Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 116 : Hukuman karena berani menetang aturan


__ADS_3

Dia memang baik. Tapi jangan melihat luarnya saja. Karena kau tidak tau bagaimana iblisnya ucapannya ketika bertemu dengan orang yang dia benci.


.


.


.


Leo membuka pintu kamar dan mengambil baju dari tangan Liekai dan membawanya masuk. Ia menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat istrinya yang duduk diatas tempat tidur dengan memakai kemejanya tanpa memakai bawahan. Ia ingin bermain, tapi sebentar lagi upacara akan dimulai.


Leo dengan telaten membantu istrinya menganti baju, setelah siap Leo menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar. Semua mata langsung tertuju kepada Leo dan Selena.


Leo melepaskan genggaman tangannya dan berbaris disebelah Liekai sedangkan Hendrick melambaikan tangannya meminta Selena untuk duduk disebelahnya. Seharusnya upacara ini dilakukan di kamp utama, tapi karena Selena ada di kamp 3 jadi upacara dilakukan disini, yang penting Selena ikut tanpa pemaksaan darinya seperti tahun-tahun yang lalu.


Selena dengan patuh duduk disebelah Hendrick, meskipun dalam hatinya ia benar-benar ingin jauh-jauh dari Pamannya yang satu ini.


“Paman, boleh aku ikut berbaris disana?” tanya Selena.


“Duduk disini, disana panas”


Selena seketika memajukan bibirnya mendengar jawaban Hendrick.


“Setelah upacara ini selesai, Paman ingin bicara kepadamu. Dan Paman punya sesuatu untukmu”


“Benarkah?! Apa itu buku politik?!” tanya Selena dengan mata berbinarnya.


“Bukan”


“Lupakan…Paman memang tidak menyayangiku, hanya buku saja Paman tidak mau berikan kepadaku”


“Anak ini…”


“Paman Paman! Apa Paman tau? Aku akan punya anak kembar!” ucap Selena.


Hendrick yang tengah minum langsung menyemburkan air yang berada didalam mulutnya mendengar ucapan Selena. Keponakannya bilang apa tadi?! Selena akan menjadi Ibu?! Anak kembar?!.


“Kau ini suka sekali bercanda, perutmu rata seperti itu” jawab Hendrick.


“Aku tidak bohong! Mereka sudah lebih dari 1 bulan! Jadi 8 bulan lagi aku akan jadi Ibu!”


Hendrick total blank dibuatnya, keponakan kesayangannya…akan jadi Ibu?! Tidak! Ia tidak terima! Kenapa tidak ada satupun orang yang memberitaunya tentang hal ini?!.


“Setelah upacara selesai, panggil dokter kemari” ucap Hendrick kepada tangan kanannya.


“Siap laksanakan Jenderal!”


“Apakah beliau adalah putri dari mendiang Jenderal besar Ruvelis? Mereka mirip satu sama lain…aku benar-benar tak menyangka ada keajaiban seperti ini”


“Perhatian untuk semuanya” ucap Hendrick. Semua orang yang berada disana langsung menatap fokus kearah Hendrick.

__ADS_1


“Perkenalkan, gadis disebelah saya ini adalah Selena. Putri tunggal dari mendiang Jenderal besar Ruvelis, dan dia juga adalah Jenderal muda Nara dari kamp utama” ucap Hendrick.


Orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa langsung blank dibuatnya. Selain Jenderal besar, Jenderal muda, Jenderal, dan anggota kamp utama dan kamp 3 tidak ada yang mengetahui hal ini sama sekali.


“A-apa?”


“Benar, dia adalah putri tunggal dari mendiang Jenderal besar Ruvelis dan dokter Jenssica” ucap Hendrick.


“Kami memberi hormat kepada Jenderal muda Nara!!”


“Paman” ucap Selena.


“Apa?”


“Apa alasan Paman memberitahukan hal ini?”


“Tidak ada kesempatan yang lebih bagus untuk mengumumkanmu selain hari ini, publik masih belum tau siapa dirimu. Setidaknya biarkan kemiliteran tau siapa kau” jawab Hendrick.


“Hah…sayang ya, tidak ada anggota keluarga Georgino ataupun keluarga Chu disini”


“Hm? Kenapa memangnya?”


“Bukan apa-apa”


“Di-dia pu-putri Jenderal besar Ruvelis?! Gawat! Aku harus segera memberitau Papa tentang hal ini!”


Selena memicingkan matanya, melihat seseorang dengan wajah paniknya hendak melarikan diri. Wajah itu familiar, bukankah dia Tuan muda keluarga Chu? Bagaimana bisa dia ada disini?.


