Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 179 : Past Stories and The Guardian


__ADS_3

.


.


.


“Kumohon ampuni aku!!! Setidaknya tolong pikirkan nasib anakku!!! Bagaimana nasibnya jika aku tidak ada?!! Siapa yang akan menyusuinya?!!” teriak Bellina dengan frustasinya. Wanita itu berteriak meminta pengampunan dari Selena namun Selena sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berada.


“Wei!!!!” teriak Rafindra menggelegar membuat semua orang yang berada disana tersentak kaget kecuali Selena.


Rafindra menatap Wei yang masih belum bertindak, sial*n!!! Ia tidak boleh membiarkan perintah Nona besarnya dicabut hanya karena alasan ini!! Ia tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi! Dan ta akan pernah!.


“Hansel?”


“Ya…tolong…tolong lepaskan aku…setidaknya biarkan aku hidup lebih lama untuknya”


“Baiklah”


“Nona besar!!!” ucap Rafindra tak terima.


“Terima kasih…terima kasih!!” ucap Bellina tak percaya.


“Dan biarkan aku bercerita sedikit tentang pengalaman hidupku sejauh ini”


Selena duduk disebelah suaminya dan mengganti saluran TV menjadi sebuah rekaman ulang dari sebuah video. Video pembunuhan yang ia lakukan diusia yang ke-4 tahun.


“Aku lahir dan besar ditempat yang berbeda-beda. Aku di didik langsung oleh Jenderal besar Nami yang merupakan Ayah kandungku. Saat aku berumur 3 tahun, aku tanpa sengaja membunuh seorang pelayan di kediaman Alexandra. Setelah itu, aku mendapatkan hukumanku dengan dikurung di kamp kemiliter bersama dengan Said. Saat umur 4 tahun, aku mulai diajari cara membunuh oleh Papa, menghabiskan banyak waktu berlatih senjata dan beladiri sekaligus etika seorang Nona besar. Dan saat itu, aku sudah membunuh 8 orang dewasa dengan pengawasan Papa. Lalu saat aku berumur 5 tahun, aku diculik dan mengalami mati suri. Dan itulah mengapa sampai saat ini aku ingin bertemu kembali dengan malaikat maut dan menanyakan alasannya menghidupkanku kembali dengan takdir memuakkan ini”


Tak ada satupun orang yang berada disana mampu berkata-kata sekarang. apalagi Bellina, wanita itu tampak sudah sangat pucat dengan tubuh yang gemetar hebat. A-apa? Membunuh diusia 3 tahun? Dan dididik langsung oleh Jenderal besar Nami?. Ja-jadi, wanita yang selalu di caci maki oleh calon Ibu mertuanya ini adalah anak kandung Jenderal besar Nami?.


“Lalu saat usiaku 9 tahun, Papa George sekaligus Ayah kandung suamiku meninggal dunia. Tapi sebelumnya, apa kau sudah tau siapa yang membunuh Alice?”


“A-apa?” ucap Bellina tak mengerti, bukankah calon mertuanya mengatakan bahwa Alice dibunuh oleh Ibu wanita ini? Lalu kenapa wanita ini bertanya seolah-olah tidak tau siapa yang membunuh Alice?.


“9 tahun lalu, aku membunuh Alice di Canberra. Kau tau alasannya? Karena dialah wanita bajin*an yang menyabotase pesawat Papa George dan dia jugalah wanita yang dengan beraninya mengatakan kepadaku bahwa dia menyukai suamiku. Leonardo”


Selain Wei, Rafindra, dan Daniel semua orang disana membulatkan matanya dengan sempurna mendengar ucapan Selena. Ti-tidak mungkin!! Tidak mungkin!!.


