Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 193 : Canceled!!


__ADS_3

.


.


.


Tuan besar Jasson langsung terdiam mendengar ucapan Selena, tidak! Tidak mungkin jika wanita itu adalah Jenderal muda Nara! Tidak mungkin! Ia ingat betul jika rupa putri Jenderal besar Nami sangat mirip dengan ayahnya sedangkan gadis itu tidak ada mirip-miripnya dengan Ruvelis!.


“Jangan berbohong Mikayra! Aku ingat betul jika putri Ruvelis sangat mirip dengan Ruvelis!”


“Oma, apa aku kurang mirip dengan Papa?” tanya Selena.


“Kau pakai wig dan lensa, bagaimana dia mau mengenalimu?”


Selena yang tersadar langsung melepas wig dan lensa matanya, Mikayra dengan spontan langsung memeluk rambut cucunya yang begitu panjang agar tidak sampai menyentuh lantai.


“Aku baru sadar jika rambutmu sangat panjang”


“Ya, 12 tahun aku tidak pernah potong rambut” jawab Selena.


“Ka-kau?!”


“Kita berjumpa kembali…Tuan besar Jasson, waktu cepat berlalu ya. 15 tahun kita tidak bertemu”


Tuan besar Jasson langsung terdiam membatu di tempatnya membuat sang istri merasa keheranan sendiri.


“Sayang, ikut Oma pulang ya…Oma merindukanmu…”


“Oma…jauh, tubuhku sakit semua. Besok saja, hari ini menginap di hotel dulu”


Mikayra memajukan bibirnya dan menganggukkan kepalanya. Baiklah, mereka akan menginap di hotel terlebih dulu. Ia akan mencari hotel yang nyaman untuk cucunya.


Drtttttt drttttttt…


Ponsel Selena bergetar, Selena mengangkat telfon yang berasal dari Rafindra setelah menjauh dari Omanya.


“Ya Paman?”


“Nona, anda sedang di mana? Saya bingung harus menuju kemana”


“Akan ku jemput di bandara, Paman tunggu disana”


Tut…


“Daniel, pinjam mobilmu sebentar”


“Mau kemana? Biar ku antar”


“Tidak perlu, biar sopir yang mengantarnya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu” sahut Mikayra membuat Daniel langsung keheranan. Tumben sekali kali ini ucapan Nyonya besar Alexandra tidak bersahabat dengannya.


Daniel memberikan kunci mobilnya kepada Selena, Selena segera pergi ke bandara untuk menjemput Rafindra. Cuaca sedang dingin karena mulai memasuki musim gugur, entah kenapa ia menjadi cemas jika anaknya akan mengalami demam nantinya.


“Kuharap, mulai sekarang…jauhi cucuku”


“A-apa?” ucap Daniel tak percaya. kesalahan apa yang sudah ia lakukan sampai Nyonya besar Alexandra ini memintanya untuk menjauhi Selena?.


“Kenapa? Apakah saya melakukan kesalahan?”


“Kau mencintai cucuku, tapi kau sudah punya tunangan. Mundurlah dengan sendirinya, jangan menyakiti cucuku. Aku tak akan membiarkan seorang pria menyakiti cucuku lagi. Sudah cukup Leo, dia sudah membuat cucuku seperti ini karena kepergiannya”


“Jika saya membatalkan pertunangan saya, apa saya masih bisa?” tanya Daniel.


“Hmmmmm, akan kupikirkan lagi nanti. Yang terpenting, jauhi cucuku jika kau masih punya hubungan dengan wanita lain”


“Saya akan segera mengurusnya! Kakek!! Aku ingin pertunanganku dibatalkan!! Aku ingin menikah dengan Selena!”


“Tidak bisa…pertunangan ini harus tetap dilanjutkan” jawab Nyonya Jasson.


“Dia siapa Zuher? Istri barumu itu ya? Yang kau dapat dari pelelangan?” cibir Mikayra.


“Kenapa memangnya?” tanya Zuher.


“Suka sekali ikut campur! Suruh dia diam! Dia membuatku kesal!”


“Sayang, siapa dia?” tanya Nyonya Jasson kepada suaminya.


