
.
.
.
Selena berlari memeluk Papanya yang baru keluar dari mobilnya, Ruvelis tersenyum dan menggendong putrinya yang sepertinya tampak senang dengan kampus pertamanya ini.
“Bagaimana? Menyenangkan sayang belajarya?”
“Iya! Nara suka! Semuanya baik dengan Nara!”
“Nara rindu dengan Papa tidak?”
“Rindu dong! Papa! Nara boleh tanya sesuatu?”
“Apa sayang?”
“Tadi Nara tidak sengaja dengar Paman Rafindra bilang kalau tidak perlu menggunakan etika ketika bertemu dengan musuh, kenapa seperti itu Papa?”
Rafindra sontak terkejut, ternyata Nonanya mendengar pembicaraannya dengan rekannya tadi. Posisinya tadi berada di luar kelas, bagaimana bisa Nonanya mendengar percakapannya?.
“Sayang, terkadang sikap sombong diperlukan disuatu kondisi tertentu. Jika Nara menggunakan etika Nara kepada musuh, Nara sama saja membuka kesempatan emas untuk mereka menjatuhkan Nara. Tapi…Nara tidak boleh menyalahgunakan itu”
“Baiklah…Nara boleh tanya lagi?”
“Ya, tentu sayang”
“Papa, apa boleh Nara keluar tanpa penjagaan seperti Papa dan Paman?”
Ruvelis terdiam sejenak mendengar pertanyaan putrinya, kenapa putrinya menanyakan hal ini? Dan…kenapa putrinya tau jika ia dan adik-adiknya bisa keluar tanpa adanya penjagaan? Apa Rafindra yang memberitau putrinya mengenai hal ini?.
“Kenapa Nara menanyakan ini sayang?”
“Nara hanya cemburu karena Papa dan Paman boleh keluar tanpa penjagaan” ucap Selena sembari memainkan dasi Ruvelis.
“Jadi putri Papa ini cemburu hm?” ucap Ruvelis tersenyum lembut dan dibalas anggukan oleh Selena.
“Tidak boleh ya sayang, Nara harus tetap dalam penjagaan. Penjagaan tidak akan dilakukan jika Nara bersama dengan Papa dan Paman Hendrick.”
“Hummmmmm…”
“Maaf ya sayang, inikan untuk kebaikan Nara sendiri…Papa bukannya mengekang Nara dengan semua penjagaan ini. Papa hanya ingin melindungi Nara dari dasar, nanti kalau tiba-tiba Nara dalam bahaya saat tidak ada penjagaan bagaimana? Nara kan tau, Papa tidak ingin Nara terluka”
“Nara mengerti Papa…”
“Sekali lagi maaf ya sayang…sekarang sebagai gantinya…Nara mau apa? Papa belikan sekarang untuk Nara”
“Papa serius?!”
“Ya sayang, Nara mau apa?”
“Hemmmm…bolehkah Nara beli baju baru?”
__ADS_1
“Hm? Baju baru? Benar…pakaian Nara sudah hampir habis. Tapi tak masalah, Rafindra”
“Ya Tuan?”
“Pergi ke mall pakaian pusat kota, beli semua baju ukuran putriku. Nanti kirimkan ke kediaman, sayang…nanti kita coba satu-satu ya dirumah”
“A-apa? Sa-satu mall?” ucap Selena dan Rafindra bersamaan.
“Kenapa? Kurang? Kalau begitu, pesankan 100 pasang baju untuk Nara dari butik yang biasa dikunjungi Mama”
“Pa-papa…i-itu terlalu banyak untuk Nara” ucap Selena, sepertinya Papanya salah mengartikan keinginannya. Ia ingin sebuah baju nyaman yang bisa dia gunakan saat senggang. Bukan…baju formal lagi…
“Tak masalah sayang, sekarang ayo pergi”
Ruvelis masuk kedalam mobilnya meninggalkan Rafindra dengan keterkejutannya. Salah satu bodyguard menepuk bahu Rafindra membuat pria itu sadar dari lamunannya.
“Anda…baik-baik saja Tuan?”
Rahindra mengaruk kepalanya yang tidak gatal, Jenderal besarnya menyuruhnya untuk membeli semua pakaian ukuran Nona kecil di mall pakaian pusat kota? Ditambah 100 pasang baju dari butik keluarga? Padahal baru kemarin Tuan besarnya membelikan Nona kecilnya 5 lemari pakaian yang berisi pakaian keluaran terbaru! Mau ditaruh di mana lagi pakaian Nonanya?! Sepertinya ia harus membuka butik pakaian khusus untuk Nonanya.
.
.
.
Selena menutup sebelah matanya dan melesatkan anak panah, anak panah itu tepat menancap di tengah-tengah titik target. Dengan pandangan yang masih lurus kedepan Selena mengambil kembali anak panah dan melesatkannya.
Ruvelis tersenyum puas melihat kemampuan putrinya, kemampuan putrinya terus meningkat setiap hari. Ia berharap kemampuan ini bisa membantu kemiliteran kedepannya.
