
.
.
.
Daniel membuka pintu rumah Selena menggunakan keycard yang diam-diam ia ambil saat Selena sudah tertidur kemarin. Daniel tersenyum melihat Selena yang tengah terlelap di sofa dengan posisi duduk dengan tangan yang terlipat. Cantiknya…
Daniel menyentuh pipi Selena membuat wanita itu langsung terbangun dari tidurnya.
“Aku membawakanmu makan siang dan jus, mau makan bersama?”
“Kau tidak bekerja? Bagaimana nasib perusahaanmu jika Direkturnya disini mengurusku?”
“Aku punya banysk bawahan, sudah jangan dipikirkan. Ayo makanlah, setelah itu minum vitamintmu. Apa…luka caesarmu masih terasa sakit?”
“Terkadang”
“Besok kubawa kau periksa kerumah sakit”
Tak mau urusan menjadi semakin panjang membuat Selena hanya menganggukkan kepalanya. Daniel tersenyum, ia meletakkan makanan diatas meja dan memakannya bersama dengan Selena.
“Daniel”
“Ya?”
“Kau punya pujaan hati bukan? Kau juga punya tunangan, tapi kenapa aku tak pernah melihatmu menghubungi pujaan hatimu itu? Bahkan bisa dilihat, kau menghabiskan waktumu bersamaku. Apa…”
Glek…
“A-ah, dia sedang sibuk dengan urusannya. Dia punya masalah dan tak mau aku ikut campur, jadi dia memblokir nomorku untuk sementara waktu” jawab Daniel sembari mengangkat kedua bahunya.
“Ah, kau pasti mencoba mempermainkanku. Di ponselmu, tidak ada nomor lain selain nomor yang juga terdapat di ponselku”
Duhhhhhh, mau jawab apa sekarang?.
“Kau tidak punya kan? Jangan-jangan kau Gay?”
“Sembarangan!! Begini-begini aku masih suka wanita Okey?!”
“Mana buktinya”
“Lupakan, makan saja makananmu”
Selena menatap intens Daniel yang tengah memakan makananya dengan raut wajah yang sulit untuk ia artikan. Ia benar-benar ingin tau apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu, dan ia ingin tau seperti apa sosok yang sudah berhasil mendapatkan hati seorang Tuan muda Jasson yang terkenal dengan ‘Anti wanita’.
“Besok kau tidak perlu datang kemari Daniel”
“Cough!! Kenapa?!” ucap Daniel langsung tersedak makanannya.
“Urusanku disini sudah selesai, untuk apa aku tinggal?”
“Hah?! Lalu mau kau apakah rumah ini?!”
“Akan kuberikan kepada kurir, maybe?”
“Lalu kau mau tinggal di mana?”
“Kolong jembatan”
“Kau yang serius?!” kesal Daniel.
“Ya beli rumah lagi lah! Begitu saja tanya!”
“Bukan, maksudku. Kau tinggal disini baru beberapa hari dan sudah mau pindah?”
“Sudah kubilang urusanku disini sudah selesai, untuk apa tinggal lebih lama?”
Daniel tercengang, gadis didepannya ini membeli rumah hanya untuk beberapa hari ditempati? Ini kawasan elite! Kenapa tidak menyewa saja jika tidak ingin menetap?!.
“Ah, aku sempat lupa kalau kau anak keluarga Alexandra”
“Itu tau”
“Kau berniat pindah kemana? Biar aku carikan”
“Mansionmu”
“Kau sudah menerima anak-anak?!” tanya Daniel berinar.
“Bukankah mereka ada dirumah sakit? Jauhkan mereka dariku untuk saat ini”
Mendengar ucapan Selena membuat raut wajah Daniel kembali muram, Selena mengerutkan keningnya…merasa aneh dengan sikap Daniel yang semakin lama semakin berbeda dari awal mereka bertemu.
“Aku akan pergi, habiskan makananmu”
Daniel memakai coat yang sebelumnya sempat ia lepas dan pergi begitu saja dari rumah Selena. Selena pun ikut menghentikan acara makannya.