“Istri temanku, kau masuklah ke kamar. Jangan ikut campur masalah ini”


“Tapi-”


“Mikayra bukan orang sembarangan, jangan menyinggungnya. Atau…kau akan tau konsekuensinya” bisik Zuher, ia tak boleh sembarangan bicara ataupun mengambil langkah.


Nyonya Jasson dengan berat hati kembali naik ke kamarnya, Zuher menuruni anak tangga. Menghampiri Mikayra yang sedang melipat tangannya dengan ekspresi menantang seperti biasa ketika mereka bertemu.


“Kau serius dia cucumu?”


“Kau ini ya! Masih sama saja! Kutelfonkan suamiku mau?!”


“Dih, mengadu kepada suami. Okey okey aku percaya, maaf aku tidak memperlakukannya dengan baik saat makan malam tadi. Aku benar-benar tidak bisa mengenalinya” ucap Zuher, ia tidak boleh membuat keluarga Alexandra membenci keluarganya hanya karena ini, ia tak akan membiarkan hubungan yang sudah terjalin selama puluhan tahun hancur begitu saja hanya karena perlakuannya kepada pewaris Alexandra.


“Cih, baru sekarang saja kau mengaku dan minta maaf. Sudahlah! Aku terlanjur kesal kepadamu! Permisi! Oh ya, jangan harap aku tidak mengadukan ini kepada suamiku!”


Mata Mikayra tiba-tiba terfokus kepada sebuah guci antik yang ada diatas meja, tanpa rasa ragu ia mengambil itu membuat Zuher hanya menggelengkan kepalanya. Sejak dulu sifat seenaknya masih saja ada pada diri Mikayra, kenapa cucunya harus jatuh cinta kepada cucu Mikayra sih?! Ia masih belum siap jika harus menjadi besan dari wanita tempramental ini.


“Kuambil ya! Anggap ini sebagai permintaan maafmu kepada suamiku! Ini yang kucari! Lengkap kan koleksiku” ucap Mikayra sebelum membawa guci itu pergi.


“Kau yakin membiarkan Nyonya membawa guci itu pergi? Bukankah itu guci kesayangan istrimu?” tanya Daniel.


“Sudah sedari dulu sifatnya seperti itu, meskipun dilarang akan tetap dibawa”


Daniel hanya mengangguk, hehe…sekarang ia tau cara untuk mendapatkan restu dari Mikayra. Kakeknya adalah orang yang sangat menyukai guci antik, ia akan memberikan beberapa guci untuk meminta restu kepada Mikayra.


“Panggil keluarga River untuk turun, kita selesaikan masalah pertunangan sekarang juga”


“Kakek…”


“Diam dan jangan membantah!”


Tak berselang lama semua keluarga Jasson beserta River sudah berkumpul di ruang tamu, Daniel duduk di kursi tambahan yang disediakan oleh pelayan daripada harus duduk disebelah Arwin yang kosong.

__ADS_1


“Daniel, katakan apa yang kau inginkan”


“Aku ingin menikahi Selena, jadi pertunangan ini dibatalkan saja” dingin Daniel.


“Tidak! Papa, aku tidak mau! Aku tidak mau pertunangan ini dibatalkan! Aku sudah mengatakan kepada semua teman-temanku bahwa aku akan menikah dengan Tuan muda Daniel” ucap Arwin.


“Salah sendiri” sinis Daniel.


“Tuan Jasson, saya menunggu keputusan anda” ucap Tuan River.


“Untuk kebaikan keluarga kalian sendiri, lebih baik pertunangan ini dibatalkan. Daniel, kau bisa melanjutkan hubunganmu dengan pacarmu”


“Yesssss!!”


“Tidak!! Tuan!! Saya mohon!! Jangan dibatalkan!! Saya mohon!” pinta Arwin.


“Ini demi kebaikan keluargamu sendiri, jika pertunangan ini tetap di lanjutkan, keluarga Jasson juga akan terkena imbasnya. Aku masih ingin keluarga Jasson berdiri kokoh tanpa ancaman, aku juga tak ingin kehilangan pion berharga keluarga ini hanya demi keluaga River”


“Lalu apa anda tidak memikirkan perasaan saya? Apa anda tidak memikirkan rasa malu yang akan diterima keluaga saya jika pertunangan ini dibatalkan?”


