Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 183 : Hurt (3) = I Love You…Goodbye Dear…


__ADS_3

.


.


.


Tubuh Selena gemetar dengan hebatnya, ya tuhan…jangan lagi…jangan lagi…ia tak sanggup…ia tak sanggup…


“Aku minta maaf…maafkan aku sayang…aku tak lagi bisa menemanimu…maafkan aku…aku tak bisa lagi berjalan disampingmu…maafkan aku…aku tak bisa menemanimu membesarkan anak-anak kita. Aku terlalu lemah…aku terlalu lemah sampai penyakit ini bisa membuat perpisahan abadi diantara kita” ucap Leo dengan tatapan sendunya.


“Hei hei…kenapa bicara seperti itu? Kau akan baik-baik saja Okey, jangan menakutiku…” ucap Selena seraya mencium kening suaminya.


“Maaf…maaf aku harus mengingkari janjiku…maafkan aku…maafkan aku yang tidak bisa memberikan yang terbaik


untukmu…maafkan aku yang lagi-lagi memberikan luka untukmu…maafkan aku yang lagi-lagi membebanimu…maaf…”


“Sthhhhh…jangan bicara Okey…aku akan panggil dokter sekarang”


Leo menahan istrinya yang hendak beranjak dari sampingnya, ia tidak ingin…waktu-waktu terakhirnya bersama dengan istrinya terganggu. Ia ingin mengutarakan apa yang ada didalam hatinya, ia ingin bersama istrinya untuk terakhir kalinya. Takdirnya bersama dengan istrinya hanya sampai disini…dan ia ingin menggunakan waktu terakhirnya sebaik mungkin.


“Jangan bicara…biarkan aku mengungkapkan isi hatiku” ucap Leo.


Selena menganggukkan kepalanya dengan tangis yang ia tahan. Hancur, hatinya sekarang hancur tak terbentuk. Melihat pria yang sangat ia cintai berada diantara hidup dan mati membuatnya tak berdaya. Haruskah…haruskah ia kembali melepaskan untuk kesekian kalinya?.


“Aku mencintaimu…saku sangat mencintaimu…aku ingin menunjukan betapa aku mencintaimu tapi aku tak bisa…aku tak punya waktu lagi untuk melakukan itu. Aku pernah berharap…untuk bisa menghabiskan waktu-waktuku bersamamu hingga ajal menjemput kita bersama…tapi takdir berkata lain…takdir inginkan kau tetap hidup…jadi aku yang akan pergi terlebih dulu”


“Tidak…tidak…” ucap Selena tak mampu lagi membendung air matanya.


Liquid bening mengalir keluar dari sudut mata Leo, Selena segera menghapus air mata itu dan menciumi wajah rupawan suaminya.


“Aku sangat mencintaimu…aku mencintaimu…aku akan terus mencintaimu…walaupun kita akan berpisah untuk selamanya… jika anak-anak sudah besar nanti…katakanlah kepada mereka. Ayahnya, akan selalu mencintainya dari alam sana…sampaikan maafku kepada mereka. Maafkan ayahnya yang lemah ini karena tidak bisa menjaga mereka…”


“Tidak…kau Ayah yang terbaik untuk mereka, jangan berkata seperti itu…bertahan untukku ya…bertahan untukku dan anak-anak…”


“Aku ingin…tapi aku tidak bisa…aku ingin menjaga mereka bersama denganmu. Melepaskan Leona kepada pria yang tepat…menua bersamamu…aku ingin melakukan itu semua. Tapi tuhan tidak menghendakinya…aku merasa sangat bersalah…aku belum bisa melihat kelahiran Ryu…aku belum sempat memeluknya…tapi aku bersyukur…aku bisa memeluk Leon dan Leona untuk terkahir kalinya sebelum kepergianku…maaf…maaf aku harus memberikan duka untukmu…maafkan aku yang memberikan kesedihan untukmu…maafkan suamimu ini sayang”


“Berhenti meminta maaf Okey…aku akan panggilkan dokter. Daniel!! Micle!!”


“Tidak…mereka tidak akan…bisa membantu…bi…bisakah kau…memelukku…?” ucap Leo dengan nafas yang mulai memberat.


Selena dengan spontan langsung memeluk suaminya dengan erat, meluapkan kesedihannya disana.


