
.
.
.
Selena menatap ruang VVIP yang kosong. Di mana Leo? Apa pria itu sudah keluar dari rumah sakit? Kenapa tidak memberitaunya jika dia sudah diperbolehkan pulang?.
Selena pergi ke tempat Alex, ia ingin bertanya sejak kapan Leo keluar dari rumah sakit ini.
“Selena, kau datang? Ada apa?”
“Hm…di mana pasien VVIP no 1?” tanya Selena, ia tak bisa memberitau Alex jika Leo adalah tunangannya. Jika sampai ada orang lain tau masalah ini, ia bisa mati kutu nanti.
“Maksudmu Tuan muda Iskandar?”
“Bagaimana kau bisa tau jika Leo adalah Tuan muda Iskandar?!” tanya Selena terkejut.
“Kau kira aku tidak tau jika dia adalah tunanganmu?” kesal Alex.
Jdarrrr!!!
“Ah itu tidak penting, kapan dia keluar dari rumah sakit ini?”
“Kemarin pagi”
Selena mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubunggi Leo, ia semakin khawatir karena Leo tak kunjung mengangkat telfonnya. Apa sesuatu sudah terjadi kepada Leo? Kenapa ia khawatir seperti ini?.
“Kenapa kau khawatir seperti itu? Dia punya banyak bodyguard”
Selena tak memperdulikan ucapan Alex, tapi Alex benar. Ia tidak boleh khawatir seperti ini. Tapi ia harus tau di mana Leo sekarang berada.
“Lebih baik aku pulang dulu”
Selena keluar dari ruangan Alex dan memesan taxi untuk pulang ke rumah. Lebih baik ia menyelesaikan tugas kuliahnya terlebih dulu. Setelah itu ia bisa mencari di mana Leo.
Namun saat membuka pintu Selena terkejut mendapati para bodyguard terkapar pingsan dilantai.
“Gas bius?!” ucap Selena segera menutupi hidungnya.
“Hahahaha!! Ternyata kakak iparku pintar juga ya…padahal aku sudah main bersih tadi” ucap seorang pria yang kini tengah duduk di sofa.
“Kau siapa?!” bentak Selena.
Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Selena. Selena memundurkan langkahnya, siapa pria ini?! Bagaimana bisa dia masuk kedalam rumah Hans!?.
“Kakak iparku yang cantik…perkanalkan aku Stefen, adik iparmu yang ke-4”
Wajah Selena memucat, pria ini adalah adik Hans. Itu berarti nyawanya berada dalam bahaya sekarang, ia harus menghindari pria ini. Namun saat hendak keluar dari rumah seorang pria menghadang tepat dipintu membuat kepanikan melanda Selena.
“Kakak iparku yang cantik…jangan takut, lebih baik kau menemani kami dulu disini” seorang pria berucap sembari menuruni tangga.
“Kalian!?”
__ADS_1
Moses, kakak Stefen yang berada di pintu mendekati Selena. Tangannya mengentuh dagu Selena namun Selena dengan cepat menepis kasar tangan pria itu.
“Jangan sentuh aku!”
“Aduh…kakak iparku yang cantik, jangan marah…kami tak akan menyakitimu” Kyler berkata dengan sudut bibir yang terangkat.
Stefen mencekal kedua tangan Selena, sedangkan Moses langsung mendekati Selena.
“Ck, benar-benar cantik…selera kak Hans benar-benar tinggi”
“Bagaimana kalau kita telanjanggi dia? Dia pasti akan menjadi jauh lebih cantik jika telanjang” ucap Kyler.
Selena memalingkan wajahnya sembari menangis saat tangan Moses hendak membuka kancing bajunya. Sebelum Moses berhasil membuka kancing baju Selena pintu dibuka dengan keras oleh seseorang.
“Jauhkan tangan kalian darinya!!!” Joe, gadis itu berteriak dengan geram.
Firasatnya benar, Selena sedang terlibat masalah. Beruntung sebelum ke kampus ia mampir dulu kerumah Selena. Jika tidak, ia tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan ke-3 bajin*an ini kepada adiknya.
“Wah…cantik juga, adik kecil…bagaimana kalau kita bersenang-senang bersama?” Kyler mendekati Joe, namun Joe langsung menendang kejantanan Kyler hingga membuat pria itu jatuh tersungkur ke lantai.
