
.
.
.
Daniel menyetir mobilnya menuju perusahaannya, saat sampai ia langsung membawa Leon serta Ryu masuk kedalam lift dan menuju ke ruangannya. Ketika berada di depan pintu ruangannya, Yohanes sang tangan kanan langsung menghampiri direkturnya.
“Tuan muda!!! Saya benar-benar ingin resign!!!!” ucapnya.
“Kenapa? Kan sudah kugaji 2x lipat” jawab Daniel.
“Tapi jika anda memberikan semua tugas anda kepada saya, meskipun anda membayar saya 3x lipatpun saya tidak sanggup”
“4x lipat kalau begitu”
“Saya tetap tidak mau!”
“Paman, tidak baik menentang perkataan Boss” ucap Ryu.
Yohanes yang mendengar suara lucu dari seorang anak kecil di kaki Tuan mudanya langsung membulatkan matanya, a-anak siapa ini?! Kenapa bisa bersama dengan Tuan mudanya?! Apa ini anak diluar nikah Tuan mudanya?! Tidak tidak tidak! Tuan mudanya tak mungkin sebajingan itu! dan sejak kapan Tuan mudanya mau menyentuh wanita yang tak punya hubungan darah dengannya?! Bahkan sampai menghamilinya!.
“Tu-tuan muda…anda…”
“Yohanes, perkenalkan…ini Ryu dan ini Leon. Mereka putraku”
“Hallo Paman” sapa Ryu sembari tersenyum
“Hallo…wah, anak yang manis. Mau ikut Paman sebentar? Paman punya sesuatu” sudahlah, lebih baik iabermain bersama anak Tuan mudanya.
“Boleh Papa?” tanya Ryu kepada Daniel.
“Sampai lecet…kepalamu gantinya” bisik Daniel membuat Yohanes langsung menelan ludahnya dengan kasar.
“Pergilah, Papa dan kakak akan menunggu Ryu disini” ucap Daniel sembari tersenyum.
Ryu menganggukkan kepalanya dan menggandeng tangan Yohanes lalu pergi dari lantai itu. Daniel membuka pintu dan membawa Leon masuk kedalam ruangannya yang terdapat beberapa penghuni lain.
“Ha! Akhirnya datang juga kau!” kesal salah satunya.
“Jangan melunjak ya dihadapan Boss” dingin Daniel.
“Cih, pulang dari kamp semakin dingin saja ya perkataanmu”
Derrian yang kebetulan berada di ruangan itu langsung mencubit pinggung temannya yang baru saja berbicara. Pria itu menatap kesal Derrian yang tiba-tiba mencubit punggungnya, ia salah apa sampai pria ini mencubitnya?!.
“Jaga kata-katamu dihadapan keponakanku sial*n…mau kuadukan Mamanya?” bisik Derrian.
“Apaan sih?!” kesal pria itu dan ia baru menyadari jika ada bocah kecil yang datang bersama Daniel.
“Wahhhh, siapa ini Daniel? Anak yang kau hasilkan saat di kamp militer kah?” tanya lainnya.
“Bukan, aku anak Leo bukan anak Daniel” sahut Leon membuat seisi ruangan itu langsung terdiam seketika. Derrian menelan ludahnya, apa…Bibi kecilnya sudah memberitau Leon tentang Pamannya?.
“Paman, aku tidak suka disini…aku mau pulang saja…” cicit Leon.
“Mana bisa, tunggu sebentar lagi. Ryu kan juga belum kembali, masa Leon mau pulang? Kalau pulang Leon sendirian nanti”
“Aku mau dengan Mama saja, aku akan berangkat ke Selandia Baru sekarang. Bye bye Paman” Leon melepaskan genggamannya pada jari telunjuk Daniel dan pergi kearah pintu, kakinya menjinjit hendak meraih handel pintu namun tidak sampai. Daniel tertawa lucu melihat putranya yang kesusahan menggapai handle pintu.
“Sudah, nanti saja pulangnya. Nanti pulang dengan Paman dan Ryu, kalau Leon pulang sekarang siapa yang jaga Leon di apartement?”
“Yang terpenting aku tidak disini lagi” jawab Leon.
Derrian dan Daniel sama-sama menelan ludahnya dengan kasar, wahhhhh…sudah dijawab seperti ini mau bujuk dengan cara apa lagi?.
“Hei Daniel, ini anakmu kah? Kenapa sifatnya mirip sekali dengan dirimu saat kecil? Suka sekali marah, hei bocah…aku hanya bercanda” ucap pria bernama Wilson itu.
