Our Last Love

Our Last Love
The Our Last Love (11) : I'm Sorry Selena


__ADS_3

.


.


.


Drtttttt drttttttt…


Suara dering telfon langsung membubarkan lamunan Selena, Selena segera mengangkat ponselnya yang berdering.


“Apa kau bilang?”


Daniel tersentak kaget melihat raut wajah Selena yang berubah drastis hanya dalam hitungan detik. Arghhhhhh!!!! Persetan dengan masalah!!!!! Baru saja ia mau menenangkan Selena malah ada setan lagi!!.


“Aku akan kesana sekarang juga”


Selena segera turun dari tempat tidurnya setelah menutup panggilan telfon, Selena memakai coat hitam panjangnya dan juga sarung tangan hitam. Kotoran ini…harus disingkirkan.


“Kau mau kemana? Ini sudah larut”


“Diam dan jaga anak-anak saja”


Glek…


“Ughhhhh…” Selena memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri, tidak! Ia tidak boleh tumbang sekarang! ia tidak boleh lemah disaat yang seperti ini!.


“Obatnya mulai bereaksi…”


“Maaf Selena…tapi ini yang terbaik untukmu”


Daniel melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian serba hitam tak lupa masker dan juga sarung tangan. Kumat untuk kali ini…tak pa lahhh…


“Mona…kau yang cari mati denganku”


“Bawa anak singaku kemari, sudah lama tubuh itu tidak mencicipi darah…” ucap Selena kepada penjaga diluar kamar.


“Siap laksanakan Jenderal!!”


Selena menarik pistol dari salah satu penjaga, kedatangan Jonathan kemari menambah gairah membunuhnya, tubuhnya yang sudah lama tidak bereaksi seperti ini dan sekarang bereaksi rasanya benar-benar nikmat.


“Satu lagi, pastikan Opa…tidak datang ke keluarga Iskandar”


“Baik!”


“Mona…kau ingin aku menyerahkan semuanya kepadamu bukan? Kita lihat apa kau pantas mendapatkannya”


******************


Brakkkkkk!!!


Selena membuka pintu kediaman Iskandar dengan keras membuat semua panjaga yang ada disana langsung tersentak kaget. Selena dengan nafas yang tersengal-sengal dengan wajahnya yang memerah menatap keseluruh suangan, mencari keberadaan mona dan anak haramnya.


“Salam kepada Nona besar”


“Di mana wanita itu?!”


“Nona besar!!!” Salah satu bodyguard langsung berlari menopang tubuh Selena yang hampir ambruk ke lantai. Selena memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, sial*n! Kenapa lagi ini?! Ia ingat jika ia tak pernah absen untuk minum obat, lalu apa yang terjadi sekarang?!.


“Tuan besar!!!”


Mendengar teriakan bodyguard langsung membuat para penghuni mansion megah itu keluar dari kamar masing-masing. Tuan besar Iskandar langsung buru-buru menghampiri Selena yang sudah di bawa ke sofa oleh bodyguard.


“Apa yang terjadi?! Kenapa bisa begini?!”


“Cepat panggil Bei kemari! Jangan sampai terjadi apa-apa!”


Herra mendekat dan memeriksa denyut nadi Selena, Selena meracau merasakan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya kenapa lagi? Kenapa pandangannya menjadi buram seperti ini?.


“Adik ipar, tenangkan dirimu…tekanan darahmu semakin tinggi”


Mona yang melihat Selena yang begitu kesakitan tersenyum sinis, heh…bisa-bisanya Leonardo memilih wanita lemah seperti ini untuk dijadikan seorang istri.


“Berisik sekali, kau mengganggu istirahatku dan putraku”


Pyarrrrrr…


Selena langsung melemparkan guci yang ada diatas meja kesembarang arah. Wanita tidak tau diri itu!!.


“Jangan ikut campur pela*ur!!”


“Heh, kau mengataiku pela*ur? Lalu lihat dirimu sendiri, apa kau tampak seperti wanita suci? Bitch…”


“Tutup mulutmu dan masuk saja ke kamar tamu!!!” bentak kakak angkat Leo.


“Kau!!!”