“Dasar pela*ur sial*n!” ucap Kyler.
“Joe hiks…aku takut…” isak Selena membuat Joe semakin pias dibuatnya.
“Siapa yang memberi kalian keberanian menyentuhnya?” Leo berkata dengan nada dingin diambang pintu.
Selena yang melihat kedatangan Leo langsung menggigit lengan Stefen membuat pria itu sontak melepaskan tangannya. Selena langsung berlari kearah Leo, ia memeluk kekasihnya dengan erat sembari menangis sesegukan.
“Wahhhh!!! Hiks hiks…Dear…aku takut…”
Leo memeluk tubuh Selena dengan erat. Tangan-tangan itu, ia akan mematahkan tangan-tangan yang sudah berani menyentuh Dearnya.
“Ternyata…kalian ingin bernasip sama ya dengan adik bungsu kalian…”
“Kau! Jangan-jangan kau yang membuat Lie seperti itu!!!” teriak Moses geram.
“Kalau iya kenapa? Masalah?”
DOR
DOR
DOR
3 tembakan tepat mengenai perut ke-3 Tuan muda Georgino. Tak cukup sampai disitu, Joe kembali menembak tepat mengenai kaki pria-pria itu.
“Berani sekali kalian menyentuh Selena…”
Joe melemparkan bom bius dan segera keluar dari rumah itu. Ia menatap Selena yang tengah menangis sesegukan dipelukan pria asing. Siapa pria itu? Apa pria itu salah satu saingan kakaknya.
“Aghh…hiks…Leo…wahhh!!!”
“Kau sudah baik-baik saja Dear…kau sudah baik-baik saja, berhenti menangis Okey?” bujuk Leo.
Leo menatap Joe yang tengah memperhatikan Selena. Siapa gadis ini?.
“Kau?”
__ADS_1
“Itu tidak penting, saya masih mempunyai urusan lain. Anda bisa membawa Selena pergi darisini untuk sementara”
Leo menganggukkan kepalanya, ia menggendong Selena masuk kedalam mobilnya dan menyetir pergi.
“Dia bukan pria biasa…Selena…sebenarnya, siapa kau?” guman Joe.
.
.
.
Leo dengan perlahan menarik lengannya yang menjadi alas bantal Selena, ia menarik selimut hingga batas leher Selena setelah itu keluar dari kamar.
“Tuan muda…” semua bodyguard langsung membungkuk hormat.
“Beri pelajaran kepada keluarga Georgino, mereka berani menyentuh Dear”
“Baik, kami menerima perintah anda”
“Siapkan makanan kesukaan Dear, sudah jam makan siang. Aku tak mau dia telat makan, untuk beberapa hari kedepan. Dear akan tinggal disini”
“Baik Tuan muda” semua pengurus membungkukan badan mereka.
.
.
.
Daniel menatap serius Joe yang tengah memainkan pisau ditangannya. Jika bukan karena mata-matanya yang memberitaunya tentang keberadaan ke-3 Tuan muda Georgino di kediaman Hans maka Joe pasti tidak akan sampai disana tepat waktu.
“Hmmmmm…coba kupikir-pikir…Lie, Kyler, Stefen, dan Moses sudah. Tinggal 5 lagi…hahahaha!!” Joe tertawa terbahak-bahak sembari melemparkan piaunya kesembarang arah.
“Nona muda, apa perlu saya menyelidiki pria tadi?”
“Tidak perlu, dia bukan pria sembarangan. Lagipula itu bukanlah hal yang penting untuk sekarang”
“Pria?” tanya Daniel mengerutkan kening.
“Kak, kuberitau satu hal. Kau punya saingan lain, dan sainganmu ini lebih berat daripada Hans?”
“Siapa memangnya?”
“Aku tidak tau, tapi yang pasti. Selena dekat dengan pria itu”
Daniel mengerutkan keningnya. Siapa pria yang dimaksud adiknya? Apa pria itu adalah kekasih masa lalu Selena? Jika benar, maka semakin kecil kesempatannya mendekati Selena.
“Untuk sementara biarkan Selena jauh dari sini terlebih dulu. Kita harus memastikan semuanya aman”
“Ya” jawab Joe menyentujui ucapan kakaknya.
.
.
__ADS_1
.