
.
.
.
Dokter wanita itu memeriksa denyut nadi Selena dengan teliti, ia tersenyum ketika sudah mengetahui hasilnya.
“Wahhhh…”
“Ada apa?! Apa istriku baik-baik saja?” tanya Leo dengan penuh kecemasan.
“Anda tidak perlu khawatir Tuan, ini normal untuk setiap kehamilan. Nyonya hanya perlu istirahat dengan baik, setelah itu tubuhnya akan terasa lebih baik”
Semuanya total blank seketika, Selena terkejut mendapati ucapan dokter itu. Ia hamil?! Serius!? Ia sedang mengandung anak Leo sekarang?! Tapi bagaimana bisa?! Suaminya selalu memberinya obat ketika selesai berhubungan badan.
“Selamat untuk anda Tuan, anda akan segera menjadi Ayah”
Leo membeku tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter itu. Istrinya hamil?! Sejak kapan?!.
“Benarkah?! Sudah berapa bulan!?” tanya Deon tak percaya.
“Sekitar satu bulan Tuan, Nyonya…tolong dijaga baik-baik ya tubuh anda. Kondisi tubuh anda, mempengaruhi janin didalam rahim anda”
Leo kembali membeku, satu bulan? Itu berarti…
Leo mendorong pelan tubuh istrinya dan keluar dari ruangan itu. Selena menggigit bibir bawahnya, apa Leo marah kepadanya? Kenapa suaminya terlihat tidak begitu senang dengan kabar ini?.
Leo membenturkan kepalanya kedinding. Idiot! Idiot! Idiot! Ia terlalu ceroboh, ia lupa membawa obat saat bermalam diapartement saat itu!.
“Dasar idiot kau Leo! Kau pria bodoh! Kau ini bajin*an!”
Selena membuka pintu ruangan itu dengan perlahan, Leo menggigit bibir bawahnya. Ia tak berani menatap wajah istrinya.
“Sayang…bisakah kita memilikinya?” tanya Selena dengan hati-hati.
“Hm? Apa yang kau katakan sayang?” tanya Leo langsung mendekati istrinya. Apa istrinya merasa tidak nyaman? Inilah kenapa ia tidak mau istrinya mengandung!! Ia ini memang pria bodoh!.
“Kau seperti tidak senang dengan hal ini…tapi bisakah kita memilikinya?”
Leo seketika berlutut dihadapan Selena. Selena juga langsung berlutut dihadapan suaminya.
“Maafkan aku…maafkan aku…aku lupa memberimu obat hari itu. Jika waktu itu aku tidak melupakannya, ini tidak akan terjadi”
Selena hanya diam, membiarkan suaminya berbiacara hingga selesai. Ia tidak boleh salah paham dengan suaminya karena hal ini. Ia harus bersikap dewasa, ia tidak boleh lagi kekanak-kanakan. Ia sudah akan menjadi seorang Ibu, ia harus berpikiran luas.
“Maafkan aku…aku…aku bukan tidak menginginkan hal ini. Tapi aku tak sanggup…aku tak sunggup melihatmu menderita jika kau mengandung anakku…maafkan aku…maafkan jika sikapku tadi membuatmu terluka…aku hanya tak ingin kau celaka…aku hanya ingin kau baik-baik saja…anak itu akan membuatmu kesusahan nanti…aku tak ingin kau kesusahan karena anakku”
Leo menundukan kepalanya, tak berani menatap wajah istrinya. Ia takut istrinya kecewa kepadanya karena sikapnya yang seolah-olah tidak menerima anak itu. Dalam lubuk hatinya, ia memang ingin istrinya mengandung anaknya. Namun keinginan itu terkubur mengingat betapa banyak beban yang akan dilewati istrinya kedepannya, apalagi ia tidak akan bisa menjaga istri dan anaknya dengan tangannya sendiri.
“Leo…”
“Hukum aku, aku pantas menerimanya…terserah kau mau melakukan apa kepadaku, kau bisa memukulku sepuasmu…aku sungguh menyesalinya”
Selena memeluk kepala suaminya dengan erat, inikah yang dikhawatirkan suaminya? Ia tau…ia tau apa yang sedang dirasakan suaminya.
“Jangan salahkan dirimu lagi Okey? Hei, lihat kau”
Selena mendongkakan kepala suaminya, Leo menatap sendu wajah cantik istrinya. Selena menggapai tangan besar suaminya dan meletakannya diperutnya.
“Ryumu tumbuh disini, jangan berpikir ini adalah sebuah kesalahan…”
__ADS_1
Ucapan Selena langsung membuat Leo menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan bagaimana repotnya istrinya nanti mengurus ke-3 anaknya.
“Maafkan aku…aku benar-benar minta maaf”
“Sekali lagi minta maaf, tidur diluar malam ini” ucap Selena sembari tersenyum.
.
.
.
Leo menatap sendu istrinya yang tertidur dengan senyuman dibibir manis itu. Leo mengusap rambutnya kebelakang dengan kasar, ia mengambil ponsel istrinya dan menghubungi Daniel.
“Ya Leo? Bagaimana? Istrimu sudah sampai disana?”
“Istriku hamil”
“APA?! Bagaimana bisa?! Apa kau tidak memberi Selena obat?!”