“Tapi aku tidak suka bercanda”
Daniel berjalan mendekati Leon, menggendong anak laki-laki itu dan mendudukannya di meja kerjanya. Daniel menatap lekat-lekat mata Leon, jika dipikir-pikir…ia belum pernah melihat Leon tersenyum sebelumnya…apalagi Leona.
“Leon tidak ingat apa yang Mama katakan sebelum pergi?”
“Aku tidak mau mengingatnya, jadi aku mau pulang” jawabnya sembari menatap kedua mata dingin Daniel.
“Begini saja, jika Leon mau tetap tinggal Paman akan tunjukan sesuatu bagaimana?”
“Apa itu penting?”
“Paman tidak tau, karena Leon yang bisa menentukan itu penting atau tidak”
Daniel membuka laci mejanya, mengambil sebuah album dan mengambil salah satu foto yang ada didalamnya lalu menunjukannya kepada Leon. Anak laki-laki itu menatap lekat-lekat foto yang berada di tangannya, ini…
“Kenapa Paman punya fotoku?” tanya Leon penasaran.
“Ini bukan Leon”
“Apa ini Ryu?”
“Bukan juga”
“Lalu siapa?” bingung Leon, adakah seseorang yang mirip dengannya lagi selain adiknya Ryu? Apa ini sepupu Mamanya?.
“Ini foto Papamu saat masih kecil, Leonardo”
Pria-pria dewasa yang ada diruangan itu seketika membeku kecuali Derrian yang hanya menggigit bibir bawahnya. Leon menatap Daniel lalu kembali menatap foto itu, terus melakukannya selama beberapa kali.
“Ah, aku ingat”
“Leon ingat?”
“Aku sering melihat foto ini di tempat sampah, Mama selalu merobek foto setiap harinya, kata Mama aku tidak boleh tau. Tapi aku sekarang tau, jadi Mama akan marah”
“Jika Leon bisa menjaga rahasia ini, maka Mama tidak akan marah”
Leon berpikir sesaat sebelum menganggukkan kepalanya dan hal itu membuat Daniel tersenyum. Leon menatap kembali foto itu, ternyata ini Papa kandungnya, Papanya pasti tampan melihat bagaimana wajahnya saat masih kecil ini. Ia jadi penasaran bagaimana wajah Papanya saat sudah dewasa.
“Paman punya yang lain?”
“Paman punya banyak, tapi tidak disini. Paman menyimpannya di AS”
“Oh”
“Apa Papaku tampan Paman?”
“Rahasia, nanti Leon juga akan tau”
“Apa dia juga Papa Ryu?”
“Tentu saja, kalian bertiga kan saudara kandung”
“Lalu kenapa Ryu memanggil Paman sebagai Papa?”
“Nanti Leon tanyakan itu kepada Mama saja ya”
Leon menganggukan kepalanya dan kembali menatap foto itu, bisakah ia menyimpan ini untuk ditunjukan kepada adiknya Leona saat sudah kembali nanti?.
“Kau…putra pertama mendiang Tuan muda Iskandar? Leon?” ucap pria disebelah Derrian, bocah kecil itu adalah pewaris utama keluarga Iskandar?! Yang disebut-sebut akan mewarisi seluruh harta keluarga Iskandar dimasa yang akan datang?.
“Kakak pertama!!!”
Ryu berlari masuk kedalam ruangan Daniel sembari membawa beberapa snack ditangannya, Ryu meletakkan snack diatas meja Daniel dan mencoba untuk naik keatas meja yang tingginya lebih dari tinggi badannya sendiri.
__ADS_1
“Papa…” lirih Ryu.
Daniel tersenyum dan mengangkat tubuh Ryu dan mendudukannya disebelah Leon. Teman-teman Daniel kembali tercengang, ke-kembar?.
“Kakak! Lihat ini! Ryu bawa snack , ayo makan bersama”
“Kau tidak boleh makan snack Ryu”
“Huuuuuuu…satu saja…Ryu janji cuma 1”
“Tidak”
“Papa…”
“Tak masalah, hanya satu” jawab Daniel.
“Bleeeeeee!!” ejek Ryu menjulurkan lidahnya mengejek Leon dan hal itu langsung membuat Leon mengeraskan rahangnya.
“Kau makan snack, cuci darah hari ini juga”
Ucapan Leon langsung membekukan semua orang yang berada disana, Daniel tercengang…Leon bilang apa? Cuci darah? Apa Ryu mengalami gagal ginjal?!.