“Aku mencintaimu…aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau menjadi yang terkahir untukku, aku ikut ya…aku ikut…aku tidak mau sendirian…aku tidak mau kau meninggalkanku…kita pergi bersama-sama Okey? Kita akan bahagia bersama, biarkan aku ikut Okey?” ucap Selena seraya membelai pipi suaminya dengan lembut.


“Tidak…kau…harus tetap hidup…kau…jantung keluarga…jangan pergi…kau…harus tetap…hidup…”


“Jika kau pergi aku juga tidak ingin hidup lagi, kau pernah berjanji akan terus menemaniku bukan? Aku ingin kau menepati janji itu sekarang” ucap Selena.


“Ya…aku akan selalu menemanimu…tapi…dari alam lain”


“Tidak!!! Daniel!!!!” teriak Selena.


Daniel langsung masuk dan menghampiri Leo. Matanya memerah, air matanya keluar begitu saja menyaksikan kakak sepupunya yang…


“Daniel…” ucap Leo seraya menggenggam tangan kekar Daniel.


“Ini aku Leo…aku disini” ucap Daniel


“Daniel…aku titip istriku…jaga dia baik-baik...kau…harus menjaganya…lebih baik dariku…berjanjilah…”


“Iya iya…aku berjanji akan menjaga Selena dengan baik. Sekarang kau bertahan ya, aku akan panggilkan Micle”


Tubuh Leo tiba-tiba terhentak dengan kuatnya membuat kedua tangannya dengan spontan menggenggam erat tangan istri serta adiknya. Nafas Leo mulai tak beraturan…Selena semakin mengeratkan pelukannya, mencoba menenangkan suaminya.


“Akuhhh…sangattt…mencintaimu…istriku…Selamat…tinggalll…”


Selena mencium dahi suaminya dengan air mata yang mengalir deras. Daniel menangis disebelah Leo, tangannya menggenggam erat tangan Leo yang masih hangat.


“Tidak…tidak Leo…” ucap Daniel tatkala melihat Leo yang mulai tak bisa bernafas..


“Hnghhhhh…I love you…I love you…Dear…I love you...My Nara”


“Tidak sayang…tidak…bertahan ya…aku masih membutuhkanmu…” ucap Selena saat melihat detak jantung suaminya mulai melemah. Sebelum akhirnya…


Tiiiiiiiitttttttttttttttttttttttt….


Hanya sebuah garis datar yang ditampilkan oleh alat elektrokardiogram. Pupil mata Daniel dan Selena bergetar.


“TIDAK!!!! LEO!!! Buka matamu sayang!!! Kumohon!!! Kumohon buka matamu!!!” teriak Selena histeris.


Seluruh anggota keluarga Alexandra menutup rapat-rapat telinga mereka ketika mendengar teriakan nyaring Selena. Rafindra hanya bisa menangis dalam diam. Zachery memeluk istrinya mencoba menenangkan istri tercintanya.


“TIDAK SAYANG!!! KUMOHON!! BUKA MATAMU!! LEO!!!!”


Selena berteriak histeris memeluk tubuh suaminya yang tak lagi bernyawa. Daniel hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apapun, Selena mencium bibir suaminya dan mencoba membangunkan suami tercintanya.


“Letnan Leonardo!!! Bangun!!! Ini perintah!!!!” teriak Selena seraya mengguncang tubuh suaminya.


“Bangun…kumohon…bangunlah Leo…demi istri dan anakmu…” lirih Daniel.


“Arghhhhhh!!!!! Ahhhhhhhhh!!!!” teriak Selena meluapkan kesedihannya. Dengan sangat erat ia memeluk tubuh suaminya. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak membuat Daniel dengan spontan mengambil tindakan dengan memeluk Selena dari belakang.


“Ahhhhhhh!! Leo!!!! Leo!!!!”


Selena berteriak histeris, Daniel hanya bisa diam dan menyembunyikan tangisnya di bahu Selena. Diluar sana,


Rafindra menggigit tangannya mencoba untuk mengontrol tubuhnya. Tak ada yang tidak merasa kehilangan sekarang.

__ADS_1


“Maaf…maaf sayang…maaf Opa tak bisa berbuat apa-apa…” lirih Zachery. Mereka sudah mencoba yang terbaik,


mendatangkan dokter-dokter hebat dari berbagai Negara, mencoba pengobatan modern maupun tradisional. Tapi tak ada satupun yang membuahkan hasil yang memuaskan.


