
.
.
.
Selena menatap hamparan ladang bunga didepan matanya, Selena menatap tubuhnya…tubuhnya kenapa menjadi wujud anak-anak?. Ia juga memakai gaun putih yang begitu cantik. Dengan langkah pelan Selena berjalan menelusuri hamparan bunga indah itu. Namun langkahnya seketika terhenti melihat sebuah tanaman strawberry yang sedang berbuah dengan lebatnya mengelilingi sebuah pohon yang begitu rindang. Dan terdapat ayunan bunga disana.
Selena berjongkok dan mengambil keranjang lalu memetik buah favoritnya itu. Ia memetik buah strawberry hingga memenuhi keranjang yang ia bawa, melihat buah strawberry yang begitu mengiurkan Selena mengambil satu dan memakannya. Sangat manis…ia menyukainya!.
“Nara…”
Panggilan itu langsung membuat Selena berdiri dan membalikan badannya, ia tersenyum cerah melihat Papa dan Mamanya sedang berjalan mendekatinya.
Ruvelis berlari menghampiri putrinya, ia mengangkat tubuh putrinya tinggi-tinggi.
“Papa…turunkan aku, berat badanku naik…aku sudah berat”
“Tidak…Naranya Papa masih begitu ringan, seperti dulu”
Ruvelis menurunkan putinya, ia menciumi seluruh permukaan wajah putrinya membuat Selena tertawa kegelian dibuatnya.
“Sayang…kenapa kau bisa disini hm?” tanya Jenssica sembari membelai lembut kepala putrinya.
“Selena sudah bosan…jadi Selena ingin tinggal dengan Papa dan Mama…boleh ya?” tanya Selena sembari menatap Papa dan Mamanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ruvelis dan Jenssica saling menatap lalu tersenyum.
“Tentu saja sayang, kenapa tidak?” jawab Ruvelis.
“Serius?!”
“Iya…Selena boleh tinggal dengan Mama Papa, tapi tidak boleh terlalu lama ya sayang” ucap Jenssica sembari mencium dahi putrinya.
“Kenapa…?” tanya Selena sendu. Butiran air mata keluar membasahi pipinya membuat Ruvelis sontak berjongkok dan menghapus air mata itu.
“Oh…putri Papa menangis…jangan menangis sayang, Papa disini”
“Hiks kenapa Selena tidak boleh lama disini…?” tanya Selena memeluk erat Papanya.
“Ini bukan duniamu sayang…kan Papa sudah janji kepada Nara, nanti kalau Nara sudah benar-benar lelah…Papa akan menjemput Nara, dan kita ber-3 akan hidup disini. Dan selamanya kita tidak akan pernah berpisah lagi ya”
Selena dengan berat hati menganggukkan kepalanya, mengerti akan maksud Papanya. Jadi ia tidak boleh tinggal disini dengan lama sebelum ia menyelesaikan semua masalahnya ya…
“Kalau Selena disini lama, kan kasihan Leonya…dia pasti akan mencari Selena. Selena mau Leo khawatir?”
“Kalau begitu aku akan membawa Leo kemari juga pa! Dengan begitu dia tidak akan khawatir denganku kan?”
__ADS_1
Ruvelis menatap sendu putri kecilnya. Sebegitu inginnya putrinya tinggal dengannya disini.
“Dengarkan Papa ya sayang…Nara sedang putus asa ya? Papa mengerti perasaan Nara, tapi Nara harus sabar…semuanya pasti akan segera berlalu. Nara pasti akan mendapatkan kebahagiaan Nara, bukankah Nara sudah berjanji kepada Papa kalau Nara akan menggapai cita-cita Nara? Papa ingin…Nara menggapai cita-cita Nara terlebih dulu. Papa yakin, putri kecil Papa...pasti kuat menahan ini semua” ujar Ruvelis sembari tersenyum lembut.
“Papa benar, Nara sedang putus asa.
Tapi Papa tenang saja, aku pasti…akan bisa mewujudkan cita-cita Nara! Nara
janji!” ucap Selena membuat Ruvelis dan Jenssica tersenyum dibuatnya.
.
.
.
Selena meletakkan kepalanya di pangkuan Jenssica, Jenssica tersenyum melihat nafas putrinya yang tersengal-sengal karena lelah bermain dengan suaminya. Ruvelis berlari dan mengelitik perut putrinya membuat tawa Selena lepas seketika.
“Hahahaha!! Papa sudah…itu geli…”
“Dasar anak nakal! Kau mencuri strawberry Papa dan memakannya hingga habis dan tidak menyisahkan satupun untuk Papa! Kau harus Papa hukum!”
