Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 169 : I Want to Kill You


__ADS_3

.


.


.


Flashback On


.


.


.


Selena mengetuk pintu kamar Leo berulang kali namun tetap tidak ada sahutan. Selena mendongkkan kepalanya menatap Papanya yang memasang tatapan sendu.


“Nara makan dulu ya sayang, Nara belum makan apa-apa sejak kemarin. Papa takut nanti Nara sakit” ucap Ruvelis sembari mengedong tubuh putrinya.


“Nara tidak mau makan…Nara mau makan dengan Leo…”


“Tapi Leo tidak mau keluar kamar sayang…Nara makan dulu ya, nanti Papa yang bicara dengan Leo”


“Tidak mau…Nara mau makan dengan Leo Papa…”


Ruvelis menghembuskan nafasnya, ia menurunkan tubuh putrinya dan membuka pintu kamar Leo. Selena segera masuk kedalam kamar itu sedangkan Ruvelis kembali menutup pintu dan menghampiri Hendrick yang berada di lantai bawah.


Selena menghampiri Leo yang tengah tertidur sembari menangis sesegukan, tangan Selena dengan lembut menyentuh pipi Leo membuat pemuda itu terbangun dari tidurnya.


“Dear? Kenapa disini?”


“Ayo makan…”


“Aku belum lapar…nanti saja ya…Dear makan duluan saja…aku bisa makan nanti…” lirih Leo sembari mengusap pipi chubby Selena.


“Jika Leo tidak makan…aku juga tidak mau makan…”


“Dengarkan aku ya…Dear makan, jangan sampai sakit…”


“Tapi Leo juga tidak makan, jika Leo makan aku akan ikut makan. Makan ya denganku?” ucap Selena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Leo menghembuskan nafasnya, mata sayunya dengan perlahan tertutup membuat Selena lang ung memasang tatapan sendu. Selena mengepalkan tangannya dan meninggalkan Leo sendirian di kamar itu. Namun saat hendak turun menghampiri Papanya langkah Selena terhenti ketika mendengar Papanya dan Pamanya Hendrick tengah bericara.


“Pesawat George disabotasi seseorang, tapi bawahanku kehilangan jejaknya. Rekaman CCTV bandara dirusak, tidak ada satupun staff bandara yang melihat orang mencurigakan”


“Cari orang itu sampai dapat, jika perlu. Bawa berita ini kemedia dan beri uang bagi siapapun yang berhasil mendapatkan orang itu”


Selena yang mendengar hal itu langsung berlari kearah ruangan yang berada diujung lorong. Ia masuk kedalam ruangan itu lalu mengunci pintu dan mengaktifkan komputer.


“Pesawat Papa George meledak diperbatasan, jadi seharusnya bandara tempat pesawat take off adalah negara ini. Bandara…bandara…Bandara Internasional Sydney!”


Setelah menemukan data yang diinginkan Selena dengan mengembalikan rekaman CCTV yang sudah dihilangkan. Selena mencari file rekaman 2 minggu yang lalu, ia harus mendapatkan orang ini. setelah lama berkutik didepan komputer Selena menemukan rekaman sebelum pesawat milik George take off.


“Kejadian 8 jam yang lalu…ini dia!! Wanita ini yang sudah menyabotase pesawat Papa George!” ucap Selena menghentikan rekaman itu dan menzoomnya.


“Orang yang bisa menyabotase pesawat milik Papa George pasti bukan orang biasa. Dataidentitasnya tidak mungkin ada di internet, lebih baik langsung kucari saja”


Selena mematikan komputernya dan keluar dari ruangan itu lalu menghampiri Ruvelis serta Hendrick.


“Papa mau kemana?”


“Papa…Papa akan kembali ke Skotlandia sekarang, Nara ikut dengan Papa atau tetap disini?”


“Nara disini saja dengan Leo…”


“Baiklah, Ferrian. Jaga putriku, Hendrick ayo”


Selena kembali menaiki tangga dan masuk kedalam kamar Leo, ia naik keatas tempat tidur itu dan berbaring lalu memeluk Leo dengan erat.


“Hmmmm Dear…sudah makan?” ucapleo dengan suara seraknya.


“Belum, nanti saja. Belum lapar…Leo, nanti aku izin beli permen boleh?”


“Boleh, asal dengan Ferrian. Dan juga Dear hanya boleh makan satu permen…”


“Okey!”


Leo memeluk erat Selena, mencium dalam-dalam puncak kepala gadis yang menjadi tunangannya itu. ia tidak boleh terus-terusan bersedih seperti ini, ia masih punya Selena untuk dijaga.


.


.


.


Selena turun dari tempat tidur ketika melihat leoyang terlelap dengan begitu damai. Sudah jam 2 siang…ia harus mencari nomor telfon wanita itu untuk melacak keberadaannya.


