Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (9) : They Are My Life


__ADS_3

.


.


.


Daniel dengan buru-buru membawa Leon, Leona serta Ryu masuk kedalam helicopter untuk terbang menuju kediaman Iskandar yang terletak tak cukup jauh dari apartement baru yang baru saja ia beli ini.


Leon, Leona dan Ryu tentu menatap Daniel dengan wajah yang kebingungan. Mereka akan pergi kemana? Apa Mama mereka ingin mengirim mereka kembali ke Asrama?.


“Papa, kita mau kemana?”


“Bertemu dengan kakek dan nenek buyut. Kalian tenang saja”


“Kenapa?”


“Hmmmm…Paman kurang tau” jawab Daniel seadanya, jika menjawab dengan jujur pasti anak-anak juga tak paham apa yang sedang ia bicarakan.


“Leon, Leona…bisakah Paman meminta bantuan kalian?”


“Katakan saja Paman” jawab Leon.


“…”


Leon dan Leona terdiam mendengar Daniel yang berbicara menggunakan bahasa lain, mereka paham dengan apa yang dikatakan Daniel tapi tidak dengan Ryu. Anak kembar itu saling melirik dan menganggukkan kepala.


“Paman tenang saja, Paman bisa mengandalkan kami”


Daniel menganggukkan kepalanya, semoga saja hubungan keluarga Alexandra dan Iskandar tak retak karena hal ini. ia hanya bisa mengandalkan Leon dan Leona kali ini jika Selena tak mampu mengatasi kemarahan Tuan besar.


“Apa Ryu lelah? Ryu bisa tidur jika masih lelah” ucap Daniel, ia baru saja membawa Ryu keluar dari rumah sakit dan langsung pergi malam-malam seperti ini.


“Tidak, Ryu belum mengantuk Papa”


“Baiklah, Ryu memang anak yang kuat” ucap Daniel sembari membelai kepala Ryu, Leon dan Leona yang melihat itu mengerutkan kening. Perasaan apa ini? Kenapa ada rasa tak senang muncul ketika pria itu membelai adik mereka sembari tersenyum?.


.


.


.


Selena datang dengan naas yang tersengal-sengal disusul dengan kedatangan Daniel yang membawa anak-anak. Selena langsung menghampiri Zachery yang tengah memasang tatapan pias kepada Tuan besar Iskandar, Mona?! Wanita sial*n itu kenapa masih ada disini?!.


“Opa, Nara bisa jelaskan ini”


“Katakan sesuatu yang bisa memuaskan Opa, Nara…” dingin Zachery dengan mata yang masih menatap tajam kepada Tuan besar Iskandar.


Jangankan Selena, kini Mikayra yang berada tepat disebelah Zacherypun takmampu mengatakan sepatah katapun, mereka takut…jika sampai mereka salah bicara maka Zachery pastinya akan semakin marah.


“Zac…”


“Kau diam Nire! Aku ingin jawaban dari cucuku sendiri, jangan angkat bicara” potong Zachery sebelum Tuan besar Iskandar berkata sesuatu.


“Kenapa anda marah mengetahui hal ini Tuan? Bukankah sudah tak mengejutkan bagi seorang Tuan muda jika memiliki lebih dari satu wanita?” Mona berucap dengan santainya langsung membuat Nyonya besar Iskandar mendaratkan tangannya di pipi wanita itu.


“Tutup mulutmu! Kau tak pantas bicara seperti itu dihadapan Zac!”


“Heh, putra-putraku tidak ada yang seperti itu. Sekarang katakan, anak siapa itu?”


“Sekalipun langit runtuh, itu tak bisa mengubah fakta bahwa putra saya Arkan adalah putra tertua dari Leonardo”


Brangggggg!!!


Zachery langsung membanting cangkir teh yang berada dihadapannya tepat kebawah kaki Tuan besar Iskandar. Semua penjaga yang berada di mansion mewah itu langsung gemetar ketakutan. Matilah…mereka akan segera menemui tuhan jika ini terus berlanjut.


