
.
.
.
Tuan X menatap Tuannya yang sudah kembali dengan Daniel disampingnya, kenapa…Tuan Jasson berada disini? Dan bersama dengan Nonanya?.
“Ada informasi terbaru?”
“Sejauh ini masih belum ada Jenderal muda! Namun tidak bisa dipastikan kedepannya”
“Ketatkan penjagaan, jangan sampai lengah! Dan siapkan tempat untuk Daniel”
“Siap laksanakan!”
Daniel mengikuti kemana Selena pergi, ia baru tau jika diperbatasan disediakan tempat kecil seperti ini. Dan…kenapa orang-orang itu terasa asing dimatanya, selama di kamp ia tak pernah melihat satupun diantara orang-orang itu selain X.
Selena dan Daniel duduk berhadapan disebuah kursi, Selena menatap Daniel yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
“Katakanlah ada apa”
“Selena, ini…ini perihal Leo” ucap Daniel ragu-ragu.
Selena menghembuskan nafasnya lalu melipat kedua tangannya, sudah ia duga jika Daniel akan membahas masalah suaminya. Tapi memang, suaminya terlihat aneh akhir-akhir ini. Tak hanya tubuh yang perlahan mengurus tapi sifat suaminya juga semakin aneh.
“Aku tau apa yang ingin kau katakan Daniel, kau merasa aneh akan sikap suamiku akhir-akhir ini bukan? Berbicara hal-hal yang aneh dan juga melakukan hal yang sebelumnya tidak dia sukai”
“Kau juga menyadarinya ternyata, entah kenapa firasatku tidak enak mengenai suamimu. Apalagi kudengar dari Louis jika Leo…punya penyakit dalam”
Selena seketika terdiam mendengar ucapan Daniel, Pamannya Louis…kenapa Pamannya louis memberitau Daniel mengenai hal itu?. Ia pikir Pamannya yang satu itu, padahal Pamannya adalah tipikal orang yang membenci mengungkit masalah sesitive sekaligus pribadi seperti ini.
“Memang, kau tau apa penyakitnya?”
“Yang kudengar…kanker?”
“Ya, itu benar…Papa pernah memberitauku. Saat kecil terdapat sel kanker ditulang sum-sum suamiku. Namun itu sudah dipastikan sembuh saat dia mendapatkan donor saat umurnya 3 tahun, tapi tak sampai di situ. Leo pernah divonis mengidap kanker hati stadium 3, namun dinyatakan sembuh saat kemo yang ke-7. Ada lagi?”
“Leo pernah mengidap penyakit seserius itu?!”
“Ya, itulah mengapa aku selalu mengingatkannya akan makanan serta minuman yang dibawakan untuknya. Dan kau tau alasan lain mengapa aku membunuh Alice?”
“Apa itu?”
“Alice pernah memasukkan obat bius diminuman Leo saat Leo sedang berkumpul bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-14, hal itu berhasil lolos dari pengawasan bodyguard membuat Alice dengan mudah membawa Leo yang terbius kedalam sebuah hotel. Dan saat itu, Leo hampir saja menjadi tersangka pemerkosaan jika orang-orang Papa tidak datang tepat waktu. Jadi jangan dibayangkan, betapa muaknya aku kepada tikus itu!”
Daniel menatap tak percaya Selena yang memalingkan pandangannya, seorang gadis yang masih berusia belasan tahun bisa melakukan hal seperti itu kepada pewaris keluarga Iskandar. Hah, benar-benar gila.
“Dan, aku pernah dengar…jika…Nyonya besar Alexandra tidak menyukai Leo. Apa itu benar?”
“Itu benar, Oma tidak menyukai Leo. bahkan Oma menentang keras keputusan Papa yang menjodohkanku kepada Leo, semua orang tau tau…seseorang dari keluarga Alexandra tidak boleh menikahi rekannya, dan dari dulu…keluarga Alexandra dan Iskandar memiliki hubungan yang baik. Untuk mengindari konflik penerus, tidak diperbolehkan anak dari kedua keluarga itu saling jatuh cinta atau bahkan saling menikah. Tapi aku dulu sangat keras kepala, dan pada akhirnya aku dan Leo tetap menikah walau tidak mendapatkan persetujuan dari pihak Oma. Disamping itu, Leo memiliki kesehatan yang tidak memenuhi standar keluarga Alexandra. Jadi bisa dibilang…pernikahanku dengan Leo membuat konflik besar antara Oma dan pihak iskandar”
Daniel seketika termenung mendengar ucapan Selena, pantas saja…saat Selena pergi ke perbatasan dan ia menginap selama beberapa hari di keluarga Alexandra tak ada satupun diantara mereka yang berani membahas keluarga Iskandar selain adanya kehadiran Selena. Ia pikir Leo adalah tunangan yang ditetapkan keluarga Alexandra ternyata bukan…ia salah besar. Ia tak menyangka jika seorang Tuan muda keluarga Iskandar bisa tidak memenuhi kriteris sebagai menantukeluarga Alexandra.
