
.
.
.
Daniel membuka matanya dengan perlahan, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ahhhh shit…ia minum terlalu banyak semalam, dan ia tidak bisa mengingat apapun lagi sekarang. Jika dipikir itu adalah kali pertamanya ia menyentuh alkohol dan itu hampir overdosis. Sial*n!! Ia tak kan meminum minuman laknat seperti itu lagi, entah wine atau yang sejenisnya! Ice tea lebih enak menurutnya daripada minuman-minuman itu.
“Kau sudah bangun?” tanya Zachery meminum teh dengan santainya.
“Tuan besar?!” ucap Daniel berjingkat kaget dari posisi tidurnya ketika mendengar suara dingin menembus telinganya.
“Tidak perlu terkejut seperti itu, minum teh ini. Itu bisa meringankan sakit kepalamu”
Daniel mematuhi ucapan Zachery, ia meminum teh itu dan benar…beberapa saat kemudian kepalanya sudah tidak terasa sakit lagi. Ini sudah jam berapa? Kenapa Tuan besar sudah rapi begini?.
“Sudah jam 11, koki akan menyiapkan makanan. Mandilah sekarang”
“Apa?! Sudah jam 11?!”
Daniel buru-buru memakai sepatunya dan bergegas menaiki anak tangga, namun langkahnya seketika terhenti ketika mendengar suara tawa Leon dan Leona.
“Leon, Leona” ucap Daniel ketika melihat kedua anaknya sedang digendong oleh Deon dan Jeff.
Daniel menghampiri kedua anak itu dan mencium kepala mereka, Leon mengangkat tanggannya biasanya diminta untuk di gendong.
“Papa mandi dulu ya sayang, nanti Papa bawa kalian jalan-jalan keluar”
“Mandilah, Selena bilang kau mabuk berat. Jadi dia melarang kami membangunkanmu”
Degh!
“Lalu…di mana Selena sekarang?”
“Pergi sejak semalam, entah kemana. Rafindra juga tidak tau”
Daniel mengusap rambutnya kebelakang, damn it…apa Selena pergi karena ia mengatakan sesuatu yang aneh semalam? Ia harus menemui Selena.
“Nona besar…” para penjaga membungkuk hormat ketika Selena memasuki kediaman, mata dingin Selena dan mata tajam Daniel saling bertemu namun Selena langsung memalingkan wajahnya agar matanya tak lagi memandang kearah Daniel.
“Sudah pulang? Kemana saja semalam? Kenapa ponselnya tidak dibawa?”
“Cari pelampiasan, ponselku hancur kubanting semalam”
“Pelampiasan? Tapi kenapa wajahmu seperti belum puas seperti itu?”
“Menurut Paman?” sengit Selena.
Deon dan Jeff saling memandang, dari logat bicara keponakannya…sepertinya gagal membunuh. Siapa yang sudah mencegah keponakannya untuk melampiaskan kekesalannya? Jika begini mereka yang bisa terkena imbasnya.
Selena berjalan melewati Daniel berniat pergi ke kamar keduanya, namun saat hendak menapakkan kakinya di anak tangga yang pertama Daniel mencekal tangan Selena membuat Selena langsung mengangkat alis kirinya bertanya mengenai keberanian Daniel yang mencoba menganggunya disaat yang seperti ini.
“Apa?”
“Aku ingin bicara”
“Nanti saja, aku ingin tidur”
“Sekarang, aku ingin bicara sekarang” tak perlu menunggu jawaban Selena, Daniel langsung menarik tangan Selena menuju kamar anak-anak.
“Jangan kasari cucuku Daniel!!!” teriak Zachery.
Mendengar hal itu Daniel langsung melepaskan tangan Selena, ya tuhan…apa yang baru saja ia lakukan?.
“Maafkan aku, aku tak berniat untuk menyakitimu. Apa tanganmu sakit?”
“Sekalipun kau adalah putraku, jika kau mengasari cucuku…aku tak akan segan-segan membunuhmu” geram Zachery.
“Sekali lagi maafkan aku, aku tak bermaksud menyakitimu”
“Kita bicara di ruang kerja Papa saja”
Daniel mengikuti kemana Selena pergi, saat sudah sampai di ruang kerja Ruvelis Daniel langsung mengunci pintu karena tak ingin seseorang mengganggu pembicaraannya dengan Selena.
“Ada apa?”
