
“Cih, itu sepadan dengan apa yang dilakukan Yeni kepada kepada Jenssica” sinis Hendrick.
Leo mengusap rambutnya kebelakang dengan frustasi, sial*n! Sekarang Jennifer hilang entah kemana! Ia takut jika sampai keluarga Georgino yang menyekap Jennifer. Ia harus secepatnya menemukan dimana keberadaan Jennifer.
“Besok, kita akan membongkar makam, kita harus mengambil surat wasiat yang ditinggalkan Ruvelis dan Jenssica sekaligus menganti pakaian mereka”
“Istriku tidak akan setuju”
“Aku yang akan bicara kepadanya nanti” ucap Lonza membuat Leo mau tidak mau menyetujui ucapan Hendrick.
*
At Amsterdam – Belanda, 09.00 AM!
Setelah semalaman membujuk Selena akhirnya si empu menyetujui untuk membongkar makam kedua orang tuanya setelah Hendrick yang membujuknya.
Tanah mulai digali, beberapa waktu kemudian akhirnya peti mati Ruvelis di keluarkan. Tangis Selena kembali pecah melihat peti mati sang Papa tercinta.
Selena dengan tangan yang gemetar hebat membuka peti mati Papanya. Tampak jasad yang masih sangat utuh lengkap dengan seragam Jenderal besarnya. Matanya menatap surat yang berada ditangan Papanya, namun ia tidak memperdulikan surat itu. Tangan dengan halus membelai setiap inc wajah rupawan Ruvelis membuat orang-orang yang berada di pemakaman itu tak kuasa menahan air mata.
“Setelah sekian lama…akhirnya aku bisa melihat Papa lagi” ucap Selena sembari tersenyum manis.
“Nara sayang Papa…semoga Papa bahagia ya disana, tunggu Nara ya Papa…”
Peti mati Jenssica pun dikeluarkan, Selena mengambil surat yang berada ditangan Papanya dan beralih untuk membuka peti mata Mama tercintanya.
Selena dengan senyumannya menatap sang wajah Mama tercinta yang masih begitu cantik lengkap dengan pakaian dokternya.
“Ma…aku harap, Papa dan Mama bahagia disana ya…jangan khawatirkan Selena lagi. Mulai saat ini…Selena akan mencoba melindungi diri sendiri, jadi Mama tidak perlu takut lagi jika aku akan terluka. Nara sayang Mama…terima kasih untuk semuanya” Selena mengecup lama dahi Mamanya dan mengambil surat yang ada.
Peti mati kembali ditutup, kedua peti mati itu dibawa ke kamp militer yang terletak tak jauh dari area pemakaman.
__ADS_1
“Paman, bisakah memindahkan makam Mama disebelah Papa? Tapi tolong sisahkan ditengah-tengah Papa Mama ya” ucap Selena menghapus air matanya.
“Kenapa?” tanya Hendrick dengan suara gemetar menahan air mata.
“Karena nanti jika aku sudah tidak ada, aku ingin dimakamkan ditengah-tengah Papa Mama!”
Nyutttt…
Semua orang yang mendengarnya langsung mencengkram dada mereka yang berdenyut nyeri. Hendrick mendekati Selena, ia memeluk erat keponakannya itu.
“Iya…nanti Paman sisahkan untukmu ya”
“Paman, boleh aku minta sesuatu lagi?”
“Katakanlah”
“Bisa Paman pindahkan makam Papa dan Mama Leo kesini juga?”
“Iya…nanti Paman pindahkan ya sayang”
At Amsterdam – Belanda, 08.45 PM!
Selena masuk kedalam ruang pribadi Hendrick sembari membawa surat wasiat Papa dan Mamanya. Ia menatap surat-surat itu dengan air mata yang kembali mengalir membasahi pipi.
Ia membuka terlebih dulu surat wasiat Papanya, sebuah tulisan indah tertulis rapi disana.
~ “ My Dear Nara. Nara, sayang…maafkan Papa ya sayang. Papa tidak bisa menemani Nara sampai Nara tumbuh
dewasa, Papa tidak bisa menemani Nara sampai Nara menikah dengan Leo. Tapi Papa harap, Nara baik-baik saja walaupun Papa sudah tidak ada…Papa tidak meminta Nara menjadi anak yang kuat, Papa hanya ingin…Nara bisa jaga diri baik-baik jika Papa dan Mama sudah tidak ada. Papa sangat menyayangi Nara lebih dari segalanya, percayalah sayang…kau anugrah terindah yang pernah Papa dapatkan seumur hidup Papa. Papa sangat menyayangimu, dan itu terkadang membuat Mamamu cemburu. Sekali lagi maaf ya sayang…maaf Papa harus meninggalkanmu dengan sejuta kesedihan. Dan Papa harap, Nara bisa menjadi seorang Jenderal Besar seperti yang Nara inginkan. I love you my daughter…Papa akan selalu hidup dihatimu” ~
Tangis Selena pecah, ia berteriak meluapkan kesedihannya. Tangisan serta teriakan Selena sukses membuat seluruh penghuni villa megah itu berlari kesumber suara. Leo dengan wajah paniknya mendobrak pintu, ia tersentak kaget melihat istrinya yang tengah menangis sembari memeluk surat yang ditinggalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Dear…”
“Haaaaa!!! Hiks hiks…Papa…”
Leo berjalan mendekat, ia bersimpuh disamping istrinya. Selena langsung memeluk Leo dengan erat meluapkan kesedihannya. Leo membelai kepala istrinya dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan kepada istrinya.