“Dan setelah kejadian itu, Papa dengan tegasnya mengeluarkan perintah bahwa aku tiak boleh keluar dari lingkungan keluarga Alexandra. Akses pertemananku dibatasai saat itu juga, semua internet yang disediakan untukku di blokir secara menyeluruh. Selain Ray, Said, Aiden, anak kelaurga Iskandar dan Jasson semuanya tidak boleh menemuiku. Lalu saat umurku 10 tahun, pertama kalinya kakiku menginjak di perbatasan dengan ratusan penjagaan. Saat umur 11 tahun, Papa pergi meninggalkanku…Papa tiada dengan memelukku, mengatakan kalimat terakhirnya saat aku tertidur. Depresi berat kualami , koma selama 1,6 tahun membuat keluarga Alexandra menggila. Saat aku koma, Mama pergi meninggalkanku. Dan saat itu umurku 12 tahun lebih 1 bulan. Selain Paman Hendrick, Paman Alexandra, Opa, Oma, dan Leo. Tidak boleh ada yang menemuiku…


…dan saat umurku menginjak 17 tahun Mama membawaku pergi dari keluarga Alexandra. Menjalani kehidupan sebagai ‘Wanita biasa’ dan tanpa dibekali uang sepeserpun dari keluarga. Saat umurku 17,2 tahun Mama pergi menjalani bisnisnya di Hokkaido meninggalkanku di A.S sendirian…tanpa seorangpun yang kukenal. Dan


satu bulan kemudian, Hans mengambilku untuk dijadikan seorang istri kontrak. Dan dengan bodohnya aku menandatangai surat itu tanpa melihat nama siapa yang dituliskannya. Seorang pria yang kasar, tak bisa mengendalikan emosi, dan suka memerintah itu suami kontrakku. Hari-hari yang berat kujalani, mengerjakan sesuatu yang bahkan pekerjaan itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Hari demi hari, disaat sifatnya mulai berubah…aku luluh. Dan disaat moment kehangatan itu, aku kehilangan anakku karena perbuatan Yeni. Dan disaat rasa kepercayaanku kepada Hans hilang…suamiku, Leo yang saat itu notabenenya adalah tuanganku sudah menyelesaikan pendidikannya dan hendak menjemputku. Awalnya aku tidak mau karena masih ingin menghormati Hans walaupun saat itu…puluhan kali dia berselingkuh dariku. Menghamili wanita lain disaat bersamaku, dan saat itu juga…lebih baik aku menghancurkan Hans dengan perlahan sebagai karma atas perbuatannya…


…Aku dan Leo menikah, aku tak peduli orang mengecamku sebagai wanita murahan atau tidak tau diri. Yang terpenting aku bisa bebas, aku bisa membalaskan dendam kepada keluarga Georgino. Hans sudah menghancurkan harga diriku, merenggut kesucianku, membunuh anakku. Dan itu adalah hal yang paling memalukan sepanjang sejarah keluarga Alexandra, haha…aku memang wanita yang gila. Bisa-bisanya aku


masih memiliki belas kasih kepada seorang pria yang menghancurkan harga diri seorang Nona besar dari keluarga Alexandra sekaligus Jenderal muda kamp utama. Tapi aku beruntung, setelah itu ada seorang pria yang dengan tulus mencintaiku, mengabulkan impian terbesarku untuk menjadi seorang Ibu…dan hanya dialah satu-satunya harapanku untuk hidup sekarang. Jika dia pergi, aku akan ikut bersama dengannya” ucap Selena sembari memandang suaminya.


Suasana menjadi hening seketika, Leo dan para tangan kanannya saling melirik satu sama lain membuat Daniel langsung memasang wajah masamnya.


“Lalu…jika semisal Leo meninggalkanmu bagaimana?” tanya Joe langsung membuat Leo menggigit bibir bawahnya. Bukan tanpa alasan ia menanyakan hal ini, dengan kesibukan Selena sekarang ia takut Leo akan merasa kesepian dan mencari wanita lain diluar sana.


“Hmph” ucap Selena dengan sudut bibir yang terangkat membuat Rafindra memucat seketika.


“Kupastikan, jangankan keluarga Alexandra. Leon, Leona, dan Ryupun…tak akan pernah kuakui sebelum aku ingin mengakuinya” ucapan Selena langsung membuat Leo tersentak kaget tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan istrinya.. A-anak-anaknya akan terkena imbasnya?.


“Dan kupastikan juga, disaat hari itu tiba…aku memperlihatkan bagaimana gilanya seorang putri Jenderal besar Nami. Ratusan psikiater tak akan mampu, puluhan liter obat bius tak akan menenangkanku, bahkan jika Paman Hendrick dan Raf yang turun tangan menghadapiku…aku tak akan segan-segan membunuh mereka. Aku akan membakar seragam Jenderal mudaku sekaligus semua sertifikat yang kudapatkan selama ini dihadapan keluarga Alexandra bahkan tangisan ke-3 anak-anakku…tak akan bisa memadamkan kegilaanku. Jadi…jangan coba-coba Leo…” ucap Selena sembari menyentuh bibir suaminya.


