Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 185 : Flashback (2) = Hurt (5)


__ADS_3

.


.


.


Hari-hari berlalu, Jenssica dan Mikayra dengan setia berada di samping Selena yang sampai saat ini masih belum membuka matanya atau bahkan menunjukan tanda-tanda akan sadar. Mikayra menggenggam tangan mungil cucunya dan menciumnya.


“Cucu kesayangan Oma…Nara kapan bangun sayang…Nara tidak rindu Oma? Nara tidak rindu Mama? Ayo bangun sayang…nanti Oma akan ajak Nara jalan-jalan. Oma akan menuruti semua keinginan Nara jika Nara mau bangun…”


Zachery membelai kepala cucunya. Sudah 4 bulan lamanya cucunya tak kunjung sadar. Segala pengobatan sudah mereka lakukan, mulai dari mendatangkan berbagai dokter ahli dari berbagai Negara sampai melakukan pengobatan tradisional.


“Nara…Nara harus sembuh sayang…Nara harus sembuh…Mama tidak mau kehilangan Nara juga…”


Zachery keluar dari ruangan putih itu untuk menenangkan dirinya. Sejak 1 bulan yang lalu, ia meminta Hendrick menangani tugas putranya. Ia juga meminta putra-putranya untuk segera masuk kembali ke kemiliteran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Rafindra pun, pria itu ia perintahkan untuk menjadi mata-mata di keluarga


Georgino agar keluarga itu tidak tau mengenai keberadaan cucunya karena keluarga Georgino adalah ancaman terbesar untuk cucunya.


“Semoga cara yang kulakukan benar…”


“Asahi”


“Saya siap menerima perintah Tuan besar!!”


“Beli beberapa makanan dan bawa ke beberapa panti asuhan lalu berikan sejumlah uang kepada mereka. Aku berharap semoga cucuku bisa segera sadar”


“Siap laksanakan!!”


.


.


.


Jenssica terus menerus membelai tangan pucat putrinya. Sudah hampir satu tahun putrinya mengalami koma, ia harus melakukan apa? Harus dengan cara apalagi untuknya membangunkan putrinya?.


Seorang dokter paruh baya masuk kedalam ruangan dan membungkuk hormat kepada Jenssica.


“Nona Leonardo, ada hal baik yang ingin saya sampaikan”


“Katakanlah” jawab Jenssica dengan wajah pucatnya.


“Tubuh Nona Alexandra sudah menerima dengan baik jantung mendiang Jenderal besar. Tubuhnya juga mulai menyesuaikan diri dengan perubahan yang sudah terjadi, tapi…saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengambalikan kesadaran beliau”


Jenssica hanya bisa tersenyum resespon hal itu, haruskah ia senang disaat putrinya masih belum bangun dari tidur panjangnya?.


“Saya memberi hormat kepada Nyonya besar” ucap dokter wanita itu tatkala melihat Mikayra yang masuk kedalam ruangan sembari membawa sebuah hadiah ditangannya.


Mikayra meletakkan itu diatas nakas dan mendekati cucunya, mencium dengan lembut kening Selena sembari meneteskan air matanya.


“Ayo bangun sayang…besok hari ulang tahun Nara…Nara tidak mau bangun? Opa dan Oma sudah menyiapkan banyak hadiah untuk Nara”


“Apa yang terjadi kepadamu, menantuku?” tanya Mikayra yang melihat wajah pucat Jenssica. Semenjak kematian putranya, menantunya itu sering murung, makan tidak teratur begitupun dengan pola tidurnya. Jenssica hanya ingin berada didekat putrinya dan jarang sekali meninggalkan ruangan ini.


Mikayra menyentuh dahi Jenssica, panas. Apa Jenssica masih demam? Ini sudah hari ke-4 menantunya mengalami demam tinggi. Apa dokter disini tidak memberikan obat untuk menurunkan demam menantunya.


“Istirahatlah sayang, biar Mama yang jaga Nara. Kau juga perlu istirahat”


“Tidak perlu ma, aku ingin tetap disini. Aku ingin menunggu putriku membuka matanya”


“Jangan keras kepala, tubuhmu sedang tidak baik-baik saja. Cepatlah istirahat, kau bisa menjaga Nara lagi nanti”


“Benar-benar tidak perlu ma, aku baik-baik saja”


Mikayra hanya bisa menghembuskan nafasnya mendengar penolakan dari menantunya. Sekarang ia tau, darimana sifat keras kepala cucunya berasal. Cucunya sama keras kepalanya dengan Mamanya, memang Ibu dan anak…


********


Ditengah malam keluarga Alexandra, Iskandar dan Leonardo masuk kedalam ruangan Selena. Membawa beberapa hadiah sedangkan Mikayra membawa sebuah kue ulang tahun ditangannya. Mereka mengerumuni Selena yang terbaring lemah diatas tempat tidur.