“Jangan menangis…kumohon…”
“Akhhhhh hiks hiks…Leo…”
Leo menggigit bibir bawahnya, Bei mendekati Selena dan menyuntikan obat bius membuat tubuh Selena perlahan lunglai dipelukan Leo. Leo mencium setiap inc wajah istrinya, ia menghapus air mata yang turun membasahi pipi lembut istrinya.
Leo menggendong Selena keluar dari ruang pribadi itu menuju kamarnya. Setelah membaringkan tubuh istrinya ia keluar dan berkumpul bersama di ruang tamu. Ia menatap beberapa pengacara terkenal yang hadir untuk menjadi saksi surat wasiat yang ditinggalkan Ruvelis dan Jenssica.
Deon memberikan secarik surat kepada Leo, Leo membuka surat itu dengan perlahan. Apa ini wasiat yang ditulis untuknya?.
~ “ Leo, maaf jika Papa harus membebanimu. Papa ingin, kau mengantikan Papa menjaga Nara. Awalnya Papa tak ingin melakukan ini, tapi Papa harus melakukannya. Leo, jika Papa sudah tidak ada…maka kau yang harus melindungi Nara mengantikan Papa ya. Tapi Papa tidak memaksa jika kau tidak mau melakukannya. Leo, kau bilang kau mencintai putriku bukan? Aku memberikan restuku kepadamu, nikahi putriku, jadikan dia milikmu, jadikan dia tanggung jawabmu. Tapi…jika kelak kau sudah tak bisa menjaga putriku, maka berikanlah dia kepada orang yang kau percaya untuk menjaganya. Sekali lagi Papa minta maaf jika Papa harus memberikan tanggung jawab ini kepadamu ” ~
Leo menundukan kepalanya setelah selesai membaca surat wasiat dari Ayah mertuanya.
“Aku janji pa…selama aku hidup, aku akan melindungi Naramu” ucap Leo meneteskan air matanya.
Kini giliran Deon yang membuka surat wasiat yang ditujukan kepadanya.
~ “ Deon, adikku tersayang. Aku minta kepadamu, ajari putriku semua kemampuan yang kau miliki. Didik dia mengantikanku, ajari dia semuanya. Kau tau kan, dia adalah anugerah terindah yang hadir dalam hidupku. Aku ingin melihatnya tumbuh dewasa, kakak ingin memberikannya kepada orang yang dicintainya. Tapi aku sadar, aku tak bisa melakukan itu. Jadi aku minta kepadamu, gantikan posisiku. Gantikan aku sebagai ayahnya, aku tau kau mungkin kecewa kepadaku karena aku lebih memilih Negaraku daripada anakku. Tapi katakanlah kepada putriku ‘ Ayahnya mencintainya lebih dari segalanya ’. Dan aku ingin, kau bisa mendidiknya menjadi orang yang bertanggung jawab agar dia bisa membangkitkan keluarga Alexandra. Selamat tinggal adikku” ~
Deon mencium surat itu dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya. Ternyata, sejak awal kakaknya sudah merasa bahwa dia akan segera pergi.
Dan sekarang tibalah di surat terakhir, Hendrick dengan tangan yang gemetar mengambil surat itu dan membukanya.
~ “ Hendrick, kau adalah sahabat terdekatku. Kau pernah berjanji kepadaku, jika aku mempunyai seorang anak kau akan memberikan gelar Jenderal muda kepadanya. Hendrick, berjanjilah kepadaku. Selama kau hidup, kaulah yang harus menjaga putriku di kamp kemiliteran. Kamp bukan tempat yang suci, aku menyayangi putriku lebih dari segalanya dan itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Jadi kelak, jika aku sudah tidak ada…kau yang harus membuat putriku sama seperti diriku. Aku berharap, dengan dia belajar darimu dia bisa menjadi penerusku di kamp. Tapi jangan marah ya, jika putriku mempunyai sifat yang menjengkelkan sepertiku. Dan ingat, kau sudah kalah taruhan denganku. Dan ya…jika aku sudah tidak ada, aku akan memberikan seluruh hartaku kepada putriku, Selena…” ~
__ADS_1
Senyum tipis terukir di bibir Hendrick, pria bodoh itu berani sekali melakukan ini kepadanya. Tanpa perlu diminta, ia pasti akan mendidik putri sahabatnya sebaik mungkin. Pria bodoh itu, benar-benar membuatnya tak punya alasan lain selain mengabulkan permintaannya.