Our Last Love

Our Last Love
Chapter 26 : Perubahan


__ADS_3

.


.


.


Hans menggenggam tangan kecil Selena yang sampai saat ini belum sadarkan diri. Sudah 2 hari lamanya Selena menutup matanya, apa Selena benar-benar marah kepadanya hingga Selena tak mau melihatnya?.


Perlahan kelopak mata Selena terbuka, matanya bergulir menatap Hans yang berada disampingnya. Selena segera menarik tangannya dan duduk dengan tegak membuat Hans sontak mendongkakan kepalanya. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang sudah sadarkan diri.


“Kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu?” tangan Hans hendak menyentuh pipi Selena. Namun gadis itu mengelengkan kepalanya.


“Ja-jangan sentuh aku”


Hans menarik tangan nya kembali.


“Aku minta maaf…”


“Kenapa Hans? Kenapa kau kasar lagi kepadaku? Kami hanya tak sengaja bertemu, bajuku kotor karena kopi. Dia hanya mengantarkanku membeli baju dan mengajakku makan siang. Itu saja…kenapa kau kasar?” air mata Selena kembali menetes.


Hans tersentak, ia memeluk Selena dengan hangat. Ia sudah salah paham kepada istrinya, seharusnya ia mencari tau terlebih dulu apa yang sedang terjadi saat itu bukannya malah langsung tersulut emosi dan membuat istrinya menjadi seperti ini.


“Aku benar-benar minta maaf…aku janji tak akan melukaimu lagi Okey? Jangan menangis…”


“Hiks hiks…aku sungguh tak berniat membuatmu marah…hiks…”


“Aku tau…aku minta maaf…aku minta maaf sudah melukaimu”


Selena membalas pelukan hangat Hans, ia menumpahkan kesedihannya didalam pelukan Hans. Perkataan ibu mertuanya benar-benar masih membekas dihati dan pikirannya. Ia juga tak ingin seperti ini, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Ia sudah terikat kontrak dengan Hans selama 1 tahun. Apa ia benar-benar terlahir tanpa harga diri sedikitpun?.


Dijual oleh ibu tiri, menikah tanpa rasa cinta, dan direndahkan oleh ibu mertua. Kurang apa lagi penderitaan Selena selama ini? Apa penderitaannya tidak akan berakhir sampai kematian datang menjemput?.


.

__ADS_1


.


.


Hans membuka pintu rumahnya, ia melepaskan jaznya dan meletakannya disofa lalu menghampiri Selena yang tengah memasak makanan. Ia memeluk pinggang ramping Selena dan meletakan dagunya di bahu sempit Selena.


“Mandilah setelah itu makan” ucap Selena.


“Tidak mau…”


Hans menatap Selena heran, istrinya ini sudah dingin kepadanya selama 2 hari atau tepatnya setelah keluar dari rumah sakit. Ia tak tau alasan mengapa Selena dingin kepadanya. Seingatnya Selena sudah memaafkannya perihal kejadian dikamar mandi. Lalu apa yang membuat istri kecilnya ini dingin seperti ini?.


Selena melepaskan tangan Hans yang melingkar di pinggangnya dan meletakan masakan terakhirnya di meja makan setelah itu langsung pergi ke kamarnya.


Hans menghembuskan nafasnya, sebenarnya apa yang terjadi kepada istrinya?. Apa istrinya itu marah karena ia tidak punya waktu untuk menamani jalan-jalan?. Ia menatap hambar masakan yang dibuat istrinya, ia tak punya selera untuk makan sekarang.


Hans melonggarkan dasinya, ia menyusul Selena ke kamar. Hans meraih knop pintu, ia membuka pintu itu dengan perlahan tanpa menimbulkan suara.


“Berbaliklah, biar ku obati lukanya”


Selena hanya diam menurut dan membalik badannya membiarkan Hans mengoles obat di lukanya.


“Jika lukanya belum sembuh juga, lebih baik menginap dirumah sakit saja ya”


“…” Selena diam tanpa respon apapun.


Setelah selesai mengoleskan obat Hans kembali membalut kepala Selena menggunakan perban. Selena memeluk lututnya dan menyembunyikan kesedihannya didalam sana.


Hans mendekap tubuh Selena hangat, ia tak tau harus melakukan apa. Selena tak mau bilang apa masalahnya, bagaimana bisa ia membujuk Selena?. Ia sama sekali tak berpengalaman membujuk seorang wanita.


“Kau masih marah? Apa lukanya sesakit itu?”


Selena menghapus air matanya, ia membalik tubuhnya dan menatap wajah sedih Hans.

__ADS_1


“Kenapa belum makan? Masakanku tidak enak ya?”


“Temani aku makan…”


“Hans, kau sudah umur berapa sampai makan harus ditemani? Cepatlah makan, aku akan menyiapkan air. Setelah selesai, mandilah lalu istirahat. Kau baru pulang kerja, kau pasti lelah”


“Kau sendiri?”


“Aku?”


“Kau juga berkuliah tapi masih bisa mengurus pekerjaan rumah. Aku tidak selelah dirimu, sekarang ayo makan denganku”


Air mata Selena kembali luruh, lagi-lagi sisi Hans yang lembut membuatnya goyah. Hans menarik kepala Selena kedalam pelukannya. Apa Selena akhir-akhir ini sedang stress karena tugas kuliah yang begitu banyak? Ia bisa mengajukan libur untuk Selena jika begitu.


“Sudah, jangan menangis lagi. Kau mau jalan-jalan? Ayo pergi sekarang”


“Next time Hans, kau baru pulang. Lebih baik kau istirahat, jangan sampai sakit”


“Tidurlah, aku akan disini sampai kau tidur”


“Hans…”


“Tidur!” tegas Hans.


Selena membaringkan tubuhnya, Hans ikut berbaring disebelah Selena. Ia membelai lembut kepala istrinya membuat Selena mulai terlelap dialam mimpi.


“Kenapa kau tak mau jujur kepadaku…?”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2