Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 155 : Pernah!


__ADS_3

.


.


.


Selena memejamkan sebelah matanya lalu melepaskan anak panah, anak panah itu tepat mengenai titik target. Rafindra dan Wei yang melihat itu langsung berlari menghampiri Selena. Dari mana Nona besar mereka mendapatkan anak panah dan target ini?! mereka sudah meminta para bodyguard menyembunyikan semua senjata yang ada disini!.


“Nona besar…sudah, anda sedang hamil muda. Berhenti melakukan hal yang berbahaya” ucap Wei.


“Haish! Lepaskan! Aku akan segera masuk kamp, kalau kemampuanku menurun bisa-bisa diejek Paman Hendrick nanti, aku akan baik-baik saja! Lagipula aku juga tidak mau diceramahi Daniel lagi”


Selena mengambil 2 anak panah dan kembali melepaskannya. Untunglah…kemampuan memanahnya masih sama seperti dulu walaupun ia sudah 2 tahun tidak memanah, sebentar lagi ia akan kembali melatih kemampuan berkudanya. Ia harap kemampuan berkudanya tidak menurun, jujur…latihan yang paling ia benci adalah berkuda.


“Nona…berhenti, kami akan dimarahi Jenderal muda jika mereka mengetahui anda latihan tanpa pengawasan”


“Terkadang aku lebih mahir jika tidak diawasi, latihan pertamaku langsung diawasi Papa. Rasanya seperti akan olimpiade maraton” jawab Selena terus melesatkan anak panahnya.


“Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra!!!!”


Selena tersentak kaget mendengar seseorang meneriaki nama panjangnya. Ahhhh feelingnya benar-benar tidak enak…sepertinya ia akan mendapat ceramah lagi.


“Kami memberi hormat kepada Jenderal muda….”


Seorang pria datang dan lengsung mengambil busur serta anak panah Selena membuat gadis itu langsung memajukan bibirnya kesal.


“Apa!? Marah?! Sudah tau senang hamil kenapa malah latihan?! Kau ini semakin hari semakin membangkang ya?! Paman sudah ingatkan berkali-kali jangan latihan tanpa pengawasan! Kalau terjadi sesuatu bagaimana?! Kau ini juga sedang hamil tapi tingkah lakumu seperti wanita lajang saja!”


“Hanya sebentar saja…” ucap Selena.


“Sebentar saja sebentar saja! Tidak ada sebentar saja!”


Selena melipat kedua tangannya ketika Louis tak henti-hentinya memarahinya. Inilah kenapa ia tidak pernah mau dilatih oleh Pamannya Louis, jika ia bisa memilih ingin dilatih langsung oleh Thomas atau Louis ia akan memilih Pamannya Thomas meskipun latihannya lebih mengerikan daripada latihan dengan Pamannya Hendrick.


“Haishhhh sudahlah Paman, berhenti memarahiku. Lagipula aku tidak terluka juga”


“Tunggu sampai Paman Alexamu datang, dan lihat apa yang akan dia lakukan!” ucap Louis.


“Dih!? Paman mengadu lagi?!”


“Siapa suruh bandel?!”


“Sayang!”


Leo berlari memeluk istrinya, Selena seketika terkejut mendapati suaminya berada disini. Dengan siapa suaminya kemari? Dan bagaimana bisa suaminya datang kesini dalam keadaan yang baik-baik saja?.


“Ya tuhan…kau baik-baik saja? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu”


“Leo…bagaimana…bagaimana kau bisa ada disini?”


“Aku meminjam kartu akses masuk milik Paman Jeff, aku kesini dengan Daniel. Ya tuhan, kau baik-baik saja bukan?”


“A-aku baik-baik saja…”


“Bocah tengil ini…”

__ADS_1


Hendrick bergegas mendekati Selena, ia menarik kerah baju Selena membuat gadis itu langsung meronta-ronta. Selena menatap Hendrick dengan kesal, kenapa Hendrick ikut kemari?! Kan ia tidak bisa bebas jika begini.


“Bagaimana kau bisa ada disini hm? Tanpa pengawasan dari siapapun beraninya kau kemari”


“Ya terserahku! Aku punya akses masuk sendiri kemari sendiri, ya terserahku!” jawab Selena mencoba melepaskan diri dari Hendrick.


“Selena Anderson Devano Medeltoon Maria Margareth Jhon Alexandra…minggu depan, kau mulai masuk kamp utama…tidak ada penolakan. Kau harus ikut Paman kesana dan kembali aktif” bisik Hendrick seraya tersenyum sinis.


“APA?! Bukankah perjanjiannya bulan depan?! Kenapa dimajukan?!”


“Melanggar peraturan kamp berkali-kali…seharusnya kau tau konsekuensinya…” bisik Hendrick membuat tubuh Selena gemetar dengan hebatnya.


“Tidak bisa begitu! Kan perjanjiannya aku masuk kamp bulan depan! Opa sendiri yang mengatakan itu!” kesal Selena, ia tidak mau jika satu minggu lagi masuk kamp. Ia masih ingin bersama dengan suaminya!.


“Paman sudah menghubungi Opa mu, dia setuju untuk mempercepat keaktifanmu di kamp utama…dan juga…bukankah sepertinya kau memang menantang Paman melakukan ini hm?”