“Maaf, Arwinata Joshua River. Mulai sekarang, kau bukanlah lagi tunangan milik keluaga Jasson. Pertunanganmu dengan Daniel, resmi dibatalkan”


Arwin langsung terkulai lemas mendengar ucapan Tuan besar Jasson. Tuan besar Jasson merobek kertas perjanjian yang sebelumnya dilakukan untuk mengikat Arwin sebagai tunangan Daniel.


“Anda mempermainkan kami Tuan” ucap Tuan River tak senang dengan keputusan Tuan besar Jasson. Meskipun keluarga River adalah keluarga yang posisi dan kekuatannya jauh dibawah keluarga Jasson, ia tak akan menerima penghinaan ini begitu saja.


“Kakek, kalau begitu aku akan menemui Selena. Oh ya, kakek harus membantuku untuk mendapatkan restu” ucap Daniel.


“Itu urusanmu, kenapa kakek ikut campur?”


“Kuadukan nenek?!”


“Hish! Iya iya! Bantuan apa?”


“Kakek punya banyak guci antik kan? Berikan itu kepadaku”


“Jangan macam-macam!” kesal Zuher. Apa cucunya ini sudah gila?! Dia ingin mendapatkan restu dengan mengorbankan guci-guci yang susah payah ia kumpulkan sejak masih muda?!.


“Cih, pelit!” kesal


Daniel pergi begitu saja dari kediaman utama Jasson.


Kepergian Daniel di susul perginya keluarga River. Keluarga itu memilih untuk kembali ke rumah mereka yang terletak cukup dekat dari kediaman Jasson. Mereka benar-benar tak akan membiarkan penghinaan yang dilakukan keluarga Jasson berlalu begitu saja. Bagaimana bisa mereka membatalkan pertunangan yang sudah terlaksana selama 9 tahun hanya karena alasan yang tidak masuk akal?!.


.


.


.


Selena menyandarkan tubuhnya di sofa hotel yang nyaman, ia memejamkan matanya tatkala rasa sakit di bahunya kembali terasa. Sighhhh…melelahkan, ia tak akan mau diajak berpura-pura seperti itu lagi


Tok tok tok…


“Masuk”


Daniel masuk kedalam kamar hotel itu membawa minuman dan diletakannya diatas meja lalu menghampiri Selena. Selena mendongkakan kepalanya, bertanya mengapa Daniel bisa berada disini.


Selena mengerutkan keningnya, meskipun merasa heran dia mengikuti ucapan Daniel untuk berdiri. Kedua tangan Daniel dengan sigap langsung hinggap di bahu serta pergelangan tangan Selena.


"Apa yang mau kau lakukan Daniel?!"


“Tahan, sakitnya tidak akan lama”


“Awwww sakit sakit!”


Tak!!


“Ack!!” Selena tersentak tak percaya dengan apa yang Daniel lakukan.


Daniel melepaskan tangannya, Selena langsung memegangi bahunya yang tidak terasa sakit, hilang kemana rasa sakitnya?! Apa yang dilakukan Daniel kepada bahunya tadi?!.


“Tulang bahumu tergeser, lain kali lebih hati-hati. Sudah, istirahatlah. Istirahatkan bahumu untuk sementara”


“Tunggu!” ucap Selena ketika melihat Daniel yang hendak pergi dari kamarnya.


“Terima kasih, ini jauh lebih baik” ucap Selena.


“Iya, aku akan lihat anak-anak dulu” Daniel tersenyum dan pergi dari kamar Selena menuju kamar Leon dan Leona yang tengah dijaga oleh bawahan Mikayra.


“Tuan muda…”


Daniel membuka pintu kamar, menatap kedua anaknya yang tengah diajak bermain oleh X. X yang melihat kedatangan Daniel dengan spontan langsung memberikan hormat kepada pria itu.


“Selena bilang dia akan menetap selama beberapa hari disini, kau pulanglah. Temui istri dan anakmu, Leon dan Leona biar aku yang jaga”


“Tapi Tuan muda…”


“Jika nanti Selena bertanya, biar aku yang menjawabnya”


“Baik, terima kasih Tuan muda!”


X kembali membungkuk hormat, pria itu segera pergi dari hotel. Ia tak sabar menemui istri dan anaknya.