“Happy birthday…to you…” ucap semuanya.


Semuanya menyeatukan tangan mereka masing-masing. Hari ini adalah hari ulang tahun Selena sekaligus ulang tahun keluarga Alexandra yang 100 tahun. Mereka ingin berdo’a meminta tuhan mengembalikan kesadaran Selena.


“Tuhan…berikanlah kesadaran bagi cucuku di hari berbahagia ini” batin Zachery dan Mikayra.


Jenssica hanya bisa tersenyum melihat keluarganya yang tengah merayakan ulang tahun putrinya. Ia menunduk dan mencium lama dahi putrinya.


“Cepatlah sembuh putriku…tuhan…tolong kembalikan sinar matahari keluarga Alexandra, ambil apapun yang menjadi milikku...asalkan kembalikan kesadaran putriku”


Setelah mengucapkannya tubuh Jenssica ambruk diatas tubuh Selena membuat kepanikan melanda semuanya. Tuan Leonardo memeluk anaknya sedangkan Deon langsung berteriak memanggil dokter.


“Jenssica! Jenssica! Buka matamu sayang!” ucap Mikayra.


Tuan Leonardo menggendong putrinya menuju ke UGD. Saat sampai di UGD Jenssica langsung ditangani oleh Micle. Dengan perlahan kelopak mata Jenssica terbuka membuat Micle serta Tuan Leonardo menghembuskan nafas lega begitupun dengan para Alexandra.


Jenssica menggapai tangan Micle dan Alexa. Mengenggam keduanya dengan begitu erat. Matanya dengan sayu menatap keluarganya, samar-samar ia juga melihat sebuah bayangan aneh diantara keluarganya…apa ajalnya sudah tiba?.


“Jaga…putriku…baik-baik…berjanjilah…kalian…akan menjaganya…dengan baik”


“Apa yang kau katakan menantu? Tentu kami akan menjaga Nara dengan sangat baik, kau tidak perlu cemas” ucap Mikayra.


Mata Jenssica bergulir menatap Rafindra, Rafindra mendekat tatkala melihat lambaian tangan Jenssica yang memintanya mendekat.

__ADS_1


“Rafindra…”


“Saya disini Nyonya”


“Jaga…putriku dengan baik…sayangi dia…anggaplah dia…sebagai putrimu sendiri…”


“Saya berjanji akan menyayangi Nona seperti putri saya sendiri”


“Kupegang…ucapanmu…”


Setelah itu, mata Jenssica terpejam membuat semuanya memucat seketika. Tak ada lagi detak jantung Jenssica dialat elektrokardiogram. Tuan Leonardo berteriak memeluk putrinya yang telah tiada, Mikayra menangis melihat kematian menantu kesayangannya.


“Jenssica…tidak…bagaimana Mama menjelaskan ini kepada Nara…”


Zachery menatap sendu menantunya yang telah tiada, lengkap…lengkap sudah penderitaan cucunya. Kini wanita yang telah memberikan kebahagiaan bagi keluargnya telah tiada, setelah satu tahun kematian putranya kini menantunya ikut menyusul suaminya.


“Semoga kalian menjadi pasangan yang abadi disana”


.


.


.


Selena membuka matanya dengan perlahan, Mikayra menangis terharu melihat cucunya yang sudah sadar. Dengan hangat Mikayra mendekap tubuh lemah itu. Zachery mencium dengan lembut puncak kepala cucunya dengan air mata yang membasahi pipi.


“Hiks hiks hiks…Oma benar-benar takut sayang…Oma sangat takut kehilanganmu”


“Opa Oma…Papa…dan Mama…sudah pergi…ya?”


Zachery dengan berat hati menganggukkan kepalanya, Selena hanya bisa mengangguk mengerti. Yahhhh…Papanya sudah mengatakan hal itu.


“Kenapa hara tidak bangun-bangun? Kenapa nara tidurnya lama sekali?” ucap Zachery.


“Nara tidur lama Opa?”


“Lama…lama sekali, Nara bermimpi apa sampai-sampai tidak mau bangun dari mimpi Nara?”


