
.
.
.
Setelah berbincang cukup lama Daniel dan Joe turun bersama ke meja makan, menatap dingin orang-orang yang sudah duduk di tempat masing-masing dan juga…tempat tambahan untuk keluarga River.
Joe duduk disebelah Mamanya sedangkan Daniel duduk di tempat duduknya, seorang wanita cukup muda berumur 24 tahun terpana akan ketampanan Daniel dan hal itu membuat Tuan besar Jasson beserta istrinya tersenyum. Mereka pasangan yang cocok, sepertinya mereka akan mengadakan pertemuan lagi untuk mendekatkan mereka berdua.
“Arwin, pindahlah…duduk disebelah tunanganmu” ucap Nyonya Jasson.
Arwin tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya, menghampiri kursi di sebelah Daniel yang kosong. Pelayan menarik kursi itu, mempersilahkan Arwin untuk duduk. Namun sebelum wanita itu duduk Daniel terlebih dulu mencengkram kursi tersebut dan menatap tajam kearah pelayan, pelayan itu seketika memundurkan tubuhnya.
“Pergi…kau…tak pantas duduk disebelahku” sinis Daniel membuat Arwin terkejut dibuatnya, wanita itu dengan malu langsung kembali duduk di tempatnya yang semula.
“Jangan terlalu dingin kepada calon istrimu Daniel, hanya sebuah tempat duduk. Apa yang kau peributkan?”
“Hanya sebuah tempat duduk, dia juga sudah punya kan?” sinis Daniel.
“Bukankah masih calon kakek?” sahut Joe membuat tangan Arwin yang berada di bawah meja mengepal.
“Meskipun masih calon, mereka membutuhkan waktu untuk dekat. Jangan hiraukan Daniel, duduklah disebelahnya. Bagaimanapun dia calon suamimu” dingin Tuan besar Jasson.
“Jika kau tau diri, duduk saja disitu”
Ucapan Daniel langsung membuat Arwin yang hendak berdiri kembali duduk, Daniel menatap tajam kakeknya membuat Tuan besar Jasson tak bisa berbuat apa-apa.
“Ada apa dengan sikap cucu anda Tuan? Keluarga kami datang kemari secara baik-baik dan putri kami malah mendapat perlakuan seperti ini?” Tuan River berucap tak suka menatap Tuan besar Jasson.
“Hanya anak-anak Tuan, jangan tersinggung. Mari kita bahan ini nanti, sekarang…hidangkan makanannya”
Para koki secara berurutan menyajikan makanan diatas meja hingga hampir menutupi meja itu. Daniel menatap sebuah hidangan diatas meja, itu makanan kesukaan Selena. Ia harap Selena segera datang sebelum ia menebas kepala keluarga River.
Drttttt drttttttt…
Daniel langsung mengangkat telfonnya yang berasal dari Selena.
“Hallo, kau di mana?”
“Jalanan macet, aku sedang menunggu helicopter. 5 menit lagi mungkin sampai”
“Akan kujemput”
“Tidak perlu, itu sudah datang. Akan kututup”
Tut…
“Matikan ponselmu saat dimeja makan Daniel”
“Kakek tidak usah ikut campur urusanku”
Daniel menatap ayam teriyaki yang terletak antara Joe dan juga Arwin. Sighhhh jauh, ia akan meminta Joe mengambilkannya.
“Joe, tolong ambilkan ayam itu”
Joe langsung mengambil sepiring ayam itu yang hendak diambil oleh Arwin dan dibawanya kepada Daniel. Daniel meletakkan hidangan itu pada piring kosong di sebelahnya, untuk Selena.
“Apa yang kau lakukan Daniel?” tanya Nyonya Jasson tak suka akan sikap Daniel mengambil hidangan yang hendak dimakan oleh Arwin.
“Nyonya, tak masalah. Mungkin Tuan muda ingin memakannya” jawab Arwin tersenyum.
“Kau memang wanita yang baik Arwin…aku tak salah memilih calon cucu menantu”
Daniel hanya bersikap acuh tak acuh mendengar ucapan Nyonya Jasson, siapa juga yang mau menikahi wanita itu?. Ia melihat wanita itu saja sudah muak.