“Bisakah aku tidak pergi?”
“Kau harus”
“But why? Katakan alasannya kepadaku”
“I can’t”
Daniel mengepalkan tangannya, memalingkan pandangannya agar tidak menatap kearah Selena lagi. Selena yang melihat Daniel seperti itu hanya bisa menghembuskan nafas, entah kenapa ia seperti melihat sosoknya dulu ketika berbicara kepada Papanya dan Papanya tidak menyetujui hal itu. Sekarang ia tau kenapa Papanya selalu menyetujui permintaannya, karena Papanya adalah tipe orang yang malas berdebat sedangkan ia adalah orang yang keras kepala, maka dari itu Papanya sebisa mungkin menghindari adu mulut dengannya dengan cara menuruti kemauannya.
“Kau pergilah, ini sudah menjadi kewajibanmu. Siapkan barang-barangmu, akan kuantar nanti kebandara”
“Benar-benar tidak bisa?”
“No…” ucap Selena sembari menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu…”
Selena sontak memundurkan langkahnya ketika Daniel mulai mendekat kearahnya, a-apa yang mau Daniel lakukan?! A-apa pria ini mabuk lagi?! Atau kena gangguan mental?!.
“Aku tarik kata-kataku!!!!” batin Selena berteriak didalam hatinya ketika mengingat ia dulu pernah mengatakan ingin mempunyai suami yang mirip seperti Papanya.
“Ja-jangan macam-macam Daniel”
Punggung Selena membentur tembok, Daniel mendekatkan tubuhnya pada Selena. Mata dingin keduanya saling bertemu, Selena menelan ludahnya dengan kasar. Ingin sekali ia berteriak minta tolong tapi pastinya itu percuma karena ruangan ini kedap suara.
“Da-daniel…”
“Aku akan pergi…dengan satu syarat…”
“A-apa?”
Daniel mendekatkan wajahnya ditelinga Selena dan membisikan ssuatu yang langsung membuat Selena membeku. Daniel memegang kedua bahu Selena, jika sikap lembutnya tak bisa membuat Selena goyah maka ia akan menunjukan sisi dinginnya dan membuat wanita yang ia cintai ini…mau tidak mau harus menuruti kata-katanya.
__ADS_1
“Jika kau tidak mau…aku tidak akan pergi, sekalipun kau mengeluarkan surat pertamamu”
“Jangan gila Daniel!” bentak selena
“Aku memang gila! Aku gila karena kau!! Aku gila karena terus menyembunyikan perasaanku kepadamu dan pada akhirnya kau tau dan kau!! Malah mendorongku untuk menjauhimu!?”
“Tahan Daniel…jangan membuat semuanya menjadi semakin buruk…jangan membuat Selena membencimu…”
“Aku akan pergi, jika kau menyetujui syarat dariku”
“Keluarlah”
Daniel keluar tanpa bicara lagi, Daniel berjingkat kaget mendapati para Alexandra sudah berada di luar ruangan. Pria-pria gila ini, apa mereka baru saja menguping pembicaraannya dengan Selena?!.
“Penguping” cibir Daniel, apa ini adalah salah satu kebiasaan anak keluarga Alexandra? Menguping didepan ruangan yang jelas-jelas kedap suara?.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Bukan urusan kalian”
Daniel pergi begitu saja meninggalkan para Alexandra dan menuju kamar yang ia tempati.
.
.
.
Zachery menatap cucunya serta Daniel secara bergantian, entah kenapa suasana meja makan kali ini terasa benar-benar mencekam dari biasanya karena cucunya dan Daniel sekarang ini…sedang perang dingin, dan...ia benci situasi yang seperti ini.
“Aku sudah selesai”
“Kau belum memakan makananmu sama sekali, mau kemana?” tanya Alexa.
“Pergi” singkat Selena karena sedang malas berdebat dengan Pamannya.
“Makan dulu sayang, nanti lambungmu kumat lagi bagaimana?” ucap Mikayra.
“Tinggal kerumah sakit” jawab Selena.
“Makan makananmu” dingin Daniel.
“Jangan ikut campur”
“Jangan memaksaku Selena…”
“Kau!!”
Selena yang sudah berdiri kembali duduk di tempatnya dan memakan makanannya walaupun ia tak punya selera untuk memakan makanan ini. Daniel seketika menghentikan acara makannya ketika mendengar tangisan dari anaknya yang berada diruang tamu.
