
WARNING!!!
18+
.
.
.
Selena memanggang daging sembari tertawa senang, halaman belakang gedung apartement mereka sewa untuk acara party BBQ. Tangan kanan Ruvelis, Jenssica, Leo, dan juga Daniel ikut berkumpul atas ajakan Selena.
Tuan Leonardo menatap heran cucunya yang tengah memanggang daging bersama dengan tangan kanan mendiang putrinya. Sungguh, ia pikir cucunya itu akan berhenti makan daging setelah memutilasi tubuh manusia. Tapi sepertinya dugaannya salah, cucunya malah begitu suka dengan daging.
Wei dan Rafindra menatap horror berbagai jenis daging yang tersedia diatas meja. Entah kenapa merea jadi membayangkan jika itu daging manusia yang baru saja dibunuh oleh Nona mereka. Nona mereka yang membunuh tapi merekalah yang anti memakan daging dari jenis apapun.
“Leo cium ini!! Ini benar-benar menggiurkan”
“Kau sepertinya sudah lapar, duduk dan makanlah terlebih dulu. Biar aku yang memasak daging untukmu” ucap Daniel mendekat hendak membantu Selena.
“Tidak mau, aku mau buat sendiri. Paman Raf! Ayo kemari, jangan jauh-jauh begitu!” ucap Selena.
“A-a, ti-tidak perlu Nona. Sa-saya disini saja” tolak Rafindra dengan lembut.
“Kalau begitu Wei! Ayo kemari! Daging ini benar-benar enak!”
William menatap heran kedua atasannya yang sama-sama menolak ajakan Selena untu memanggang daging. Apa kedua pria itu mempunyai trauma terhadap daging?.
Leo menahan tawanya melihat wajah Rafindra yang mulai memucat, ini pertama kalinya ia melihat Rafindra yang pucat hanya karena sebuah daging sapi.
“Leo ayo coba ini!” Selena membawakan sepiring BBQ untuk suaminya yang tengah bersantai sembari berbincang dengan Dion.
“Sayang…ini terlalu berlemak. Aku tidak suka” ucap Leo.
“Ayo makan, kalau tidak coba mana suka…ya? Mau ya?”
“Tidak, aku tidak suka”
“Untukku please…?” ucap Selena.
Leo membuka mulutnya dengan perasaan yang campur aduk, tapi jika memakan daging berlemak ini akan membuat istrinya senang. Tak pa lah, ia akan mencoba daging berlemak untuk pertama kali seumur hidupnya.
Selena tertawa senang melihat suaminya yang menerima suapan darinya. Ia pun kembali menjauh membuat Leo langsung mengeluarkan daging yang masih berada didalam mulutnya.
“Selena!!!!!!” Joe berteriak dan langsung memeluk Selena.
Selena tersentak kaget melihat edtanagan Joe yang secara tiba-tiba. Sejak pagi tidak bisa dihubunggi kenapa tiba-tiba bisa muncul disini?.
“Joe, sudah lama tidak bertemu”
“Huwaaaaa!!! Aku sangat merindukanmu!! Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja disana?”
“Ya, tentu saja aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu?” tanya Selena smebari tersenyum hangat.
“Huwaaaa, lihatlah aku. Daniel tidak memberiku uang sepeserpun saat dia pergi, Papa dan Mama juga tidak mau memberiku uang karena mereka bilang aku terlalu mengandalkan keluarga. Jadi aku harus mencari pekerjaan”
“Ha??” ucap Selena, Leo, dan Daniel bersamaan.
“Serius kau kerja?”
“Ya! Aku bekerja sembari kuliah, tubuhku rasanya remuk semua”
“Kau ini idiot sekali memang!! Kan sudah kubilang, jika mau beli apa-apa tinggal ambil biar tagihannya masuk ke kartuku!! Kau pakai otakmu tidak sih?!” kesal Daniel. Ya tuhan…bagaimana bisa ia punya sepupu gila seperti ini.
“Ya mana aku tau! Kau juga kan tidak bilang apa-apa tentang uang sebelum pergi!!”
“Ya makanya punya otak dipakai!! Sudah tau uangku tercecer di mana-mana tidak mau dipungut. Mampus kan kau kerja part time!”
“Kenapa kau malah mengejekku?!” kesal Joe.
“Inilah akibat jika Bibi mengindam besi 1 ton saat mengandungmu!! Sudah salah! Membantah pula! Ya tuhan…bagaimana bisa aku punya adik seperti dirimu” ucap Daniel.
“Ya terus kau mau apa sekarang?! Toh tidak mungkin kan aku kembali masuk kedalam perut Mama?!” semprot Joe.
