
.
.
.
1 bulan kemudian>
Hans membenarkan pakaian nya dan menatap Selena yang masih tertidur. Senyum terukir dibibir itu, setelah malam pertamanya 1 bulan lalu ia sering tidur bersama dengan Selena. Namun setelah Selena meminum obat yang ia berikan. Hans keluar dari kamar itu tak melupakan sebuah cek yang selalu ia letakan di meja setelah ia selesai melakukannya bersama Selena.
Hampir setiap malam Hans melakukan nya bersama Selena kecuali saat Selena datang bulan. Puas tentu saja dirasakan Hans, pria itu selalu merasa puas dipagi hari setelah melakukannya dengan Selena.
Selena bangun dengan kepalanya yang pusing. Ia sering seperti ini, saat ia bangun ia merasakan kepalanya begitu pusing. Ia juga selalu keheranan saat ada sebuah cek diatas meja. Selena selalu mengambil cek itu dan meletakan nya di laci kamarnya. Mungkin itu uang yang ditinggalkan Hans untuknya agar ia membeli bahan dapur.
Akhir-akhir ini Selena jarang memasakan sarapan untuk suaminya itu karena suaminya sudah pergi disaat ia bangun tidur.
Selena mulai membersihkan rumah karena ia sedang libur jadi ia tidak perlu tergesa-gesa untuk pergi kuliah. Setelah selesai membersihkan rumah ia segera bersiap untuk pergi.
2 minggu lalu ia sudah menjadi Assistant dokter disebuah rumah sakit ternama di A.S, karena hal itu juga ia bisa membeli keperluannya sendiri dan ia tidak perlu meminta uang kepada suaminya.
“Selena!” sapa seseorang.
“Daniel?! Tumben kemari, ada apa?”
“Ah aku hanya berjalan-jalan dan tak sengaja melihatmu jadi aku mampir sebentar”
Daniel adalah pemilik rumah sakit tempat dimana Selena bekerja. Selena bisa masuk kesini juga karena bantuan dari Daniel.
“Oh ya, dimana Joe? Dia tidak ikut?”
“Dia sedang dirumah, oh ya! Papa dan Mama menyuruhmu ke rumah, ayo!”
__ADS_1
“Ah? Paman dan Bibi ingin bertemu denganku? Ada apa?”
“Sudah ikut saja”
Daniel dan Selena pun masuk kedalam mobil. Daniel pun menghentikan mobilnya didepan rumah keluarganya. Ia langsung mengajak Selena untuk masuk.
Beberapa hari yang lalu Joe membawa Selena kerumah untuk diperkenalkan kepada keluarganya. Keluarga Joe menyambut hangat kedatangan Selena dirumah mereka. Sejak saat itu Selena sering dibawa Joe maupun Daniel untuk berkunjung kerumah mereka.
Joe yang melihat kedatangan Selena langsung berjingkat senang, ia langsung menarik tangan Selena masuk ke kamarnya. Daniel hanya bisa tersenyum melihat itu.
“Sayang ya, gadis sebaik dia sudah menjadi istri orang” kata Mama Daniel.
“Mama mengejekku lagi?” kata Daniel kesal.
“Hehe, siapa suruh suka dengan istri orang. Benar kata teman Papa, istri orang lebih menggoda” sahut Papa Daniel.
Daniel mengendus kesal mendengar perkataan Mama dan Papanya. Bukannya mendukung ia menyukai istri orang malah Mama dan Papanya terus menerus mengejeknya.
“Iya pa…”
Awalnya ingin bersenang dihari libur tapi Selena dan Joe malah mendapat telfon dari kampus untuk segera datang kesana. Ya mau tidak mau mereka harus segera berangkat ke kampus agar nilai mereka tidak turun.
*
Saat sampai di kampus, Selena dan joe masuk ruangan yang disebutkan dosen saat di telfon. Selena membeku melihat suaminya yang sedang duduk disana sembari mengembang senyum sinis. Selena gemetar ketakutan, Joe yang melihat itu langsung menutupi tubuh Selena dengan tubuhnya.
“Maaf, untuk apa anda menyuruh kami berdua kesini”
“Jadi begini Nona Joe, Tuan Hans ingin berkeliling mengitari kampus. Jadi saya ingin anda dan Nona Selena yang
mendampinggi beliau”
__ADS_1
“Dia punya tangan dan kaki sendiri, untuk apa kami antar? Apa dia seorang bayi yang tak tau jalan?” sinis Joe.
Hans mengembang senyum sinis mendengar ucapan Joe. Namun ia lebih focus kepada Selena yang sedang ketakutan dibalik tubuh Joe. Saat ini ia ingin sekali menikmati tubuh Selena.
“Kampus ini masih punya banyak murid. Kenapa harus kami? Anda sengaja?”
“Bukan begitu maksud kami, kalian berdua adalah top di kampus. Dan Tuan Hans sendiri yang ingin kalian mendampinginya”
Selena mencengkram tangan Joe saat Joe sendak membatah ucapan dosen. Ia takut jika Joe melawan perkataan dosen lagi maka beasiswanya akan dicabut. Susah payah ia belajar disini dan meraih nilai tertinggi diseluruh kampus.
“Baiklah, kami menerimanya. Tuan Hans, mari saya antar anda berkeliling”
“Selena tapi-” kata Joe terpotong.
Hans tersenyum dan keluar dari ruangan itu. Selena dan Joe saling menatap dan mengikuti kemana Hans pergi. Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan tanpa pembicaraan. Joe tetap waspada melindungi Selena, jika Selena ketakutan melihat pria itu maka ada sesuatu yang tidak beres.
“Nona Joe, aku haus. Bisakah kau membelikanku minuman?” tanya Hans.
“Tidak! Tugasku hanya menemanimu berkeliling! Jangan melunjak!” tegas Joe.
“Oh, anda ingin saya mencabut beasiswa teman anda?”
Joe mengepalkan tangannya seketika. Dengan berat hati ia berjalan meninggalkan Selena dan Hans sendirian. Ia mampu membiayai kebutuhan Selena selama di kampus meskipun Selena sudah tidak mendapat beasiswa. Tapi masalahnya Selena pasti tidak suka ia melakukan itu.
Selena gemetar ketakutan saat Hans mulai mendekat kepadanya.
“Joe…cepatlah kembali…kumohon…” Selena berucap dalam hati sembari memejamkan matanya.
.
.
__ADS_1
.