mendengar hal itu membuat Selena langsung membawa Leo masuk kedalam bandara, Leo menghembuskan nafasnya karena suhu tak terlalu dingin saat didalam.


“Langsung ke penthouse ku saja ya? Lebih dekat daripada mansionmu” ucap Selena dan Leo hanya menganggukkan kepalanya.


Selena membawa suaminya masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan dan langsung menuju ke penthousenya. Saat sampai Selena langsung membawa Leo naik ke penthousenya dan segera menyiapkan perapian serta air hangat untuk Leo.


“Ayo cepat mandi, airnya sudah kusiapkan. Setelah mandi turun dan makan”


“Terima kasih” ucap Leo mencium dahi istrinya dan naik ke kamar untuk mandi.


“Wow…ini penthousemu sendiri? Keren” ucap Joe.


“Iya, ini dibelikan Papa saat ulang tahunku yang ke-2 atau 3”


Hendrick dan para Alexandra melepaskan coat panjang mereka dan mengantungnya setelah itu segera menuju perapian untuk menghangatkan diri.


“Dingin ya? Akan kunaikan suhu dulu”


Setelah menaikan suhu ruangan Selena ke dapur untuk menyiapkan teh lalu melihat suaminya.


“Sayang, bagaimana? Sudah lebih hangat?”


“Sudah, terima kasih sayang…”


“Aku akan meletakkan bajumu di tempat tidur. Mau makan apa?”


“Tidak perlu, tadi kan sudah makan di pesawat” jawab Leo dari kamar mandi.


“Baiklah, mau minum apa?”


“Coklat panas saja sayang, bisa?”


“Akan segera siap” jawab Selena keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


“Perlu bantuan?” tawar Daniel dibelakang Selena.


“Ahhh tidak perlu, apa kau menginginkan sesuatu?”


“Hm…bisa kau buatkan sandwich untukku? Aku lapar…makanan dipesawat hambar” bisik Daniel dikata akhirnya.


“Baiklah…ganti


bajumu dulu. Di kamar tamu sepertinya sudah disiapkan baju ganti”


Daniel menganggukkan kepalanya dan bertanya kepada Deon di mana kamar tamu. Deon menunjuk kearah kamar yang berada di lantai 2 tepatnya disebelah kamar Selena.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2