“Mungkin!! Jadi lakukan sekarang!! Aku benar-benar sudah kesal meladenimu!! Bisa-bisanya kerja part time!! Kau ini mau mencoreng nama baikku atau bagaimana?!” kesal Daniel.
“Memang kapan namamu pernah baik?! Aku jadi ingin melihat reaksi wanita-wanita yang memujamu saat tau sifat aslimu!!”
“Dih?! Kau pikir aku peduli dengan wanita-wanita itu?! Kau juga! Sudah umur 19 tahun!! Masih mengandalkan uangku! Tidak punya pacar pula! Aku masih lumayan karena punya fans daripada kau?!”
“Dih?! Kenapa bahas itu?!”
“Ya memang kan?! Pria baru mendekat saja sudah kau tendang! Mampus jomblo!”
“Seperti kau tidak jomblo saja!” sinis Joe.
“Yang penting punya uang untuk happy-happy jadi untuk apa punya pacar? Kau sendiri bagaimana? Tidak ada uang, Selena, pacarpun tidak ada” ejek Daniel.
“Selena! Lihat Daniel!!” kesal Leo.
“Dih? Mengadu…dasar anak Mama”
“Daniel!!”
Selena hanya menggelengkan kepalanya melihat Daniel dan Joe yang tengah adu mulut. Kedua orang ini…jika bukan di situasi yang sedang saling membutuhkan pasti adu mulut.
Leo dengan spontan menangkap tubuh istrinya yang tiba-tiba lemas. Tuan Leonardo yang panik langsung mendekati cucunya. Semua tangan kanan yang berada disana langsung menunjukan wajah cemas mereka.
“Sayang?! Ada apa?! Apa perutmu keram lagi?!” ucap Leo.
“Tidak…aku hanya lelah…”
“Kau belum istirahat tadi siang, kalian lanjutkan saja. Aku akan membawa istriku kekamar”
“Jika butuh apa-apa, langsung panggil kami” ucap Tuan Leonardo dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena panik.
Leo menggendong istrinya masuk kedalam gedung apartement. Daniel mengerutkan keningnya, sepertinya…ada yang aneh dengan Selena.
Saat sudah sampai dikamar Leo membaringkan istrinya di tempat tidur, Selena langsung mengalungkan tangannya dileher suaminya sembari tersenyum.
__ADS_1
“Hehe…”
“Sa-sayang? Ka-kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja”
“A-ah?”
“Jika kau tidak pura-pura, kapan kita punya waktu berduanya? Kakek disini, ayo cepat…sebelum dia mengganggu kita lagi”
Leo menggigit bibir bawahnya. Selena menarik dasi suaminya membuat Leo langsung menopang tubuhnya agar tidak menindih perut istrinya yang membuncit.
“Tadi sudah gagal…aku tak ingin gagal lagi malam ini”
“Hmph, apa semenjak hamil gairah s*xmu meningkat hm?” ucap Leo.
“Siapa yang membuatku seperti ini?” bisik Selena seraya menggigit telinga suaminya.
Selena mendorong tubuh suaminya hingga jatuh berbaring, Selena menduduki celana Leo yang sudah mengembung membuat sebuah leguhan berhasil keluar dari mulut Leo.
Leo membulatkan matanya tatkala melihat istrinya tercintanya yang berusaha melepas pakaiannya sendiri.
“Huuuuu…ini sulit dibuka…aku tidak bisa membukanya Leo…” rengek Selena yang kesulitan melepaskan ikatan dipunggungnya. Inilah kenapa ia tidak pernah mau memakai pakaian dengan tali dipunggung!.
“Biar aku yang membukanya untukmu”
Leo bangkit dan menyesap leher istrinya membuat beberapa bekas merah disana. Tangan Leo dengan lihai melepaskan ikatan dipunggung istrinya. Selena menutup mulutnya tatkala tangan suaminya dengan sensual memainkan buah dadanya.
“Hnghhhh Leo ahhh…”
Tangan kiri Leo masuk kedalam rok yang dikenakan istrinya, Selena sontak terkejut mendapati tangan suaminya yang masuk kedalam area terlarangnya.
“Hghhhhhh…Leo…hmphhhh” Selena memeluk punggung suaminya dengan erat, Leo menciumi telinga istrinya sembari memainkan jarinya didalam sana.
“Akhhhhhh…”
Leo tersenyum puas tatkala melihat istrinya yang sudah mendapatkan klimax pertamanya. Mata hangat Leo bertatapan langsung dengan mata jade dingin Selena. Leo mencium lembut bibir marum istrinya, Selena membalas ciuman yang diberikan suaminya.
Ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman penuh gairah seiring berjalannya waktu, Leo yang tidak bisa menahannya lagi langsung melepaskan ****** ***** istrinya dan membaringkan tubuh itu.
