
.
.
.
Selena menatap Joe yang tertidur setelah memijat kakinya. Ia juga menatap timnya yang lain yang juga ikut terlelap, hanya ia yang terjaga dan ia tidak mengantuk sama sekali.
Selena memeluk lututnya, ia merindukan pelukan hangat suaminya. Suhu dikampus sedikit dingin akhir-akhir ini membuatnya harus membawa lebih banyak baju tebal.
Selena mendekati tasnya dan mengeluarkan ponselnya, ada signal!? Bukankah rektor bilang bahwa signal yang
berada di dekat kampus akan dimatikan selama 1 minggu? Oh ya…ini kan ponsel yang dibelikan Daniel tadi. Entah apa yang dilakukan Daniel kepada ponsel ini.
Ting!
Pesan masuk dari Daniel.
|| Kau sudah selesai? Bagaimana? Apa menyenangkan? ||
| Hm…lumayan…aku kedinginan disini |
|| Pakai mantelnya\, nanti demam ||
| Sudah…aku ingin tidur\, tapi tidak bisa tidur |
|| Istirahatlah sekarang\, nanti siang pasti ada pelatihan lagi ||
| Hm…aku lapar…tapi akan kucoba untuk tidur |
|| Lapar? Oh\, aku memasukkan beberapa snack kedalam tasmu. Ada didalam ditumpukan baju\, makan itu. Jangan bilang kepada Leo\, dia melarangku memberikanmu snack ||
| Benarkah!? Terima kasih! |
|| No problem\, ya sudah…istirahat ya ||
| Okey |
Chat end!
Selena berbaring dan memejamkan matanya, mencoba masuk kealam mimpi. Ia ingin bertemu dengan Papa dan Mamanya, ia ingin kedua orang tuanya memeluknya memberikan kehangatan. Namun baru saja memejamkan mata mereka semua terbangun oleh suara berisik yang berasal dari luar kamp.
Selena memijat pelipisnya, kepalanya selalu berdenyut nyeri jika gagal tidur seperti ini. Siapa yang membuat keributan dijam istirahat seperti ini?!.
Selena turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu, ia menatap dingin Jenderal Dion yang sedang melipat kedua tangannya dengan beberapa mahasiswa didepannya.
“Ma-mahkota ka-kampus?” mahasiswa itu menatap Selena dengan mata yang berkaca-kaca meminta pertolongan.
__ADS_1
“Maaf atas kelancangan saya, tapi ada masalah apa disini?”
“Ka-kami ti-tidak sengaja membuat kegaduhan dan mengganggu Jenderal yang sedang istirahat” ucap salah satu mahasiswa.
“Hah…bukankah Jenderal sudah menyuruh kita semua untuk istirahat? Kenapa kalian tidak melakukannya?” tanya Joe sembari menghembuskan nafasnya.
“Kalian harus menerima hukuman kalian karena tidak menaati peraturan” ucap Selena membawa Joe serta senior Seo masuk kedalam kamp mereka.
“Selena, kau tidak mau membantu mereka?”
“Mereka sendiri yang membuat masalah, biarkan mereka menerima konsekuensinya”
Selena mengambil botol vitaminnya dan menelan beberapa butir setelah itu meminum air. Akhirnya, sakit kepalanya reda juga. Ia harus istirahat, jika tidak nanti siang ia tidak akan bisa fokus dengan sempurna.
“Kau istirahatlah” ucap senior Seo.
“Nanti bangunkan aku ya”
“Iya, nanti kubangunkan” jawab Joe.
Selena berbaring ditempat tidurnya dan perlahan terlelap dengan sendirinya. Joe menghembuskan nafasya, kepalanya jadi ikut sakit karena ulah mahasiswa yang tidak mematuhi perintah Jenderal gila itu.
.
.
.
Saat sudah berada dilapangan, semua mahasiswa langsung ricuh mengenai tempat berdirinya mereka tadi. Mereka tidak ingat dengan betul tempat mereka berdiri.
“Kalian hanya perlu berbaris sesuai tim kalian, jangan pedulikan benar atau salah tempat kalian” ucap Selena.
Semua mahasiswa menurut dan segera berbaris dengan rapi walaupun tidak seperti awal. Jenderal muda Dion berjalan mendekat dan berdiri tegak didepan.
“Di mana mahasiswa-mahasiswa tadi?”batin Joe.
“Sebelum saya mulai, ada hal yang ingin saya sampaikan terlebih dulu. Bahwa! Siapapun yang tidak menaati peraturan dari saya, maka akan dikeluarkan dari kampus ini”
“Apa?! kenapa seperti itu?!”
“Kalian keberatan? Bagi yang keberatan angkat tangan kalian” ucap pria itu dengan wajah datarnya.