“Hahahahaha, Mama! Lihat Papa…kemarin Papa menghabiskan blueberryku! Jadi aku mengambil strawberry Papa sebagai gantinya! Hahaha! Papa…sudah…Selena lelah”
Jenssica tertawa lembut melihat interaksi suami dan putrinya. Sejak dulu, putrinya selalu lebih dekat dengan suaminya daripada dengan dirinya. Dan itu semua karena ulah adik-adik iparya yang selalu menculik putrinya dan membawanya pergi saat bersama dengan dirinya.
“Nara adalah anugerah terindah yang pernah Papa dapatkan…Papa mencintai Nara lebih dari segalanya” ucap Ruvelis sembari mencium dahi putrinya.
Burung kakatua itu terbang, Selena menatap burung itu. Ia ingin berlari dan menangkap burung itu lalu bermain bersama.
“Kejarlah sayang…Mama mencintai Nara…sudah waktunya Nara pulang” ucap Jenssica sembari mencium lama pipi putrinya.
Selena berdiri dan berlari mengikuti burung kakatua itu. Ruvelis dan Jenssica melambaikan tangan mereka melihat putri mereka yang sudah menjauh dan akhirnya sirna dibalik cahaya. Walaupun tak rela, mereka tetap harus melepaskan.
.
.
.
.
.
.
Air mata dengan perlahan keluar dari sudut mata Selena, tak berselang lama Selena membuka matanya dengan perlahan. Leo langsung menangis histeris melihat istrinya yang akhirnya sadarkan diri.
__ADS_1
Leo memeluk erat tubuh istrinya, Tuan dan Nyonya Jasson mengusap air mata mereka melihat putri mereka yang akhirnya membuka mata setelah sekian lama. Para Alexandra tak henti-hentinya mengucap syukur melihat keponakan mereka yang akhirnya mendapatkan kesadarannya.
“Hiks…syukurlah kau sudah sadar…aku benar-benar ketakutan…” ucap Leo dengan tubuh gemetarnya, ia menumpahkan segala kesedihannya di bahu sempit istrinya.
Leo melepaskan pelukannya, ia menciumi seluruh permukaan wajah istrinya. Selena menatap suaminya dengan pandangan lemah, ia benar-benar tak punya tenaga sama sekali.
“Akhirnya kau bangun juga…kau membuatku hampir mati ketakutan” ucap Joe menghapus air matanya.
Mata Selena bergulir menatap kalender, bulan sudah berganti? Itu berarti…ia sudah tidur selama 30 hari lamanya. Matanya menatap sebuah burung kakatua yang hinggap dibalkon kamar rumah sakit. Ia tersenyum tipis melihat burung kakatua, parrot, parkit dan burung beo yang sedang memakan biscuit yang ada diatas meja.
“Itu burung yang kubelikan untukmu, suka?” tanya Leo dan Selena menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
Alex masuk kedalam ruangan, ia tersenyum melihat Selena yang akhirnya sadarkan diri setelah 1 bulan kritis. Ia memeriksa keadaan Selena dengan keseluruhan bersama dengan Bei. Selena sudah 25 hari lamanya berada di ICU dan hari ini akhirnya gadis ini sadar juga.
“Syukurlah, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Kau bisa pulang setelah beberapa hari menginap ya”
“Paman…Hendrick…di mana?”
“Paman ada dikediamannya, beliau mengundur waktu keberangkatanku sampai kau sembuh total”
“Daniel…?” tanya Selena lagi.
“Itu…dia…” ucap Leo ragu untuk menjawab.
“Dia mengurung diri di kamar, dia bilang dia gagal melindungimu. Jadi dia mengurung dirinya” jawab Joe.
Liekai langsung menginjak kaki Joe dengan kuat membuat gadis itu mengerang kesakitan. Joe memukul lengan Liekai dengan keras, kan ia hanya menjawab pertanyaan Selena. Apa salahnya sih!?.
“Mama…aku ingin bertemu Mama…”
“Iya…nanti ya, Bibi sedang istirahat di kamarnya…sekarang kau makan setelah itu istirahat juga ya”
Leo membantu istrinya duduk, ia melepaskan masker oksigen istrinya dan mengantinya dengan nasal cannula setelah itu menyuapi istrinya dengan telaten.
“Leo…sudah…aku kenyang”
“Baru 4 suap, lagi ya…”
“Jangan dipaksakan, 4 suap sudah bagus. Jangan sampai dimuntahkan semua yang sudah masuk” jawab Deon yang paham tabiat Selena jika sedang sakit, semakin dipaksa untuk makan. Pasti akhirnya semua makanan yang sudah masuk akan dimuntahkan.
“Istirahatlah, kami akan keluar” ucap Joe.
“Istirahatlah istirahatlah” burung parrot itu menirukan ucapan Joe membuat Joe mengepalkan tangannya seketika. Burung itu…burung yang benar-benar membuat emosinya naik turun sejak datang. Entah bagaimana cara Leo bisa mendapatkan burung yang pandai bicara seperti itu.
.
.
__ADS_1
.