“Kemarilah”
Beberapa orang pria dengan seragam serba hitam masuk kedalam rumah Selena dan membungkuk hormat kepada sang empu.
“Sudah lengkap?”
“Semuanya sudah siap Master!”
Selena berdiri dan membuka brangkar, mengeluarkan dokumen-dokumen dan diberikannya kepada orang-orang itu. Beberapa pria itu kembali membungkuk sebelum menerima barang dari Selena.
“Amankan bukti dan saksi, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan”
“Siap laksanakan!”
“Pergilah, jangan sampai Opa maupun kakek dan Paman mengetahui keberadaan kalian”
“Baik!”
Pria-pria itu langsung pergi dari rumah Selena, Selena menghembuskan nafasnya. Ia membereskan makanan yang ada dimeja setelah itu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai Selena langsung bersiap untuk pergi kerumah sakit menggunakan mobil yang ditinggalkan beberapa orang tadi.
>>>>>>>
Rumah sakit
Selena masuk kedalam rumah sakit, mengacuhkan orang-orang yang memberikan salam kepadanya. Ia menuju meja administrasi, dan bertanya di mana keberadaan Micle serta Bei. Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan kedua orang itu Selena langsung menuju tempat yang ditunjukan.
“Selena!” Louis yang berada didepan ruangan Leon dan Leona langsung berdiri melihat keberadaan Selena.
“Kenapa Paman disini?”
“A-ah, Paman sedang menggantikan Asahi berjaga. Apa kau ingin menemui kembar?” tanya Louis mendekati keponakannya.
“Tidak”
Micle keluar dari ruangan kembar, menatap terkejut Selena yang sudah ada di depan ruangan anaknya. Dengan perasaan campur aduk Micle mendekati Selena sembari memberikan salam.
“Berikan rekap medis milik Leo”
Degh!
Micle dan Louis seketika terkejut mengetahui alasan mengapa Selena tiba-tiba datang kemari.
“Perlu aku yang mencarinya sendiri?”
Micle masih tetap diam ditempatnya, ya tuhan…apa harus ia memberikan hasil itu kepada Nonanya? Jika Nonanya tiba-tiba marah nanti bagaimana?.
“Micle”
“Ya?!”
__ADS_1
“Perlu kubakar jazmu sekarang? Dihadapanmu?” dingin Selena.
Micle langsung tersentak kaget mendengar ucapan dingin Selena, jaznya…akan dibakar? Itu berarti, ia harus mengundurkan diri dari sisi Selena untuk sementara waktu? Dan ia juga harus kembali belajar dikediaman Leonardo?.
“Lepaskan jazmu”
“Ti-tidak…saya tak ingin melepasnya”
“Kalau begitu berikan rekap medisnya”
Dengan berat hati Micle pergi untuk mengambilkan rekap medis milik Leo walaupun sebelumnya ia sudah diperingatkan Hendrick agar Selena tidak sampai tau mengenai penyakit yang diderita Leo.
Dengan tangan yang gemetar hebat Micle memberikan hasil kerap itu kepada Selena membuat dahi Louis langsung dipenuhi keringat dingin. Duhhhhh…Papanya sedang tidak ada disini, Rafindra juga tidak ada. Kalau keponakannya mengamuk siapa yang akan menangani?.
Selena membuka hasil rekap itu, membaca dengan teliti keseluruhan isinya. Namun kedua kakinya langsung gemetar saat mengetahui penyakit apa yang bersarang di tubuh suaminya.
“Selain kalian berdua, siapa yang sudah mengetahui penyakit ini?”
Micle dan Louis sama-sama diam tak bisa menjawab pertanyaan Selena, kedua pria itu bingung harus menjawab apa. Apa mereka harus menjawab yang sejujurnya? Apa mereka akan mati setelah menjawabnya?.