“Nara mimpi main dengan seorang pria…tempatnya sangat indah, Nara suka…tapi pria itu bilang Nara tidak boleh lama-lama. Oh, pria itu juga bilang jika dia akan membawa Mama lalu dia pergi. Lalu Nara ketemu Papa…Papa bilang Papa tidak bisa main dengan Nara lagi, Mama juga bilang begitu”


Mikayra semakin mempererat pelukannya, ya tuhan…terima kasih…terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada keluarganya untuk membuat malaikat kecil ini kembali bahagia walau tanpa kedua orang tuanya.


“Mulai sekarang…Opa dan Oma yang akan menjaga Nara…mulai sekarang Nara tinggal lagi dengan Opa dan Oma…dengan Paman-Paman Nara juga” ucap Zachery.


“Paman Raf?”


“Paman Raf-mu, Opa minta untuk menjalankan tugas sayang. Tugas yang sangat penting…Nara dengan Paman Hendrick dulu ya nanti” ucap Zachery dan Selena hanya menganggukkan kepalanya.


Tak berselang lama beberapa dokter serta para Alexandra masuk kedalam ruangan. Mereka membeku melihat Selena yang sudah sadarkan diri.


“Je-Jenderal, tulang rusuk Nona muda! Tolong hati-hati!” ucap salah seorang dokter yang terkejut.


“Paman kecil…” lirih Selena.


“Bagaimana keadaanmu sayang? Apa ada yang sakit?” tanya Deon tersenyum lembut kepada Selena.


Selena menggelengkan kepalanya, ia merentangkan tangannya meminta Deon memeluknya. Deon tersenyum dan dengan hati-hati menggendong tubuh Selena agar alat-alat yang ditubuh itu tidak terlepas. Akhirnya, setelah penantian selama 1,6 tahun keponakannya sadar juga.


“Nanti kalau Nara sudah sembuh, Paman ajak Nara  keluar jalan-jalan. Sekarang Nara fokus kepada pemulihan terlebih dulu” ucap Jeff membelai kepala keponakannya.


“Paman…”


“Ya?”


“Apa dia tidak menyukaiku?” tanya Selena.


“Siapa?”


“Orang itu…disebelah Paman Louis…”


Louis yang mendneganya langsung berjingkat kaget pasalnya tak ada siapapun disebelahnya. Apa keponakannya sedang menjahilinya? Tidak ada siapapun disampingnya.


“Hilang…dia hantu ya Paman?”


“Bukan…mungkin hanya imajinasi Nara saja, sudah…jangan dipikirkan” jawab Lewis.


************


Zachery menatap lembut cucunya yang sudah tertidur setelah meminum obat. Ketukan pintu terdengar dan seorang pria masuk kedalam ruangan itu lalu membungkuk hormat kepada Zachery.


“Hendrick”


“Saya disini Tuan besar”


“Mulai hari ini dan seterusnya, sebelum cucuku menginjak usia 16 tahun. Dia tidak diperbolehkan keluar satu haripun, dia akan di didik di markas dan kediaman Alexandra. Jika salah satu putraku ada yang tidak setuju, paksa mereka untuk setuju”


“Tapi…”


“Ini demi keamanannya Hendrick, jika putraku saja bisa lalai dalam menjaga putrinya apalagi keluarga Alexandra. Hanya dengan ini aku bisa melindungi cucu semata wayangku, dia akan keluar disaat usianya sudah cukup. Dan disitulah…ujian dari keluarga Alexandra dimulai”


“Siap laksanakan!”


Hendrick membungkuk hormat sebelum keluar dari rungan itu, ya tuhan…dikurung selama 3 tahun lebih dan keluar-keluar akan menjalani tes sebagai pewaris. Apa keponakannya bisa menghadapi semua itu? Ditambah lagi, sekarang banyak keluarga besar yang sedang mencoba mencari informasi mengenai penguasa kemiliteran. Tapi untunglah ada Rafindra yang sudah siap berada di posisinya sebagai mata-mata.

__ADS_1


“Ada tugas baru dari Papa?” tanya Jeff mendekati Hendrick.


“Beliau memerintahkan agar akses keluar Selena ditutup secara total”


“Apa?! Selena baru saja melewati masa kritisnya dan Papa memerintahkan hal seperti itu?! Aku akan buat perhitungan dengan Papa!” ucap Alexa.


“Alexa!” dingin Deon membuat pria itu langsung diam tak berkutik sedikitpun.


Deon hanya bisa menghembuskan nafasnya, jika Papanya sudah memerintah tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk membatalkan keputusannya tersebut. Tapi…lebih baik mereka melihat terlebih dulu kondisi psikis Selena sebelum melakukan semuanya.


.


.


.


