Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 153 : Bak Pinang Dibelah Dua


__ADS_3

.


.


.


“Lepaskan aku sial*n!! Beraninya kau memperlakukanku seperti ini!!!” Tuan Chu berucap dengan geram sembari mencoba melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya.


Selena mengambil air yang diberikan Wei lalu menyiram wajah Lie menggunakan air itu. Pria itu membuka matanya dengan perlahan dan terkejut mendapati dirinya sedang diikat bersama dengan Tuan Chu.


“Dasar wanita murahan! Lepaskan aku!! Aku bersumpah akan membunuhmu!!” geram Lie.


“Kalau kau mati terlebih dulu daripada aku bagaimana kau mau membunuhku?”


Semua lampu tiba-tiba dinyalakan, Lie dan Tuan Chu terkejut mendapati begitu banyak Mafia yang berada di tempat ini. Tempat yang sangat mewah namun benar-benar asing, mereka sedang berada di mana?.


“Selamat datang di markas keluargaku” ucap Selena tersenyum sinis. Tempat yang sangat mewah dan megah inilah markas utama milik keluarganya, mansion megah yang dijadikan tempat eksekusi untuk orang-orang yang mengkhianati kemiliteran serta musuh-musuh besar keluarga Alexandra.


“Lepaskan aku sial*n!! Beraninya kau!!”


“Hmmmmm…kenapa aku tidak berani? Ini tempatku, jadi aku bebas melakukan apapun kepada kalian berdua…”


“Sebenarnya siapa kau hah?!!” bentak Tuan Chu, gadis yang sedang duduk dengan gaya yang begitu sombong didepannya ini pasti bukan berasal dari keluarga rendah seperti yang Yeni bicarakan. Ia yakin gadis ini adalah gadis yang berasal dari keluarga bepengaruh karena Jenderal besar Hendrick saja memihak kepadanya.


“Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra, putri tunggal dari mendiang Jenderal besar Nami dan dokter Jenssica Maria Leonardo. Sekaligus pewaris utama keluarga Alexandra dan juga Jenderal muda Nara dari kamp utama, oh sekaligus Nyonya keluarga Iskandar”


Lie beserta Tuan Chu seketika memucat mendengar perkataan Selena. A-apa?! Wanita ini berasal dari keluarga Alexandra?! Dan juga dia adalah anak dari Jenderal besar Ruvelis?!.


“Ti-tidak mungkin!! Jenderal besar Ruvelis tidak mempunyai seorang anak! Beliau meninggal sebelum mempunyai keturunan! Jangan membual sial*n!!” sangkal Tuan Chu.


“Jaga perkataanmu dihadapan Jenderal muda Nara!!”


Selena tersenyum sinis, ia melepaskan lensa matanya, mata jade bluenya menatap dingin Tuan Chu beserta Lie.


“Ti-tidak mungkin…”


“Jika kalian tidak percaya, putar kepala kalian dan lihatlah lukisan yang ada dibelakang kalian”


Tuan Chu serta Lie sontak menatap kearah belakang, mereka semakin memucat ketika melihat lukisan silsilah keluarga Alexandra. Mati…mereka akan mati hari ini.


“Kenapa diam begitu? Jangan terlalu terkejut, dan jangan meminta ampunan dariku”


“Ibumu membunuh Ibu angkat sekaligus Bibiku…jadi apa yang harus kulakukan hum? Kalian juga sudah melenyapkan keturunan keluarga Alexandra”


Tuan Chu dan Lie tidak bisa berkata-kata, lidah mereka seketika tidak bisa digerakan, suara mereka tidak bisa keluar sama sekali.


“Kenapa diam? Sekarang pilihlah kalian ingin mati dengan cara apa”

__ADS_1


Selena mengeluarkan pisau dari sakunya, ia memotong tali yang mengikat ditubuh Tuan Chu dan Lie. Kedua pria itu langsung berdiri dan berlari. Semua orang yang berada disana hanya diam tanpa bergerak sedikitpun.


“Silahkan Jenderal muda…” seorang pria memberikan sebuah pistol kepada Selena.


Selena mengambil pistol lalu membersihkan pistol itu menggunakan sapu tangan. Selena dengan santainya mengisi pistol itu menggunakan peluru sedangkan Lie mencoba mendobrak pintu agar mereka bisa keluar.


Tangan kiri Selena mengambil sebuah kamera setelah selesai mengisi peluru.


“Aku akan menunjukan ini kepada Paman nanti, dia benar-benar meremehkanku” ucap Selena.


“Hm? Jenderal muda meremehkan anda?” tanya Rafindra.


“Ya, dia bilang jika aku nanti kembali dengan keadaan tergores sedikit saja. Dia akan menghukumku”


“Tapi anda tidak terluka kali ini” ucap Wei.


“Ya, maka dari itu. aku akan membuat Paman meminum susu Ibu hamil karena sudah meremehkan keponakannya ini”


“Aduhhh…tidak ada satupun Jenderal muda Alexandra yang menyukai susu…jika Jenderal muda Arion meminum susu…”


“Hei kalian! Sudahkah kalian menghitung langkah kalian kesana tadi?! Karena jumlah langkah kalian kesana tadi akan menentukan jumlah tembakan yang terjadi ditubuh kalian” ucap Selena.