“Kutanya sekali lagi!! Anak siapa yang kau bawa ini!!” ucap Zachery meninggikan suaranya.


“Ini…putra Leonardo, Arkana”


“Nire, inikah balasan dari cucumu karena cucuku telah bersama dengan Hans sebelum dia menikah dengan cucumu?”


“Zac, tidak seperti itu…aku yakin ada kesalah pahaman disini. Nona, tolong! Tolong jangan membuat suasana menjadi keruh! Katakan yang sejujurnya” pinta Nyonya besar Iskandar kepada Mona.


Tiba-tiba, seorang bodyguard berlari masuk kedalam mansion sembari membawa suatu kertas ditangannya.


“Hasil tes DNA sudah keluar! 99,999%! Mereka adalah Ayah dan anak!!”


Ucapan bodyguard itu langsung membuat Selena jatuh terduduk dilantai, Mona tersenyum puas mendengar hal itu…dewapun tak bisa mengubah fakta bahwa putranya adalah anak kandung dari Leonardo.


Zachery mengepalkan tangannya dengan begitu erat, Mikayra, Daniel, Tuan dan Nyonya besar Iskandar langsung tak mampu berkata-kata lagi. Ya tuhan…


“Rafindra!!!!”


“Siap menerima perintah Tuan!!”


“Wanita! Kau mau bagian dari harta Leo bukan?! Segera urus itu! Pindahkan semua aset yang diberikan Leo kepada Nara menjadi milik wanita ini! Dan Nire! Mulai sekarang, Nara…bukan lagi menantu keluargamu!! Dan mulai sekarang! Dia akan kembali menyandang gelar keluargaku!” Zachery langsung berdiri dari tempat duduknya, Selena yang melihat itu bangkit dan berlari kearah Zachery dan bersimpuh dihadapannya.


“Tolong jangan lakukan itu Opa! Nara mohon!! Jangan lakukan itu!” ucap Selena sembari menangis mencengkram ujung baju Zachery. Pandangan Zachery lurus, tak berani menghadap bawah melihat cucunya yang tengah menangis.


“Nara…bangun sayang, jangan seperti ini” ucap Mikayra menghampiri Selena dan mencoba untuk membantu Selena berdiri.


“Nara mohon Opa…jangan lakukan ini…Leo suami Nara Opa…Nara tak ingin seperti ini”


“Ini kesalahan Opa Nara, tak seharusnya Opa membiarkan Papamu melakukan perjanjian pertunangan dengan Leo”


“Nara bahagia Opa, Nara bahagia bersama Leo…tolong Opa, tolong…kali ini saja…Nara mohon cabut kata-kata Opa…Oma… bujuk Opa Oma…” isak Selena.


Zachery melepaskan cengkraman Selena pada ujung bajunya dan pergi begitu saja. Selena menangis sesegukan melihat Opanya yang menghilang dari hadapannya.


“Bantu Nara Oma…tolong bujuk Opa…” pinta Selena.


“Oma tak bisa sayang…Oma tak bisa…kau tau sendiri bagaimana sifat Opamu…”


“Hiks hiks hiks…Nara mohon Oma…buat Opa menarik kembali kata-katanya”


Daniel yang melihat adegan didepan matanya tak bisa mengatakan apapun, ia bingung dengan situasi ini…kenapa Selena begitu tak rela melepaskan harta yang ditinggalkan Leo untuknya diserahkan kepada Mona? Dan juga…bagaimana bisa Leo…

__ADS_1


“Jadi, bukankah aku menantu keluarga Iskandar sekarang?” ucap Mona dengan tak tau dirinya.


“Oma…Nara mohon…”


“Selena…sudahlah, biarkan itu menjadi milik wanita ini…aku akan menggantinya nanti” ucap Daniel membantu Selena berdiri.


Selena menatap Daniel dan memeluk pria itu dengan erat dengan tangisan yang semakin mengeras.


