
.
.
.
Daniel dan Joe dengan seksama mendengarkan pembicaraan keluarga Georgino dari ruangan yang berada tepat disebelah ruangan yang sedang mereka gunakan. Di lantai 4 ini…tak ada satupun ruangan yang kedap suara karena pada dasarya, club ini adalah sumber berita yang banyak dicari oleh orang-orang. Kalangan keluarga ternama sering mengunjungi club ini untuk membahas rencana maupun bermain gila bersama dengan wanita-wanita yang berada di lantai dasar.
“Semakin hari semakin sulit untuk kita membunuh wanita sial*n itu, apalagi dia sekarang menjadi Nyonya muda keluarga Iskandar”
“Benar, entah apa yang wanita itu perbuat sampai-sampai Tuan muda Iskandar terpikat kepadanya”
“Kita harus menyurus ulang rencana kita”
“Aku punya ide, bagaimana kalau kita…”
“……”
“Ide bagus! Itu ide yang bagus! Mari kita lakukan besok, terlebih lagi kudengar jala*g itu sedang berada di rumah sakit”
Daniel dan Joe saling melirik, Daniel berdiri dan keluar dari ruangan mewah nan luas itu. Ia berjalan ke ruangan yang berada di sampingnya, ia menepuk bahu salah satu bodyguard yang sedang berjaga.
“Kau sudah merekamnya? Berikan kepadaku” ucap Daniel.
“Ini Master” salah satu bodyguard memberikan sebuah bulpoint kepada Daniel. Daniel memasukkan bulpoint itu kedalam saku jaznya. Satu lagi, satu lagi hal yang akan ia gunakan untuk menjerat keluarga Georgino.
“Terus awasi keluarga Georgino, pantau terus setiap kegiatan yang mereka lakukan. Dan laporkan kepadaku”
“Baik Master”
Daniel kembali keruangannya, beberapa hari yang lalu ia sengaja meletakkan beberapa mata-mata yang menyamar sebagai bodyguard keluarga Georgino. Dan hal itu berguna juga, untung saja keluarga Georgino tak menyadari keberadaan orang-orangnya.
Daniel mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubungi Sekretaris Leo. Hm? Tumben sekali Sekretaris Leo tidak mengangkat telfonnya, biasanya langsung diangkat dalam hitungan detik.
“Daniel, ini telfon dari Alex”
“Alex? Ada apa?” tanya Daniel langsung mengambil ponsel milik Joe. Kenapa pria itu tiba-tiba menelfon?.
“Ada apa Alex?”
“Kau sedang di mana?”
“Aku ada di club, kenapa? Apa Selena menginginkan sesuatu?”
“Tidak…teman-temanmu ingin bertemu denganmu”
“Ha? Untuk apa?”
“Aku tidak tau, jika kau ada waktu aku akan membawa mereka ke club yang kau datangi saat ini”
__ADS_1
“Hah…bawa saja mereka kemari, aku sedang mengawasi keluarga Georgino”
“Oh, club mana?”
“Club milik Joshua”
“Okey…”
Tut…
“Ada apa?” tanya Joe.
“Kau kembalilah kerumah sakit, temani Selena. Jangan sampai terjadi apa-apa kepadanya”
“Baiklah”
Joe keluar dari ruangan itu, Daniel mengibaskan tangannya meminta bodyguardnya untuk keluar dari ruangan itu. para bodyguard menganggukkan kepala mereka, mereka berjaga diluar ruangan itu.
Daniel meminum teh yang ia pesan, ia lebih suka minum teh daripada meminum minuman alkohol. Bisa dibilang ia juga membenci minuman alkohol dan juga rokok.
Tak berselang lama 11 pemuda masuk kedalam ruangan itu dengan senyuman mereka termasuk Alex. Daniel memutar bola matanya jengah, setan-setan ini lagi…
“Yo! Sudah lama tidak bertemu!”
Daniel langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, pria-pria itu seketika menutup mulut mereka dan duduk di sofa yang ada setelah itu memesan makanan dan minuman.
“Mereka sudah pergi?”
“Ada apa?”
“Hei hei hei, kita itu sudah lama tidak bertemu. Kenapa reaksimu seperti tidak senang seperti itu?” teman Daniel yang bernama Zeeyu berucap dengan nada kesal.
“Wajarlah dia tidak senang, kau menyita waktunya untuk wanita yang di cintainya” jawab pria bernama Martin, dia teman sekaligus dokter pribadi milik Daniel.
“Ehhh?!!!! Kau menyukai seorang wanita?!!!” teman-teman Daniel berucap tak percaya kecuali Alex yang hanya menahan tawanya. Sejak dulu mereka berpikiran bahwa Daniel tidak tertarik dengan wanita, maka dari itu kabar ini benar-benar membuat mereka terkejut.
“Kenapa aku merasa kalian sedang mengejekku?!” kesal Daniel.