Daniel memakan steak yang dihidangkan untuknya, steak dikediaman Alexandra lebih enak daripada ini. Entah kenapa ia jadi ingin memakan makanan dari keluarga Alexandra.
Daniel menatap ponselnya yang baru saja mendapat pesan masuk, melihat itu ia langsung buru-buru pergi dari ruang makan dan menuju halaman rumahnya. Ia menatap Selena yang keluar dari helicopter dengan pakaian formalnya.
“Kau sudah datang, kau tampak semakin cantik malam ini” ucap Daniel mengulurkan tangannya.
Selena menerima uluran tangan Daniel, Daniel menatap aneh tubuh Selena. Kenapa…bahu gadis itu tampak bebeda antara sisi kanan dan kirinya?.
“Tulang bahuku terkilir”
“Bagaimana bisa?”
“Saat latihan dengan Paman Raf”
“Hah…sudah, ayo masuk. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu”
“Ada banyak orang didalam?”
“50? Maybe?” jawab Daniel.
Selena menghembuskan nafasnya, sudah lama ia tidak makan malam dengan orang sebanyak itu. Tapi…apa bisa ia menjaga sikapnya? Ia takut mempermalukan Daniel.
“Jangan khawatir, Papa dan Mama juga ada didalam. Tapi…apa yang terjadi dengan rambutmu?”
“Aku mewarnainya”
“Kenapa diwarnai? Rambutmu yang asli lebih bagus, daripada hitam begini…”
“Aku hanya bercanda, aku pakai wig. Aku tidak sempat merapikan rambutku”
“Hahaha, jadi kau pakai wig hanya karena itu?”
“Ya”
Saat sudah sampai di ruang makan semua mata langsung menatap kearah Selena yang menggandeng lengan Daniel. Daniel menarik kursi, mempersilahkan Selena untuk duduk. Selena duduk, menatap ayam didepannya wahhh…sudah lama ia tidak makan hidangan ini.
“Makanlah…”
Arwin gemetar melihat Daniel yang tengah sibuk memandangani wanita yang dibawanya. Si-siapa wanita itu? Kenapa Tuan muda Jasson sampai menjemputnya sendiri? Tapi ia tidak perlu khawatir, karena ia adalah calon istri dari Tuan muda Jasson.
“Sayang, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Mama Joe.
“Sudah, bagaimana keadaan Papa dan Mama?”
“Kami baik, jangan canggung. Anggap mansion ini sebagai rumahmu sendiri”
“Akan kubuatkan jus blueberry, tunggu sebentar ya”
__ADS_1
Daniel pergi menuju dapur untuk membuat jus blueberry, kepergian Daniel membuat Tuan dan Nyonya besar Jasson langsung menatap tak suka kepada Selena yang dengan santainya memakan makanannya.
“Siapa kau?”
“Anda ingin tau?”
“Kakek, dia pacar Daniel. Bagaimana? Cantik bukan? Iyalah, calon kakak iparku memang sangat cantik”
Brakkkkkk!!!
Tuan besar Jasson mengebrak meja membuat terkejut semua orang yang berada disana. Selena meletakkan pisau dan garbunya dan menatap dingin Tuan besar Jasson. Terakhir kali mereka bertemu saat usianya 3 tahun, wajar jika pria itu bersikap kurang ajar kepadanya.
“Jauhi Daniel, karena dia akan segera menikah dengan Arwin”
“Kalau aku tidak mau?”
“Kau harus!”
“Tidak”
“Kau-”
“Pa, apa yang kau perdebatkan dengan gadis berumur 18 tahun?” tanya Papa Joe.
Tak berselang lama Daniel datang membawa segelas jus blueberry dan diberikannya kepada Selena. Daniel kembali duduk dan memandangi Selena yang kembali memakan makanannya.
“Jangan makan kenyang, aku akan membawamu jalan-jalan nanti”
“Baiklah”
“Daniel!”
“Apa?” dingin Daniel menatap kakeknya.
“Cepat bawa wanita itu pergi, jangan membuat calon istrimu bersedih”
“Kenapa aku harus membawa pergi pacarku? Minta saja wanita itu pergi jika dia tidak suka”
“Daniel!!!”