“Bantu aku Daniel…bantu aku…bicaralah dengan Opa…minta dia menarik kata-katanya…please…”


“Kita pulang dulu ya…kita bicarakan ini dirumah…”


Selena menggelengkan kepalanya dengan cepat menanggapi ucapan Daniel, ia tak ingin pergi dari sini…ia ingin bersama dengan anak-anaknya.


“Nara pulang dengan Daniel dulu ya, anak-anak biar disini…Oma akan coba bujuk Opaya”


“Anak-anak ikut Nara ya Oma…”


“Sayang…ada satu hal yang tak akan bisa kau lakukan didunia ini…yaitu mengubah keputusan Opamu, pulanglah dulu…biar Oma yang tangani Opa. Daniel, bawa Nara pulang”


Selena dengan spontan berlari memeluk ke-3 anaknya ketika beberapa orang penjaga mendekat hendak membawa mereka ber-3.


“Mama…apa Mama akan membuang kami?” tanya Leon dengan mata yang berkaca-kaca.


“Jangan sentuh mereka!”


“Nyonya muda…maafkan kami…ini perintah Tuan besar”


“Mereka anakku! Dan tak siapapun boleh mengambil mereka dariku!”


Daniel menghampiri Selena dan ke-3 anaknya, ia menggendong Leon dan Ryu sedangkan Selena menggendong Leona.


“Kita pulang”


“Kumohon…bicaralah dengan Opa…” lirih Selena.


“Iya…aku akan bicara dengan Tuan besar…tapi nanti, kita pulang dulu. Aku akan cari hotel didekat sini”


“Nara…” panggil Mikayra, jika suaminya mengetahui hal ini maka…


Daniel memutar kepalanya dan menganggukkan kepalanya kepada Mikayra…Mikayra hanya bisa diam, sudahlah…biar ia yang meredam kemarah suaminya.


************


Selena menatap ke-3 buah hatinya yang tengah terlelap…ya tuhan, ia tak ingin ini menjadi pertemuan terakhirnya dengan ke-3 buah hatinya…mereka ber-3 adalah buah hatinya, dan ia tak ingin kehilangan mereka…


Daniel yang melihat ekspresi Selena dari ambang pintu mengepalkan tangan dengan kuat…sebenarnya apa?! apa yang membuat Selena menjadi seperti ini?! Ekspresi itu…ekspresi seolah-olah Selena tak akan melihat anaknya untuk selamanya.


“Tuan muda?” ucap Rafindra.


Daniel yang melihat Rafindra mendekat langsung menutup pintu dan menarik tangan Rafindra untuk menjauh dari kamar hotel itu.


“Katakan kepadaku, ada apa sebenarya”


“Tuan besar…Tuan besar memutuskan ikatan keliarga Iskandar dengan Nona besar”


“Itu karena, Tuan dan Nona muda merupakan keturunan keluarga Iskandar. Dibalik pernikahan mendiang Tuan muda dan Nona besar terdapat sebuah perjanjian…jikalau sampai Tuan besar mengambil kembali Nona besar untuk dijadikan sebagai pewaris, secara otomatis…Nona tidak boleh berhubungan dengan keluarga Iskandar lagi untuk selamanya”


“Apa?! Kenapa bisa begitu?! Mereka anak-anak Selena! Mereka anak kandung Selena! Atas dasar apa seorang Ibu tak boleh menemui anaknya?!” bentak Daniel.


“Karena…semua hal yang terjadi kepada Nona…sudah ditentukan oleh mendiang Jenderal dan Tuan besar. Hal-hal yang bersifat pribadi harus dirahasiakan dari publik, dan karena Nona menikah dengan pewaris dari keluarga yang notabenenya adalah keluarga entertainment…anda tau sendiri maksud saya”


Daniel menutup mulutnya, pantas saja saat pengadilan waktu itu Selena berkata ‘Bisa-bisanya adu nasib denganku’, ternyata ini alasannya…


“Apakah itu benar-benar tidak bisa diubah?” ucap Daniel.