“Apa kau merasa nyaman sayang?” ujar Leo sensual.
“Aku lebih nyaman di posisi tadi”
Leo tersenyum, ia menarik tubuh istrinya hingga posisi mereka saling duduk berhadapan.
“Jangan salahkan aku jika aku sedikit liar malam ini”
“A-apa?”
*********
Selena menahan dada suaminya yang masih terus memacu gerakannya. Leo dengan nafasnya yang tersengal-sengal menatap mata istrinya. Ia mencium bibir istrinya dan kembali menggerakan pinggulnya.
“Ah ah…hgnnnnn…ahhhhh Leo…berhenti…”
“I want more…more…”
“Sudah…sudah cukup…itu sudah yang ke-8…aku tidak sanggup lagi”
“Sekali lagi sayang…” bujuk Leo sembari ******* putting istrinya.
“Hghhhhh…tidak…kita masih punya keperluan besok…tidak baik jika kau terlalu sering melakukannya” ucap Selena seraya membujuk suaminya yang masih ingin bermain lagi. Ia benar-benar akan pingsan jika suaminya masih tak mau berhenti, ia tak kuat…ia benar-benar sudah diambang batasnya. Ini pertama kalinya sejak ia menikah dengan Leo suaminya ini tak mau memberikan jeda untuknya beristirahat.
“Hnghhhh…” Selena menutup mulutnya diikuti tubuh yang mengelinjang hebat, Leo menahan punggung istrinya dan kembali menggerakan pinggulnya.
“S-stoppp…p-please…”
“Hanya sekali lagi sayang…bertahanlah…setelah itu kau bisa tidur sepuasmu” bisik Leo.
Bibir Selena dan Leo kembali bertemu Selena meremas rambut belakang suaminya. Apa ia harus menunggu 40 menit lagi untuk bisa tidur nyenyak? Ya tuhan…sudah jam 4 pagi…ia ingin tidur. Ia benar-benar salah besar sudah menggoda suaminya tadi malam.
>>>>>
Leo membaringkan tubuhnya disamping istrinya setelah mendapatkan klimaxnya, ia membelai wajah lelah istrinya lalu dengan perlahan mengecup seluruh permukaan wajah rupawan itu. Selena mengerakan tubuhnya untuk memeluk tubuh telanjang suaminya.
“Kenapa hm?”
“Kau begitu buas ditempat tidur, jadi katakan! Wanita mana saja yang sudah kau mainkan?” ucap Selena.
“Hmmmmm katakan tidak ya…”
“Leo…” ucap Selena mulai kesal.
“Hahahaha, aku hanya bercanda sayang. Mana mungkin ada perempuan lain yang menjadi milikku selain dirimu” ucap Leo mencium pipi chubby istrinya.
“Lalu bagaimana bisa kau liar seperti ini jika tidak punya pengalaman?”
Leo menelan ludahnya mendengar ucapan istrinya, duh…mau jujur tapi ia benar-benar malu. Apalagi istrinya pasti tidak akan mengerti apa maksudnya.
“Sayang ayo tidur sekarang, tadi katanya lelah” ucap Leo seraya membelai kepala istrinya.
“Hummmm Okey…”
Selena menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya dan terlelap dengan perlahan, Leo mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.
“Ini yang terakhir dariku untukmu…”
.
.
.
At Cambridge – Amerika serikat, 11.00 AM!
Leo membuka matanya dengan perlahan, sinar matahari masuk melalui jendela yang sudah terbuka. Leo bangkit dan memegangi kepalanya yang kembali berdenyit nyeri. Leo memalingkan rasa sakitnya dengan menatap wajah tidur istrinya.
“Baby…wake up…” bisik Leo.
__ADS_1
“Hmmmm…biarkan aku tidur lagi sayang…tubuhku sakit semua”
“Tidak mau ke mall?”
“Bosan…disini saja…tidak mau kemana-mana”
“Mau makan dimsum?”
Selena langsung membuka matanya, ack! Sial…tubuhnya sakit semua. Ya tuhan…ia bersumpah bahwa kemarin malam adalah kali terakhirnya ia menggoda Leo. Ia tak akan menggoda suaminya lagi kedepannya.
Leo menyibakan selimut yang menutupi tubuh istrinya dan langsung menggendong istrinya masuk kedalam kamar mandi. Leo mengisi bathtube menggunakan air hangat dan meletakkan istrinya didalam sana.
Leo membelai lembut perut istrinya sesekali mencium pelipis mata istrinya.
“Leo…jangan cium lagi…aku mau mandi…”
“Kumandikan”
Leo masuk kedalam bathtube dan memandikan istrinya, disaat Leo memandikan Selena si empu dengan senangnya memainkan busa dan gelembung yang memenuhi bathtube.