“Apa yang terjadi?! Selena! Apa kau baik-baik saja?!” tanya Bei yang datang sembari membawa tasnya.


Mata Bei membulat melihat Selena yang sudah hampir tidak sadarkan diri dengan wajah yang begitu merah. Apa Selena mengalami keracunan?! Sudah lama ia tidak menangani Selena yang seperti ini!.


“Tolong berikan dia ruang, dia tidak bisa bernafas jika kalian mengerumuninya seperti itu!”


Semuanya langsung menjauh dari Selena membiarkan Bei menangani Selena, Selena dengan kesadaran yang semakin menipis melirih memanggil nama suaminya berulang kali.


“Tolong berikan aku sendok perak!”


Salah seorang pelayan langsung bergegas mengambilkan sendok perak dan diberikannya kepada Bei. Bei mengeluarkan sebotol madu dari tasnya dan menyuapi Selena menggunakan sendok perak itu. Sial*n, ia tak membawa jarum saat kemari dan mana mungkin dikeluarga Iskandar ada jarum perak yang biasa ia gunakan.


“Astaga! Itu menghitam!” ucap Herra, adik iparnya benar-benar mengalami keracunan!.


“Adik ipar, racun yang masuk ketubuhmu tidaklah sedikit. Sementara madu ini akan mengurangi rasa sakitnya, tolong pertahankan kesadaran sampai 1 jam kedepan”


“Aku tidak bisa…Leo…” tangan Selena yang gemetar hebat mencoba menggapai sesuatu yang tiada bentuknya.


“Ambilkan masker oksigen sekarang!! Dan minta Micle mengirim semua obat penawar yang ada di lab!”


Bei mengeraskan rahangnya, sial*n…racun apa ini? Bagaimana bisa tubuh yang sudah ia kebalkan terhadap racun apapun bisa bereaksi seperti ini? Apa imun Selena sedang menurun? Apa itu yang membuat obat penawar yang dulu sering ia berikan kepada Selena tak mampu melawan racun ini?.


“Pe-perutku…” mata Selena sontak membulat sembari memegangi perutnya, panas! Perutnya seperti mendidih!.


“Siapa kau!? Siapa yang mengizinkanmu masuk kemari?!” ditengah kepanikan seluruh kediaman itu beberapa orang bodyguard tanpak mencegah seorang pria asing yang hendak masuk kedalam kediaman.


“Menyingkir”


Pria itu menyingkirkan tangan-tangan bodyguard yang menghalaunya dan menghampiri Selena, Bei mengerutkan kening melihat pria asing yang datang menghampiri Selena.


“Siapa kau?!”


Mata Selena yang lemah menatap kearah pria itu, hmmmmmm?.


“Kau-”


Belum selesai Selena memanggil pria itu meletakkan jari telunjuknya di bibir memberikan kode agar Selena tidak mengatakan apapun.


Pria itu duduk disamping Selena, membawa tubuh ramping itu kedalam pelukannya. Tangan besarnya dengan halus membelai setiap inci wajah rupawan Selena.

__ADS_1


“Dingin…nyaman sekali…”


“Sabarlah…kau akan segera membaik dalam 30 menit…”


“Sakit…tubuhku sakit…”


“Maaf…aku baru bisa menganimu 30 menit lagi”


“Kau…kau yang melakukan ini?” lirih Selena.


“Jika aku tidak melakukan ini, bagaimana caranya racun itu keluar dari tubuhmu?”


“Apa maksudmu…aku tak pernah keracun-”


Pria itu dengan sigap langsung mengeluarkan kantung muntah dan membuat Selena langsung memuntahkan isi perutnya.


“Aku akan membawamu kerumah sakit…”


“Tidak…aku tidak mau kesana…”


“Kenapa? aku perlu memeriksa di mana saja racun itu sudah menyebar”


“Aku tidak mau mati disana…aku tidak mau…” lirih Selena dengan air mata yang sudah menetes.


Degh!


“Baiklah, di mana kamar Leo?”


“A-akan kuantar” ucap Herra.


Pria itu menggendong tubuh Selena yang terkulai lemas mengikuti herra menuju salah satu kamar di lantai 3. Saat pintu kamar terbuka, mata pria itu tersentak melihat sebuah foto keluarga yang begitu besar terpajang di dinding kamar.