Glek


Selena menelan ludahnya dengan kasar, duhhhhh…kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Mau tidak mau minggu depan ia harus mempersiapkan diri, materi, dan mental untuk masuk kedalam kamp utama.


“Dan…jangan lupa semua yang sudah kami ajarkan kepadamu…”


“Hei! Paman pikir kapasitas otakku berapa?! Tentu saja aku masih ingat semua latihanku dari umur 3 tahun! Lihat saja nanti bagaimana aku akan membereskan masalah di kamp” kesal Selena.


“Heh, baik…Paman pegang ucapanmu. Jika sampai kau tidak bisa menangani masalah seperti Papamu. Tambahan jam latihan”


“HAH?! Paman ingin membunuhku ya?!”


“Calon Jenderal besar dari kamp utama…mana mungkin mendapatkan latihan 10 jam perhari?”


“Tapi karena kau sedang dalam masa mengandung…kau hanya akan latihan 13 jam perhari”


“WHAT?! Aku biasanya latihan hanya 10 jam perhari! Ini kenapa malah tambah 3 jam?!”


“13 jam atau 17 jam?”


“Okey…”


Hendrick tersenyum puas melihat wajah tak berdaya keponakannya. Siapa suruh menantangnya, walaupun Selena akan segera memiliki kekuasaan yang lebih besar darinya, ia bisa dengan mudah mengeluarkan atau memasukkan Selena dari kamp utama.


“Paman…istriku sedang mengandung, dokter bilang dia harus lebih banyak istirahat. Masalah istriku masuk kekamp minggu depan ini sepertinya bukanlah hal yang baik” ucap Leo.


“Benar, kandungan Selena belum kuat. Apalagi keadaan Selena belum stabil untuk saat ini, jika Selena kelelahan…itu akan berimbas kepada bayi didalam kandungannya” tambah Daniel mendekati Hendrick dan Selena.


“Tenang, Guardian Papanya kan ada” jawab Hendrick.


“Hais!” ucap Selena. Ia tidak bisa melawan Hendrick jika Pamannya itu sudah membahas sampai Guardian milik Papanya.


“Atau…bagaimana jika Daniel ikut masuk kamp utama saja?” ucap Leo.


“Hah?! Kau ingin membunuhku Leo?”


“Benar…seharusnya kau juga sudah masuk kamp utama. Jangan kabur dari masalah seperti Papamu, kau juga ikut Selena masuk kamp utama minggu depan. Persiapkan diri dan materimu” ucap Hendrick langsung membuat Selena tertawa senang dibuatnya.


“Tak pa Daniel…nanti kita obrak abrik kamp utama” bisik Selena.

__ADS_1


“Kau ini gila memang”


“Ayolahhhh…kamp tak semenyeramkan yang kau bayangkan. Lagipula kamp utama isinya memang orang gila semua”


Leo tersenyum melihat istrinya dan juga Daniel, mereka berdua lucu. Suka melakukan hal yang membuat orang sakit kepala tapi juga memiliki rasa kerjasama yang tinggi.


.


.


.


Selena duduk dipangkuan suaminya yang tengah bermain kartu bersama dengan Hendrick, Louis, dan juga Daniel. Leo yang tengah fokus bermain kartu sesekali mencium puncak kepala istrinya yang tengah sibuk bertelfonan dengan Joe.


“Tidak mau ikut main?” tanya Daniel.


“Aku tidak bisa main kartu, kalau catur, bilyard, golf boleh” ucap Selena mematikan sambungan telfonnya.


“Kau ini suka sekali ya permainan seperti itu”


“Daripada otakku menjadi pengangguran”


Leo dan Daniel tiba-tiba fokus ketika Selena membuka sebuah Quiz online. Hahhhh…apa kebiasaan anak pintar memang seperti ini?.


“Tuan muda ke-5, apa yang kalian lakukan sampai Selena sepintar ini?” tanya Daniel.


“Hm? Sudahlah, jangan tanya itu. Yang pasti ada prosesnya. Lagipula keturunan keluarga Alexandra memang pintar-pintar, kak Ruvelis saya lulus universitas umur 9 tahun”


“What?!” ucap Leo dan Daniel bersamaan.


.


.


.


Leo tersenyum sembari memcium dahi istrinya yang sudah terlelap dipelukannya. Daniel yang melihat itu menghembuskan nafasnya, apa senyaman itu dada Leo sampai Selena bisa tidur lelap seperti itu.


“Leo, aku penasaran kenapa kau terlihat overprotectif kepada Selena. Kau bahkan diam-diam memberikannya penjagaan ketat saat keluar. Padhaalkau tau jika Selena tidak akan menyukai itu bukan?”


“Hmmmmm…aku harus membuatnya kembali terbiasa dengan hak-haknya. Jika aku tidak melakukan ini, saat dia kembali ke keluarga Alexandra dia akan kesulitan beradaptasi. Apalagi nanti dimasa istriku meraih gelarnya akan ada musuh yang siap menyerang bukan?”


“Hah…entah kenapa aku merasa nyali Selena semakin besar sejak dia koma karena penyumbatan jantung waktu itu”


“Hmmmmmm, apa kau percaya jika istriku pernah mengalami mati suri?”


“A-APA?!”


*******


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2