Daniel menggendong Leon yang kembali menangis, tumben sekali Leon rewel seperti ini. Selena menatap datar Daniel yang tengah memberikan susu untuk putranya, sighhhh…
“Apa yang kalian berdua bicarakan semalam?” tanya Deon.
“Bukan urusan Paman”
Selena menganggukkan kepalanya dan segera pergi untuk menemui X, X membungkuk hormat ketika melihat Tuannya. X memberikan sebuah surat kepada Selena an Selena langsung membaca surat yang berasal dari Hendrick. Setelah selesai membaca surat itu Selena menghembuskan nafasnya…sighhhhhh.
“X, Daniel menjadi tanggung jawabmu mulai minggu depan. Pergilah bersamanya ke kamp 6”
“Saya menerima perintah anda”
Daniel yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam, sudahlah…tidak mudah untuk mengubah apa yang sudah menjadi keputusan Selena. Semakin ia membantah semakin besar pula risiko yang ia terima, meskipun hanya 3 tahun…tapi entah kenapa ia benar-benar berat meninggalkan Selena dengan ke-2 malaikat yang bisa menjadi iblis jika sudah susah ditangani ini, ditambah lagi sebentar lagi Ryu juga akan keluar dari rumah sakit.
Selena melepaskan lencana yang terpasang di setiap baju yang ia kenakan dan diberikannya kepada Daniel. Daniel menatap eran sebuah lencana ditangannya.
“Kamp 6 lebih keras daripada kamp utama, jangan lepaskan lencana itu jika kau tidak ini kenapa-napa”
“Tapi Nona…” ucap X.
“Tidak siapapun boleh mengusik orangku, sampaikan pesanku kepada Jenderal muda. Jangan memberikan hak spesial kepada Daniel sekalipun dia adalah partnerku”
“Baik…”
“Selena”
“Hm?”
“Apa…ada hal aneh yang kukatakan saat mabuk?”
Selena mengangkat sebelah alisnya, kenapa Daniel tiba-tiba menanyakan hal ini? Seharusnya Daniel tau bahwa pria itu sudah mengatakan hal-hal yang aneh kepada dirinya sampai dirinya tak mampu berkata apa-apa.
“No…why?”
“Ahhhh, aku hanya berpikir bahwa aku sudah mengatakan hal yang aneh kepadamu. Karena itu pertama kalinya aku mabuk”
“Hah?! Kau bilang apa?”
“Ya…itu pengalaman pertamaku meminum alkohol”
“What?! Kau baru minum alkohol diusiamu yang ke-21?! Aku saja sudah minum wiskey saat umur 10 tahun!”
“Apa?! Gila apa kau minum wiskey diumurmu yang ke-10?! Apa kau tidak tau jika itu illegal?!”
Selena memijat kepalanya, Papanya takut ia dalam bahaya jika dalam kondisi mabuk. Makannya ia diajari minum sejak dini dan buktinya itu berhasil, ia tak pernah mabuk lagi ketika minum banyak botol wiskey…tapi tetap saja ia langsung tepar jika minum seteguk wine.
“Kau memang pria baik-baik Daniel, bisa-bisanya Joe punya kakak sepertimu”
**********
Bandara!
.
.
.
Selena menatap barang-barang Daniel yang mulai dimasukan pramugara kedalam pesawat. Mata Daniel dan Selena kembali bertemu, Selena menatap Ryu yang berada dalam gendongan Daniel. Baru keluar dari rumah sakit langsung dibawa ke bandara, ada memang gila-gilanya Alex.
__ADS_1
“Berikan Ryu kepadaku, kau harus segera berangkat”
Daniel mengangguk, dengan hati-hati ia memberikan Ryu kepada Selena. Daniel kembali menatap Selena, menunggu jawaban yang sudah ia nanti selama 1 minggu.
“Jika kau ragu kepadaku kau bisa simpan ini”
Daniel melepaskan kalungnya dan diberikannya kepada Selena, Selena menatap kalung yang kini terpasang di lehernya. Ini adalah kalung berharga keluarga Jasson, kenapa Daniel bisa semudah itu memberikan ini kepadanya?.
“Aku tau kau masih sangat mencintai Leo, kebersamaan kalian selama 16 tahun tak perlu diragukan seberapa dekatnya kalian. Tapi cobalah buka hatimu untukku Okey?”