Daniel menatap kedua anaknya, ia tersenyum dan menggendong keduanya secara bersamaan. Kedua bayi itu tersenyum melihat Daniel yang tengah tersenyum lembut.


“Ughhhh…kalian semakin mengemaskan, apa kalian merindukan Papa hm? Kalian rindu Papa tidak?” Daniel dengan gemas menciumi pipi keduanya. Kedua anaknya ini, bagaimana bisa ia tidak bertemu selama 2 minggu saja sudah mengemaskan seperti ini?.


Daniel meletakkan keduanya dan mengambil 2 botol susu lalu menyusui Leon dan Leona. Daniel menatap lekat-lekat wajah kedua anak itu, wajah mereka mirip siapa ya? Ia belum pernah melihat foto bayi Selena maupun Leo.


“Anak pintar…Papa yakin sebentar lagi Mama kalian pasti bisa menerima kalian sepenuhnya, Papa akan bujuk Mama kalian lagi”


Daniel tersenyum melihat kedua anaknya yang dengan rakus meminum ASI Selena, entah kenapa ia jadi tidak rela jika kedua anak ini cepat tumbuh. Setelah selesai menyusu Daniel segera menidurkan keduanya.


“Manisnya…”


“Daniel, aku akan ke mall sebentar. Kau jaga mereka”


“Mau cari apa?”

__ADS_1


“Pakaian untuk mereka, aku juga harus membeli beberapa botol susu dan juga kereta bayi?”


“Aku ikut!”


“Cepat”


Daniel segera bergegas mengikuti kemana Selena pergi, Rafindra kaliini tidak mengikuti Selena. Dia akan lebih fokus menjaga kedua Tuan kecilnya.


***


Selena mengambil troli dan membawanya menuju pakaian anak-anak begitu juga dengan Daniel yang membawa troli sendiri. Selena menatap pakaian anak-anak yang sepasang, mungkin diperuntukan untuk anak kembar? Tapi sepertinya…itu tidak cocok untuk Leon dan Leona.


“Itu bagus, sayangnya terlalu besar untuk mereka” ucap Daniel.


“Kau cari baju disini, aku akan beli beberapa peralatan”


“Yakin?”


“Aku bukan anak kecil lagi Okey?”


Selena segera keluar dari toko itu dan menuju toko perlengkapan bayi. Selena menatap deretan botol susu seta pemompa asi yang baru saja diluncurkan ke pasaran. Ia ingin beli tapi sayangnya ia masih punya 8 yang belum terpakai. Selena menatap daftar belanja yang sudah disiapkan Rafindra sejak masih berada di Swiss. Wahhh banyak juga ternyata.


“Kuambil semua, biar nanti tidak bolak balik lagi” ucap Selena memasukkan semua botol susu yang terlihat oleh matanya tanpa menyisahkan satupun.


Salah seorang pelayan toko yang melihat Selena langsung datang menghampiri dan menawarkan bantuan. Selena menganggukkan kepalanya dan pelayan itu segera menunjukan barang-barang yang lain. Tiba-tiba mata Selena tertuju kepada sebuah kereta bayi, sepertinya ia belum membeli benda itu sebelumnya.


“Pilihan anda sangat bagus Nyonya, apa anda mempunyai anak kembar 3? Jika benar kereta itu cocok untuk digunakan. Jika anda ingin yang lain saya akan menunjukannya”


“Bungkus itu”


“Baik!”


Selena menghembuskan nafasnya, dulu belanjaannya saat ke mall pasti baju, makanan, snack, sepatu, atau benda-benda yang bisa ia gunakan. Tapi sekarang setiap ke mall, keperluan kembar akan lebih ia utamakan. Barang-barangnya belakangan, menyedihkan…meskipun ia mampu membeli kebutuhannya serta anaknya secara bersamaan.


“Nona tolong setiap barang-barang itu bungkus masing-masing 3, bisa dikirimkan ke alamat ini?”


“Baik! Kami akan segera mengantarkannya”


“Hn, ini tolong di bungkus”


“Nona, tolong gesek kartu ini saja” ucap Daniel yang tiba-tiba datang memberikan Black cardnya ketika melihat Selena yang hendak mengeluarkan dompetnya.