Selena menarik pistol dari saku suaminya dan menodongkan tepat di dahi pria itu. Pria itu seketika gemetar dengan hebatnya. Leo dan para Alexandra tentu tersentak kaget melihat itu. Kenapa Selena tiba-tiba menjadi seperti itu?! Dan sejak kapan gadis itu berani menggunakan pistol setelah sekian lama?!.


“Kenapa kau ada disini?”


“Sayang, dia Nath. Dia komandan baru di kamp 2” jawab Jeff menghampiri keponakannya.


“Dia bawahan Paman?” tanya Selena.


“Iya, kenapa? Kau mau? Jika kau mau Paman akan menempatkannya di sebelahmu”


Sudut bibir Selena terangkat, ia memasukan pistol yang ia pegang ke salah satu saku tentara yang sedang bertekuk lutut. Pria itu menghembuskan nafasnya, nyawanya terselamatkan. Setelah ini, ia harus memberitau Papanya tentang hal ini!.


“Sial*n! Aku tidak menyangka wanita breng*ek ini adalah anggota keluarga Alexandra! Keluargaku akan mati jika seperti ini!” guman pria itu.


“Kau bilang apa barusan?” tanya Selena.


“A-apa?” tanyanya terkejut.


Bugh!!


Selena langsung menendang kepala pria itu hingga jatuh tersungkur beberapa meter kesamping. Leo menelan ludahnya dengan kasar, apa istrinya sedang bad mood hari ini? Tapi bukankah tadi masih baik-baik saja?! Apa pria itu pernah menyinggung istrinya?.

__ADS_1


Dengan langkah pelan Selena mendekati pria yang sedang ememganggi telinganya yang terasa tertusuk oleh sesuatu.


“Ka-kau, a-apa yang mau kau lakukan?”


“Kau…adik Yolanda bukan? Wanita yang sudah membuat Mamaku sakit?”


Wajah pria itu seketika memucat, tubuhnya bergetar dengan hebat. Ketakutan menjalar diseluruh tubuhnya, gadis didepannya ini terlalu menyeramkan. Aura membunuh yang begitu kental.


“Sayang…ada apa ini?” tanya Hendrick.


“Diam ditempat Paman”


Hendrick seketika menghentikan langkahnya, ia menelan ludahnya dengan kasar. Ia seperti melihat sosok Ruvelis didalam tubuh Selena.


“Aku adalah pewaris keluarga Chu! Kau tidak bisa macam-macam denganku!” ucap pria itu.


“Kau masih memikirkan keluargamu saat berada dihadapanku? Seharusnya kau berdo’a, semoga keajaiban datang dan malaikat maut pergi dari sisimu saat ini…terima hukumanku karena berani menentang peraturan kamp utama”


“A-apa?”


“Tak seorangpun…boleh membocorkan identitasku dengan sembarangan. Maaf…tapi lebih baik kau mati demi keamanku”


“Tidak!! Kumohon!! Ampuni aku!! Aku tidak akan mengusikmu lagi!! Aku janji!!”


Selena mengeluarkan pisaunya dan mencokel keluar mata pria itu. Pria itu berteriak kesakitan, Leo memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya. Relax…ia harus tenang, ia tidak boleh gelisah. Ini adalah awal pembalasan dendam istrinya, ia tidak boleh ikut campur dulu.


Selena mencabut kasar pisau itu dan menancapkannya di leher pria itu, dalam…hingga menembus pita suara pria itu.


“Jika kau tidak ikut campur, kau bisa hidup dengan tenang. Tapi sayangnya…kau ada Papamu sama saja. Kalian berdua…adalah pria yang suka merendahkan wanita”


Beberapa waktu berlalu, pria itu akhirnya terkapar tak bernyawa di tanah. Selena menghembuskan nafasnya, mau atau tidak…ia tetap harus membunuh pria ini…demi keamanan keluarganya.


Selena memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa berputar-putar, mual…ia merasa sangat mual. Ini pertama kalinya, ia terganggu oleh bau anyir dari darah. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya, mungkin waktu awal melakukan pembunuhan ia merasa terganggu…tapi tidak seperti ini.


“Hoekkk…”


Selena jatuh terduduk sembari mual-mual. Leo yang melihat itu langsung berlari dan menggendong istrinya dan berteriak untuk dipanggilkan dokter.


Sembari menunggu dokter datang Leo memijat bahu istrinya sedangkan Hendrick tampak cemas sembari memijat tangan Selena.


Seorang dokter wanita yang baru datang langsung memeriksa keadaan Selena sedangkan para Alexandra berdiri dibelakang dokter wanita itu dengan pistol ditangan mereka.


“Bi-bisa kalian singkirkan itu dulu?” batinnya gemetar ketakutan.


“!!!”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2