Para tangan kanan Leo hanya bisa menangis, merasakan kekecewaan yang amat besar. Tapi ada sedikit rasa lega di hati mereka karena Tuan mudanya…tak lagi harus menderita karena penyakit mematikan itu.


“Semoga anda tenang dialam sana…Tuan muda…”


“Hiks hiks hiks…Leo…Leo…”


“Sthhhhh…kita relakan Leo ya…”


“Ahhhhhhh!!! Kenapa?!!!! Kenapa kau harus merenggut suamiku juga?!!!!”


Selena memeluk erat tubuh suaminya, melampiaskan kesedihannya. Daniel hanya bisa diam…ia tak bisa melakukan apapun untuk Selena kali ini.


Tes…


Tes…


Tes…


Bau anyir darah tiba-tiba tercium. Daniel dengan sontak melepaskan pelukannya pada Selena ketika mencium bau darah. Matanya seketika membulat tatkala melihat celana putih Selena, sudah ternodai oleh darah.


“Micle!!! Alex!!! Bei!!!” teriak Daniel.


Teriakan Daniel langsung membuat semuanya masuk kedalam ruangan yang luas itu. Semua mata membulat tatkala melihat darah yang keluar dari bagian inti Selena. Tangisan si empu mulai melemah. Daniel dengan segera membawa Selena menjauh dari jenazah Leo.


“Lepaskan aku!!! Leo!!!”


“Kau berdarah!!! Cepat siapkan ruang operasi!!!” ucap Daniel.


“Tidak!!! Lepaskan aku!!! Aku ingin bersama Leo!!!” teriak Selena memberontak dari pelukan Daniel. Tangannya mencoba menggapai kembali tangan suaminya.


Daniel langsung menggendong Selena dan berlari masuk kedalam lift dan tentu saja diiringi tangisan Selena yang nyaring. Kakak angkat Leo serta Tuan dan Nyonya besar Iskandar menghampiri Leo. Bergantian memeluk tubuh itu.


“Kau pasti tidak merasakan sakit lagi sekarang…beristirahatlah dengan damai…adikku…”


“Paman kecil…” lirih Derian. Baru saja mereka mendapatkan kabar baik mengenai lahirnya pewaris Iskandar kini sang Tuan muda harus pergi untuk selama-lamanya.


“Kau cucu nenek yang hebat…kau bisa beristirahat dengan damai sekarang…kami akan menjaga istri dan anakmu dengan baik. Kami berjanji…Selamat tinggal…nirwana menunggumu” Nyonya besar Iskandar tak lagi snaggup membendung air matanya tatkala mengucapkan kalimatnya, cucu semaya wayangnya…putra dari anak kebanggannya kini sudah tenang.


“Kau pria yang hebat Leo…kamp akan selalu mengenangmu. Selamat jalan…Letnan Jenderal Iskandar” ucap Zachery sembari meletakkan seragam Leo diatas tubuh penerimanya.


Letnan Jenderal Iskandar…gelar baru yang disandang oleh Leo. Upacara kenaikan pangkat yang seharusnya dilakukan lusa akan menjadi upacara kematian.


“Beri hormat kenapa Letnan Jenderal Iskandar!!!” ucap Deon membuat semuanya langsung memberikan hormat kepada Leo.


Sedangkan di UGD, Daniel, Micle, Alex, Bei, dan juga beberapa dokter lain tampak sibuk menangani Selena yang mengalami pendarahan. Selena dengan erat menggenggam tangan Daniel sembari terus menyebut nama suaminya.


“Daniel!! Bayinya tidak akan bisa selamat jika tetap berada didalam!! Kita harus segera melakukan operasi!!!” ucap Alex dengan wajah paniknya.


Daniel langsung menunduk dan mencoba menenangkan Selena. Ia mengecup beberapa kali dahi wanita itu agar tenang.


“Lakukan operasi!! Aku berjanji…aku akan menyelamatkan Ryu okey…”


“Aku ingin Leo!! Aku ingin Leo!! Lepaskan aku hiks hiks hiks!!” ucap Selena.


Daniel mendekatkan wajahnya kepada Selena, membisikan kata-kata penenang untuk si empu. Daniel membelai kepala Selena dengan lembut dan mengecupnya beberapa kali.


“Kau akan baik-baik saja, aku berjanji”


.


.


