
******************
Selena menggenggam tangan Hans erat. Hans yang tengah membaca buku tersenyum dan mencium punggung tangan istrinya. Ia mengecup lama dahi Selena membuat gadis cantik itu tersenyum.
“Ini sudah malam…kenapa belum tidur?” tanya Hans.
“Dingin…”
Hans menghembuskan nafasnya, ia menarik laci dan mengambil selimut tebal dari sana. Ia menyelimuti tubuh Selena yang sudah tertutupi oleh selimut. Selena perlahan memejamkan matanya sembari menggenggam erat tangan suaminya.
Hans membelai kepala Selena lembut. Ia mencium singkat bibir manis Selena sebagai ucapan Selamat tidur. Ia menggenggam tangan kecil istrinya dan memberikan kecupan lembut di punggung tangan itu.
“Selamat tidur…istriku…”
.
.
.
Seorang gadis cantik nan manis berlari masuk kedalam rumah dan memeluk seorang wanita yang tengah memasak didapur. Wanita yang tengah memasak itu tersenyum saat putrinya memeluknya dengan erat. Bagaimana bisa ia punya putri semanis ini dalam hidupnya?.
“Wah…Mama masak makanan kesukaanku?”
“Sayang…sudah lapar ya? Makanannya sebentar lagi siap…duduklah dulu”
Selena, gadis cantik yang masih belia itu tersenyum dan menghujami pipi Mamanya dengan ciuman. Wanita cantik yang tengah memasak itu hanya bisa tersenyum menanggapi perilaku putri kesayangannya.
“Mama pasti sangat menyayangiku, aku sayang Mama…”
“Mama juga sayang denganmu…sekarang ayo makan” ajaknya sembari meletakan makanan dimeja.
Wanita itu mengambil makanan dan memberikannya kepada putrinya. Selena memakan masakan Mamanya dengan semangat, menurutnya makanan terenak didunia adalah makanan yang dimasak oleh Mama tercintanya.
“Bagaimana? Enak masakan Mama?”
“Sangat enak!”
Wanita itu tersenyum dan membelai lembut pipi putrinya. Ia mengeluarkan sebuah kado dan memberikannya kepada putrinya.
“Selamat ulang tahun…putri cantik Mama…”
Selena menghentikan acara makanannya dan langsung membuka kado pemberian Mamanya. Mamanya tidak lupa hari ulang tahunnya. Ia sudah menunggu ini sejak lama.
“Wahhh…album foto?!” ucap Selena senang.
“Maaf ya…Mama hanya bisa memberikan ini untukmu”
“Tak pa ma…aku sangat senang hari ini. Terima kasih!”
__ADS_1
Selena segera menyelesaikan makannya dengan cepat setelah itu membawa album foto itu keruang tamu. Ia menatap senang satu persatu foto yang ada. Foto yang menunjukan perkembangannya dari janin hingga saat ini, fotonya bersama dengan kedua orang tuanya. Ia menatap sendu foto itu, tanpa Selena sadari air matanya perlahan jatuh menetes mengenai tangannya.
“Pa…ma…aku merindukan kalian…”
“Sayang…bisa bantu Mama sebentar?”
Selena dengan cepat menghapus air matanya. Ia meletakan album foto itu dan berlari kearah dapur dan membantu Mamanya membersihkan dapur yang sedikit kotor.
“Ma…”
“Ya sayang?”
“Mama akan terus menemaniku kan?” ucap Selena.
Wanita cantik itu mengembang senyum manis mendengar ucapan putrinya. Ia membasuh tangannya dan mengeringkannya. Ia mengelus lembut pipi putrinya.
“Mama tak akan bisa terus menemanimu. Kelak posisi Mama akan digantikan oleh seorang pria yang mau menerimamu apa adanya”
“Tapi Selena hanya mau Mama…”
“Tapi Mama tidak bisa sayang…Mama tak bisa terus menemanimu”
Selena menatap sendu Mamanya, wanita cantik itu hanya bisa tersenyum dan mencium dahi putrinya. Jika ia bisa ia akan terus bersama putrinya. Meskipun Selena bukan putri kandungnya ia sangat menyayangi Selena seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak bisa mempunyai seorang anak, itulah yang membuat rasa sayangnya kepada Selena semakin bertambah hari demi hari.
*
“Aku salah apa ma…aku salah apa sampai Mama mau menjualku?”
Wanita itu menghempaskan tangan Selena dengan kasar sembari tersenyum evil.
“Mama mau uang, itulah kenapa Mama menjualmu. Sekarang bersikap baiklah hingga Tuanmu datang menjemputmu”
“Kumohon ma…jangan membuangku…jangan membuangku”
.
.
.
“Hmmmm ma…Mama…”
Hans terus menepuk pipi Selena mencoba menyadarkan istrinya dari alam mimpi. Alex dan dokter lainnya menatap khawatir Selena yang tak kunjung membuka mata.
“Selena…sayang…hei!”
Selena membuka matanya dengan nafas tengal-sengal. Keringat dingin mengucur deras dari dahi Selena. Hans langsung memeluk istrinya dengan erat.
“Hah hah hah…Ha-hans”
__ADS_1
“Aku disini, tarik nafas…buang”
Hans menatap sendu wajah Selena, ia mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Selena. Istrinya bermimpi apa sampai menangis seperti ini?.
“Hans…hiks hiks…Hans…”
“Ada apa…? Kenapa menangis?”
Selena memeluk punggung Hans erat, mimpi buruknya kembali terulang. Ia tak mau tidur lagi, ia tak mau memimpikan hal itu untuk kesekian kalinya. Ia tak mau sampai hari terburuk sepanjang hidupnya itu kembali terulang dalam mimpinya.
Hans memeluk istrinya erat, ia benar-benar panik saat melihat istrinya meracau sembari menangis. Karena panik ia berteriak memangil Alex dan mencoba membuat istrinya sadar. Untung saja istrinya bisa cepat sadar, jika tidak tadi Alex terpaksa harus menggunakan obat penenang.
Hans melirik kearah pintu membuat Alex beserta dokter lainnya langsung keluar dari ruangan Selena. Hans menepuk lembut punggung istrinya yang masih terisak. Dengan sangat hati-hati ia membaringkan tubuh itu ditempat tidur.
“Mimpi apa?” tanya Hans dan membelai kepala istrinya sembari tersenyum manis.
“A-ah…tadi aku bermimpi kau dengan wajah yang dingin melemparkan surat cerai kepadaku” Selena berkata dengan mengusap rahang tegas suaminya.
Degh!
Hans langsung terdiam tanpa berani mengatakan apapun. Kelak hal itu pasti akan terjadi, hanya tinggal 8 bulan. Hanya 8 bulan lagi ia bisa bersama dengan wanita yang dengan tulus mengurusnya tanpa mengeluh sedikitpun.
.
.
.
.
**********
.
.
.
.
Happy reading semuanya....
Semoga nggak bosan sama cerita Clara ya....
.
.
.
__ADS_1