“Dan itulah mengapa…diantara Leon, Leona, dan Ryu…tidak ada satupun diantara mereka yang akan bermarga Alexandra. Dan bisa dibilang, akulah keturunan terakhir Alexandra jika sampai aku tidak memiliki anak dari pria selain Leo”
“What?!” ucap Daniel tak percaya.
“Leo tidak bisa masuk kedalam keluarga Alexandra meskipun dia adalah suamiku, diantara 15 kandidat calon menantu yang dipilih langsung oleh keluarga Alexandra yang semuanya memenuhi kriteria dari segimanapun tak bisa membatalkan keinginanku untuk menikah dengan Leo, itulah mengapa…aku masih punya Selir sampai saat ini” ucap Selena dengan wajah muaknya.
Ucapan Selena lagi-lagi membuat Daniel tercengang, Selena bilang apa?! Gadis itu punya Selir?!. Hal gila macam apa itu?!.
“Jika dulu Rey bukanlah seorang playboy, pasti aku sudah menjadi permaisurinya sekarang, jika dulu Aiden menjaga baik-baik tubuhnya aku sudah menjadi Sultana di Negaranya sekarang. Tapi biarlah itu menjadi urusan keluarga Alexandra, yang terpenting…selama aku hidup, aku ingin terus melindungi benih-benih Leo…”
“Lalu…jika semisal keluarga Alexandra menyuruhmu menikah lagi bagaimana?” tanya Daniel ragu-ragu.
“Itu tidak akan pernah terjadi sebelum Leo menceraikanku” jawab Selena dengan wajah yang masih tetap sama, datar…tanpa ekepresi…bahkan matanya tak menampilkan emosi apapun.
“Dulu, Papa pernah diminta oleh kakek buyut untuk menikah lagi karena Mama tidak bisa mengandung. Papa yang saat itu berada dalam kondisi diujung tanduk hanya bisa menyetujui hal itu”
“Jadi Papamu menikah lagi?!”
“Tidak, satu tahun kemudian Mama memberi kabar mengenai kehamilannya. Dan itu membuat Opa secara langsung membunuh semua kandidat calon istri Papa. Hahahaha, mengelikan rasanya ketika mengingatnya. Paman Hendrick bilang, selama keluarga Alexandra mencarikan istri baru untuk Papa, Papa menggunakan kesempatan itu untuk mengajak Mama liburan keluarga negri. Dan…itulah yang membuatku banyak diincar sampai sekarang, Karena Opa yang membunuh wanita-wanita dari kasta tinggi itu membuat banyak keluarga yang menjadi musuh keluarga Alexandra, tapi…mana berani mereka menyerang ‘Tuan’ mereka sendiri?” ucap Selena dengan sudut bibir yang terangkat. Dan dikarenakan banyaknya musuh keluarga Alexandra membuatnya mendapat julukan ‘Putri 100 Papa’ karena sering dititipkan diberbagai keluargayang memihak keluarga Alexandra.
Daniel diam tak lagi berbicara, itukah yang membuat keluarga Alexandra mati-matian mempertahankan prinsip mereka untuk tidak mempublikasikan Selena. Dan sekarang, sepertinya ia akan mendukung keras keputusan itu!.
“Apa kau sudah selesai dengan pertanyaanmu?” tanya Selena kepada Daniel yang hanya diam.
__ADS_1
“Aku masih punya banyak pertanyaan, tapi…lebih baik kutanyakan itu nanti saja”
“Kenapa?” tanya Selena.
“Karena aku yakin pertanyaan itu bisa merubah moodmu, dan bisa-bisa kau membunuhku nantinya” jawab Daniel sembari tersenyum.
Sudut bibir Selena terangkat, semakin lama pria didepannya ini semakin mengerti dirinya. Ia heran, darimana pria ini bisa membuatnya menjawah pertanyaan yang sebelumnya mati-matian tidak ingin ia jawab.
“Sudah malam, kau istirahatlah dikamarku. Aku akan tidur dikamar Paman X”
“Tidak, kau tidur dikamarmu. Biar aku menjagamu, aku yakin kau tidak bisa tidur nyenyak selama beberapa minggu ini”
“Hmph, kau mengerti diriku Daniel. Terima kasih”
“Of course”
*********
5 hari kemudian…
.