“Dan juga…disaat itu kalian juga akan melihat kegilaan dari Paman Raf dan Opa”


“Hanya karena seorang pria kau bisa berpikiran dangkal seperti itu?” tanya Daniel dengan wajah dinginnya.


“Heh, hanya seorang pria katamu? 14 kali!!! 14 kali aku gagal melakukan bunuh diri saat kematian Papa!! Dan semua itu digagalkan oleh Paman Raf dan juga Opa!! Dari mulai menyayat nadi sampi gantung diri semuanya digagalkan oleh mereka!! Jika mereka tidak menyegahku waktu itu!! Aku sudah bersama Papa dan Mama!!! Dan aku ta akan pernah mengalami semua penghinaan ini!!”


Plakkkkk!!!


Pipi Selena langsung ditampar oleh seseorang setelah mengatakan hal itu, semua orang tercengang melihat Rafindra yang baru saja menampar Selena. Tangan kanan Rafindra yang digunakan untuk menampar Selena gemetar dengan hebatnya.


“Apa yang kau lakukan Rafindra?!!!” teriak Tuan Leonardo dan Leo bersamaan.


Leo langsung mendorong Rafindra dan memeluk istrinya, Rafindra menarik tangan Selena membuat pelukan Leo secara paksa terlepas dari pelukan Leo.


“Pergi!!!! Pergi dari tubuh Nonaku sekarang juga!!!” teriak Rafindra mencengkram kedua bahu kecil Selena.


“Kau ini apa-apaan Rafindra?!” bentak Leo.


“Anda diam Tuan!! Anda diam!!!” bentak Rafindra kepada Leo.


“Pergi kau sekarang juga!!!” bentak Rafindra sekali lagi.


Mata jade dingin Selena dan mata elang Rafindra saling mengunci, tubuh Selena langsung lemas membuat Daniel bergegas menghampiri. Nafas Selena tersengal-sengal, dengan erat tangannya mencengkram bahu Rafindra.


“Tolong ambilkan masker inhaler sekarang!” ucap Rafindra.


“Selena, tenang…tenang…kau bisa membuat bayimu tertekan” ucap Daniel.


Wei datang membawakan sebuah inhale nebulizer ditangannya, Wei dengan cepat memasangkan masker oksigen itu.


“Ya tuhan…apa yang terjadi kepada cucuku?” ucap Tuan Leonardo dengan wajah khawatirnya begitupun dengan para tangan kanan yang berada disana.


Rafindra tak berbicara, pria itu langsung menggendong Selena menuju kamarnya. Selena yang masih setengah sadar berulang kali menyebut Papanya. Rafindra duduk disebelah tepi tempat tidur sembari menggenggam erat tangan Nonanya.


“Pa…Papa…”


“…”


“Papa…Papa…Papa hiks…”


“Papa disini sayang…Papa disini” ucap Rafindra sembari menahan air matanya.


“Papa…” ucap Selena terakhir sebelum jatuh kealam mimpi.


Rafindra menghapus air matanya, ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Selena dan segera keluar dari akmar mewah itu. Rafindra menatap tajam Bellina yang masih berada ditempatnya tak beranjang sedikitpun, dengan cepat Rafindra mengambil pedang yang dibaswa William dan mendekati Bellina.


“Rafindra!” ucap Wei.


“Matilah!”


“Ti-tidak…”


Crassssssss


Dengan sekali ayun Rafindra berhasil memotong tubuh Bellina menjadi dua.


“Kau memuakkan…” sinis Rafindra.


“Apa yang kau lakukan?! Nona tidak memberikan perintah untuk membunuhnya!!” ucap Wei.


“Kau diam saja Wei!! Kau tak tau apa-apa!!” bentak Rafindra.


Rafindra menatap geram Wei, kenapa pria itu tidak langsung menjalankan perintah dari Nona besarnya tadi?! Jika pria itu langsung sigap membawa wanita ini pergi maka tidak mungkin Nona besarya sampai dikendalikan oleh hal lain seperti itu!. Ia sudah merasa ada yang aneh saat Nonanya mulai membuka topik tentang pengalaman hidup karena ia yakin betul, Nonanya tidak mungkin bisa mengingat memori tentang umur 3 tahun dan juga kematian Tuan dan Nyonyanya! Bahkan Nonanya tidak pernah tau bahwa dia sudah pernah mati suri sebelumnya!. Bahkan kalimat terakhirnya tadi! Itu semua tidak terjadi!!.


