
.
.
.
Hans membelai lembut pipi istrinya yang masih terlelap dialam mimpi. Ia mengecup lama dahi Selena dan keluar dari kamar itu. Hans menatap berbagai makanan yang disiapkan Selena yang belum ia sentuh sama sekali. Ia membuka kulkas yang terdapat berbagai jenis bahan masakan.
“Ah, lebih baik kuajak Selena jalan-jalan besok…”
Hans mengeluarkan ponselnya dan menghubunggi Assistantnya.
“Ya Tuan?” ~ Assistant Gerry.
“Berikan aku libur 3 hari kedepan”
“Baik Tuan, saya akan mengurus pekerjaan anda” ~ Assistant Gerry.
“Terima kasih ya”
“Oh ya Tuan, apa saya boleh tau bagaimana keadaan Nyonya muda?” ~ Assistant Gerry.
“Kenapa kau tanya tentang istriku?”
“Ah, kemarin saya tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang tentang Nyonya muda. Mereka bilang, mereka melihat Nyonya muda berjalan sendirian di trotoar dengan penampilan kacau. Apa beliau baik-baik saja?” ~ Assistant Gerry.
Hans mengerutkan keningnya mendengar ucapan Assistantnya. Selena? Berjalan ditrotoar dengan penampilan acak-acakan?.
“Kapan itu?” tanya Hans penasaran. Kenapa bodyguardnya tidak memberitaunya hal ini sama sekali?.
“Sehari sebelum anda kembali dari Korea” ~ Assistant Gerry.
Tut…
Hans mematikan telfonnya sepihak, ia langsung kembali kekamar Selena. Ia menatap Selena sendu, jadi waktu itu Selena berkata jujur. Tapi apa yang membuat istrinya berjalan sendirian di trotoar dengan penampilan yang kacau?. Apa pria yang ada di foto waktu itu adalah teman Selena yang kebetulan lewat dan membawa Selena menganti pakaian?. Apa sudah ia lakukan?!! Ia waktu itu sangat marah hingga membuat istrinya terluka.
__ADS_1
“Selena…aku minta maaf…maafkan aku…” lirih Hans.
.
.
.
Selena membuka matanya perlahan. Ia merona melihat wajah tidur Hans, apa Hans tidur dikamarnya semalam?. Tangan Selena hinggap di pipi Hans, ia mengusap pelan pipi itu.
“Nyonya, sudah puas kah melihatnya?” ucap Hans membuka matanya perlahan.
“Hans?! Kau sudah bangun?” ucap Selena menarik tangannya kembali.
Hans meraih tangan Selena dan meletakan tangan itu dipipinya kembali. Selena hanya diam dan menuruti apa yang dilakukan Hans. Hans menggenggam tangan Selena dan mencium telapak tangan putih itu.
“Tangan mu lembut…”
“Hans, sudah…jangan manja begini. Kau tidak berangkat kerja?”
“Serius?!” ucap Selena senang.
Hans tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sederhana, sejujurnya keinginan Selena sangatlah sederhana. Namun sulit untuk ia kabulkan.
“Kau mau jalan-jalan?”
“Jalan-jalan? Memangnya kau tidak lelah?”
“Bersiaplah, kita jalan-jalan” ujar Hans.
Selena menganggukkan kepalanya sembari tersenyum senang. Ia turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi. Hans duduk ditempat tidur dan menatap sekeliling kamar Selena. Jujur, kamar ini lebih luas daripada kamarnya karena ini adalah kamar utama.
“Apa kamar ini direnovasi saja ya…boleh juga, nanti kamarku akan pindah kemari”
Hans turun dari tempat tidur dan masuk kedalam kamarnya sendiri untuk membersihkan diri. Setelah siap Selena dan Hans langsung pergi tanpa makan terlebih dulu karena Hans mengajak untuk makan diluar.
__ADS_1
Selena menatap senang wahana bermain didepannya. Hans hanya bisa tersenyum melihat wajah senang istrinya, sesenang itu diajak kewahana bermain?.
“Bermainlah sepuasmu, jangan makan sembarangan”
Selena menganggukkan kepalanya, Selena menarik tangan Hans agar bersenang-senang bersamanya. Hans hanya bisa pasrah diseret masuk kedalam wahana oleh istrinya.
Di hari yang indah itu Hans dan Selena menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa yang mengiringi mereka. Saat malam menjelang Hans mengajak Selena ke hotel bintang 5 untuk dinner dan membersihkan diri.
Namun sebelum pulang kerumah Hans dan Selena terlebih dulu masuk kesebuah butik untuk membeli sesuatu.
“Yang ini bagus…”
“Iya…”
Hans mengambil 2 syal dan segera menuju kekasir untuk membayar. Hans memakaikan syal itu dileher Selena.
“Cuaca dingin, jangan sampai demam”
“Hem!”
“Hei, bagaimana kalau besok kita renovasi kamar? Kau mau?”
“Renovasi?”
“Iya, renovasi sesukamu. Belilah apapun yang kau perlukan”
“Okey!”
“Ayo pulang, cuaca semakin dingin”
.
.
.
__ADS_1