Pria itu membawa Selena ke tempat tidur, membaringkan wanita yang hampir tak sadarkan diri dan menyelimutinya. Tangan Selena yang gemetar membuka masker pria itu, wajah tempan itu terpajang jelas dihadapan Selena.


“Daniel…”


“Maaf membuatmu kesakitan seperti ini…”


“Ada apa dengan tubuhku…racun apa yang kau maksud?”


“Kau…mengalami keracunan, sejak 2 minggu yang lalu…”


Selena mengerutkan kening, ia sudah keracunan sejak 2 minggu yang lalu? Apakah itu saat ia tumbang diacara rapat pemegang saham? Tapi bukankah dokter bilang ia hanya kelelahan?.


Daniel menatap jam tangannya, sial*n…ia yang memberikan obat penawar itu tapi ia juga tak tahan melihat Selena yang begitu kesakitan, tapi jika diobati sekarang pasti akan ada racun yang tersisa. Tidak! Ia harus mengeluarkan semua racun itu sebelum merusak organ dalam Selena.


“Daniel…”


“Ya?”


“Apa jantungnya baik-baik saja?”


“Aku mengharapkannya”


“Ini jantung Papa…jantung ini harus baik-baik saja…”


Degh!


A-apa? Ja-jantung Jenderal besar Nami ada dalam tubuh Selena? Hal kelam apalagi yang belum ia ketahui? Masa kelam apa saja yang sudah dihadapi Selena?.


“I-iya”


“Pergilah…jangan pedulikan aku…tolong urus masalah DNA…”


“Anak singaku akan segera datang…aku akan baik-baik saja…aku berjanji kepadamu”


“Tidak…aku tidak akan pergi”


Daniel menatap sebuah kembang api yang tampak jelas dari arah jendela, sial*n…itu signal dari bawahannya! Mereka pasti sudah menemukan sesuatu, ia harus segera pergi memeriksa!.


“Pergilah…ini permintaanku…”


“Baiklah, ketika kau merasa sakitnya kembali…muntahkan isi perutmu”


“Aku mengerti…”


Daniel memakai kembali maskernya dan menatap Bei yang masuk kedalam kamar, ia segera pergi melalui jendela agar lebih cepat sampai kepada anak buahnya.


“Bei…”


“Aku disini…”


“Minta…bawahanmu menjemput anak-anak…mereka akan dalam bahaya…”


“Apa Tuan Rafindra tidak ikut?”


“Paman Raf…sedang bertugas bersama Paman Hendrick…anak-anak bisa dalam bahaya jika tidak ada aku…”


“Kau sedang lemah seperti ini…kau tak mungkin bisa melindungi mereka…”


“Aku…akan melindungi mereka…apapun yang terjadi…”


“Baiklah, aku akan meminta Micle kemari membawa anak-anak. Aku juga akan menghubungi Derrian agar dia segera kemari…”


“Jangan…biarkan Mona…tau anak-anakku ada disini…”


“Baiklah, istirahatlah…aku akan kembali saat penawarnya sudah tiba”


Bei keluar dari kamar itu dan menguncinya agar mona tidak dapat masuk kedalam kamar. Selena meneteskan air matanya ketika Bei pergi, tubuhnya terasa sudah mati rasa…apa ia akan segera mati? Apa ia akan segera bertemu dengan Papanya? Apakah ia tidak akan menderita lagi setelah ini?.


“Hahahaha Selena…mati? Tidak mungkin kau mati dengan cara konyol seperti ini…”


“Kau…senangkan melihatku seperti ini?”


“Tentu saja tidak, tapi dengan kondisimu seperti ini…aku lebih mudah jika ingin menguasaimu”


“Haha, dasar iblis gila…”


“Kau lebih gila daripada diriku Selena…”


“Memuakkan…pergi sana”


“Kau masih bisa bersikap seperti itu kepadaku? Bagaimana? Mau kubantu?”


“Enyahlah…”


“Kau yakin tak mau aku membantumu dengan kekuatanku? Aku bisa memberitaumu sebuah rahasia jika kau mengizinkanku melakukannya kali ini”


“Jangan banyak bicara! Kau membuatku muak!”