Wajah Ryu langsung berubah sendu seketika, wajah ceria sebelumnya telah menghilang. Tangan kecil Ryu dengan perlahan menggapai tangan besar Daniel, tubuh Daniel gemetar dengan hebat melihat wajah sendu putranya.
“Papa…bolehkah Ryu tidak cuci darah minggu ini? Rasanya sakit…Ryu tidak mau lagi” Daniel tak mampu mengucapkan sepatah katapun, lidahnya terasa keluh untuk menjawab perkataan dari putra bungsunya.
“Kau ini kenapa? Sudah ditahap ini kenapa malah tidak mau cuci darah? Kau ini ingin sembuh tidak sih? Mama sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu tapi kau malah seperti ini”
“Kakak pertama…”
“Jangan panggil aku kakak pertama, kau sudah hampir sembuh malah mau absen cuci darah?” ucap Leon sembari melipat tangannya.
Melihat raut wajah Leon yang sepertinya sedang marah membuat butiran air mata mulai keluar dari kelopak mata Ryu, Daniel yang melihat itu langsung menggendong Ryu.
“Akhhhhh hiks hiks hiks”
“Menangis, menangis lagi! Kau ini anak laki-laki, jangan cengeng! Kau bahkan lebih cengeng daripada Leona”
“Hiks hiks hiks, Papa…Papa…”
“Papa disini sayang, Papa disini. Jangan menangis Okey?” ucap Daniel sembari menghapus air mata yang keluar membanjiri pipi chubby Ryu.
“Ryu tidak mau cuci darah lagi hiks…Mama tidak ada…Ryu tidak mau pergi…”
“Tak masalah sayang, Papa akan temani Ryu cuci darah Okey? Nanti Papa temani…”
“Kau ini cengeng sekali ya memang” kesal Leon, tanganya menggapai satu bungkus permen dan membukanya lalu berdiri dan memasukkan permen itu kedalam mulut adiknya yang terbuka.
“Sudah jangan menangis, tangisanmu mengganggu”
“Kau mau apa? Katakan, yang terpenting lusa jangan menangis”
“Permen lagi” jawab Ryu sembari menghapus air matanya.
“Melunjak ya kau, katakan lagi!”
“Tidak…” jawab Ryu tak berani, jika kakaknya sudah seperti ini mau tidak mau harus patuh.
“Papa janji kan temani Ryu cuci darah besok?”
“Papa janji, besok Papa temani Ryu cuci darah dengan kakak Leon ya? Sudah, jangan menangis lagi. Anak Papa tidak boleh cengeng begini”
Ryu menganggukkan kepalanya dengan perlahan, Leon menghembuskan nafasnya melihat adiknya yang tak lagi merengek. Ryu lebih cengeng daripada Leona yang anak perempuan, mungkin itu efek Mamanya terlalu memanjakan Ryu.
Daniel mengambil ponselnya yang berdering dan kembali meletakkan Ryu di meja, ia mengerutkan keningnya melihat nomor tak dikenal, apa ini Selena? Atau bawahan Selena?.
“Ya, siapa?”
“Ini aku Daniel”
“Ya Selena?”
“Bisa aku minta tolong?”
“Tentu saja, sayang…Papa pergi sebentar ya. Yohanes, jaga mereka” ucap Daniel keluar dari ruangannya meninggalkan keheningan didalam sana.
“Nanti tolong ingatkan Leon untuk meminta Ryu meminum susu sebelum tidur, juga jangan lupa berikan Ryu obat yang sudah kusiapkan di laci kamar”
“Baiklah, dan…boleh aku tanya sesuatu?” tanya Daniel ragu-ragu.
“Katakan”
“Sejak kapan Ryu mengalami gagal ginjal?”
Disebrang sana Selena terdiam sejenak membuat Daniel menelan ludahnya, duhhhh…sepertinya ia bertanya diwaktu yang salah. Seharusnya ia bertanya saat Selena sudah kembali nanti.
“Hmmmm, 5 atau 6 bulan yang lalu. Leon ya yang beritau?”
“Iya”
“Jangan khawatir perihal Ryu, dia akan sembuh…bukankah sekarang dia juga sudah punya Papa? Dia pasti bisa sembuh” Walaupun terkesan dingin ucapan Selena mampu membuat senyum manis terukir di bibir tipis Daniel.