Selena kembali masuk kedalam ruangannya, ia menyalakan komputer dan mengirim pesan kepada seseorang.


| Aku butuh bantuanmu |


|| Ada apa? Tumben minta bantuanku? Komputermu sudah aktif tadi pagi, kau boleh bermain komputer lagi? ||


| Diamlah\, jika sampai kau berani memberitau Papa…mati kau |


|| Hei hei, aku hanya bercanda, katakan butuh apa kau? ||

__ADS_1


| Kau kenal wanita ini? ||


Gambar terkirim…


|| Aku tidak mengenalnya, tapi sepertinya aku punya data pribadinya. Kau butuh yang mana? ||


| Nomor ponselnya\, cepat kirimkan kepadaku |


|| Untuk apa? ||


| Lebih baik kau tau sampai disini saja\, terima kasih untuk ini |


|| Sama-sama ||


Lama berkutik didepan komputer untuk mendapatkan lokasi tempat nomor itu berada akhirnya Selena menemukan lokasinya!.


“Aktif 2 menit yang lalu, lokasi ini ada di…Canberra?”


Selena kembali mengirim pesan kepada temannya. Ia tidak mungkin mengirim bawahan Papanya untuk menangkap wanita itu, ia harus menggunakan bantuan orang lain melakukan halini. Karena jika sampai bawahan Papanya tau ia melakukan hal ini, ia tidak akan diperbolehkan keluar dari kediaman Alexandra.


|| Ada apa Nona cantik? Tumben menghubungiku ||


| Hei anak raja minyak\, minta bawahanmu ke Canberra dan bawa wanita yang ada didalam foto yang baru saja kukirim |


|| Hei hei, yang benar sedikit panggilanmu kepadaku. Tapi tunggu, kenapa kau mau aku mendapatkan orang ini? Kenapa tidak suruh bawahan Jenderal besar Nami saja? ||


| Kau ini ingin aku mati atau bagaimana? Ayo cepat\, minta bawahanmu menangkapnya |


|| Minta dikirim kemana? ||


| Terserah\, asalkan jauh dari keramaian. Jika kau salah tempat\, siap-siap saja kau… |


|| Kau ini seram sekali…ancamannya kematian. Bawahanku sudah menuju Canberra, untung saja ada bawahanku di Australia ||


| Hn\, thanks |


Chat end


Selena menyandarkan tubuhnya, ia mematikan komputernya lalu menghembuskan nafas. Wanita itu terlalu punya banyak nyawa sampai berani melakukan hal ini kepada keluarganya. Hari ini…hutang nyawa Papa Georgenya, akan terbayar dengan kematian wanita itu.


“Papa…maaf, hari ini biarkan Nara nakal sekali lagi”


Selena membuka laci, mengeluakan sebuah senapan beserta obat bius. Ia harus melumpuhkan bawahan Papanya, karena jika sampai satu saja bawahan Papanya tau ia keluar. Papanya pasti akan membawa ratusan helicopter mencarinya lalu membuat kekacauan di semua kota.


Beberapa jam kemudian…


Selena mengendap-endap keluar dari ruangan itu, menatap Ferrian serta puluhan penjaga lain yang mengelilingi villa megah ini. sial…jika seperti ini maka ia akan tertangkap konyol. Satu-satunya cara, ia hanya bisa menggunakan bom bius. Dan semoga Leo tidak terbangun karena indra pendengaran serta penciuman tajamnya.


“Maafkan aku Paman-Paman sekalian…”


“Gawat! Ini bom bius!”


“Cepat berjaga!! Jangan sampai Nona besar hilang!!”


Melihat penjaga yang kebingungan mencarinya Selena dengan lincah keluar melalui ruang bawah tanah. Saat sudah sampai di luarvilla Selena melambaikan tangannya ketika melihat sebuah taxi.


Selena masuk kedalam taxi itu dan mengatakan tujuannya. Supir tampak ragu karena Selena sendirian, namun pada akhirnya ia mengantakan gadis itu ketempat tujuannya.


Selena melipat kedua tangannya, untunglah anak raja minyak itu mengirim wanita itu ke lokasi yang tepat dan jauh dari kota atau jalan utama.


“Ray, Aiden. Terima kasih atas bantuan kalian…”


Selena menatap jam tangannya. Melihat dari jarak Sydney ke Canberra, harusnya ia sampai pukul 08.00 PM. Hmmmmm…baguslah…ia punya cukup waktu untuk menyiksa wanita itu.


Selena memjemkan matanya, perjalanan masih cukup lama. Lebih baik ia tidur untuk menyiapkan matanya.