“Ah, sepertinya Paman yang lain juga tau mengenai ini”
Selena membalik badannya dan masuk kedalam lift, disaat Micle dan Louis hendak berlari mengejar tiba-tiba suara tangisan nyaring terdengar dari ruang bayi. Louis menggigit bibir bawahnya, ia hanya bisa berharap semoga kakak dan adiknya bisa menangani Selena.
.
.
.
Saat sampai di mansion Daniel Selena langsung membuka pintu dengan keras, mengejutkan orang-orang didalamnya. Semua orang yang ada disana langsung berdiri ketika melihat Selena yang datang dengan wajah piasnya, menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja.
Selena membanting hasil rekap media itu di atas meja, Hendrick dan lainnya langsung gemetar. Sial*n…apa Micle membiarkan Selena mengetahui ini?.
“Kanker otak stadium 3, kanker hati stadium akhir, radang paru-paru, dan juga leukimia. Katakan apa lagi yang kalian sembunyikan dariku”
“Se-selena…”
“Suamiku mengidap penyakit seperti dan kalian menyembunyikannya dariku? Kalian anggap aku apa? Bahkan ini sudah berlangsung selama 2 tahun”
“Ini…”
“Leo suamiku. Aku berhak tau apa yang tengah dialaminya! Dan kalian, malah menyembunyikan ini dariku?”
“Nona…” ucap Rafindra.
Selena menghapus air matanya yang hendak mengalir keluar, kecewa…kali ini ia benar-benar merasakan kekecewaan yang amat besar terhadap orang-orang dihadapannya ini.
“Sudahlah, percuma. Ucapanku tak akan berguna, suamiku juga sudah tidak ada. Untuk apa aku membahas ini lagi?”
“Selena, Paman bisa jelaskan ini” ucap Deon.
“Shut up! Jangan bicara Paman, pikiranku sedang tidak jernih”
“Paman Raf”
“Saya disini Nona”
“Bereskan barang-barangku yang ada dikediaman utama. Pindahkan Leon, Leona dan Ryu. Aku akan pindah ke Swiss”
Saat Selena hendak beranjak pergi Lewis mencekal tangan kecil itu dan membalik tubuh Selena hingga berhadapan dengannya.
“Kau mau pergi? Dengan kondisi seperti ini? Kita bisa bicarakan ini baik-baik Okey? Jangan seperti ini…”
“Bicara baik-baik? Bisakah?”
“Sekarang terserah, Paman mau melakukan apa terserah. Aku lelah, aku ingin istirahat…aku tak akan menghalangi Paman lagi untuk melakukan sesuatu. Masalah kamp, serahkan saja kepada orang lain…aku tak mau ikut campur lagi” ucap Selena melepaskan cekalan Lewis.
“Tunggu Selena!!” suara Hendrick kini membuat Selena yang hendak pergi kembali terhenti. Hendrick berjalan menghampiri Selena dan menggenggam salah satu tangan keponakannya itu.
“Paman akui Paman salah karena menyembunyikan ini darimu! Tapi Paman tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukan ini! Paman tidak ingin kau khawatir, sekarang tolong jerihkan pikiranmu. Menetaplah, biarkan kami membantumu menjaga anak-anak” ucap Hendrick.
“Bagus jika Paman tau kesalahan Paman. Tapi maaf, aku tetap ingin pergi. Sekarang terserah Paman Raf, Paman ingin ikut aku atau tetap disini”
“Sudah, siapkan saja semua hal yang diperlukan anak-anak. Aku ingin menjernihkan pikiranku, jadi…jangan ganggu aku”
Selena pergi begitu saja meninggalkan keheningan di mansion megah itu. Para Alexandra mengacak rambutnya frustasi, sial*n…jika sudah seperti ini tak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Tapi mereka bersyukur karena Selena mengatakan kemana dia akan pergi tidak seperti sebelumnya.
“Saya permisi” ucap Rafindra mengikuti Selena pergi.
“Minta orang mengikuti mereka, jangan sampai Selena kenapa-napa” ucap Hendrick dan Jeff bersamaan.
.
.
.
