
.
.
.
Selena kembali ke tempat tidurnya, membaringkan tubuhnya yang terasa lemas akibat muntah terlalu banyak. Ia tak boleh sakit, ia tidak boleh sakit…ia tak mau membuat orang-orang disekitarnya khawatir lagi.
Drtttt drttttt
Ponsel Selena berdering, Selena mengangkatnya tanpa melihat siapa orang yang menelfonnya.
“Dear…kau di mana sekarang?” .
“Dear…?”
“Dear, kau kenapa? Suaramu kenapa seperti itu? Kau sakit?!”
“Dear…aku baik-baik saja, ada apa hm?”
“Hmmmm…aku merindukanmu…”
“Huekkkk…”
“Dear?!! Ada apa?! Aku kesana sekarang!!!”
Tut…
Tubuh Selena lunglai, ponselnya jatuh ke lantai. Sekali lagi, kesadarannnya direngut paksa darinya.
*
Leo menyetir dengan kecepatan penuh sembari menatap ponselnya. Ia sudah melacak keberadaan ponsel Selena, ia harus sampai disana dengan cepat.
Saat sampai Leo langsung masuk kedalam kediaman Hans. Para bodyguard yang melihat itu langsung menghadang Leo.
“Tuan! Mohon kesopanan anda!”
“Minggir sial*n!!”
Leo menendang salah satu perut bodyguard dan segera mencari di mana keberadaan kekasihnya.
“Dear!!! Kau di mana?!!!!” teriak Leo.
“Tuan…anda mencari siapa?”
“Nyonyamu!!! Di mana dia sekarang?!!”
“Nyonya ada didalam kamarnya”
“Di mana kamarnya?!”
Bibi Na menunjuk kekamar Selena. Leo dengan cepat masuk kedalam lift dan menuju kamar Selena, ia mencoba membuka pintu kamar itu namun Selena menguncinya dari dalam.
“Sial*n!”
Brakkkkkk!!!
Leo menendang pintu dengan keras membuat pintu terbuka dengan lebar. Leo tersentak kaget melihat Selena yang terkapar di tempat tidur dengan darah yang keluar dari hidungnya.
__ADS_1
Tanpa basa basi Leo segera menggendong Selena dan berlari keluar dari rumah itu. Para bodyguard yang melihat itu langsung menyusul Leo yang tengah mengemudi dengan kecepatan penuh sembari memeluk erat tubuh Selena.
.
.
.
Leo dan Daniel mondar-mandir didepan pintu UGD dengan perasaan gelisah. Sedangkan Jennifer kini sedang menangis terisak dipelukan Joe. Para bodyguard pun turut ikut cemas menunggu Alex yang tak kunjung keluar dari UGD.
Pintu terbuka, Alex keluar dan melepas sarung tangannya dan membuangnya ketempat sampah.
“Bagaimana? Bagaimana kondisi Dear?” tanya Leo. Sedangkan Jennifer dan Joe langsung berdiri dan mendekati Alex.
“Untung saja anda membawa Selena tepat waktu sehingga kami masih bisa menanganinya. Namun untuk kedepannya tolong jangan biarkan Selena merasa tertekan. Perubahan suasana hati yang tiba-tiba bisa mempengaruhi kesehatannya. Tidak ada penyakit serius, kalian tak perlu cemas”
Semuanya langsung menghambuskan nafas lega bersamaan.
“Dokter, boleh saya masuk?” tanya Jennifer.
“Setelah Selena dipindahkan keruang rawat kalian boleh menjenguknya. Namun selama masih di UGD jangan ada yang masuk terlebih dulu”
Jennifer menganggukkan kepalanya perlahan. Alex pergi meninggalkan semuanya dan kembali keruangannya. Jennifer menatap sendu putrinya dari pintu kaca. Sejak kapan kondisi putri tercintanya lemah seperti ini?.
“Kakak ipar…maafkan aku…aku tak bisa menjaga putrimu dengan baik…” lirih Jennifer.
“Bi…jangan bicara seperti itu, ini bukan salah Bibi…” Leo mendekat dan memeluk Jennifer.
“Hiks…Leo…maafkan Bibi sayang…”
“Bi…Bibi tidak salah Okey? Papa tidak akan marah dengan Bibi”
Pintu UGD terbuka, beberapa suster mendorong brangkar Selena masuk kedalam lift untuk dipindahkan ke ruang VVIP. Ponsel Leo berdering, Leo menjauh dari kerumunan dan mengangkat telfonnya.
“…”
“Lalu?”
“…”
“Harus sekarang?”