Supir sesekali melirik kearah kaca, gadis ini pasti bukan gadis biasa. Jam tangan seharga ratusan juga dollar dipakai oleh seorang anak kecil? Anak ini pasti berasal dari keluarga berada, jika sampai ia melukai anak ini nyawanya bisa saja melayang.


.


.


.


Sudah sampai ditempat tujuan supir itu dengan lembut membangunkan Selena, Selena dengan perlahan membuka matanya. Ia sudah sampai? Selena mengeluarkan uang dari sakunya dan keluar dari taxi itu.


“Nona, anda tidak punya uang yang lebih kecil lagi?”


“Paman boleh mengambil sisanya, Paman bisa pergi sekarang. Jika ada orang yang mencariku, Paman bisa bilang keberadaanku”


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan berterima kasih kepada Selena lalu membawa taxinya pergi dari tempat itu. Selena menatap beberapa saat taxi itu, memastikan pria itu benar-benar pergi.


Setelah merasa aman Selena masuk kedalam lorong yang gelap gulita. Tempat ini bukan kota tua maupun kota mati. Ini adalah sebuah kota yang padat penghuni, hanya saja orang-orang dikota ini mengadkan liburan massal yang dilakukan setiap tahun. Dan ini adalah hari terahir mereka liburanm, dan besok mereka akan kembali.


“Kau sudah datang Selena?” seorang pemuda keluar dari lorong itu, Selena menatap dingin pria itu.


“Kau masih disini anak raja minyak?”


“Panggil namaku yang benar” kesal pemuda itu.


“Kenapa kau ada disini? Katanya hanya bawahanmu yang kemari”


“Apa aku tidak boleh menemui calon menantu keluargaku huh?”


“Aku tunangan Leo, aku bukan calon menantu keluargamu. Dan juga…aku tidak mau menjadi salah satu istrimu”

__ADS_1


“Hei! Aku tidak sebajingan itu”


“Ck, kau bisa pergi sekarang. Jika kau disini, kau hanya akan membahaykan nyawaku”


“Aku tau itu, apalagi Papa sudah menyuruhku untuk kembali. Aku hanya ingin memberikan ini kepadamu”


Pemuda itu memberikan sebuah samurai kepada Selena, Selena menerima samurai itu. Wahhhh…ternyata pria ini tak lupa hari ini hari apa. Hanya Aiden yang sepertinya lupa hari apa ini.


“Terima kasih untukini, ini cantik. Aku menyukainya…sekali lagi terima kaish untuk ini dan untuk bantuanmu”


“Ya, jangan ragu meminta bantuanku kedepannya. Aku akan pergi sekarang, jaga diri baik-baik. Sampaikan salamku kepada Leo, minta dia untuk tidak terus terpuruk”


“Tetaplah di Negara ini sampai besok, ada yang ingin kuceritakan kepadamu dan Aiden”


“Ya, aku akan mengambil jam terbang malam. Kalau begitu aku akan pergi sekarang, jangan sampai aku tertangkap bawahan Jenderal besar”


“Saat dijalan utama hati-hatilah, jangan tertangkap oleh bawahan Paman Rafindra. Mereka banyak berkeliaran di kota ini”


“Ya, aku tau itu”


Pria itu pergi setelah mencium punggung tangan Selena. Selena melangkah maju dan menghidupkan lampu, ia menatap dingin seorang wanita yang diikat di kursi dalam keadaan pingsan. Apa Ray tidak tau apa itu arti menangkap?.


Selena mengambil botol air yang ditinggalkan Ray dan menguryur wajah wanita itu. wanita itu dengan perlahan terbangun dari pingsannya. Ia seketika terkejut mendapati dirinya tengah diikat disebuah kurdi.


“A-apa-apaan ini?! Lepaskan aku!!”


“Siapa kau berani memerintahku untuk melepaskanmu?”


“Kau!! Dasar bocah sial*n!! Apa yang kau lakukan kepadaku hah?!” Alice, wanita itu menatap geram bocah yang sedang berdiri dengan wajah dingin didepannya. Apa yang sedang bocah ini lakukan sampai-sampai menangkapnya?! Dan juga, bagaimana ia bisa disini?! Ia ingat terakhir kali ia sedang minum wine dengan


teman-temannya untuk merayakan keberhasilan pertamanya.


“Apa yang ingin kulakukan kepadamu? Membunuhmu tentu saja, memang ada lagi?”


“Shut up!! Bocah sepertimu mau membunuhku?! Hahahaha!! Mustahil sial*n!!! Sekarang cepat lepaskan aku atau aku akan membuatmu menyesal”


“Sthhhh jaga kosakatamu wanita…lihat, malaikat maut sedang berdiri didepanmu”


Alice langsung mencoba melepaskan diri dari ikatan yang melilit tubuhnya, namun tidak bisa! Sial*n!! Ia harus segera kabur dari sini, ia harus menelfon keluarganya agar keluarganya datang kemari membantunya.