“Kumohon…lepaskan aku!! Aku berjanji tidak akan pernah mengusikmu lagi!! Kumohon biarkan aku pergi!!” pinta Tuan Chu sembari berlutut.


“Kau pikir aku akan luluh jika kau berlutut seperti itu?”


“Ikat Tuan Chu dipintu”


Beberapa orang Mafia langsung bergegas menangkap Tuan Chu dan menekannya di pintu. Tuan Chu memberontak hebat ditangan Mafia itu membuat salah satu Mafia berlari dan memberikan tali serta lakban. Setelah Tuan Chu menempel sempurna di pintu, para Mafia itu bergegas menjauh dari posisi Tuan Chu.


Selena tersenyum puas ketika tembakannya tepat sasaran. Tuan Chu berteriak kesakitan membuat Lie yang masih mencoba melarikan diri sembari gemetar ketakutan.


“Sakit kan? Itulah mengapa jangan mengusikku”


Selena meletakkan pistolnya dan memberikan kameranya kepada Wei agar terus merekam, Selena berlari menghampiri sesuatu. Gadis itu membuka laci dan mengeluarkan sebuah pedang dari sana.


“Hahahahaha!! Setelah sekian tahun akhirnya aku bisa menggunakan pedang ini” ucap Selena.


“No-nona besar, Jenderal besar masih melarang anda menggunakan itu”


“Paman bilang aku boleh menggunakannya saat usiaku 17 tahun! Aku sudah lebih dari 18 tahun sekarang!”


Selena membersihkan pedang yang sedikit berdebu, setelah sekian lama akhirnya ia bisa menggunakan pedang kesayangannya.


Selena melemparkan pedangnya dan pedang itu tepat menancap menembus kepala Tuan Chu, Rafindra memejamkan matanya. Ternyata benar apa yang dikatakan Jenderal besar Hendrick bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Perbedaan Jenderal besar dan Nona mudanya hanya terdapat pada cara menyiksa dan membunuh.


“Hahahaha!! Masih sangat tajam ternyata…kupikir aku perlu mengasahnya agar bisa menembus kepala itu” ucap Selena.

__ADS_1


“Tolong!!!! Kumohon siapapun yang diluar kumohon tolong aku!!!!” teriak Lie.


“Diluar tidak ada siapapun, percuma kau berteriak sampai suaramu habis tak akan ada yang menolongmu”


Selena berjalan mendekati lie, gadis itu menjambak rambut belakang Lie membuat pria itu langsung mendongkak keatas.


“Cari mati ternyata…”


“Lepaskan aku!! Aku tidak tau apa-apa, lepaskan aku!!”


“Kau pikir bayiku juga tau apa-apa sampai ibumu menyuruh untuk melenyapkannya? Ibumu memiliki dendam kepadaku tapi dia melampiaskannya kepada calon anak dan Mamaku. Jadi aku akan melampiskan dendamku kepada dirimu” ucap Selena sembari memaksa tubuh Lie agar berdiri.


Lie berdiri dengan kaki yang gemetar hebat, Selena menendang perut Lie hingga pria itu tersungkur beberapa meter kebelakang. Selena menambil pedang yang menancap di kepala Tuan Chu lalu melemparkannya keatas.


Wajah Lie seketika memucat melihat sebuah pedang akan jatuh mengenainya, namun sebelum pedang itu menembus kepala Lie Selena menangkapnya.


Sudut bibir Selena terangkat melihat wajah pucat Lie yang seperti orang mati.


“Takut? Wajahmu pucat sekali…Masih mau main-main denganku?” tanya Selena tersenyum sinis.


“Kumohon…lepaskan aku…aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asalkan lepaskan aku…” pinta Lie dengan suara lirihnya.


“Apapun?” tanya Selena.


“Ya! Ya! Apapun akan kulakukan!!” ucap Lie.


Selena tersenyum dan bangkit dari tubuh Lie.


“Bawa dia, minta Paman Nahl melakukan pekerjaannya. Aku akan membuat pria ini sedikit berguna untuk membangkitkan moodku” ucap Selena.


“Baik Jenderal muda” jawab salah satu Mafia membawa Lie pergi dari hadapan Selena.


“Kenapa anda ingin melepaskannya begitu saja?” tanya beberapa Mafia mendekat kearah Selena.


“Hm? Bukan Lie yang menjadi incaranku, melainkan Kyler dan Moses…lakukan pekerjaan kalian, aku akan istirahat”


“Baik…Selamat malam Jenderal muda…” semua orang membungkuk hormat kepada Selena, Selena menganggukkan kepala lalu berjalan masuk kedalam lift yang terbuka.


“Jenderal muda benar-benar mirip dengan Jenderal besar Ruvelis”


“Iya benar, sama-sama menyeramkan”


“Itulah kenapa aku tidak pernah mau menyinggung Nona besar” ucap Wei.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2