.


.


.


Semua orang menunggu dengan cemas didepan ruang operasi. Mikayra tak henti-henti berdo’a untuk keselamatan cucunya yang sedang berada didalam bersama dengan suaminya, Daniel, dan juga Rafindra.


“Ya tuhan…kenapa lama sekali? Apa Selena baik-baik saja?” ucap Alexa penuh kekhawatiran.


Tak berselang lama lampu ruang operasi berubah hijau, sesaat kemudian Bei keluar dengan darah disarung tangannya.


“Bagimana?! Bagaimana kondisi Nara?!” tanya Mikayra.


“Nona besar baik-baik saja, operasinya berjalan sukses. Selamat, itu bayi laki-laki”


Semuanya seketika menghembuskan nafas lega secara bersamaan. Tak berselang lama brangkar Selena di dorong


keluar dan dimasukan kedalam ICU.


Tak berselang lama disusul keluarnya Daniel dan juga Alex yang mendorong incubator masuk kedalam lift untuk dibawa ke NICU.


Sekujur tubuh Daniel gemetar dengan hebat, tubuhnya luruh begitu saja di lantai yang dingin membuat Deon langsung membantu pria itu agar berdiri. Daniel menatap kedua tangannya yang gemetar, ya tuhan…ini pertama kalinya ia melakukan operasi seperti ini.


“Kau baik-baik saja bukan? Daniel?” tanya Jeff.


“Ja-jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja”


“Kau baru saja melakukan transfusi darah, lebih baik kau istirahat dulu. Jangan sampai kau ikut drop juga” ucap Bei.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya, ia berjalan masuk kedalam ICU untuk menemani Selena. Daniel menggenggam erat tangan Selena yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


“Aku yakin kau adalah wanita yang kuat…kumohon bertahanlah…bertahanlah…kau satu-satunya matahariku” ucap Daniel. Daniel mendongkakan kepalanya, dengan lembut ia membelai kepala Selena. Ia akan berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan kebahagiaan Selena. Entah itu harus mengorbankan apa. Ia pasti akan mengembalikan senyum diwajah cantik ini.


“Kau masih punya aku…kau masih punya keluargamu…aku tak akan meninggalkanmu sendirian…tak akan…” Daniel mengecup lama kening Selena sembari meneteskan air matanya.


“Bertahanlah untuk kami semua…cepat sembuh Matahari Alexandra”


*********


2 hari kemudian…


Anggota keluarga Alexandra, Leonardo, dan juga Iskandar kini tengah berada di makam pribadi keluarga Alexandra. Menyaksikan pemakaman anggota keluarga mereka. Upacara perpisahan dilakukan dengan air mata, para Alexandra hanya bisa menggigit bibir bawah mereka. Sekali lagi…untuk sekali lagi, mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan hal berharga bagi matahari kecil mereka.


“Lepas!!! Lepaskan aku!!!!”


Teriakan seorang gadis langsung memecahkan keheningan di makam itu, Zachery menatap Daniel yang tengah menahan cucunya untuk masuk kedalam pemakaman. Ya tuhan, bagaimana cucunya bisa ada disini? Siapa yang membawa cucunya kemari?.


“Lepaskan aku!!! Leo masih hidup!!! Dia tidak mungkin meninggalkanku!!!”


“Cepat selesaikan!” ucap Nyonya besar Iskandar.


“Lepas!!! Jangan sentuh peti mati itu!!! Lepaskan aku Daniel!!!”


Daniel terus memeluk Selena, mencegah gadis itu untuk mendekati pemakaman Leo meskipun kini tangganya penuh dengan bekas cakaran dan gigitan yang dilakukan Selena.


“Tenang okey? Kita ikhlaskan Leo…kau jangan seperti ini”


“Lepaskan!! Bangun letnan Iskandar!!! Jangan menjadi pengecut!!!”


Selena menyikut perut Daniel membuat pria itu tanpa sengaja melepaskan pelukannya, Selena berlari kearah pemakaman suaminya namun langsung dihadang oleh beberapa pria berbaju hitam.


“Menyingkir sial*n!!!”


“Nona besar…”


“Selena!”


Daniel langsung berlari menghampiri Selena, melepaskan dasinya dan mengikat kedua tangan kecil itu lalu menggendongnya. Selena menjambak rambut Daniel berusaha melepaskan diri namun tentu saja, itu tidak berefek banyak tehadap Daniel.


