
.
.
.
Dengan perlahan, Hans memundurkan langkahnya. Ia menatap istrinya yang tengah memandangnya dengan tatapan geram. Entah kenapa, seketika…tubuhnya gemetar hebat. Tubuh Hans langsung tergeletak lemah membuat Selena langsung berlari menghampiri suaminya.
Selena menepuk beberapa kali pipi Hans dengan wajah paniknya. Nafas Hans menjadi tersengal-sengal, Hans dengan tangannya yang gemetar menggenggam tangan istrinya dengan lemah.
“Ka-kali ini…a-aku benar…benar…minta…maaf…” lirih Hans sebelum kesadarannya direngut secara paksa darinya.
Selena langsung memeriksa denyut nadi suaminya. Gawat! Hans benar-benar sedang dalam kondisi darurat.
“Tolong!!! Siapapun yang diluar!!! Tolong!!!!” teriak Selena.
Teriakan Selena terdengar oleh bodyguard Hans yang kebetulan sedang melakukan penjagaan. Mereka langsung membuka pintu secara paksa. Mereka terbelalak kaget melihat Nyonya muda mereka yang menangis sesegukan sembari memeluk erat Tuan muda mereka.
Salah satu dari mereka langsung menggendong Hans dan berlari keluar dari kampus. Selena dengan cepat mengikuti bodyguard itu, ia juga ikut masuk kedalam mobil yang sama dengan suaminya. Selena meletakkan kepala Hans di pangkuannya, Selena mengeluarkan vitamin dari sakunya dan meminta sebotol air mineral kepada supir.
Supir memberikan air mineral kepala Selena. Selena memasukkan beberapa butir vitamin kedalam mulut suaminya dan memberikan air. Air itu mengalir keluar, Selena menggigit bibir bawahnya ia meminum air itu dan mencium Hans menyalurkan air yang ada didalam mulutnya.
“Maaf…maafkan aku…” lirih Selena meneteskan air matanya.
Selena mengeluarkan sebuah inhale nebulizer dari tasnya. Ia harus menjaga agar nafas suaminya tetap stabil hingga sampai dirumah sakit.
Saat sampai dirumah sakit, dokter langsung berdatangan dan membawa Hans masuk kedalam UGD. Selena dengan tubuh gemetar menunggu suaminya didepan UGD. Assistant Merry yang baru saja datang langsung menghampiri Selena mencoba menenangkan Nyonya mudanya.
Jansen menatap geram kearah Selena. Pria itu langsung menarik kasar tangan Selena, Assistant Merry tersentak kaget melihat tindakan Jansen.
“Kau! Dasar wanita sial*n! Ini semua karenamu! Jika bukan karena ingin menemuimu Hans tak akan seperti ini!!” bentak Jansen.
“Jansen! Jaga ucapanmu! Dia istri Tuan muda!” bentak Merry.
“Istri kau bilang?! Istri yang terang-terangkan berselingkuh didepan suaminya masih bisa dikatakan sebagai istri!? Untuk apa kau membela wanita ini Merry?! Gara-gara dia! Hans menjadi seperti ini!!” bentak Jansen.
“Tidak…a-aku…” ucap Selena gemetar ketakutan.
“Aku apa hah?! Jika bukan karena kau apa Hans akan menjadi seperti ini?! Jika sesuatu terjadi kepada Hans…aku akan melenyapkanmu!” geram Jansen langsung mendorong tubuh Selena hingga jatuh terduduk, Assistant Merry dengan segera membantu Selena berdiri.
Pintu lift terbuka, Yeni keluar dengan amarahnya. Tanpa basa-basi Yeni langsung menarik lengan Selena dan menampar keras pipi Selena.
“Kau! Dasar pembawa sial! Aku akan membunuhmu hari ini!”
PLAKKKK!!!
Pipi Yeni langsung ditampar keras oleh seseorang hingga jatuh tersungkur. Semuanya langsung melihat siapa yang berani menampar Yeni. Selena langsung berlari memeluk pria itu, Lonza…pria itu memeluk erat keponakannya.
__ADS_1
“Jangan kurang ajar kau ya…” sinis Lonza menatap geram Yeni.
“Kau!! Beraninya kau!!”
“Jangan pikir kau wanita yang sudah tua maka aku tak berani main tangan kepadamu. Jaga tanganmu baik-baik…sampai tanganmu menyentuh Selena lagi. Kulenyapkan kalian semua!” sinis Lonza.
“Huwaaa!! Hiks Paman….ahhhhh!!!” Selena langsung menangis keras dipelukan Lonza.
“Kau!! Beraninya kau memperlakukanku seperti ini!! Aku Nyonya keluarga Georgino!!” bentak Yeni.
“Ceh! Keluarga Georgino? Hanya keluarga Georgino? Jangankan keluarga Georgino, bahkan dewa yang berani menyentuh keponakanku. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri” ucap Lonza menatap tajam mata Yeni membuat wanita itu langsung gemetar antara geram dan ketakutan.
Alex keluar dari UGD, Yeni yang melihat itu langsung bertanya bagaimana kondisi putranya.