“Kau sudah mengabaikan perintah dari Tuanmu Wei!! Jadi besok! Menghadaplah kepada Tuan Lewis!”


Wei hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Rafindra, ia bukan tak ingin menyingkirkan wanita itu. Tapi ia tidak diperbolehkan melakukan itu oleh Tuan Leonardo!.


“Rafindra, bagaimana keadaan istriku? Apa dia sudah baik-baik saja?” tanya Leo.


“Anda lebih baik menemani Nona sampai beliau bangun”


Leo tak lagi berbicara, pria itu langsung bergegas menuju kamarnya dan menemani istrinya.


“Selena…punya kepribadian ganda?” tanya Daniel terkejut sekaligus tak mengerti.

__ADS_1


“Bisa dibilang begitu, atau lebih tepatnya…guardian sial*n yang sebelumnya juga menempati tubuh menantuku” jawab Tuan Leonardo sembari mengepalkan tangannya.


Daniel mengusap rambutnya kebelakang, apa-apaan itu?! Ia baru tau jika kepribadian ganda bisa diturunkan/berpindah tubuh!! Ini pertama kalinya ia mendengar hal aneh plus membingungkan seperti ini.


“Sejak kecil psikis Nona besar memiliki gangguan yang sama seperti yang dialami mendiang Tuan Ruvelis setelah kematian Tuan kembar. Itulah kenapa ada 150 psikiater pribadi, dan 200 knight pribadi untuk Nona besar”


“What?!” ucap Daniel dan Joe bersamaan.


“Yahhhhh sayangnya Selena pernah memukul 50 knight itu hingga pingsan. Jadi mereka untuk sementara di nonaktifkan dan sementara digantikan oleh para Jenderal” ucap Wei mengangkat kedua bahunya mencoba mencairkan suasana yang begitu mencekam.


“Dan merekapun kuwalahan meladeni tingkah Nonamu yang semakin hari semakin liar!” tambah Daniel


Ctakkkkk


Tuan Leonardo memukul kepala Daniel dan Wei bersamaan membuat kedua pria itu mengeluh kesakitan.


“Kalian berdua terlalu berisik!”


.


.


.


Selena membuka matanya dengan perlahan, matanya dengan lemah menatap suaminya yang tengah terllap sembari menggenggam erat tangannya.


“Leo…”


Leo dengan spontan terbangun dari tidurnya, ia menatap istrinya yang terbangun.


“Ada apa sayang? Apa kau merasa tidak nyaman? Aku akan panggilkan Daniel kemari”


“Ryu…apa anak kita baik-baik saja sayang?” ucap Selena seraya menyentuh perutnya.


Leo tersenyum dan menyentuh tangan istrinya, ia mencium kening istrinya dengan penuh cinta.


“Bayi kita baik-baik saja, kuharap dia kuat seperti Mamanya”


“Hiks hiks…aku takut…aku tak bisa mengendalikan tubuhku tadi, aku takut melukai anak kita” ucap Selena sembari menangis dan mengenggam tangan suaminya dengan kuat.


“Tidak tidak…kau tidak melukainya…jangan menangis sayang…jangan menangis…” ucap Leo melepaskan masker oksigen istrinya lalu membawa tubuh kecil itu masuk kedalam pelukannya.


Leo mencium seluruh permukaan wajah rupawan istrinya, Selena memeluk erat tubuh suaminya. Entah apa yang sedang ia pikirkan sampai-sampai tubuhnya bisa dikendalikan oleh hal lain.


“Sudah jangan menangis, jika kau menangis Ryu pasti juga akan ikut sedih…”


Selena menghapus air matanya.


“Sudah…aku akan belikan dimsum untukmu, istirahatlah sebentar lagi”


“Tunggu…”


“Ya?”


Selena mengambil ponslenya yang baru saja mendapatkan pesan masuk, dan ternyata itu dari Ray. Selena membuka sebuah foto yang dikirimkan pria itu dan ternyata itu adalah foto Maternity Ray yang sedang merayakan 8 bulan kehamilan kedua istrinya.