“Jika tes DNA…”


Daniel langsung berlari masuk kedalam kamar Selena, ia langsung memeluk Selena yang masih menangis. Selena tentu terkejut mendapati Daniel yang memeluknya secara tiba-tiba.


“Kau tenang saja, anak-anak…akan tetap menjadi milikmu, jika tidak bisa…aku akan menjadikan mereka anakku” bisik Daniel.


Selena membalik badannya, menggapai tangan Daniel dan menggenggamnya dengan erat.


“Kumohon…mintalah Opa menarik kata-katanya…jangan sampai teman-temanku mengetahui hal ini…aku tak ingin mereka berpikiran buruk terhadap Leo…”


“Baiklah, sudah…berhentilah menangis…masalah harta warisan kau jangan khawatir, berikan itu kepada mereka…biar aku yang membiayai anak-anak sampai dewasa”


“Tidak…Leo sudah tiada…itu adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai Ayah dari anak-anak…anak-anak tak pernah mengenal bagaimana Ayah mereka…ini adalah bentuk tanggung jawab Leo sebagai Ayah mereka…jika nanti anak-anak tau hal ini bagaimana? Mereka bisa membenci Leo…aku tak ingin anak-anak membenci Ayah kandung mereka sendiri”


“Kalau begitu…aku tak akan membiarkannya, tidurlah dengan tenang…biar aku yang mengurus masalah ini. Percayalah kepadaku untuk kali ini, aku tak akan mengecewakanmu”


Air mata Selena langsung luruh mendengar ucapan Daniel. Daniel mencium puncak kepala Selena dan pergi begitu saja, ia harus memastikan…tes DNA itu asli…atau palsu.


“Hubungi Assistantku, minta mereka menemuiku sekarang juga di café depan”


************


Flashback On!


.


.


.


Ruvelis meletakkan kepalanya dikepala buncit sang istri sesekali mengecupnya, haihhhhh…jarak waktu melahirkan istrinya masih lama. Ia tak sabar dengan calon buah hatinya yang benar-benar membuat penasaran seisi mansion, pasalnya diusia kandungan yang menginjak 6 bulan ini belum diketahui jenis kelamin sang bayi karena selalu membelakangi monitor.


“Anak Papa…sedang apa didalam hm?”


“Anakmu sedang tidur, jangan menganggunya” ucap Jenssica sembari tertawa.


“Hummm…aku baru saja pulang, sayang…jangan tidur dulu…Papa ingin bicara denganmu”


Dught!


Ruvelis tersentak kaget mendapati tendangan yang tepat mengenai telinganya, ahhhhh apa anaknya sedang bermain bola didalam sana?.

__ADS_1


“Sayang, menurutmu…dia laki-laki atau perempuan?”


“Aku sangat ingin anak perempuan, aku ingin pamer dengan Papa”


“Hahaha, jika ini anak laki-laki bagaimana?”


“Apa benar-benar bukan anak perempuan?” tanya Ruvelis dengan wajah sendunya, ia benar-benar mengiginkan anak perempuan...ia bahkan sudah membelikan banyak baju perempuan.


“Anakmu pemalu, entah menurun siapa”


“Aku berharap semoga kita punya anak perempuan…anak perempuan yang mirip denganku mungkin lucu” jawab Ruvelis.


Jenssica menelan ludah mendengar jawaban sang suami, duhhhhh…anak perempuan yang mirip suaminya? Pasti jadi playgirl dengan wajah rupawannya nanti, nanti pasti Hendrick sering marah-marah karena anaknya tidak bisa diatur, nanti pasti Rafindra kewalahan menjaga anaknya…dan kalau sampai sifat mengerikannya ikut menurun…


“Kenapa? Kau tidak mau anak perempaun yang mirip denganku?”