.
.
Selena memenggal kepala terakhir yang masih berada ditempatnya setelah itu menghembuskan nafasnya. Orang-orang ini sedang melucu, susah-susah bersembunyi pada akhirnya akan mati juga. Akhirnya, malam ini ia bisa tidur nyenyak!.
X mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan kepada Selena. Selena menerima itu dan membersihkan wajanya yang terkena cipratan darah. Musuh yang mereka incar selama beberapa minggu akhirnya tertangkap dan mati juga. Mereka harus segera melaporkan ini ke kamp utama agar segera diurus oleh Hendrick.
“Nona, sudah tengah malam…anda lebih baik istirahat. Biar kami yang membereskan hal ini”
“Hn, pinjam kunci mobil. Dan berikan ponselku”
X mengangguk, ia mengeluarkan ponsel Selena namun saat ponsel itu sampai di tangan si empu panggilan telfon masuk. Selena mengerutkan keningnya tatkala melihat nomor Assistant Leo yang menelfon. Ada apa? Tumben sekali.
“Ya?” ucap Selena dengan nada datarnya.
“Nyonya…mohon anda kembali sekarang…mohon anda kembali sekarang…” suara disebrang sana terdengar gemetar sekaligus panik membuat Selena hanya bisa mengerutkan kening, merasa heran.
“Saya mohon…saya mohon anda kembali sekarang…saya mohon…”
“Tidak bisa jika tidak ada masalah penting, aku tidak bisa meninggalkan perbatasan. Jika memang penting tunggu besok, biar Paman Hendrick mengirim orang menjaga kamp”
“Selena, ini Paman”
“Paman Hendrick? Paman ada disana? Siapa yang menjaga kamp?” tanya Selena.
“Cepat pulang ke Amsterdam sekarang juga!! Sekarang!! Paman tidak menerima penolakan dengan alasan apapun”
“Ada apa ini Paman? Kenapa Paman terdengar panik begitu?”
“Cepat!! Jika kau masih ingin bertemu Leo!! Cepat ke Amsterdam sekarang!!!”
“Paman tunggu aku disana”
Selena langsung mematikan telfonnya dan memakai jubah Jenderalnya, tak lupa ia membawa seragam baru milik suaminya yang baru saja diselesaikan.
“Antarkan aku ke Amsterdam sekarang”
“Nona, tak aman memakai jalur udara. Cuaca tidak bisa diprediksi akhir-akhir ini”
“Jangan banyak bicara! Cepat lakukan saja” dingin Selena.
X dan lainnya hanya bisa menganggukkan kepala, saat helicopter sudah siap Selena segera berangkat menuju Amsterdam. Untunglah Amsterdam tiak terlalu jauh dari perbatasan, tapi…kenapa perasaannya tiba-tiba campur aduk seperti ini.
Saat ditengah perjalanan Selena melihat sebuah helicopter yang juga terbang kearah yang sama dengannya. Hm? Sepertinya itu helicopter Daniel. Dan teryata benar, itu helicopter milik Daniel. Mau kemana pria itu? Apa pria itu juga diminta Paman Hendrick ke Amsterdam?.
Saat dua helicopter itu saling bersebelahan pintu helicopter Daniel dibuka. Selena ikut membuka pintu helikopternya dan melemparkan tali kepada Daniel. Ia tau maksud pria itu mendekati helikopteya.
Daniel menangkap tali itu dan segera berayun ke helicopter Selena. Selena dengan segera menutup pintu itu kembali dan membantu Daniel merapikan rambut yang berantakan.
“Kau mau ke Amsterdam juga?”
“Ya, tadi Pamanmu menelfonku. Katanya ada sesuatu yang penting di Amsterdam, dan aku tak menyangka jika mereka juga menelfonmu”
“Aku berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi Daniel, aku benar-benar gelisah”
__ADS_1
Daniel memeluk Selena, memberikan kehangatan sekaligus rasa nyaman pada wanita yang tengah mengandung itu. Selena mencengkram langan Daniel dengan kuat…takut…ia benar-benar ketakutan sekarang. Rasa takut yang begitu ebsar menyebar keseluruh tubuhnya, ia tak pernah merasakan ketakutan seperti ini sebelumnya.