“Siapa yang mengirim pesan sayang?” tanya Leo dengan penasaran.


“Leo…mau…” ucap Selena sembari menunjukan foto yang dikirimkan Said.


Leo mengerutkan keningnya melihat itu, istrinya…ingin melakukan Maternity Shoot? Tapi…ini ide yang bagus! Ia akan segera memanggil fotografer kemari!.


“Baiklah, apa yang tidak untukmu?” ucap Leo tersenyum sembari mengelus puncak kepala istrinya.


“Wahhh!! Serius?! Terima kasih!!” ucap Selena langsung berhambur memeluk suaminya.


Leo hanya bisa tersenyum melihat kesenangan istrinya, walaupun usia kandungan istrinya masih 5 bulan dan perutnya masih belum begitu membuncit apa salahnya melakukan Maternity Shoot sekarang bukan? Ia ingin punya kenangan indah bersama calon anaknya.


“Sudah, aku akan pergi beli dimsum sekarang. Mau yang lain?”


“Siap laksanakan Nyonya” ucap Leo mencium pipi istrinya sebelum keluar dari kamar itu.


Selena tersenyum dan membelai perutnya, ia benar-benar bersyukur mendapatkan suami seperti Leo.


“Oh, nanti sebelum ke bandara mampir ke rumah sakit dulu ahhhh…sekalian USG”


Selena turun dari tempat tidurnya, ia membereskan tempat tidur itu dan merapikan kembali hal-hal yang berantakan setelahnya Selena keluar dari kamar untuk pergi kedapur.


“Selena, sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Daniel yang tengah membuat teh.


“Sudah lebih baik, di mana Paman Raf? Tumben tidak terlihat”


“Oh, dia ada didepan. Kenapa kau kemari? Tadi Leo juga mau pergi kemana?”


“Beli sesuatu, aku lapar…aku ingin buat sereal dulu”


“Jangan, biar kubuatkan sesuatu? Mau apa?” tanya Daniel.


“Sosis panggang dan roti bakar?”


“Baiklah, tunggulah di ruang tamu”


“Terima kasih!” ucap Selena sebelum pergi meninggalkan Daniel didapur.


Selena menghampiri beberapa tangan kanan Papanya yang sedang berkutik dengan pekerjaannya. Pria-pria itu seketika berdiri ketika merasa seseorang mendekati mereka.


“Duduklah lagi, aku tak akan mengganggu kalian”


“Ma-maaf atas kelancangan kami Nona besar”


“Duduk, di mana kakek?”


“Tuan Leonardo sedang pergi bersama dengan Tuan William Nona, apa ada sesuatu yang anda inginkan?”


“Joe?”


“Nona Jasson sedang keluar, beliau bilang beliau ingin pergi ke toko kue”


“Wei? Tuan X?”


“Tuan Wei sedang membeli perlengkapan anda, sedangkan Tuan X sedang menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa”


“Ohhhhh, baiklah. Kalian yang akan ikut denganku?”


“Benar Nona”


“Ya sudah, kalian bisa kembali bekerja. Dan aku akan mengganggu Ray dulu”


Selena duduk dan mengambil ponselnya yang ada diatas meja lalu menelfon Ray. Ahhhh sudah lama ia tidak membuat pria itu kesal, ia ingin mengganggu pria itu sekarang.


“Ya Selena? Tumben telfon”


“Telfon salah tidak telfon salah, maumu apa sih?” tanya Selena.


“Dih marah? Katakan ada apa?”


“Di mana istrimu?”


“Oh, dia ada disebelahku. Kenapa? Kau mau bicara?”


“Tidak, katakan kepada Azizah.jika sudah melahirkan kabari aku, aku akan meluangkan waktu untuk melihat anak kedua kalian”


“Memang kau bisa? Anak pertamaku saja kau tidak datang, lupakan saja jika kau punya sahabat”

__ADS_1


“Dih?”


“Ray, jangan bicara seperti itu kepada Selena! Selena, jangan pikirkan ucapan Ray, apa kau sedang punya waktu luang sekarang? Aku akan terbang menemuimu jika kau sedang luang sekarang”


“Tidak perlu, kau sedang hamil besar begitu. Jangan sampai bayimu kenapa-napa, aku bukan sedang mempunyai waktu luang. Aku kembali kemari untuk belajar cara mengurus perusahaan Papa dan Mama. Sekaligus mengambil beberapa pedang dan senjata disini”


“Hm? Pedang dan senjata? Untuk?”


