
_________***_________
1 bulan kemudian>
Seorang wanita berusia sekitar 50 tahun duduk dengan tatapan yang begitu dingin dengan beberapa pengawal disamping kanan dan kirinya. Tangannya meraih sebuah Document yang berisi tentang hal-hal yang minta ia selidiki.
“Kau yakin semua ini sudah benar?”
“Saya yakin Nyonya, Tuan muda menikahi seorang gadis dari keluarga miskin”
Wanita itu melemparkan Document ke tempat sampah. Sungguh, ia tak habis pikir dengan putra tertuanya itu. Bagaimana bisa seorang ahli waris menikahi seorang wanita dari kasta yang tidak sebanding dengan keluarga mereka?. Putra tertuanya benar-benar membuatnya malu dengan melakukan ini.
“Hans…bocah ini, dia membuatku kehilangan muka”
“Apa saya perlu mengirim oang untuk membunuh wanita itu Nyonya?”
“Tidak perlu, aku akan menemuinya sendiri dan membuatnya sadar dengan posisinya”
Wanita itu bernama Yeni, ibu dari Hans. Istri dari seorang pengusaha yang benar-benar terkenal diseluruh dunia. Kekayaan dan martabat selalu mengelilinginya. Memiliki 9 putra yang sudah memiliki karir masing-masing.
#
Hans menatap kesal ponselnya yang tak kunjung mendapatkan panggilan telfon dari Selena. Ia ingin Selena lebih terbuka kepadanya, maka dari itulah ia meminta Selena menghubungginya minimal 5 kali dalam satu hari. Selena gadis yang penurut, Selena melakukan apa yang ia perintahkan. Tapi hari ini tak ada satupun panggilan telfon dari istrinya itu.
“Kau tau dimana Selena?”
“Dari informasi mata-mata, Nyonya muda sedang mendapat tugas di kampus Tuan”
Hans mengendus kesal mendengarnya. Apa tugas itu begitu penting hingga Selena lupa untuk menghubungginya?. Sial*n! Bisa-bisanya ia kalah oleh sekumpulan tugas yang tidak ada artinya sama sekali.
Hans pun pergi dengan suasana hati yang kesal. Ingin sekali ia melampiaskan kekesalannya ini kepada Selena. Tapi seperti yang dikatakan Assistantnya. Mana mungkin ia melakukannya dengan Selena dikampus kan?!.
“Sialn, wanita itu benar-benar membuatku kecanduan…damn it…”*
.
__ADS_1
.
.
Selena melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Dari pagi sampai larut malam seperti ini
terus-terusan dihajar untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Pasti Hans akan marah lagi jika ia pulang larut malam seperti ini.
Ting!
Notifikasi masuk ke ponsel Selena.
|| Pulang jam berapa? ||
| Tidak tau…tugas masih banyak… |
|| Mau kujemput? ||
| Tidak perlu\, aku tidak mau merepotkanmu… |
| Sungguh\, itu tidak perlu… |
|| Sudah\, jangan membantah. Bilang kalau sudah selesai\, nanti kujemput… ||
| Baiklah… |
Chat end!
Selena merenggangkan badannya yang terasa kaku. Tapi jika hari ini tugasnya bisa selesai. Ia tidak perlu datang ke kampus sampai 3 hari kedepan. Dan selama 3 hari itu, ia bisa focus ke kelas hukumnya. Disamping itu, ia bisa menebus kesalahannya kepada Hans karena pulang larut.
*
02.00 AM!
Selena bersama beberapa murid lain mulai keluar dari kampus. Hari ini tidak hanya Selena yang mendapat hajaran tugas. Tapi beberapa senior kelas akhir pun ikut dihajar habis-habisan oleh tugas. Selena duduk di halter bus sembari memijat kakinya yang terasa kaku. Hari ini Joe tidak bisa datang karena ada urusan keluarga. Jadi dia sendirian.
__ADS_1
Sebuah mobil sports mewah datang menghampiri Selena. Pintu terbuka, Hans keluar dengan kacamata hitamnya.
“Diam apa? Masuk!”
Selena manatap mobil Hans ragu, apa ia harus satu mobil dengan Hans. Sungguh, ia tak terbiasa berada dalam satu tempat kecil bersama dengan seorang pria.
“Ayo masuk!” kata Hans lagi.
Selena menganggukkan kepalanya. Namun saat berdiri tiba-tiba tubuh Selena kehilangan keseimbangannya. Hans dengan sigap menangkap tubuh Selena. Wajah dua orang itu saling menatap, Hans mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Selena.
Selena diam mematung, namun kemudian ia menutup matanya membuat iman Hans semakin goyah dibuatnya. Tangan Hans membuka pintu mobil dan membawa Selena masuk kedalam mobil itu.
Hans menindih tubuh Selena, ia mencium bibir Selena rakus. Selena memukuli dada Hans karena kehabisan nafas. Pria ini selalu saja membuatnya kehabisan nafas saat berciuman.
“Hah hah, aku tidak bisa bernafas Hans…”
“I’m sorry Selena…”
Ucapan Selena kepada Hans sudah tak seformal dulu gara-gara Hans selalu marah ketika ia berbicara formal. Dari situlah Selena mencoba berbicara dengan kata-kata informal. Dan sepertinya Hans tampak menyukai gaya bicaranya yang sekarang. Ciuman Hans pun sudah terbiasa untuknya, namun ia selalu membeku ketika Hans menciumnya secara tiba-tiba. Dan disaat itulah, rasa takutnya ketika bersama Hans perlahan menghilang dengan sendirinya seiring dengan waktu. Hanya 1 bulan, 1 bulan ia sudah bisa membiasakan diri bersama dengan Hans.
Tangan Hans mengecek saku jaz, ia membeku mendapati tidak membawa keycard. Sial*n, selalu saja ia lupa membawa benda penting itu ketika keluar rumah.
“A-ada apa?”
“Kita tidak bisa pulang, bagaimana kalau malam ini kita menginap dihotel?” tawar Hans. Ide nakal tiba-tiba terlintas dipikirannya.
“A-apa? Ho-hotel?” gugup Selena.
Hans mengembang senyum melihat kegugupan Selena.
.
.
.
__ADS_1