“Tuan Hans baik-baik saja. Untunglah beliau lebih dulu ditangani sebelum dilarikan kemari, itu membuat efek dari overdosis alkohol sedikit berkurang. Tuan Hans ditanganni dengan tepat, pemberian vitamin serta menjaga pernafasan beliau membuat semuanya stabil sekarang”
Bodyguard yang menjadi supir tadi langsung menatap Selena. Ia membungkukkan badan kearah Selena sembari mengucapkan terima kasih.
Lonza menatap keponakannya. Hans mengalami overdosis alkohol? Apa keponakannya yang membantu Hans sebelum dibawa kemari?.
“Kenapa? Kenapa kau masih mau membantu orang yang sudah menghancurkan hidupmu? Seharusnya biarkan saja dia mati! Aku ingin…orang-orang yang tak tau berterima kasih ini merasakan akibatnya” sinis Lonza.
“Hiks…Paman…dadaku sakit eoh…kenapa semuanya menyalahkanku…? Aku hanya mencoba membantu…hiks…aku tak berniat membuat Hans celaka…”
Rahang Lonza seketika mengeras. Lonza menggendong keponakannya dan membawa keponakannya pergi dari rumah sakit itu. Jansen langsung terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin sedangkan Yeni langsung masuk kedalam lift.
“Tuan, saat Tuan muda pingsan. Nyonya muda memberikan beliau vitamin serta menjaga pernafasan Tuan muda agar tetap normal dan steril” jawab bodyguard.
“Ah! Jadi itu alasan kenapa pernafasannya stabil!” ucap Alex terkejut. Ia tak menyangka Assistantnya bisa bekerja dengan baik. Tapi seingatnya ia belum mengajari Selena sampai bab itu.
.
.
.
Joe menghentikan mobilnya didepan pengadilan. Sekelompok bajin*an ini benar-benar membuat amarahnya memuncak! Jika ia tak bisa mendapatkan salinan kontrak itu, maka Selena akan kecewa kepadanya. Lebih baik ia dipenjara daripada harus merasakan dijauhi oleh Selena.
Joe membuka pintu pengadilan dengan keras membuat seisi ruangan terkejut. Para hakim kembali menelan ludahnya melihat kedatangan Joe yang tiba-tiba.
“Kalian semua…dasar bajin*an kurang ajar!!!”
Tanpa basa-basi Joe langsung memukul salah satu wajah pengacara yang berada disana. Geram, ia benar-benar geram. Tenyata pria-pria ini benar-benar tak mau menuruti kemauannya. Ia sudah membobol brangkas yang dikatakan Daniel, tapi tak ada apa-apa disana. Pasti pria-pria ini sudah menyembunyikan barang yang ia inginkan.
“Jawab aku sial*n!! Di mana kalian menyembunyikannya!!”
“Nona…kami benar-benar minta maaf…Tuan Hans melarang kami melakukannya”
__ADS_1
“Sekumpulan orang tak berguna! Tunggu dan lihat apa yang akan kulakukan kepada pekerjaan kalian!”
Saat Joe hendak pergi salah satu pengacara berlari kearahnya sembari memberikan sebuah berkas.
“Kami akan berusaha mendapatkan salinan itu! Tapi tolong! Jangan pecat kami Nona…sa-saya mempunyai hal lain”
“Cih!”
Joe mengambil berkas itu dengan cepat dan menutup pntu pengadilan dengan keras. Para hakim dibuat tak berdaya sendiri, disatu sisi mereka takut akan Hans. Namun disisi lain, mereka tau bagaimana tabiat Nona muda Jasson jika merasa tak senang.
*
Selena berlari memeluk Leo dengan erat, Leo mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi kepada gadisnya? Apa kekasihnya dibully di kampusnya? Dan kenapa wajah Lonza pias seperti itu?.
“Leo hiks…”
“Ada apa sayang? Katakan…siapa yang membuatmu menangis”
“Dia ditampar Yeni” jawab Lonza membuat cangkir teh yang berada di tangan Jeff dan Deon langsung jauh ke lantai.
Leo mendongkakan dagu Selena, ia menatap geram pipi kekasihnya uang memerah. Ia menggendong tubuh Selena dan masuk kedalam kamar. Leo mendudukkan Selena di tempat tidur dan mengambil kotak obat dan mulai mengoleskan obat di pipi Selena.
“Yeni menamparmu lagi? Kenapa tidak menelfonku?”
“Dear…kau marah?”
“Bagaimana aku tidak marah? Kekasihku ditampar, wajar jika aku marah”
Selena memeluk tubuh Leo erat. Ia tak mau Leo menemui Yeni dan melampiaskan marahnya, ia tak mau membuat Yeni semakin benci kepadanya dan rasa ingin menyakitinya semakin bertambah.
“Aku baik-baik saja…jangan marah lagi…”
Leo menghembuskan nafasnya, jika Selena sudah meminta mana bisa ia menolak. Ia mendorong bahu kekasihnya dengan perlahan dan mencium bibir Selena dengan lembut. Selena membalas ciuman Leo, ia memeluk leher Leo dengan erat.
.
.
.
Leo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, mata Selena membulat tak percaya melihat barang yang dikeluarkan Leo. Apa Leo serius melakukan ini?!.
.
.
.
__ADS_1