Tak satupun dari mahasiswa itu mengangkat tangan mereka bahkan Selena sekalipun. Selena mengepalkan tangannya geram rahangnnya mengeras dengan perlahan, ia benci…dengan orang yang seenaknya membuat peraturan seperti ini.
Joe mencekal tangan Selena saat gadis itu hendak melangkah maju, Joe menelan ludahnya. Ia tidak akan mati hari ini kan? Ia tidak akan mati ditangan Selena kan?.
“Jangan…jangan membuat semuanya curiga” lirih Joe. Ia juga ingin menghabisi pria itu, tapi mereka sedang dipublic sekarang. jika mereka melakukan pembunuhan, nama mereka akan buruk terutama Selena yang bergelar piala serta mahkota kampus.
__ADS_1
“Tapi dia keterlaluan Joe! Aku harus memberinya pelajaran!” kesal Selena memajukan bibirnya.
“Aku tau! Tapi nanti! Kita bisa bergerak nanti!” bisik Joe membuat Selena mau tak mau menuruti ucapan Joe.
“Baik! Hari ini kita akan belajar mengenai cara menembak”
Degh!
Selena langsung tersentak mendengar kata pistol kembali terucapkan. Tanpa ia sadari ia memundurkan langkahnya hingga menabrak Joe, tidak…ia tidak mau memegang senjata haram itu lagi.
“Kau harus bisa Selena, sampai kapan kau mau terus takut dengan sebuah pistol? Ini kesempatanmu, tunjukan kepada pria itu…bahwa dia tidak bisa meremahkan mahasiswa seperti kita”
Beberapa pria mendorong meja, Jenderal Dion membuka kain yang menutupi meja itu menampak ratusan pistol dari berbagai bentuk. Wajah Selena memucat, ia menelan ludahnya dengan kasar, Joe benar…ia tidak boleh mengecewakan Leo dan keluarganya.
“Sekarang aya minta, setiap ketua tim maju dan mengambil satu pistol yang berada di depan”
Selena menghembuskan nafasnya, membuang semua keraguan yang berada didalam hatinya. Ia melangkah maju dengan ketua tim yang lain, ia memberikan kesempatan bagi ketua tim lain untuk memilih pistol sendiri. dan kini tersisa satu pistol yang berada diatas meja, ia mengambilnya dan melihat peluru yang ada.
Pria-pria yang sebelumnya mendorong meja juga menyiapkan sebuah target yang jauh dari letak para ketua tim. Para ketua tim yang lain menelan ludah mereka melihat betapa jauhnya target itu berada.
Semua ketua tim berbaris dengan sejajar dan satu persatu mulai melepaskan peluru mereka kecuali Selena. Selena menatap tembakan para ketua tim yang meleset, ia menggenggam pistol itu dan menghembuskan nafasnya.
“Kau bisa Selena…kau bisa!! Kau pasti bisa!!”
Dor!
Prok prok prok!!!!
Semuanya seketika bertepuk tangan melihat tembakan Selena yang tepat mengenai tengah-tengah target. Tangan Selena bergetar dengan hebatnya, ia berhasil? Ia benar-benar berhasil?! Ia benar-benar berhasil mengenai target?!!!.
Jenderal Dion tercengang melihat kemampuan menembak Selena, kemampuan menembak ini…ia pernah melihatnya disuatu tempat. Seorang gadis yang menggunakan pistol dengan berat hampir 4 kg bisa menembak setepat ini? Sial! Sebenarnya, siapa gadis itu?! Misinya bisa gagal jika begini, berhasil tidak, mati tertembak iya!.
“Rektor, siapa dia?” tanyanya kepada rektor.
“Saya izin menjawab Jenderal. Dia adalah Nona muda Selena, mahasiswa memanggilnya mahkota kampus dan piala kampus. Dia juga menjadi panutan para mahasiswa baru”
“Mahkota dan piala kampus?” tanyanya mengerutkan kening.
“Benar, dia adalah murid kebanggan kampus bersama dengan timnya. Mewakili kampus ini, dia berhasil membawa pulang mendali emas untuk olimpiade matematika, fisika, dan kimia…dan itu bergelar internasional. Dia dan Nona Jasson berangkat mewakili kampus ini dalam ajang olimpiade sains beberapa bulan yang lalu dan pulang membawa mendali emas” jelas rektor sembari tersenyum.
Glek
Mahkota kampus? Kebanggaan rektor? Olimpiade internasional? Perwakilan dari Royal University? Secerdas apa otak dari seorang gadis belia seperti itu?!. Tidak bisa dipercaya! Ia benar-benar tidak bisa percaya dengan ucapan rektor.
.
.
__ADS_1
.