Our Last Love

Our Last Love
Chapter 15 : Keraguan


__ADS_3

.


.


.


Hans membuka pintu rumahnya dengan perlahan. Ia menatap kondisi rumah yang begitu sepi, dimana Selena? Apa istrinya itu belum kembali dari kampus?. Hans melonggarkan dasinya dan menuju dapur untuk meminum sesuatu yang bisa memuaskan dahaganya.


Mata Hans bergulir menatap makanan yang sudah siap diatas meja. Ia menghembuskan nafas, ia pulang terlalu larut. Makanan sudah menjadi dingin. Apa ia harus makan mie instan lagi?.


Kantuk mulai melanda Hans, Hans segera pergi menuju kamarnya. Namun saat melewati perpustakaan ia heran karena pintu sedikit terbuka. Tak mau berburuk sangka Hans membuka pintu itu.


“Tidur ternyata…”


Hans tersenyum melihat Selena yang tertidur dengan tumpukan buku di samping kanan dan kirinya. Besok olimpiade Selena akan dimulai, pantas Selena belajar sampai kelelahan seperti ini.


Hans mendekati Selena, ia mengendong Selena menuju kamarnya sendiri. Setelah menyelimuti Selena Hans beranjak pergi.


Grep

__ADS_1


Tangan Hans digenggam erat oleh Selena. Hans menelan ludahnya, apa Selena terbangun?.


“Jangan pergi…” lirih Selena dengan mata yang masih terpejam.


“Baiklah, aku tidak pergi”


Hans berbaring disamping Selena, Selena langsung memeluk tubuh Hans dengan erat. Hans hanya bisa tersenyum, kali ini bukan dirinya yang mengambil kesempatan. Tapi Selena sendirilah yang melemparkan dirinya kedalam pelukannya.


Tiba-tiba Selena bangun dan menduduki perut Hans. Hans tersentak kaget melihat Selena yang seperti ini. Tanpa aba-aba Selena langsung mencium bibir Hans. Hans melotot tak percaya, namun sedetik kemudian Hans lah yang mendominasi Selena.


Hans menggigit bibir Selena membuat bibir itu terbuka. Hans kembali mencium Selena, tangannya masuk kedalam baju Selena membuat leguhan kecil menyapu mendengaran Hans.


“Wanita ini benar-benar menggoda…shit! I can’t hold back…” batin Hans menggigit bibir bawahnya.


“Hans…”


“!”


Hans keget bukan main, kenapa Selena masih bisa ingat namanya padahal obat sudah bekerja? Apa Selena sedang memimpikannya?. Entah kenapa hatinya seperti mendapat jutaan bunga dan kupu-kupu dalam sekejap.

__ADS_1


“Lihat aku sayang…”


Selena yang berada diatas tubuh Hans langsung mendongkakan kepalanya dan menatap mata Hans lekat-lekat.


“Hans…”


Selena kembali mencium bibir Hans. Hans tersenyum membiarkan Selena bermain dengan tubuhnya. Ia senang sekaligus merasa bersalah kepada Selena. Ia selalu meniduri Selena dalam keadaan Selena tak sadarkan diri. Ia tau itu adalah haknya sebagai suami, namun Selena tidak mencintainya. Ia hanya bisa menggunakan cara itu untuk menjadikan Selena seutuhnya miliknya. Selena miliknya seorang, dan tak seorangpun boleh merebut Selena darinya.


Kesal, Hans selalu merasa kesal ketika melihat Selena berbicara dengan Daniel. Ia tau tidak seharusnya ia merasa kesal karena bagaimanapun Selena hanya istri diatas kertas.


Kelak Hans harus rela melepaskan Selena agar bisa berbahagia dengan orang lain. Namun entah kenapa, saat memikirkan tentang perceraian ia sangat tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia selalu berpikir, apa ia masih bisa bertemu dengan Selena setelah mereka bercerai kelak?.


Jika setelah bercerai Selena bersinar dan ia tak bisa menggapai Selena kembali bagaimana?. Entah kenapa, dulu saat awal menikah pikirannya hanya tertuju agar kontrak pernikahan ini cepat berakhir dengan cepat. Namun hari demi hari, melihat apa yang dilakukan Selena untuknya membuatnya ragu untuk melepaskan Selena.


Selena melakukan tugas seorang istri dengan sangat baik. Selena masih bisa membersihkan rumah setelah lelah berkuliah. Ia ingat bagaimana Selena tersenyum saat bersama temannya, apa ia bisa menciptakan senyum indah itu disaat Selena bersamanya?. Ia lebih sering melihat Selena menangis daripada tersenyum.


Andaikan Selena adalah wanita pilihan keluarganya, mungkin ia akan memperlakukan Selena dengan lebih baik. Sayangnya Selena hanya seorang gadis dari keluarga miskin. Tidak mungkin keluarganya mau setuju menjadikan Selena sebagai istrinya. Pernikahan seharusnya memberikan sebuah kebahagaiaan. Namun ia malah memberikan sebuah kesedihan dalam pernikahannya sendiri.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2