Daniel berlari memasuki bandara, matanya dengan panik mencari keberadaan orang yang dicintainya. Matanya terkunci menatap sosok yang tengah bermain ponsel dikursi tunggu. Ia segera berlari menghampiri wanita yang dicintainya itu.
“Selena!”
Selena berdiri dari tempat duduknya dan menoleh, menatap Daniel yang datang dengan nafas tersengal-sengal. Daniel langsung memeluk Selena, memeluk dengan begitu erat hingga di empu kesusahan untuk bernafas.
“Kau mau kemana?” tanyanya penuh dengan kekhawatiran.
“Aku ingin pergi sebentar, jaga dirimu baik-baik disini”
“Aku ikut ya, aku takut kau kenapa-napa”
“Tak perlu, ada Paman Raf. Sudah, pesawatku akan take off”
“Jangan seperti ini, daya tahan tubuh anak-anak belum sempurna. Setidaknya-”
“Aku pergi, jangan ikuti aku”
Selena melepaskan tangan Daniel dan segera masuk kedalam pesawatnya, Daniel menatap hampa kepergian Selena. Ia kesepian lagi sekarang, lalu untuk apa ia berada di Negara ini jika Selena saja tidak ada? Haruskah ia ikut mengambil penerbangan ke Swiss? Tapi jika itu malah memperburuk suasana hati Selena bagaimana?.
“Tuan muda…” tangan kanan Daniel menepuk bahu Tuan mudanya, menyadarkan Daniel dari lamunannya.
“Minta orang mengawasi Selena”
“Baik…saya akan menyiapkannya”
Swiss mungkin tidak terlalu jauh dari sini, tapi masalahnya ia juga tidak bisa menetap selamanya disini! Ia harus kembali ke A.S, ia juga punya urusannya disana.
Ting!
Daniel menatap ponselnya yang mendapat pesan masuk dari grup chat yang berisikan teman-teman biadabnya.
|| Hei kalian semua, sudah lama tidak bertemu. Mau reunian? ||
|| Boleh, agendakan! ||
|| Nanti malam bagaimana? ||
|| Aku siap kapan aja ||
|| Deal nanti malam Okey? @You, kau bagaimana? Ikut tidak? ||
|| @You, kau ikutlah. Sudah tidak pernah ikut, awas saja kalau kali ini kau tidak ikut ||
|| Benar, kita datangi mansion @You saja jika dia tidak ikut ||
Daniel menghembuskan nafasnya, terpaksa ia harus ikut kali ini. Ia tak mau mansionnya jadi kandang kuda jika sampai teman-temannya ini datang.
| Aku sedang di Amsterdam\, pilih tempat yang dekat untukku |
|| Bagaimana jika Den Haag?, akan kukirimkan tempatnya nanti ||
__ADS_1
|| Gasssss ||
| Ok |
Chat end…
>>>>>>
Teman-teman Daniel menatap heran sang empu yang terlihat murung, pria itu hanya memandangi makanan dan minuman yang ia pesan tanpa mau menyentuhnya. Bahkan sejak datang pria itu belum bicara apa-apa.
“Hei bro, kau kenapa?” tanya salah satunya kepada Daniel.
“Iya, kau murung begitu. Kenapa? Putus dengan pacarmu? Memalukan” ejek yang lainnya.
“Dia marah kepadaku, padahal aku tidak tau apa-apa”
Pria-pria itu seketika tercengang, hehhhhhhh!! Mereka tadi hanya bercanda! Tapi siapa sangka seorang Tuan muda Jasson benar-benar bisa dibuat seperti ini oleh seorang wanita?! Wahhh wahhhhh, mereka jadi ingin melihat siapa wanita itu.
“Hei sudahlah, wanita memang seperti itu. Susah menebak isi hatinya”
“Cih, masalahnya dia bawa anak-anak! Dia baru menjadi Ibu! Dia tidak punya pengalaman mengurus bayi! Aku takut dia kuwalahan meladeni anak-anak!”
