Our Last Love

Our Last Love
Chapter 83 : Prosedur


__ADS_3

.


.


.


Leo menggendong istrinya keluar dari mobil dan masuk kedalam lab pribadi milik Daniel. Daniel menyambut Leo dan adiknya dengan senyuman. Tanpa basa-basi ia langsung mengajak Leo menuju ruangan yang sudah disiapkan.


Leo meletakkan istrinya diatas brangkar, ia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tertidur. Masih aman, istrinya masih lama bangun dari tidurnya.


Seorang ilmuan wanita masuk bersama dengan beberapa dokter pribadi milik Daniel. Leo mengengam tangan Selena erat, ia benar-benar takut jika rencana ini akan gagal. Ia tak mau memberikan harapan yang tak pasti kepada istrinya.


Salah seorang dokter memberikan sebuah pakaian kepada Leo, meminta pria itu untuk menganti pakaian istrinya. Leo menganggukkan kepalanya, semua orang keluar. Leo dengan hati-hati memakaikan pakaian itu di tubuh istrinya. Saat sudah selesai semuanya kembali masuk kedalam ruangan.


Salah seorang dokter wanita menyuntikkan sesuatu di perut bagian bawah Selena. Saat sudah selesai mengambil apa yang diinginkan ia memberikan suntikan itu kepada dokter lain. Sedangkan Leo memberikan apa yang dikatakan Daniel kemarin.


“Prosedurnya sudah selesai, semoga semuanya berjalan dengan lancar Tuan” ucap para dokter dan ilmuan semberi membungkuk hormat kepada Leo.


Leo mencium kening istrinya sembari meneteskan air matanya.


“Jangan khawatir…aku akan menjelaskan semuanya kepadamu nanti” bisik Leo lembut.


“Kalian berdua istirahatlah disini, aku akan mengurus ini dulu”


“Terima kasih untuk semuanya Daniel…”


“Sama-sama”


“Tapi, bagaimana dengan mobilnya? Apa Selena menyukainya?”


“Ya, dia menyukainya”


“Oh ya, kudengar kau meminjam mobil president ya tadi?”


“Hehe…ya mau bagaimana lagi…”


“Untung kau Tuan muda Iskandar, jika bukan Tuan muda sudah kuapakan kau!” kesal Daniel. Ia yang terkena imbasnya karena Leo memakai namanya untuk meminjam mobil president. Untung saja ada Sekretarisnya yang menangani hal ini. Jika tidak ia harus terbang jauh-jauh ke A.S hanya untuk hal ini.


“Sebentar lagi akan ada dokter yang datang memeriksa Selena, setelah itu kalau Selena sudah bangun kalian pergilah bulan madu. Jelaskan perlahan kepada Selena”


“Iya”


*


Selena membuka matanya dengan perlahan. Ia bangun dengan terkejut mendapati ini bukan kamar milik Lonza. Ia ada di mana lagi?! Leo yang menyadari istrinya sudah bangun langsung duduk dan memeluk istrinya.


“Leo…kita ada di mana?”


“Kita masih berada berada di perjalanan. Pesawat baru saja take off, tidurlah lagi”

__ADS_1


Selena memeluk erat Leo dan kembali terlelap. Entah kenapa, ia benar-benar mengantuk hari ini. Leo yang melihat itu langsung menggendong istrinya keluar dari kamar.


“Obatku manjur?” tanya Daniel.


“Sampai ada efek samping, awas kau!” kesal Leo namun Daniel hanya tersenyum sembari menjulurkan lidahnya.


.


.


.


Leo tersenyum melihat tempat yang disediakan Daniel untuknya melakukan bulan madu. Pria ini benar-benar ya, apa pria itu ingin ia berhutang seumur hidup?!. Kenapa memberikan sebuah tiket bulan madu ke pulau pribadi seperti ini?!!. Semoga saja pria itu tidak menyiapkan hal aneh kedepannya.


Leo menatap istrinya yang masih terlelap, istrinya benar-benar seperti seekor beruang kecil yang sedang melakukan hibernasi panjang di musim dingin.


“Hmmm…Leo…kita sudah sampai?”


“Kita sudah sampai, kita kekamar dulu ya. Sudah larut malam”


Selena memeluk leher suaminya dengan erat. Seorang pengurus menghampiri Leo dan Selena dan membungkuk hormat. Pria itu mengantarkan Selena dan Leo ke sebuah rumah kayu minimalis yang cantik.


“Tuan, jika anda membutuhkan sesuatu. Anda bisa memanggil saya…saya mengurus disini”


“Baik, terima kasih”


Pria itu tersenyum dan keluar dari rumah kayu, Leo menidurkan istrinya di tempat tidur dan merenggangkan badannya yang terasa kaku. Pulau pribadi ini cantik, Daniel benar-benar tau bagaimana cara memanjakan seorang wanita.