“Lepaskan aku!! Aku ingin bertemu dengan suamiku!!” Selena mulai menangis membuat Daniel langsung menggigit bibir bawahnya menahan perih yang tiba-tiba terasa di hatinya.


“Aku mau suamiku hiks hiks hiks…aku ingin bersama dengannya…aku tak mau kehilangannya…”


“Sekarang Leo sudah tenang…kau tidak bisa mengubah takdir kematian seseorang…tidak bisa” ucap Daniel tak tau lagi harus mengatakan apa kepada Selena.


“Dia belum mati…dia berjanji tidak akan meninggalkanku…” lirih Selena terisak.


“Sebuah janji bisa diingkari jika emamng tidak bisa ditepati…Leo berjanji tidak akan meninggalkanmu, dia sudah menepatinya. Dia akan tetap bersamamu selamanya, meskipun alam kalian sudah berbeda”


“Akhhhhh!! Aku tidak mau!! Aku mau bersama suamiku!! Aku mati saja!! Aku ingin ikut Leo!!”


“Kau tidak boleh berkata seperti itu…kita semua yang berada disini…pasti punya waktu kematian masing-masing. Tuhan lebih menyayangi suamimu, jadi dia mengambil suamimu agar suamimu tak merasakan sakit lagi”


“Lalu kenapa dia berulang kali mengembalikan nyawaku?! Seharusnya aku mati saja saat itu!! Jika tau seperti ini aku tidak mau dilahirkan kedunia ini!! Aku tidak mau!!”


Blarrrrrrrr!!


Ucapan Selena bagai petir siang bolong yang menyambar seluruh keluarga Alexandra beserta Iskandar. Tubuh Zachery goyah, cucunya bilang apa tadi? Apa cucunya menyesal sudah terlahir kedunia ini?.


“Pa…Selena hanya emosi semata…” ucap Deon menahan tubuh Papanya yang hampir ambruk.


“Kenapa aku harus dilahirkan keduani ini jika dunia ini hanya membawa penderitaan untukku?!! Aku berharap mati saja hari ini!! Aku tidak mau hidup lagi!!”


Daniel memeluk tubuh Selena dengan erat membiarkan gadis itu mengatakan apa yang tertahan dimulutnya, biarkan gadis itu mengatakan hal menyakitkan untuk melegakan hatinya.


.


.


.


Rafindra terus duduk disamping Selena yang tengah tertidur setelah mendapatkan obat penenang. Ia menatap sendu Nonanya yang kini benar-benar dalam kondisi yang amat sangat rapuh. Tapi ia bersyukur, kali ini…Nonanya tidak mengalami kritis sampai koma. Meskipun ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi kedepannya.


“Rafindra, makanlah sesuatu. Biar aku yang menjaga Selena, besok kau masih harus pergi ke kamp” ucap Daniel.


“Tidak perlu Tuan muda”


“Jangan keras kepala Rafindra” sahut Zachery.


Mendengar ucapan Zachery membuat Rafindra mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Daniel masuk, dan menganti tabung oksigen serta infus Selena.


“Kau jangan terus beraktivitas, ingat kau juga kehilangan darahmu karena Nara” ucap Zachery.


“Anda juga Tuan” jawab Daniel sembari tersenyum.


Zachery hanya bisa menghembuskan nafasnya, pemuda yang keras kepala. Bisa-bisanya menolak dengan memutar balikan ucapan. Sifat itu benar-benar mirip dengan ayahnya, memang Ayah dan anak.


“Semuanya normal?” tanya Daniel kepada Alex.


“Tekanan darahnya meningkat, tapi syukurlah sekarang sudah mulai baik-baik saja. Tapi, jahitan diperutnya terbuka. Jika dia terus…” ucap Alex tak berani melanjutkan kalimatnya.


“Sekarang…adakah yang bisa membantu memompa ASI adik ipar?” tanya Bei.


“Biar aku, berikan alatnya. Kalian keluarlah” ucap Mikayra.


Semuanya keluar, meninggalkan Mikayra bersama dengan Selena. Mikayra mengambil alat di atas kabinet dan dengan hati-hati membuka pakaian cucunya. Matanya tiba-tiba terfokus kepada sebuah luka sayatan yang samar-samar berada di dada cucunya. Ahhhh…bekas luka ini…


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2