“Hahahaha…bisa-bisanya putri kebanggaan seorang Nami tumbang karena sebuah racun? Menurutlah kali ini jika kau ingin anakmu aman”


“…, lakukan”


Selena memejamkan matanya dan sesaat kemudian membuka matanya, tubuh itu bangun dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu dan merusaknya.

__ADS_1


“Heh…jalang kecil…mari kutunjukan sisi sebenarnya seorang Nara, kau ingin bersaing dengan singaku bukan? Mari kita lihat, bisakah kau membuat luka ditubuh ini”


“Kenapa harus aku yang pergi?! Kediaman ini sudah menjadi milikku!! Jadi kalian semua yang seharusnya pergi! Jangan lupa bawa wanita penyakitan itu dari sini!”


“Tutup mulutmu! Siapa kau berani menghina cucu menantuku seperti itu?!” geram Tuan besar Iskandar.


“Kenapa?! Anda tidak terima?! Karena kedatangannya membuat waktu istirahatku terganggu! Cepat bawa dia pergi sekarang juga!”


Selena tersenyum sinis mendengar ucapan tak senang Mona akan kehadirannya, jari lentik Selena mengempulkan dan menguncir rambut panjang nan indah itu. Akan lebih mudah membunuh dengan rambut yang terikat rapi.


“Cih, rambutmu panjang sekali. Ini susah mengikatnya!”


“Sejak kapan kediaman ini menjadi milikmu?” tanya Selena langsung mengejutkan semua orang yang berada disana.


Tuan besar Iskandar mengepalkan tangannya, aura ini! Aura yang berbeda jauh dengan aura Selena! Apa ini kepribadian ganda yang pernah dikatakan Hendrick kepadanya?!.


“Cih, kupikir kau akan segera mati tapi ternyata kau masih hidup. Kalau begitu baguslah, cepat pergi darisini sekarang juga!” ucap Mona sembari menunjuk kearah pintu yang terbuka lebar karena rusak.


“Maaf, aku tidak mengerti bahasa binatang”


“Kau!!!” ucap Mona tersentak, kenapa wanita ini terasa berbeda dari sebelumnya?! Aura membunuh yang begitu pekat dan ucapan yang sarkas daripada sebelumnya. Apa dia masih wanita yang sama?!.


“Kenapa? Tidak terima? Selagi aku bicara baik-baik, angkat kaki dari kediaman ini bersama anak harammu itu. karena aku tak sudi, tempat yang digunakan untuk mengajari tatakrama kepada Selena…dikotori oleh anjing”


“Beraninya kau mengataiku anjing!!!”


“Ohhh, sadar diri ternyata…daripada basa-basi lagi…dalam hitungan ketiga kau tidak keluar dari kediaman ini…kubunuh kau beserta keluargamu”


“3!”


Selena menarik pedang yang ia bawa dari kamar dan, menghunuskannya dileher Mona. Mona seketika gemetar, gerakan yang tak mampu dibaca oleh mata, bagaimana wanita ini melakukannya?.


“Heh, kau mau membunuhku? Jangan lupa bahwa aku adalah Nona besar keluarga River dan juga Ibu dari calon pewaris keluarga Iskandar, jika kau membunuhku…anakku tak akan tinggal diam”


“Tinggal kubunuh anakmu apa susahnya”


“Apa?!”


“Berhenti!!”


Selena mendongkak, menatap seorang pria yang datang dengan nafas tersengal-sengal. Cihhhh…mengganggu saja.


“Nona besar! Saya ingin menyampaikan hasil tes DNA!!”


“Katakan”


“Itu bukan anak dari mendiang Tuan muda! Hasil ini menunjukan mereka tak ada hubungan apapun!! Saya sudah memeriksa sleuruh hasil tes, dan semuanya memiliki hasil negatif!!”


“Apa?! Mustahil!! Arkan adalah anak Leonardo!!”


“Saya tidak berbohong! Saya berani bersumpah atas nama Jenderal besar Nami bahwa yang saya katakan adalah kebenaran!!”


“Ughhhhhh…”


Rafindra langsung menopang tubuh Selena yang hampir ambruk ke lantai.