Pria-pria itu kembali blank, WHAT?!!!! ANAK?! Daniel punya anak?! Gila!! Pria ini tak pernah menyentuh wanita manapun tapi sekali sentuh langsung hamil?! Hebatnya!.
“Gila kau Daniel, kalian sudah punya anak?! Wah wah wah, kena kartu merah kau!!”
Daniel menatap heran teman-temannya, oh…ia baru ingat jika mereka belum tau siapa Selena. Tapi lebih baik seperti ini, biar anak-anak Leo dikenal sebagai anaknya.
“Kau melakukan apa sampai mendapatkan jackpot huh?”
“Apa sih?!” kesal Daniel.
Daniel meminum kopi yang ia pesan, ia akan menghubungi Selena saat sudah kembali ke mansionnya nanti. Ia benar-benar berharap semoga Selena secepatnya kembali, ia kasihan melihat para Alexandra yang hampir gila.
“Oh ya Daniel, apa Joe sudah memperkenalkan Alex kepada keluarga Jasson?”
“Ha? Apa?!”
“Kau belum tau, bulan lalu Alex melamar Joe”
Daniel blank, Alex melamar Joe?! Dan kedua orang itu menyembunyikan ini darinya?! Dan sejak kapan ke-2 orang itu punya perasaan satu sama lain?! Biasanya ketika bertemu seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur!.
Daniel mengambil ponselnya, menelfon Joe.
“Dasar bocah sial*n!! Alex melamarmu kenapa tidak bilang kepadaku?!”
“Hehe…habisnya kau terlihat sibuk dengan Leon dan Leona. Oh ya, darimana kau tau? Aku ingin memberitaumu saat acara keluarga nanti”
“Kau berniat membawa Alex dan memperkenalkannya di acara itu?”
“Iya, kenapa? Ada yang salah”
“Jangan, aku akan membawa Selena untuk membatalkan pertunanganku. Lain waktu saja kau bawa Alex”
“Ohhhhh, baiklah”
“Dan bilang kepada Alex, jika dia hanya ingin main-main. Akan kupatahkan kakinya”
Tut…
Daniel menyibakkan rambutnya kebelakang dan menyandarkan tubuhnya, ia menatap wanita-wanita yang sedang menuangkan wine di gelas teman-temannya. Cih…memuakkan.
“Daniel, kenapa kau mau membatalkan pertunanganmu? Nona keluarga River kan cantik dan pintar, lagipula kulihat…dia juga berpotensi mewarisi kekayaan keluarganya. Yakin?”
“Untuk apa aku menikahi wanita yang tidak berguna untukku? Lagipula aku sudah punya anak”
“Kau memang gila! Hei kalian! Ayo taruhan, jika wanita Daniel jauh lebih hebat dari Nona River kuberikan mobil yang baru kudapatkan dari pelelangan. Kalian ikut tidak?”
“Tentu kami akan ikut taruhan, tapi aku pegang wanita Daniel!”
“Aku pegang Nona River!”
Daniel memuta bola matanya jengah mendengar lelucon teman-temannya, setiap pertemuan pasti mereka akan melakukan taruhan. Kenapa isi alumni kampus ke-2nya ini gila-gila semua sih?!.
“Seleranya Daniel tinggi ya, keluarga River ditolak…padahal keluarga besar yang ke-9. Gila…”
“Nanti kuberitau siapa wanitaku, dan kupegang taruhan kalian”
Semuanya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Daniel, sudah lama mereka tidak berkumpul secara lengkap seperti ini. Mereka terakhir bertemu sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu.
“Tuan muda sekalian…biarkan saya menuangkan wine untuk anda” seorang wanita cantik dengan lekuk tubuh yang wow mendekati kerumunan pada Tuan muda itu. Daniel tak menatap wanita itu, pikirannya jauh melayang mengarah kepada Selena dan anak-anaknya.
“Di Swiss dia tinggal di mana? Anak-anak menyusahkannya tidak ya? Duhhhhh…ini kepada masih belum ada informasi?!” batin Daniel kesal.