“Bu-bukan, hemmmm…aku hanya berpiki bahwa dia pasti akan mengalami hal yang berat kedepannya. Entah kenapa aku berharap kita punya anak perempuan setelah itu anak l;aki-laki agar anak laki-laki kita bisa menggantikan anak perempuan kita sebagai pewaris”


Ruvelis seketika terdiam mendengar ucapan istrinya, 2 anak? Ia tak berpikir sampai kesana…tapi istrinya ada benarnya, jikalau ini anak perempuan pasti akan menanggung beban yang begitu berat.


“Hmmm…semoga saja dia adalah anak yang kuat”


“Tapi…”


“Kau tenang saja, aku akan terus hidup untuk anak kita” ucap Ruvelis sembari membelai pipi istrinya.


“Ya…kau harus tetap hidup apapun yang terjadi”


.


.


.


“Pe-perempuan?”


“Selamat Jenderal besar! Anda akan mendapatkan seorang Tuan putri sebentar lagi!”


Ruvelis dan Jenssica langsung saling menatap, pu-putri?! Mereka akan punya putri?! Mereka benar-benar mendapatkan seorang putri?!.


“Bisakah aku mendengar detak jantungnya sekali lagi?”


“Tentu Jenderal…”


Ruvelis kembali meneteskan air matanya ketika mendengar suara detak jantung calon putri kecilnya, ya tuhan…ia benar-benar senang…terima kasih…terima kasih.


Ruvelis berlari keluar dari ruangan putih itu dan berteriak senang membuat heran puluhan orang yang tengah menunggu didepan ruangan.


“Ada apa? Bagaimana hasilnya?” tanya George.


“It’s Baby Girl!!! Hahahaha!! Yeahhhh!!!” ucap Ruvelis sembari memeluk sahabat-sahabatnya.


Sahabat-sahabat Ruvelis langsung terdiam membatu ditempat mereka, me-mereka tidak salah dengarkan? Mereka kan punya keponakan perempuan?!.


“Yessssss!!! Akhirnya!!!”


“Hahahaha dapat perempuan, Hendrick gila nanti!” ejek Jordan.


“Apasih kok jadi aku lagi?!” kesal Hendrick.


“Wah wah wah, pinalti kau…kami semua dapat anak laki-laki masa kau perempuan…buat lagi sana”


“Masa bodo, daripada nggak bisa buat anak perempuan!” sinis Ruvelis langsung membuat pria-pira itu memajukan bibirnya, cihhhh…curang sekali…padahal mereka juga ingin punya anak perempuan, tapi kenapa malah Ruvelis yang dapat duluan? Anak pertama pula…pasti good looking + good rekening, punya banyak bank berjalan.


Jenssica keluar dari ruangan itu membuat Ruvelis langsung mengambil kursi roda dan meminta istrinya untuk duduk. Pria tampan itu mengerutkan kening tatkala melihat wajah sang istri yang tampak tak begitu bahagia.


“Kenapa?”


“Bisakah kita rahasiakan ini terlebih dulu? Aku takut Papa mertua akan…”


“Tentu saja, kau tenang saja…ini putriku, dan aku akan mendidiknya…jangan khawatir, keluarga besar tak akan ikut campur dalam hal ini”


“Hendrick”


“Tugas?”


“Kewajiban”


“Anda bisa mengatakannya” ucap Hendrick sembari berdiri dan membenarkan pakaiannya.


“Kirim surat kepada pengadilan militer bahwa jikalau anak yang lahir adalah perempuan, maka aku minta hakku diberikan kepadanya dan sampaikan kepada kakek bahwa dia tidak boleh ikut campur dalam urusan keluargaku”


“Saya menerima perintah anda”


“Sekarang kita pulang, dokter bilang bayinya akan lahir premature. Nanti kita berlibur di kapal pesiar”


“Kenapa? Nanti akta kelahirannya bagaimana?”


“Biar anakku Illegal”


“Awwwww, jangan cubit ah! Sakit!”


“Illegal illegal! Awas kau nanti kalau anakku kena masalah!”


“Aku yang tanggung jawab”


.


.


.


Flashback Off


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2