“Tenanglah…jika kau seperti ini, kau bisa berada dalam bahaya bersama dengan Ryu”
“Aku takut Daniel…aku benar-benar takut…”
“Kau harus berpikiran positive okey, itu bisa membuatmu lebih tenang”
Daniel terus memeluk Selena dengan erat, sejujurnya ia juga merasa gelisah. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi
kepada Leo, karena ia sempat mendengar bahwa Assistant Leo histeris tadi. Dan juga…ini pertama kalinya ia melihat Selena yang berpakaian seformal ini. Bahkan wanita ini sekarang mengenakan jubah panjang yang ujungnya ternodai oleh darah.
.
.
.
Saat sampai Selena langsung terdiam membeku tatkala tempat yang ditunjukan ponselnya adalah sebuah rumah sakit. Ya tuhan…ada apa ini?. Selena langsung bergegas masuk kedalam ruamh sakit itu tak menunggu Daniel yang baru saja keluar dari helicopter.
Saat sampai di loby staff bagian administrasi langsung membungkuk hormat kepada Selena dan dengan cepat menyeka air mata mereka.
“Di mana Paman Hendrick?”
“Lantai VVIP nomor 2”
Selena langsung bergegas masuk kedalam lift disusul oleh Daniel. Daniel menatap Selena yang menampilkan ekspresi cemas, namun ekspresi dingin lebih didominasi oleh wajah itu.
Saat sampai di ruangan yang dituju Selena terpaku tatkala melihat keluarga Alexandra beserta Iskandar sedang berdiri di sepanjang koridor. Micle, Alex, Bei dan Joe…ada disini juga? Kenapa mereka ada disini? Dan juga…kakak iparnya?.
“Ada apa ini?” tanya Daniel.
Selena dengan langkah panjang menghampiri keluarganya, ia menatap satu persatu keluarganya. Mikayra memalingkan wajahnya, tak berani menatap mata jade cucu kesayangannya. Jangan Mikayra, Zachery saja tak berani melihat kearah Selena.
“Katakan ada apa ini” dingin Selena.
Selena membalik badannya, manatap Paman dan juga keluarga pihak suaminya. Jangan bilang…jika suaminya sedang sakit?!.
Rafindra yang juga baru datang langsung tersentak kaget melihat Nona besarnya yang sudah datang dengan jubah Jenderal muda yang melekat ditubuhnya.
“Nona…”
Seragam Leo yang tengah dibawa oleh Selena langsung terjatuh ke lantai saat kedua mata jade dingin itu terpaku kepada sosok yang tengah terbaring didalam ruangan yang hampir mirip dengan ruangan ICU.
Selena melepaskan jubah panjangnya dan langsung masuk kedalam ruangan itu membuat Mikayra tak bisa lagi membendung air matanya. Meskipun ia tak begitu menyukai Leo, Leo tetaplah orang berharga bagi cucu semata wayangnya. Ia takut…ia benar-benar ketakutan sekarang…
“Diantara kalian semua…adakah yang bisa menjelaskan hal ini?” tanya Daniel.
Daniel melepaskan sarung tangannya yang terkena darah dari baju Selena dan ikut masuk kedalam ruangan itu. Ia remuk tatakala melihat Selena yang tengah memeluk Leo yang terbaring diatas ranjang dengan tubuh yang dipenuhi oleh alat-alat medis.
“Sayang…hei…ini aku” Selena berucap dengan lembut seraya membelai wajah suaminya. Jauh…semuanya tampak jauh berbeda sekarang. Pipi yang menirus, tubuh yang kurus dan juga rambut-rambut yang mulai rontok.
“Selena…” lirih Daniel.
“Tinggalkan kami sendiri Daniel”
Daniel dengan berat hati meninggalkan Selena sendirian bersama dengan Leo. Kelopak mata Leo dengan perlahan terbuka, samar-samar ia memandang wajah istrinya.
“Kau…sudah datang…sayang?”
“Iya…aku sudah datang, ini aku…kau kenapa hm? Sakit apa? Kenapa tidak bilang…” lirih Selena dengan tubuh yang gemetar.
“Aku…tak mau kau khawatir…jadi aku berbohong…maaf…” parau Leo.
Air mata Selena jatuh menetes mengenai pipi tirus suaminya. Leo dengan sekuat tenaga mengangkat tangannya…menghapus air mata istrinya.
“Jangan menangis…” ucap Leo seraya menggengam erat tangan istrinya, erat…begitu erat Leo menggenggam tangan itu seolah-olah tak mau melepaskannya.
“Aku sangat merindukanmu…aku sangat merindukanmu…” ucap Selena seraya memeluk suaminya dengan erat.
“Aku…juga…merindukanmu…”
.
.
.
__ADS_1