“Maaf…aku lupa memberinya obat saat bermalam diapartement hari itu”
“Kau ini! Sekarang jangan pikirkan hal lain, fokuslah terlebih dulu kepada istrimu. Dia sedang hamil, dia membutuhkan lebih banyak perhatian”
“Tapi…”
“Masalah keluarga Georgino biar kuselesaikan, jaga Selena”
“Tidak! Besok aku akan mengirim Dear kembali. Kau yang menjaganya, disini…dengan perlahan aku akan membuat keluarga Georgino tidak mempunyai tempat dikemiliteran”
“Kalau begitu aku akan berjaga dibandara, aku akan berangkat kesana sekarang. Istrimu harus aman”
“Mereka baik-baik saja, mereka berkembang dengan baik. Anak-anakmu kuat, aku yakin mereka bisa bertahan hingga 8 bulan kedepan”
Mendengar jawaban Daniel membuat senyum tipis terukir dibibir Leo. Ia mematikan telfon itu dengan sepihak lalu mendekatkan kepalanya di perut sang istri.
“Ryu…jaga Mama baik-baik ya sayang…Papa sayang Ryu…” Leo memberikan kecupan lembut diperut datar istrinya.
Leo menatap ponsel istrinya, ia memasukkan beberapa nomor penting didalam ponsel itu. Ia memasukkan nomor ponsel orang kepercayaannya agar saat istrinya dalam bahaya mereka bisa membantu istrinya.
“Apa ini nomor Alex? Sepertinya iya”
Leo menekan nomor itu, telfon terhubung seketika.
“Selena! Kau ini kemana saja huh?! Kenapa kau tidak datang untuk bekerja? Kau membuatku khawatir”
“Dia bersamaku, untuk apa kau mengkhawatirkannya?”
“Tuan muda Iskandar?!!”
“Ya, Alex. Kosongkan semua jadwalmu, istriku hamil…jika sampai terjadi sesuatu kepadanya…kau akan menerima konsekuensinya”
Tut…
Leo menghembuskan nafasnya, besok ia akan meminta Assistantnya menyiapkan semua keperluan istrinya. Mulai besok ia akan meminta Assistantnya untuk berada di samping istrinya, biar urusan perusahaan ditangani oleh Sekretarisnya. Keamanan istrinya jauh lebih penting daripada itu.
“Jaga diri baik-baik ya disana sayang…” Leo menempelkan dahinya di kening sang istri dan mencium lembut bibir merah muda itu.
****
Esoknya!
__ADS_1
Para Alexandra memberikan beberapa kotak kepada keponakan mereka sebelum keponakan mereka pergi dari kamp ini. Leo dengan lembut menyisir rambut istrinya, setelah selesai Selena langsung pergi keruangan Hendrick. Entah hal apa yang ingin dibicarakan Pamannya yang satu itu kepadanya.
“Selena? Kau sudah datang?”
“Ada apa Paman? Kenapa Paman ingin bicara denganku?”
“Kemarilah, duduk disini”
Selena menarik kursi dan duduk didepan Hendrick. Hendrick memberikan sebuah kotak kepada Selena, kotak yang cantik…apa ini barang berharga? Apa ini barang mahal? Bisakah ia menjual ini?.
“Bawa pulang ini”
“Apa ini isinya?” tanya Selena sembari membuka kotak itu.
Sebuah kertas, tinta, stempel, dan pena bulu? Kenapa Pamannya memberikan hal aneh ini kepadanya? Sepertinya hal ini tidak berguna sama sekali.
“Dia pasti berpikir hal ini sama sekali tidak berguna, memang putri Ruvelis! Jenssica! Tanyakan kepada suamimu, apa yang dia perbuat sampai mendapatkan putri seperti ini!”
“Bawa pulang ini, jangan diperlihatkan kepada siapapun Okey?”
“Barang ini tidak berguna, sekarang sudah ada pena modern Paman! Tidak perlu pakai pena bulu seperti ini!” jawab Selena memajukan bibirnya.
“Tuh kan…”
“Dengarkan Paman ya sayang, simpan barang ini baik-baik…kau hanya bisa menggunakannya sebanyak 3 kali…hanya 3 kali”
Mata Selena berbinar seketika, apa didalam pena ini terdapat sebuah jin atau semacamnya yang bisa mengabulkan permintaan?!.
“Dia tidak berpikiran bahwa ada jin didalam pena itu kan?” batin Henderick curiga dnegan tatapan Selena kepada pena itu.
“Perlu kuakui, otak kanan dan otak kirinya memiliki kejeniusan yang seimbang. Dia sempurna dalam semua hal, kecuali memahami perasaan. Ruvelis…bagaimana bisa kau menapatkan putri seperti ini? Aku sangat iri denganmu…”
Hendrick terus memperhatikan Selena yang masih menatap benda-benda itu. Ruvelis jenius dalam otak kiri sedangkan Jenssica jenius dalam otak kanan. Pasangan serasi yang melahirkan keturunan hebat seperti ini. Sejak kecil ia sudah tau bahwa Selena adalah anak yang jenius, bagaimana tidak? Diumur yang ke-3 tahun, bocah kecil ini pernah membuat perusahaan Alexandra hampir bangkrut karena mengobrak-abrik pasar saham.
“Kau jenius dalam semua hal, kecuali satu…”
“Apa?”
“Memahami perasaan seseorang”
“Ha????”
“Lupakan, Paman akan menjelaskan kegunakan benda-benda itu. Setelah Paman jelaskan, jangan berbuat hal-hal bodoh Okey?”
“Jelaskan saja dulu”
.
.
.
Papa Ruvelis numpang lewat dulu...
.
.
.
__ADS_1