“Tapi…aku hanya takut jika…”
“Jangan khawatir, aku sedang mencoba mencari donor yang cocok untuk Ryu. Do’akan saja semoga dapat”
“Pasti, aku akan coba carikan donor juga untuk Ryu. Oh ya, bagaimana keadaan Leona?”
“Dia sedang tidur, kemarin malam dia tidak cukup tidur. Kenapa?”
“Tidak…oh ya, jika kau sudah selesai dengan urusanmu disana kabar aku ya”
“Iya, nanti kukabari. Oh, bisakah kau berikan ponselmu kepada Leon? Aku ingin bicara”
“Iya, tunggu sebentar ya”
Daniel keluar dari ruang istirahat itu dan menuju ruangannya, ia memberikan ponselnya kepada Leon membuat anak kecil itu bertanya-tanya mengapa Daniel memberikannya ponsel.
“Mamamu ingin bicara”
“Mama?!”
“Leon, sayang”
“Iya, ini Leon ma”
“Sayang, jaga adiknya ya. Jangan terlalu keras kepada Ryu”
“Iya ma, aku tau. Mama tidak perlu khawatir, aku akan jaga Ryu baik-baik” ucap Leon dengan senyum sinis terukir di bibir itu menghadap sang adik yang tengah menelan ludah dengan kasar.
“Katakan kepada Ryu, jika dia tidak mau mematuhi ucapanmu…minta Paman telfon Mama”
“Kau dengar itu Ryu? Sampai kau berani membantahku…awas kau” bisik Leon.
“Ya sudah, Mama tutup telfonnya ya”
“Iya ma”
Tut…
Leon memberikan benda pipih itu kepada pemiliknya, Daniel tertawa lucu melihat wajah puas Leon dan wajah tertekan dari Ryu. Ia jadi penasaran apa yang diajarkan Selena kepada kedua anak ini hingga mereka berdua begitu mematuhi ucapan Mama mereka.
“Mama terlalu keras ya sayang?” tanya Daniel sembari mengelus kepala Ryu.
__ADS_1
“Tidak, kakak Leona lebih keras” jawab Ryu.
“Oh ya? Coba katakan kepada Papa, bagaimana sikap Mama kepada kalian selama ini?”
“Sikap Mama? Seperti apa itu kakak?” tanya Ryu menatap Leon yang sejak tadi hanya diam.
“Kenapa tanya aku? Yang ditanya kan dirimu”
“Ryu tidak tau jawabannya”
Daniel hanya mengembang senyum mendengar jawaban polos dari putranya, sudahlah…lebih baik ia mencari tau sendiri tentang hal ini nanti, ia juga bisa bertanya kepada Rafindra jika Selena sudah kembali.
“Oh ya, apa Papa tau pria yang selalu ada di samping Mama?”
“Siapa yang Ryu maksud? Paman Rafindra?”
“Bukan…itu, yang biasanya kekamar Mama saat tengah malam”
Degh!!
Daniel tersentak mendengar ucapan Ryu, Selena bertemu seseorang saat tengah malam? Siapa pria itu? Apa dia salah satu bawahan Selena? Atau pria yang waktu itu?.
“Kenapa Ryu bertanya tentangnya?”
“Ryu hanya kesal, setiap kali Mama bersama kami lalu pria itu datang atau menelfon Mama pasti akan langsung meninggalkan kami” jawab Ryu sembari memajukan bibirnya.
“Kenapa kau cemburu kepada orang asing? Kau anak Mama, jangan berpikiran sempit bodoh”
“Aku tidak bodoh kakak!!!” kesal Ryu.
“Masa?”
“Papa!!! Lihat kakak!!”
“Duh tukang mengadu, Leona saja tidak suka mengadu”
Ryu mengembungkan pipinya dan dengan kesal langsung meraih tangan Leon dan mengigitnya membuat Daniel panik seketika.
“Sayang, jangan digigit kakaknya!” ucap Daniel mencoba melepaskan tangan Leon dari gigitan Ryu.
Setelah beberapa saat Ryu melepas gigitannya dan tersenyum puas melihat karyanya di tangan sang kakak. Leon menatap lengannya yang terdapat bekas gigitan adiknya, sakit juga ya gigitan adiknya…untung saja gigi taring adiknya tidak terlalu lancip.
“Vampir kau ya?”
“Apa? Mau lagi?” tantang Ryu.
“Leon, berikan tanganmu sayang…biar Paman obati dulu” Daniel dengan panik membuka laci mejanya dan mengeluarkan kotak P3K.