Zachery dengan lembut membelai wajah cucunya, mata Selena dengan perlahan terbuka. Ia tersenyum kearah Zachery yang juga melempar senyum kepadanya. Zachery mencium dahi serta pipi Selena, setelah 1 minggu akhirnya cucunya mulai kembali seperti semula. Menjadi gadis yang hangat, meskipun belum ceria seperti sebelumnya.


“Aku harus baik-baik saja…aku tak mau membuat Opa dan Oma cemas lagi…”


“Nara mau makan sekarang?” tanya Zachery membantu cucunya untuk duduk.


“Iya, Nara mau makan…tapi masakan Oma…”


“Iya, Opa panggilkan Oma kesini ya”


“Tuan besar…” seorang pria berbaju serba hitam masuk kedalam ruangan Selena. Pupil mata Selena seketika bergetar, tubuhnya langsung gemetar dengan hebatnya dan itu langsung membuat Zachery


“Sayang, ada apa? Apa ada yang tidak nyaman?”


“Tidak…jangan bunuh Papa…jangan bunuh Papa…”


“Nara…Nara…sayang, ini Opa sayang” ucap Zachery panik tatkala melihat wajah cucunya yang mulai memucat. Ya tuhan…ada apa lagi ini?!.


“Jangan bunuh Papa!! Jangan lukai Papa!! Sudah cukup!! Jangan tembak lagi!!” ucap Selena seraya menjambak rambutnya. Zachery langsung memeluk Selena dengan erat, ya tuhan…apalagi yang terjadi kepada cucunya?.


“Nona besar…” lirih pria itu.


Hendrick yang baru datang langsung tersentak kaget tatkala melihat Zachery yang sedang mencoba menenangkan Selena. Ada apa ini?! Kenapa Selena tiba-tiba menjadi seperti itu?!.


“Jenderal besar…”


“Tuan besar, apa yang terjadi?” tanya Hendrick.


“Hiks hiks hiks!! Jangan tembak Papa lagi!! Sudah cukup!! Jangan tembak lagi!!”


Hendrick membulatkan matanya, matanya langsung terfokus kepada benda yang berada di celana pria yang ada didepannya ini. Pistol?!.


“Pergilah” ucap Hendrick langsung menghampiri Selena. Selena langsung memeluk Hendrick dengan erat.


“Hiks hiks Paman…selamatkan Papa…minta mereka untuk tidak menembak Papa lagi…” ucap Selena sembari menangis.


“Tidak…tidak ada yang menembak Papa Nara lagi sekarang…”


“Hiks hiks, mereka orang-orang jahat!! Mereka membunuh Papa…mereka menembak Papa…”


Dokter pribadi keluarga Alexandra masuk dan Hendrick langsung meminta pria itu menyuntikan obat penenang kepada Selena. Pria itu mematuhi perintah Hendrick, ia menyuntikan obat penenang yang membuat tubuh Selena dengan perlahan melemah. Zachery hanya bisa terdiam membatu melihat kejadian didepan matanya, apa…yang sedang dikatakan cucunya?.


“Tuan besar…ada hal yang belum saya katakan kepada anda”


“Intinya”


“Ruvelis mengalami 18 tembakan ditubuhnya saat mencoba melindungi Selena sebelum kepalanya dihantam oleh reruntuhan bangunan”


Tubub Zachery langsung goyah membuat dokter pribadi itu langsung menopang tubuh Zachery. Jadi…itukah yang membuat cucunya bereaksi seperti itu?.


“Selena…melihat itu?”


“Benar…Selena tertusuk tongkat besi yang jatuh setelah runtuhnya puing bangunan yang mengenai Ruvelis”


“Tidak…itu tidak mungkin…”


Hendrick membaringkan tubuh Selena, inilah alasan mengapa ia mati-matian ingin mempertahankan kehidupan Ruvelis. Kejadian mengerikan itu terjadi tepat terjadi didepan mata Selena, kejadian yang sekarang pasti akan membuat trauma besar diingatan Selena.


“Dan juga…sebelum tembakan yang pertama, Ruvelis menyerahkam stempel dan juga Document rahasia kepada Selena. Yang sekarang saya juga tidak tau di mana keberadaan benda-benda tersebut” ucap Hendrick, ini adalah informasi terakhir yang disampaikan Ruvelis kepadanya sebelum masuk kedalam ruang operasi.


“Kau yang bertanggung jawab terhadap masalah ini Hendrick, berhati-hatilah saat melatih cucuku kedepannya”


“Siap laksanakan!”


.


.


.


Flashback Off


.


.


.

__ADS_1


Thor izin hiatus untuk persiapan Chapter selanjutnya okey...bye bye


__ADS_2