“…”
“Tapi Dear masuk kerumah sakit hari ini, aku tak mau meninggalkannya”
“…”
“Baiklah, tapi aku minta hari ini juga kau selesaikan”
“…”
Tut…
Leo masuk kedalam lift dan menuju ruang VVIP. Benar dugaannya, orang-orang ini sudah berada diruang VVIP.
“Leo…ada apa? Apa ada masalah?”
“Bi, maaf…aku harus pergi sekarang. Nanti sore aku baru kembali”
“Lalu, jika Selena mencarimu bagaimana?”
“Aku yakin Bibi bisa menanganinya”
__ADS_1
Saat Leo hendak pergi dari ruangan Selena, Daniel menepuk bahu Leo membuat pria itu menghentikan langkahnya.
“Apa ada masalah?”
“Kau tidak perlu mengetahuinya”
“Selama itu menyangkut Selena, aku perlu mengetahuinya” tegas Daniel.
Leo menghembuskan nafasnya.
“Jika kau mau tau, kau bisa ikut denganku”
Daniel menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemana Leo pergi. Joe yang kini sedang duduk disofa menatap dingin para bodyguard.
“Kau tau di mana ruang rawat ke 3 Tuan mudamu yang lain?”
“Maksud anda Nona?”
“Bajin*an yang hendak melecehkan adikku, di mana mereka?”
Para bodyguard mengerutkan keningnya. Siapa yang Joe maksud? Siapa orang yang berani mau melecehkan Nyonya muda mereka? Atau jangan-jangan saat mereka pingsan ada orang yang hendak melecehkan Nyonya muda mereka?!.
Tak kunjung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya membuat Joe pergi keruangan Alex. Ia yakin ke-3 bajin*an itu berada dirumah sakit ini, karena rumah sakit ini adalah rumah sakit paling elit yang ada di Negara ini. Dan rumah sakit ini adalah milik kakaknya, tentu saja ia bisa berbuat seenaknya.
“Hei, di mana ruangan 3 bajin*an itu?”
“Apa maksudmu Joe?” tanya Alex kebingungan.
“3 Tuan muda keluarga Georgino yang lain”
“Oh…mereka maksudmu. Mereka ada diruang VIP, mereka ber-3 baru siuman kemarin”
Joe berdecap kesal mendengar ucapan Alex. Sudah siuman ternyata\, tapi ini lebih baik. Ia bisa membuat bajin*an-bajin*an itu tidak sadarkan diri lagi.
Joe menutup pintu ruangan Alex dengan kasar dan langsung menuju kelantai VIP. Ia tersenyum melihat penjagaan yang begitu ketat. Ia menatap sinis Yeni yang menangis tersedu-sedu, sampai saat ini. Ia belum mengizinkan Alex membuat Lie sadar dari komanya.
“Hahahaha! Anakmu belum mati kenapa kau menangis seperti itu?”
Yeni langsung menatap Joe. Mata wanita itu memerah, dengan langkah cepat ia langsung menghampiri Joe. Namun saat tangannya terangkat hendak menampar Joe, Joe dengan cepat menepis tangan itu.
“Kau!!! Dasar pela*ur sial*n!!!” ucap Yeni.
“Nyonya Georgino yang terhormat…anda mengenaskan sekali…orang yang biasanya disanjung kini tampak seperti daun yang gugur”
“Aku akan menuntutmu!! Kau menyebabkan putraku celaka!! Apa yang pela*ur itu lakukan sampai kau berani mencelakai putraku sampai seperti ini hah?!”
Plakkkk!!!!
Joe menampar pipi Yeni dengan keras. Telingganya panas mendengar Selena dikatai pela*ur oleh pela*ur kelas atas.
“Siapa kau hingga berani menghina Selena dengan kata pela*ur? Sebaik apa dirimu? Kuperingatkan kau…sekali lagi kau mengusik ketenangan Selena. Aku akan membuatmu merasakan akibatnya”
Joe masuk kedalam lift dan kembali keruangan Selena. Yeni mengepalkan tangannya geram, ini pertama kalinya ada orang yang berani mempermalukannya seperti ini. Wanita itu bahkan berani menamparnya didepan bawahannya.
“Aku tak mau tau bagaimana caranya, buat jala*g itu celaka lagi”
“Baik Nyonya”
“Selena…kau salah jika bermain-main denganku. Kau tak mau meninggalkan Hans, maka aku akan membuat Hans meninggalkanmu dengan caraku sendiri. Aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu menderita walaupun kau memiliki banyak pelindung. Aku tak akan mundur untuk menyakitimu!”
.
.
__ADS_1
.