“Ya, aku akan segera keperbatasan. Tidak lucu kan kalau aku mati disana hanya karena tertembak atau tertusuk pedang”


Ucapan Selena langsung membuat jari jemari para tangan kanan yang sedang mengetik seketika terhenti. Bahkan orang yang sedang berada di sebrang sana ikut terdiam mendengar ucapan Selena.


“Ahhhh…mau kusumbangkan beberapa pedang? Kebetulan Negara kami baru saja memproduksi beberapa peti pedang. Jika kau mau aku akan mengirimkannya sekarang”


“Boleh, nanti ku transfer uangnya. Jika ada peluru yang biasanya kirimkan juga”


“Tidak perlu, suamiku masih punya hutang kepadamu. Biar dia yang membayar nanti, benarkan Ray?”


“Sudah sudah, kemarikan ponselku. Aku ingin bicara dengan Selena, kau istirahatlah. Sudah malam”


“Hisssss aku masih ingin bicara dengan Selena”


“Sudah sana masuk kamar”


“Iya iya!”


“Bagaimana keadaanmu dan anakmu?”


“Kami baik, bagaimana keadaan putra tertuamu?”


“Hah…dia semakin aktif sekarang. Dia selalu membuatku kuwalahan, aku bahkan tidak bisa menikmati hari liburku dengan tenang”


“Kau sih, sudah tau anak belum bisa jalan sudah menghamili istrimu lagi. Terima sendiri kan akibatnya”


“Hissss, sama seperti suamimu juga! Bilang tidak mau punya anak tapi tetap membuatmu hamil, sudahlah. Bagaimana kondisimu dengan keluarga Georgino sekarang? Kudengar dari bawahanku Hans sempat depresi ya?”


“Ya, saat aku mengatakan anaknya sudah gugur. Hisss, dia pria yang aneh. Menghamili wanita lain tapi sedih karena anakku yang sudah gugur, dan searang dia tidak mau menikahi Ibu dari anaknya. Untunglah dia tidak menjadi menantu keluarga Alexandra, jika dia benar-benar menjadi suamiku. Dia sudah lama mati ditangan Opa”


“Hahhhhh Ibu dan anak sama saja, Yeni gila karena Papamu menikahi Mamamu. Sekarang Hans gila karena kau menolak kembali kepadanya”


“APA?!!!” ucap Selena membuat terkejut semua orang yang berada disana.


“Duuuhhhhh bisa tidak berteriak?”


“Maaf maaf, Yeni menyukai Papa?! Kau yang benar saja!”


“Itu bukan sebuah rahasia Okey? Semuanya tau bahwa Yeni sangat menggilai Papamu, dia bahkan nekad mau bunuh diri saat Papamu melamar Mamamu. Padahal disitu dia sudah punya Hans, hahahaha!!!”


“Hahahahaha!! Anak keluarga Alexandra ya memang, Papa menolak Yeni dan aku menolak Hans. Sepertinya keluarga Alexandra ditakdirkan bermusuhan dengan keluarga Georgino”


“Sudahlah, aku benar-benar geli ketika mengingat hal itu. Kapan kau memasukkan berkas itu kepengadilan? Itu sudah cukup membuat keluarga Georgino hancur lebur, ini sudah terlalu lama Selena. Tak baik jika terus menunda”


“Heh, semua kebusukan keluarga Georgino sudah kuketahui. Aku bisa meruntuhkan keluaga itu hari ini juga dengan dukungan dari keluarga Alexandra dan kamp utama, itu sudah membuat tuntutan yang kulakukan tak akan bisa dicabut oleh siapapun atau dibatalkan dalam keadaan apapun. Tapi…membuat musuh menderita sebelum menghancurkannya itu adalah prinsip sadarku Ray. Jadi jangan berpikiran sebelum aku membalas semua pernghinaan keluarga Georgino kepadaku maka aku akan langsung membuat keluarga itu hancur. Setelah aku melepaskan Gerry, aku akan membuat Moses dan Kyler mengetahui akibat dari melecehkan pewaris keluarga Alexandra”


“Hahaha, kau memang bajinan Selena. Itu baru permaisuri Negaraku, jika aku butuh bantuan lagi hubungi aku. Aku akan mengirimkan orang kepercayaanku kepadamu”*


“Oh ya, membahas tentang itu. Aku tertarik kepada orangmu itu, kupinang jadi tangan kanan bagaimana?”