Leo tersenyum hangat melihat istrinya yang seperti seorang anak kecil. Setelah selesai membersihkan diri Leo membawa istrinya ke tempat tidur dan memakaikan pakaian ditubuh kecil itu.
“Mau pesan atau langsung ke restaurantnya?”
“Kakek sedang disini, lebih baik pesan saja”
Leo menganggukkan kepalanya dan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Sekretarisnya untuk dibelikan beberapa kotak dimsum untuk istrinya.
Tok tok tok…
“Siapa?”
“Kalian sudah bangun?”
“Kenapa Daniel?” tanya Selena.
“Aku membuat pangsit, kalian mau?”
“Mau!!!! Sebentar!!! Sebentar lagi aku turun!!!”
Leo segera memakai pakaiannya dan menggendong istrinya keluar dari kamar. Keluarnya Leo dan Selena membuat semua mata menatap kearah kedua sepasang suami istri yang baru keluar dari kamar.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Tuan Leonardo sembari menatap khawatir cucunya.
“Benar-benar dianggap serius alasanku kemarin…”
“Su-sudah lebih baik…
“Sudah lebih baik tapi tidak bisa jalan sendiri kah?” tanya Daniel langsung mendapatkan lemparan sepatu dari Joe.
Selena langsung menyembunyikan wajahnya dileher Leo karena malu atas perkataan Daniel, ia baru sadar jika kamar Daniel berada tepat disebelah kamar Leo. Tapi untungnya kamar Leo sudah kedap suara. Jadi tidak mungkin bukan jika Daniel bisa mendengar desahannya kemarin?.
“Tu-turunkan aku”
“Memang bisa jalan?” tanya Leo.
“Jangan bicara lagi! Cepat turunkan aku!” malu Selena.
Leo mematuhi istrinya, ia menurunkan tubuh istrinya namun disaat itu juga tubuh Selena langsung terduduk membuat Leo langsung menggendong istrinya kembali.
“Tuh kan, sudah…biar kugendong saja”
“Ka-kakiku be-benar lemas?” batin Selena tak percaya.
Leo membawa istrinya menuruni tangga dan mendudukannnya disebelah Tuan besar Leonardo. Tak berselang lama Daniel datang membawakan dua buah mangkuk berisikan pangsit.
Selena menatap berbinar semangkuk pangsit itu, namun saat hendak mengambil mangkuk itu dari tangan Daniel, Tuan Leonardo terlebih dulu mengambilnya.
“Kakek…” kesal Selena.
“Kau tidak pernah bisa makan pangsit dengan benar sebelumnya, biar kakek suapi. Buka mulutmu”
Selena membuka mulutnya membuat Tuan Leonardo langsung memasukkan pangsit kedalam mulut cucunya.
“Kunyah, jangan langsung ditelan” ucap Tuan Leonardo, terakhir kali cucunya memakan pangsit langsung ditelan tanpa dikunyah dan itu langsung membuat panik seisi mansionnya.
“Oh ya Selena, kapan kau kembali ke kamp?” tanya Joe.
“Hm? Tidak tau, kenapa memangnya?”
“Aku ingin mengajakmu ke toko kue! Aku yang traktir!”
“Benarkah? Kau punya uang?” tanya Selena sembari tersenyum.
“Tentu saja! Jadi bagaimana kalau nanti siang kita pergi?”
“Boleh, Paman Raf. Kita terbang nanti malam saja” ucap Selena.
“Tapi Jenderal besar bilang…”
“Nanti biar aku yang menangani Paman Hendrick” ucap Selena membuat Rafindra mau tidak mau menjalankan perintah Nonanya.
“Kakek dengar dari Opamu, kau membuat Hendrick menjadi pengangguran ya?” ucap Tuan Leonardo.
“Iya kakek…Paman jadi santai-santaian saat aku masuk kamp. Semua tugasnya diberikan kepadaku, tapi Paman masih dapat uang dari Opa…kan curang, seharusnya tidak dapat…” adu Selena.
“Ya…pekerjaan yang diberikan Hendrick itu adalah pekerjaanmu dan juga pekerjaan Papamu. Tugas utama Hendrick adalah mengawasi dan memastikan agar semua kamp tetap stabil. Yang memegang kekuasaan penuh adalah Papamu, jadi…kau harus belajar cara menangani pekerjaan Papamu juga”
“Haish…aku jadi tidak punya waktu untuk ikut latihan dengan Paman Alexandra”
“Sedang hamil begini kau masih mau latihan?”
“Ya…begitulah. Kemampuanku bisa-bisa menurun jika aku terus ditimbun pekerjaan Papa”
Brakkkkkkk!!!
“Selena!!!!!”
.
__ADS_1
.
.