“Bukan begitu, selama ini kau begitu kejam kepada wanita. Karena Martin bilang kau menyukai seorang wanita, itu membuat kami terkejut” jawab salah satunya.
“Tapi, apa wanita itu cantik?! Dari keluarga mana dia?!” tanya Derian.
“Tentu saja dia cantik, ia berpendidikan tinggi, dia juga pintar dalam segala hal”
“Nah bagus! Langsung nikahi saja! Jangan banyak basa-basi, daripada nanti direbut pria lain”
Daniel mengerutkan keningnya, direbut pria lain? Yang ada ia yang merebut Selena dari Leo! Tapi wajar jika teman-temannya berpikiran seperti itu, mereka tidak tau jika ia menyukai istri orang.
“Dan juga kalian tau? Daniel memberikan 3 liter darahnya kepada wanita itu saat wanita itu kehilangan banyak darah! Tentu saja aku tidak bisa menerimanya! Jika saja Daniel tidak rutin mendonorkan darahnya, maka dia tidak akan bisa hidup sampai saat ini!” jawab Martin.
__ADS_1
“Wah, gila sekali kau Daniel…”
“Cih, kalian seperti tidak pernah mencintai seorang wanita saja” cibir Daniel. Toh hanya darah kan? Jika perlu nyawa akan ia berikan.
“Kau sudah seperti itu, kenapa tidak langsung nikahi saja? Jangan-jangan kau belum siap mental ya?”
“Bukan…”
“Lalu kenapa kau masih belum menikahinya?!”
“Dia istri orang, ya bagaimana aku mau menikahinya. Apa kau ingin aku menjadi simpanannya?”
“Ha????????????????”
Alex menahan tawanya melihat wajah blank teman-temannya. Jawaban Daniel santai begitu pantas saja pria-pria ini tak mampu bereaksi apa-apa.
“Tunggu…kau menyukai istri orang?! Bagaimana bisa kau melakukan hal itu?!”
“Pernah dengar kata-kata ‘istri orang lebih menggoda tidak?’ ya itulah Daniel, jatuh cinta kepada istri orang” jawab Alex.
Daniel menatap kesal Alex. Kenapa pria itu berbicara seolah-olah Alex baru tau jika Selena sudah bersuami?! Buat kesal saja.
“Tapi suaminya berada di kamp selama 3 tahun kedepan”
“Nah itu bagus! Kau bisa mendapatkan wanita itu selama tidak ada pemiliknya. Apa kau sudah menyatakan perasaanmu?” tanya Derian.
“Belum, tapi sepertinya dia nyaman bersamaku”
“Kenapa begitu?!” kesal Derian, pria ini bodoh atau bagaimana? Sudah tau ada kesempatan bagus masa mau dilewatkan begitu saja? Ia ingin melihat Daniel menikah sebelum ia menikah!.
“Kalian ingin aku menyatakan perasaanku?” tanya Daniel dan dibalas anggukan oleh semuanya.
“Lalu? Jika dia tidak menyukaiku bagaimana? Perasaan tidak bisa dipaksakan, jika aku mengungkapkan perasaanku dan dia menolaknya…maka itu hanya akan menjadi sebuah jurang untuk kedekatan kami selama ini. Dia merasa nyaman berada di dekatku selama ini, lalu kalian ingin aku menghancurkannya hanya dengan kata-kata ‘Aku menyukaimu’ begitu? Aku mungkin mencintainya, tapi dia sudah memiliki suami yang sangat dia cintai. Pria itu memperlakukannya sangat baik seperti seorang Ratu, suaminya mempercayakan istrinya kepadaku dan kalian ingin aku membuatnya risih hanya karena aku mengungkapkan perasaanku? Maaf…lebih baik aku mencintai dalam diam daripada aku harus menghancurkan kedekatan kami hanya dengan 2 buah kata” jawab Daniel sembari menatap foto Selena yang menjadi wallpaper ponselnya.
Teman-teman Daniel terdiam mendengar penuturan yang keluar dari mulut Daniel. Mereka akui, Daniel memiliki pikiran yang dewasa. Tapi haruskah pria ini mencintai wanita yang sudah menjadi istri orang? Apa pria ini tidak bisa menyukai wanita single? Mereka tidak tega melihat Daniel yang seperti ini. Daniel sangat membenci wanita, entah mengapa hal itu bisa terjadi. Dan sekarang Daniel menyukai wanita yang sudah menjadi istri orang?.
“Hemmm bisa kau pertemukan kami dengan wanita itu? Kami ingin melihat seperti apa dia?”
“Besok, besok aku akan mengajak kalian bertemu dengannya. Dia menjadi pasien Alex untuk saat ini”
“Hah?!”
“Kau ini bocah ingusan! Kenapa kau tidak memberitauku tentang hal ini?! Kau mau mati huh?!” kesal Martin menarik dasi Alex.
“Apa salahku?! Lagipula kau tidak pernah bertanya kepadaku kan?!”kesal Alex.
.
.
__ADS_1
.