“Daniel…”
Daniel menatap kedua buah hatinya yang tiba-tiba menangis…haihhhhh…ia jadi semakin tak tega meninggalkan Selena bersama mereka apalagi jika menangis bersamaan seperti ini.
“Leon, Leona…jangan menangis, Papa kalian harus pergi” ucap Selena.
Selena memberikan Ryu kepada Jeff dan menggendong Leona mencoba menenangkan putri kecilnya ini. Daniel melepaskan kopernya dan meminta Deon memberikan Leon kepadanya.
“Sttttt…anak Papa kenapa menangis hm? Papa hanya pergi 3 tahun, nanti Papa pulang lagi”
“Ahhhhhh!! Kenapa ikut menangis?!!” ucap Jeff kebingungan melihat Ryu yang menangis walau tidak terlalu keras.
“Hahhhhhh” Selena menghembuskan nafasnya pasrah melihat ke-3 anaknya yang menangis, kalau seperti ini penerbangan Daniel mau tidak mau ditunda sampai mereka tertidur.
“Sayang…jangan menangis lagi, bantu Mama sayang…” ucap Selena pasrah kepada putrinya yang juga menangis.
Selena menatap tajam Hendrick yang berada jauh dari mereka tak berani bergerak sedikitpun dari tempatnya. Selena menunjukan jari tengahnya kepada Hendrick membuat pria itu tampak menelan ludahnya.
Beberapa saat kemudian…
Daniel dan Selena menghembuskan nafas ketika akhirnya Leon, Leona serta Ryu tertidur setelah menangis selama 15 menit. Daniel kembali memakai syalnya yang sempat ia lepas.
“Aku akan pergi sekarang” ucap Daniel.
“Daniel, bawalah ini” Mikayra mendekati Daniel dan memberikan beberapa botol obat kepada pemuda itu.
“Terima kasih Nyonya besar”
Daniel memasukkan itu kedalam saku coatnya namun saat ia membawa kopernya pergi suara Selena menghentikannya. Selena berjalan mendekati Daniel, memberikan sesuatu kepada pria itu.
Daniel menatap sebuah cincin ditangannya, kenapa…Selena memberikannya ini?.
“Itu cincin Papa, pakailah. Jika kau sudah yakin kau bisa terus memakainya dan jika kau mulai ragu lepaskanlah”
Daniel tersenyum dan langsung memakai cincin itu dijari tengahnya, cincin yang pas dijarinya.
“Jaga hatimu” ucap Daniel sedikit berbisik.
“Kau tenang saja, aku sudah mengerti posisiku sekarang”
“Aku pergi”
“Akan kutunggu 3 tahun lagi” jawab Selena.
“Bisa aku minta sesuatu kepadamu?”
“Katakanlah”
“Bisa kau tersenyum untukku sekali saja?”
Selena tersenyum dan mengusap kepala Daniel, mengacak rambut pria itu. Haihhhhhh benarkah ini Daniel yang ia kenal dulu? Di mana pria pemalu yang ia kenal dulu?.
“Pergilah, kutunggu kepastianmu 3 tahun lagi”
“Aku akan menepati ucapanku, sampai jumpa” ucap Daniel sebelum pergi bersama dengan Hendrick.
"Aku akan segera kembali dan menepati janjiku kepadamu Selena..."
Selena membalas lambaian tangan yang dilakukan Daniel sebelum masuk kedalam pesawat. Saat pesawat take off senyuman Selena memudar.
“Maaf Daniel…tapi aku tak ingin membuatmu berharap semakin banyak, semoga kau bisa melupakanku saat disana”
“Sudah, mari kita pulang” ucap Mikayra membawa cucunya pergi dari bandara.
“Aku tidak ingin dikecewakan pria untuk kesekian kalinya Daniel…aku tak ingin jatuh dilubang yang sama lagi. Goodbye…Daniel”
____________________________________________
I Hate You Hubby!! END
Makasih banyak buat Readers yang udah setia baca cerita ini, yahhhh meskipun target chapter nggak sesuai dugaan tapi gpp lah ya lebih 1 Chapter hehehehehe. Sekali lagi Thor ngucapin banyak terima kasih buat kalian para Readers yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir dan juga yang udah ngedukung cerita ini. Meskipun ceritanya rada nggak jelas harap maklum ya, Thor pertama kalinya buat Novel hehehehe...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
See You Again Everyone
__ADS_1