“Berpikir apa? Melarikan diri? Atau menelfon keluargamu agar keluargamu datang kesini? Ayolah…berhenti berpikiran konyol. Akses keluar masuk Canberra 10 menit lagi akan ditutup total. Karena apa? Tidak akan kuberi tau”


“Sebenarnya apa maumu hah?! Kenapa kau melakukan ini kepadaku?! Kita bahkan tidak saling mengenal!!”


Selena menatap dingin Alice, ia mengeluarkan samurai dari balik punggungnya dan mengusap samurai itu menggunakan sapu tangan. Sekujur tubuh Alice seketika gemetar melihat hal itu.


“Kita memang tidak saling mengenal, tapi kita saling bertemu karena apa? Karena aku ingin balas dendam atas kematian orang yang baru saja kau bunuh 2 minggu yang lalu”


“A-apa?”


“Ya…pesawat yang kau sabotasi hari itu adalah milik Papa angkatku…jadi…sudah bisa menebak alasanku membawamu kesini?” ucap Selena sembari meletakkan samurainya lalu mengeluarkan sebuah pisau dari saku coatnya.


Selena mulai berjalan mendekati Alice, mengores pipi Alice dengan lembut menggunakan pisau itu. Alice mendesis kesakitan hingga darah mulai keluar dari pipi mulusnya.


“Kau!!! Beraninya kau merusak wajahku!!”


Alice melayangkan kakinya namun Selena dengan lincah menghindari tendangan dari Alice. Wanita ini…beraninya, sudah tidak ingin kedua kakinya berada di tempatnya kah?.


“Kau tenang saja, kau masih punya waktu 57 menit 45 detik lagi untuk hidup. Setelah itu…pommmm…kau akan pindah ke tempat lain”


“Jangan mendekat!! Jika kau berani mendekat!! Maka keluargaku benar-benar tidak akan mengampunimu!!”


“Ck ck ck, keluargamu? Tidak akan mengampuniku? Sebesar apa keluargamu sampai-sampai mereka berani melukaiku? Memang ya…menjadi anak yang disembunyikan, memiliki sensasi tersendiri. Beruntungnya aku di didik mandiri dan tidak bergentung kepada keluarga. Jadi aku bisa bebas melakukan apapun yang kumau”


Selena tersenyum sinis, ia tak mau teruru-buru melenyapkan wanita didepannya ini. Ia ingin menikmati kefrustasian wanita ini, menikmati setiap kata-kata ampunan yang keluar dari mulutnya.


“Lancang!! Apa kau pikir keluargaku adalah keluarga biasa?! Tidak!! Lepaskan aku sebelum kau menyesal!!”


“Ingin kau dari keluarga berpengaruh atau tidak, itu tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk membunuhmu. Kau membuat keluargaku bersedih, dan jangan harap aku akan mengampunimu”


“TOLONG!!! SIAPAPUN DILUAR TOLONG AKU!!!!” Alice berteriak dengan keras.


“SAVE HER!! SAVE HER PLEASE!!! PLEASE !! SAVE HER!! SAVE HER!!! PLEASE” Selena berteriak tak kalah kerasnya namun sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Ia gila!! Ia gila!!! Ia gila karena wanita ini membuat kekasihnya menderita!! Ia gila karena wanita ini sudah membunuh Papa angkatnya!!!.


“Berteriaklah sekeras mungkin!! Berteriaklah meminta tolong kepada siapa saja!! Karena siapapun yang menolongmu hari ini!! Akan mati ditanganku juga!!!”


Selena mencengkram dengan kuat rahang Alice, ketakutan besar tersirat di mata Alice ketika matanya berhadapan langsung dengan mata jade Selena. Pupilnya bergetar, ia tak bisa menutup matanya.


“Nikmati saja saat-saat terakhirmu bersamaku wanita…”


Selena menghempaskan rahang Alice dengan kuat. Alice mengerang kesakitan tatkala pisau Selena kembali melukai kulitnya.


“Tenang saja, kau tidak akan mati semudah yang kau pikirkan. Karena aku ingin tau…alasanmu menyabotasi pesawat Papa angkatku”


Sudut bibir Alice terangkat, ini pertama kalinya ia dipermalukan seperti ini. bernainya seorang gadis kecil didepannya ini memperlakukannya seperti orang rendahan!! Ia benar-benar tidak akan mengampuni manusia hina didepannya ini!.


“Kau ingin tau alasan aku membunuh pria itu kan…?”


“Jangan tantang kesabaranku…”


“Karena…”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2