“Saya bersedia yang mulia!! Saya akan mengabdikan diri saya kepada anda”


“Matamu! Sudah kau duduk manis saja dulu disini!! Aku masih butuh kemampuanmu! Nanti kalau sudah keadaan darurat saja kau boleh bekerja untuk Selena. Ya sudah Selena, bye…aku mau tidur”


“Eh-”


Selena menatap telfonnya yang dimatikan begitu saja, haihhhhh. Ray lebih kurang ajar daripada Said maupun Aiden, jika tadi Leo ada disebelahnya pasti pria itu sudah mengamuk karena Ray lagi-lagi membahas tentang permaisuri.


“Nona besar” seorang pria bernama Marvin berbicara sembari menundukan kepalanya.


“Ya?”


“Saya harap, anda tidak serius mengenai ucapan anda”


“Ah? Ucapan yang mana?” tanya Selena.


“Tentang kematian di perbatasan”


“Ahhhhh, kau pria yang sensitive juga ternyata. Tenang saja, aku tak akan mengikuti jejak-jejak komandan terdahulu. Lagipula keamananku sudah dipastikan disana, apa yang kau khawatirkan?”


“Itu…”


“Aku punya suami dan seorang anak, jadi jangan khawatir”


“Tapi…”


“Sthhhh…”


Selena meletakkan jarinya telinjuknya di bibir, ia menatap sekeliling. Sepertinya ia mendengar suara tadi, Daniel sedang memasak didapur. Selain mereka yang ada disini siapa yang membuat suara dari atas?.


“Lindungi Nona!!!” Rafindra masuk sembari berteriak membuat para tangan kanan langsung mengerumuni Selena.


“Ada apa ini Paman Raf”


“Nona maaf, tiba-tiba Tuan Leonardo membiarkan Tuan berkeliaran”


“Tuan? Dia ada disini? Kupikir dia masih ada di kediaman Leonardo”


Tiba-tiba suara auman yang yang keras terdengar membuat Daniel langsung berlari keluar dari dapur dan menghampiri Selena.


“Ada apa ini?”


“Biar aku yang mencari Tuan, kalian hati-hati saja”


Selena berdiri dan keluar dari penthouse itu sedangkan Rafindra langsung mencari kesegala sudut untuk menemukan Tuan yang terlepas.


Selena masuk kedalam lift dan menuju keatas, dan benar…Tuan…dilepaskan disini.


“Tuan”


“Roarrrrrr!!!!”


Dua buah ekor macan tutul salju berlari membuat Selena lasngsung dengan siaga memasang ancang-ancang sembari membuka kedua tangannya.


“Hahahaha!!! Kalian merindukanku hm? Aku hanya meninggalkan kalian selama 1 tahun, dan kalian sudah sebesar ini? Hmmmmm…”


Selena berdiri dan membawa dua macan tutul salju itu masuk kedalam lift untuk dibawa ke penthouse suaminya. Saat Selena masuk semua orang yang berada disana langsung berjingat kaget kecuali Rafindra.


“Apa-apaan kau ini?!!! Kau ingin membunuh kami?!!” ucap Daniel.


“Hei, ini jinak” ucap Selena yang melihat Daniel langsung berdiri diatas kabinet.


“Bohong!!! Dia menatapku!! Dia pasti ingin memakanku!!” ucap Daniel.


Selena yang melihat Daniel begitu ketakutan tersenyum sinis, sepertinya ia bisa menggunakan dua hewan peliharannya ini untuk menakuti Daniel. Lumayan…kapan lagi ia bisa melihat Daniel yang ketakutan.


“Tuan, lihat…lakukan”


“Rrrrrrrrrr”


“AHHHHH!!! JANGAN DEKAT-DEKAT!!! JAUH-JAUH!!” ucap Daniel ketika melihat dua macan itu mulai mendekat kearahnya.


“Tenang, semakin kalian takut. Semakin digoda juga kalian, dua anak buahku yang ini benar-benar peka” ucap Selena kepada para tangan kanan Papa dan Mamanya yang ketakutan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2