“Hummm masih mau dipeluk”


Leo menghembuskan nafasnya, beginilah istrinya jika sudah dalam mode manja. Benar-benar tidak bisa ditinggal sedikitpun, tapi ia benar-benar menyukai itu.


Leo dengan perlahan membaringkan istrinya dan berbaring disebelahnya.


“Sekarang atau besok pagi saja ya kuceritakan…sekarang saja lah”


“Sayang…ada yang ingin kubicarakan”


“Hm, ada apa? Apa ada masalah?”


“Tidak…”


“Sayang…kau bilang kau ingin seorang anak perempuan bukan?”


Selena menganggukkan kepalanya, ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Kenapa Leo tiba-tiba membahas ini? Apa Leo tidak ingin anak perempuan? Apa suaminya ingin seorang anak laki-laki?.


“Kita bisa mempunyai seorang anak sekalipun aku sudah berangkat ke kemiliteran. Kau tau, aku akan disana sekitar 2-3 tahun. Jadi Daniel bilang, dia akan membantuku mendapatkan seorang anak…”


“Lalu?”

__ADS_1


“Tadi, saat kau tidur. Kita sudah menjalankan prosedurnya, sekarang kita harus berdo’a supaya usaha Daniel tidak sia-sia”


“Tunggu, apa maksudmu Dear?”


“Kita bisa mendapatkan seorang bayi…tanpa kau harus mengandung dan melahirkannya”


“Apa? Apa kau tak ingin aku mengandung anakmu Dear?” tanya Selena dengan mata yang berkaca-kaca.


“Tidak sayang…bukan begitu”


“Lalu apa? Apa alasannya?”


“Aku tak mau kau kesakitan…aku tak mau kau kesulitan saat kau mengandung anakku, aku tak mau kau kesakitan saat kau melahirkan anakku. Aku mencintaimu…aku tak ingin membuatmu menderita. Hanya itu…sungguh...” ucap Leo melirih, ia tak mau sampai istrinya menangis.


“Aku tak sanggup jika melihatmu menderita…” lirih Leo sekali lagi.


Selena membungkam mulut suaminya menggunakan ciuman. Kenapa…kenapa suaminya selalu mengedepankannya? Kenapa suaminya lebih memprioritaskan dirinya lebih dari apapun? Jika suaminya terus seperti ini, kapan Leo akan mementingkan keturunan keluarganya sendiri.


“Hiks…jangan terlalu baik kepadaku…aku istrimu…sudah kewajibanku untuk melahirkan anak-anakmu, selama kau menginginkannya…aku sanggup Dear…aku sanggup…”


“Aku yang tak sanggup…aku tak mau melihatmu menderita, sekalipun kau istriku. Aku tak mau kau kesakitan hanya demi anak-anakku” ucap Leo sembari menghapus air mata istrinya.


Selena memeluk erat tubuh suaminya, beruntung…ia sangat beruntung mendapatkan suami seperti Leo.


“Sudah…sekarang tidurlah, besok kita jalan-jalan…”


“Hemmm…”


Selena mencium bibir suaminya lembut, Leo hanya diam tak membalas ciuman istrinya. Biarlah Selena melakukan apa yang dia mau. Selena terus mencium bibir Leo dengan lembut membut pria itu tak tahan pada akhirnya dan membalas ciuman istrinya.


Tangan Leo dengan perlahan menyelusup masuk kedalam baju Selena, meremas dada istrinya dengan lembut membuat Selena sontak melepaskan ciumannya. Bibir Leo merambat turun ke leher jenjang istrinya dan memberikan beberapa kecupan merah disana. Istrinya benar-benar sensitive.


“Ughhh Leo…”


Leo kembali mencium bibir istrinya, Selena mengalungkan tangannya di leher suaminya. Selena tersentak kaget merasakan sesuatu yang keras menempel di perutnya.


Leo melepaskan ciumannya, ia menatap sayu mata istrinya yang meminta lebih dari sebuah ciuman belaka. Sial…


“Dear…”


Leo membelai lembut pipi istrinya, Selena menggenggam erat tangan besar Leo.


“Sayang…bolehkah aku melakukannya sekarang?” izin Leo, jika istrinya tak ingin melakukannya maka ia bisa menahannya. Ia tak mau memaksa istrinya jika istrinya tak berminat melakukan ini.


“Jadikan aku milikmu Leo…” pinta Selena.


.


.

__ADS_1


.


Thor mau buat Chapter full tanya jawab, silahkan tanya apapun...nanti Thor pilih yang bisa di jawab tanpa spoiler Chapter kedepannya. See you next time semuanya...Happy reading


__ADS_2