“Anda baik-baik saja Nona?”


“Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing”


Selena melepaskan diri dari Rafindra dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Kedua mata jade Selena menatap dingin Mona. Mona dengan spontan mengambil pedang yang dijatuhkan Selena dan menghunuskannya di leher yang empu.


“Nara!!!”


“Arkan adalah anak Leo!! Jangan membuat balikan fakta sial*n!!!”


“Ada satu hal yang paling kubenci di dunia ini, dan kau perlu tau itu. Aku paling benci dengan wajah seorang jala*g yang tak tau malu seperti dirimu”


“Paman Raf, sekap wanita itu dan anaknya. Lusa…siapkan eksekusi mati untuk mereka berdua”


“Siap laksanakan Jenderal!!!”


“Je-jenderal?”


Selena menepis kasar mata pedang yang hendak menyentuh lehernya, Mona kaget bukan main melihat Selena yang menepis pedang hingga terjatuh dari tangannya tanpa menimbulkan luka sedikitpun.


“Aku adalah putri Jenderal besar Nami, keinginanku adalah perintah dan keputusanku tak bisa diubah. Kau sudah berani mencoreng nama baik suamiku serta keluarganya. Maka seharusnya kematianmu masih belum bisa dikatakan impas”


Mona langsung jatuh terduduk di lantai, ti-tidak mungkin. Arkan adalah anak kandung Leonardo! Ia yakin! Karena hanya Leonardo yang menyentuh tubuhnya!.


“Aku bersumpah bahwa Arkan adalah anak kandung Leonardo!! Hanya dia yang pernah menyetubuhiku!!”


“Aku heran denganmu, sudah begitu jelas kenapa masih keras kepala? Dan bagaimana bisa, kau bangga sudah melahirkan anak diluar pernikahan? Apalagi dengan suami orang?”


Degh!!!


Ucapan Selena seketika mampu membungkam mulut Mona, sekujur tubuh Mona gemetar. Tak terima!! Ia tak terima diperlakukan seperti ini oleh Selena!! Ia adalah putri keluarga River!! Keluarga yang akan segera menjadi besan keluarga Jasson!!.


Mona langsung menggendong putranya dan berlari keluar dari mansion itu, sudut bibir Selena terangkat. Ingin kabur? Mimpi siang bolong!!.


“Paman Raf, selidiki siapa yang ada dibelakang wanita itu. Semakin cepat, semakin aman”


“Baik Nona”


“Berikan aku masker”


“Maaf?”


Tangan Selena langsung merogoh saku jas Rafindra dan mengambil sebuah masker hitam dari dalam sana, Selena memakainya dan langsung berlari keluar dari mansion setelah menarik salah satu senjata api ditangan Rafindra.


“Nona tunggu!! Anda ingin kemana?!! Ini sudah malam!!! Anda akan masuk angin!!! Ahhhh!!! Kenapa kalian diam?!! Cepat kejar sial*n!!!” teriak Rafindra panik sendiri.


“Ba-baik!!”


Selena tersenyum sinis melihat Mona yang dengan panik berlari menggendong anaknya, menantang iblis seperti dirinya? Jangan main-main, ingin melarikan diri? Akan ia kejar sampai keujung dunia sekalipun.


“Mau kemana?” Selena menatap kesal Daniel yang tengah menghadang jalannya, muncul darimana orang ini? menghadang jalannya pula.


“Kutanya mau kemana?”


“Bukan urusanmu! Minggir!”


“Nggak usah keluar, tubuhmu baru pulih. Jangan macam-macam”


“Apa sih?! Jangan ikut campur bisa?!”


Daniel melepaskan dasinya dan mencekal tangan Selena yang hendak kabur, Daniel mengikat kedua tangan Selena dan menggendong Selena di bahunya seperti sebuah karung. Selena tentu sjaa memukuli punggung Daniel agar pria itu menurunkannya.


“Aaaaaa!! Turunkan aku!!! Jangan membawaku seperti ini!!! Papa!!! Selamatkan anakmu!!!!” Selena berteriak dengan keras ketika meliohat Daniel yang melompat dari atap keluarga Leonardo, tinggi mansion ini hampir 150m!!!.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2