“Tak masalah Paman, nanti juga sembuh sendiri”
“Jangan bilang begitu, kemarikan tanganmu…” ucap Daniel menggapai tangan Leon dan melihatnya dengan seksama. Kuat juga ya gigitan putranya sampai tangan Leon berdarah begini.
“Shhhhhhh” desis Leon tatkala Daniel mengoleskan obat di tangan kecil nan putih itu. Daniel meniup beberapa kali tangan kecil itu sebelum membalutnya dengan perban.
“Ryu, jangan gigit tangan kakaknya lagi. Manti Mama marah bagaimana?”
“Kakak dulu yang mulai”
Daniel menghembuskan nafasnya, tak heran jika Selena frustasi jika Ryu bersama dengan Leon. Leon juga, sudah tau digigit Ryu masih diam saja.
“Kalian mau makan apa nanti siang?”
“Sandwich!” jawab Ryu dengan cepat.
“Jika Ryu gigit kakaknya sekali lagi, tidak ada sandwich lagi untuk Ryu!” ucap Daniel.
“Janji tidak gigit lagi”
“Leon mau makan apa?”
“Terserah saja”
Daniel yang sebelumnya berjongkok berdiri dan mengambil sesuatu dari kulkas mini yang ada disebelah mejanya. Ia mengambil 2 pudding dan memberikannya kepada Leon dan juga Ryu. Dulu saat Selena hamil setiap hari makanan ini tak pernah absen, mungkin anak-anak akan suka.
“Hiiiiiiii…apa ini???” ucap Ryu menatap geli makanan yang diberikan Daniel kepadanya. apa ini? Kenapa bergoyang begini? Kenapa kenyal begini? Apa ini ubur-ubur? Apa ubur-ubur bisa dimakan?.
Melihat dessert kesukaannya membuat Leon langsung memakan pudding itu dengan senang, Daniel menatap heran kedua anaknya. Dulu saat hamil Selena sering meminta pudding, tapi kenapa Ryu sepertinya tak suka dengan pudding? Malah Leon yang terkesan menyukai makanan lembut itu.
**********
Daniel tersenyum lega melihat kedua anaknya yang tertidur sembari berpelukan, akhirnya kedua anak itu tidur. Ia benar-benar kehabisan tenaga meladeni tingkah Ryu yang terus menjahili Leon, sekarang ia tau bagaimana penderitaan Selena selama membesarkan mereka.
Daniel menunduk dan mengecup pipi Leon dan Ryu lalu menaikan selimut hingga batas dada.
“Good night…” ucap Daniel mematikan lampu dan keluar dari kamar itu. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa dan menatap langit-langit apartementnya.
“Tuan muda…”
“Bagaimana Yohanes?”
“Saya sudah mendapatkan beberapa data, golongan darah mereka sama dengan Tuan muda kedua. Namun saya tak yakin dengan hasilnya nanti”
Daniel menerima berkas yang diberikan Yohanes, putranya harus sembuh apapun yang terjadi. Meskipun sulit menemukan yang cocok ia akan terus mencari donor untuk putranya.
“Jika masih tidak ada yang cocok, lakukan tugasmu”
“Baik…”
Daniel berdiri dan membesereskan apartementnya yang berantakan hanya karena dua anak kecil, Yohanes yang melihat itu langsung ikut serta membantu Tuan mudanya membersihkan kekacauan yang terjadi.
Drtttttt drtttttt…
Daniel mendongkak, mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya. Ia menatap layar ponselnya, Selena…kenapa Selena tiba-tiba menelfonnya?.
“Ya Selena?”
“Tuan muda”
“Rafindra?”
“Tuan muda, tolong bantu saya. Nona besar sedang kacau, saya takut Nona muda akan terluka”
“Ada apa?! Apa yang terjadi?”
“Nona besar!! Tolong letakan itu!! Itu akan melukai anda sendiri!!”
“Rafindra!!! Kau di mana?!”
“Saya sedang berada-”
“Siapa yang kau telfon Rafindra?!!!!”
Tutttt…
Daniel buru-buru menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar anaknya, ia menggendong Leon serta Ryu dan membawanya pergi. Sial*n!! Tak seharusnya ia membiarkan Selena pergi kesana! Tapi apa yang sedang terjadi sampai Selena kacau hingga suara Rafindra terdengar begitu panik?.
“Tuan muda?! Anda ingin pergi?”
“Siapkan pesawat, ke Selandia Baru sekarang juga. Siapkan satu rumah sakit terbaik untuk Leon dan Ryu”
“Baik!”
.
__ADS_1
.
.