Wanita cantik itu diam-diam mencuri pandangan kepada Daniel membuat teman-teman Daniel hanya bisa tertawa, percuma wanita sexy ini tertarik kepada Daniel, Daniel bukan pria yang suka jajan sembarangn Okey? Daniel punya wanita yang dicintainya sudah sesuatu yang menakjubkan.
“Tuan…maukah anda menghabiskan malam dengan saya? Anda benar-benar tampan…” ucapnya dengan nada menggoda tak memperdulikan tatapan pria-pria lain terhadap dirinya. Selama ia bekerja disini, belum ada 1 pria pun yang berhasil menolak ajakannya untuk bermalam selain para Jenderal muda.
Daniel mendongkakan kepalanya, namun sedetik kemudian ia kembali membuang pandangannya. Cih…ia ingin pulang dan tidur! Wanita membuatnya semakin tidak punya selera melakukan apapun.
“Tuan?”
“Kau siapa berani mengatakan hal seperti itu? Sebutkan nominalnya, dan segera pergi dari hadapanku”
“Saya tidak ingin uang anda…saya ingin anda”
“Heh, bukankah semua pela*ur disini bekerja untuk mendapatkan uang? Mau jual mahal?” sinis Daniel membuat semua wanita yang tengah berada disana menundukan kepalanya.
“Saya akan memberikan pelayanan gratis kepada anda, dan saya jamin anda akan puas” ucapnya masih tak mau melewatkan kesempatan bermalam bersama Daniel.
“Sudahlah…percuma kau menggodanya, sampai kau telanjang bulat sekalipun dia tak akan melirikmu”
Wanita itu tersenyum manis, ia membuka pakaiannya membuat para Tuan muda itu langsung menutup matanya begitupun dengan Daniel. Wanita itu merangkak dan duduk diatas meja, dihadapan Daniel.
“Dengan tubuhmu yang seperti itu, sudah berapa banyak pria yang menjamah tubuhmu? Wei bereskan wanita ini”
Wei memakai sarung tangannya, mencekal lengan wanita itu dan membawanya menjauh dari Daniel. Wanita itu hanya tersenyum, ia adalah jala*g pribadi Tuan muda Georgino. Tuan Georgino memberikan hak spesial untuknya, dan tak seorangpun bisa mengusirnya dari tempat ini.
“Tunggu” salah satu teman Daniel berkata membuat Wei langsung berhenti.
“Kau…bukankah kau yang waktu itu datang ke perusahaan Hans?”
“Anda mengenal saya ternyata”
Daniel tersenyum sinis membuat teman-temannya langsung menelan ludah dengan kasar.
“Heh\, kau menjadi pela*ur dan kau bangga dengan itu? Kau jala*g milik Hans? Bagus…bagus sekali. Pria itu mencicipi banyak sekali aneka makanan\, dan aku heran…bisa-bisanya pria itu menangis karena kehilangan anaknya ditengah dia memiliki banyak selingkuhan dibelakang wanitanya”
Ucapan Daniel langsung membekukan orang-orang yang berada disana, Daniel mengeluarkan pistolnya membuat Wei langsung memegang dengan erat wanita yang hendak memberontak itu.
“Lepas!! Apa yang ingin anda lakukan Tuan muda?!”
“Membunuhmu”
DOR!
Sebuah peluru tepat mengenai dahi wanita itu, wanita itu langsung terkapar di lantai membuat wanita yang lainnya langsung berlarian pergi.
“Bereskan dia”
“Baik”
Wei membawa pergi wanita itu, teman-teman Daniel hanya mampu tercengang melihatnya. Mereka tau Daniel adalah seorang pria yang anti dengan wanita, tapi tak pernah sekalipun mereka melihat Daniel yang membunuh wanita dihadapan teman-temannya…mungkin paling parah hanya menyuruh Joe membereskan.
“Gila, sejak kapan mainanmu itu pistol? Biasanya sepatu”
“Diam dan jangan ikut campur!” sinis Daniel.
.
__ADS_1
.
.