Selena menatap kesal Daniel, namun tiba-tiba matanya terfokus kepada banyaknya bungkusan yang berada di troli. Belanja apa saja pria ini?.


“Mau beli apa lagi?”


“Perlengkapan mandi, minyak-minyakan, popok, kaus kaki, sarung tangan, topi, selimut, perlengkapan mengganti popok, mainan. Sudah sepertinya?”


Daniel tercengang, apa…Selena yang menulis semua daftar belanjaan itu? Darimana gadis ini tau benda-benda itu seperti apa bentuknya?.


“Wahhh…kau sudah jadi Ibu yang baik”


“Daftar yang kuminta Paman Raf tulis” sahut Selena.


“Aku tak bisa berharap lebih…”


Setelah berjam-jam berada di mall tersebut Daniel dan Selena akhirnya kembali ke hotel dengan sebuah mobil barang dibelakang mereka. Saat sampai di hotel Selena mencengkram tangan Daniel merasa ada sesuatu yang tertinggal.


“Ada apa?”


“Aku belum beli ayunan elektrik untuk mereka”


“Hahhh…sudah larut malam, sudah waktunya kau istirahat. Belanjanya besok lagi” jawab Daniel.


“Tapi-”


“Besok pagi, sekarang tidur. Kau sudah mengantuk begitu”


“Hmmmmm…baiklah…”


.


.


.


Selena membuka matanya dengan perlahan ketika sinar matahari masuk menyilaukan pandnagannya. Dengan kesal ia menarik selimut, kenapa suaminya pagi-pagi sudah membuka tirai?! Ia masih ingin istirahat. Selena meraba termpat tidurnya, ia mengerutkan kening ketika mendapati tak ada suaminya di tempat tidurnya. Kemana suaminya pagi-pagi seperti ini?!.


“Leo…kau di mana? Tolong tutup tirainya…”


Tak mendapat sahutan apapun membuat Selena langsung bangun dari tidurnya, ia tersentak kaget mendapati dirinya tengah berada di hotel. Shit…ia lupa jika Leo sudah tidak ada.


“Sigh…”


Selena turun dari tempat tidurnya menyambar bathrobe dan segera masuk ke kamar mandi. Selena memejamkan matanya menikmati guyuran air shower, entah kenapa air dingin bisa membuat perasaannya menjadi sedikit tenang padahal sebelumnya ia paling anti mandi pagi dengan air dingin.


Setelah selesai membersihkan diri Selena memakai bathrobe dan keluar dari kamarnya membuat semua penjaga langsung menundukan kepala mereka tak berani menatap Selena. Selena berjalan menuju kamar kedua anaknya.


“Anak cantik Papa…Leona lapar hm?”


Selena menatap Daniel yang tengah menyusui kedua anaknya, sepertinya pria itu cocok menjalani profesi sebagai Baby sister. Jika Daniel mau ia akan menjadikan pria itu Baby sister untuk ke-3 anaknya.


“Sudah mandi?” tanya Selena.


Daniel langsung menatap kearah pintu, pipinya langsung merah merona melihat Selena yang hanya menggunakan bathrobe dengan rambut yang basah menambah kesan sexynya.


“Kenapa pipimu merah begitu? Demam?” tanya Selena.


“Anak-anak sudah mandi! Aku akan membawakan sarapan untukmu!” Daniel segera meletakkan Leona dan pergi dari kamar itu, Selena menatap heran Daniel yang pergi dengan tergesa-gesa, ada apa dengan pria itu?.


Selena menatap kedua anaknya yang tengah lincah menggerakan kakinya diatas tempat tidur, ia duduk menghadap kedua anaknya dan menyerahkan tangannya. Kedua anak itu langsung menggenggam dengan erat telunjuk Selena sembari tertawa.


“Kalian tumbuh dengan baik…kupikir kalian cacat mental karena jarang menangis”


Selena menggendong putranya Leon dan menepuk kecil beberapa kali di punggung itu hingga putranya bersendawa ia pun melakukan hal yang sama kepada putrinya Leona.


“Ck…kalian tidak ada mirip-miripnya denganku” kesal Selena. Bagaimana bisa diantara kedua anak ini, gennya benar-benar tidak ada. Mereka berdua bagai pastean dari Ayah mereka, Leo.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2