“Dia cucu keluarga Alexandra dan Leonardo. Tentu saja hal ini bukanlah hal yang mengejutkan mengingat bagaimana didikan keluarga Leonardo kepadanya” jawab Hendrick.
“Tak heran jika dia selalu merengek saat kembali dari keluarga Leonardo” ucap Lewis.
“Sayang, sudah cukup memanahnya untuk hari ini…ayo kemari”
Selena menganggukkan kepalanya dan meletakkan buku, busur, serta anak panahnya setelah itu langsung berlari memeluk Papanya.
“Nara lelah?”
“Tidak! Tidak lelah sama sekali Papa”
“Baiklah, Nara bisa istirahat. 20 menit lagi kita lanjutkan latihannya ya sayang”
“Nara boleh makan coklat Papa?”
“Tidak” jawab Ruvelis, Hendrick, Deon, Jeff, dan Thomas bersamaan.
Selena seketika memajukan bibirnya mendengar jawaban yang ia dapat. Menyedihkan sekali…ia tidak mendapat coklat hari ini. kenapa Papanya hanya memperbolehkannya makan coklat setiap tangga 31? Menyedihkan sekali mengingat tidak semua bulan memiliki tanggal 31.
****
Esoknya
__ADS_1
Ruvelis melambaikan tangannya ketika melihat putrinya sudah memasuki gerbang, melihat putrinya yang sudah masuk kedalam kelas membuatnya langsung masuk kedalam mobil dan menuju kamp.
Rafindra terus memperhatikan Nonanya yang tengah belajar, namun tiba-tiba ia dikejutkan melihat salah satu bodyguard tumbang dengan sebuah bius yang menancap di leher. Melihat hal itu langsung membuat Rafindra masuk kedalam kelas dan menggendong Nonanya. Dosen yang melihat itupun langsung dengan sigap mengambil senapan.
“Paman…ada apa?”
“Tolong jangan bersuara Nona, tutupi telinga anda dan peluk saya dengan erat” ucap Rafindra. Selena mematuhi Rafindra, Rafindra segera berlari menerobos jendela kaca. Gawat! Ia harus sampai di kamp sebelum orang-orang itu berhasil menemukannya.
“Paman…Paman terluka” ucap Selena ketika melihat pipi Rafindra yang berdarah karena tergores kaca yang pacah.
“Saya baik-baik saja Nona, jangan lepaskan pelukan anda”
Rafindra melihat kebelakang, beberapa orang mengejarnya. Gawat! Kamp terlalu jauh dari posisinya sekarang, tempat yang terdekat adalah kediaman Leonardo dan itu membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai kesana.
Melihat situasi yang semakin tidak aman membuat langkah Rafindra terhenti. Rafindra dengan nafansya yang tersengal-sengal bersembunyi dibalik pohon.
“Nona baik-baik saja? Apa saya membuat anda ketakutan?”
Rafindra mengeluarkan ponselnya dan segera menelfon Ruvelis ketika melihat beberapa orang mulai mencari disekitar.
“Ya Rafindra?”
“Jenderal besar, beberapa pembunuh mengincar Nona. Saya sudah membawa keluar Nona dari kampus, tapi mereka mengikuti saya” bisik Rafindra.
“Katakan di mana kau sekarang?!”
Rafindra seketika menutup panggilan telfonnya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Shtttt…”
Rafindra menarik nafas dalam-dalam, ia kembali berlari menjauh dari tempat itu.
“Nona, saya akan menangani mereka. Anda larilah, saya sudah menelfon Tuan…beliau akan segera kemari” ucap Rafindra dengan keringat dinginnya dan Selena hanya menganggukkan kepala.
Rafindra menurunkan Selena dan segera mencegah orang-orang itu mengikuti Nonanya. Selena berlari sekuat tenaga menjauh dari Rafindra.
“Minggir sial*n!! Aku tak punya urusan denganmu!!” geram salah satu pria.
“Jangan harap aku akan membiarkan kalian menyentuh Nonaku”
Dengan cepat Rafindra dikepung beberapa pria bertubuh besar. Sial…pelurunya tidak akan cukup membunuh orang-orang ini! Kenapa orang-orang ini datang disaat ia tidak mampunyai persiapan?!.
“Lumpuhkan dia, aku akan mengejar anak itu” ucap seorang pria langsung berlari menjauh dari anak buahnya.
Rafindra menendang salah satu kepala dari orang-orang itu dan mengambil pistolnya. Rafindra dengan cepat menembaki orang-orang itu hingga terkapar di tanah. Dan tak berselang lama rekan-rekannya datang membantu. Sial...ia hanya membawa 9 rekannya, rekannya tak akan bisa menghadang puluhan orang yang sudah kabur mengejar Nonanya.
“Sial*n!! Kalian cepat cari Nona! Jangan sampai pria itu berhasil menemukan Nona!”
“Baik Tuan!”
Rekan-rekan Rafindra pergi mencari Selena meninggalkan Rafindra yang tengah berlari mengejar 2 orang pria yang melarikan diri.
.
__ADS_1
.
.