“Sayang, redakan amarahmu. Kita selesaikan masalah ini nanti setelah makan”
Tuan besar Jasson menghembuskan nafasnya dan kembali duduk di tempatnya. Daniel menatap Selena yang masih sibuk dengan makanannya, apa ayam itu seenak itu?.
“Minta sedikit” ucap Daniel.
Selena mengambil sepotong dan memasukkannnya kedalam mulut Daniel.
“Enak?”
“Enak karena kau yang menyuapi”
“Maaf…aku izin ke kamar kecil” Arwin bangkit dan pergi menuju kamar mandi. Joe menahan tawanya melihat sekilas wajah Arwin yang benar-benar kesal melihat Selena dan Daniel.
Arwin menatap wajahnya di cermin, sial*n!! Bisa-bisanya tunangannya bermesraan dengan wanita lain saat ia ada disana! Dan juga, wanita murahan darimana yang dibawa tunangannya?! Ia tidak boleh seperti ini! Ia tak mau pertunangannya dengan Daniel dibatalkan! Pria itu adalah pria impiannya! Ia harus melakukan sesuatu agar pertunangan ini tetap berlanjut!.
“Kenapa? Sakit hati ya?” tanya Selena.
“Kau tak perlu tau, tapi kuharap…batalkan pertunanganmu dengan Daniel. Atau kau…akan tau konsekuensinya”
“Atas dasar apa kau menyuruhku melakukan itu?”
“Lakukan jika kau ingin keluargamu selamat”
“Kau!!”
Selena masuk kedalam toilet, Arwin mengepalkan tangannya. Ia dengan keras menampar pipinya dan keluar dari kaamr mandi dan kembali ke meja makan. Kembalinya Arwin dengan bekas tamparan di wajahnya membuat semua orang terkejut kecuali Daniel, Joe, Mama dan Papa Joe.
“Putriku, apa yang terjadi padamu?” tanya Tuan River.
“A-ah, a-aku tidak sengaja menyinggung perasaan kekasih Tuan muda”
“Daniel!! Lihat apa yang dilakukan pacarmu!! Bagaimana bisa dia menampar gadis baik-baik seperti Arwin?!!!”
“Untuk apa marah-marah? Tunggu pacarku kembali, dan dia akan mengatakannya”
Tak berselang lama Selena kembali dan menatap bingung orang-orang yang tengah menatapnya dengan pandangan sinis.
“Sayang, apa kau baru saja menamparnya?” tanya Mama.
“Tidak…kenapa memangnya?” bingung Selena.
Sedetik kemudian Selena langsung mengerutkan keningnya, jangan-jangan wanita itu bilang bahwa ia sudah menampar wanita itu saat di kamar mandi. Haisss drama apa lagi ini?.
“Sudah kan? Sudahlah, dia bukan wanita baik-baik. Untuk apa pertunangan ini tetap dilanjutkan?”
“Putriku tidak mungkin berbohong!” sangkal Tuan River.
“Nona, coba jelaskan. Bagaimana caraku menamparmu?”
“A-apa?”
“Bahu kananku sedang terluka, aku bahkan menggunakan tangan kiri karena tangan kananku sulit digerakan. Lalu bagaimana caranya aku menampar pipi kirimu?”
Arwin langsung terdiam, sial…
“Daniel, aku ingin ke pantai…ini malam yang indah”
“Ayo pergi, jangan bergaul dengan parasit seperti mereka” sinis Daniel langsung membawa pergi Selena.
“Lebih baik kau mundur saja, dialah yang pantas bersanding dengan Daniel. Kau…kalah jauh” sinis Joe.
“Kau tak pantas berkata seperti itu kepada calon kakak iparmu Joe!” bentak Bibi Joe.
“Kau yang tak pantas bicara dengan nada tinggi kepadaku, ingat…kau…hanya anak tiri. Kau bukan anak keluarga Jasson” sinis Joe berdiri dari tempat duduknya dan pergi begitu saja, karena Selena pergi dengan Daniel ia akan pergi dengan Alex.
“Kak! Lihat sikap putrimu! Kalian terlalu memanjakannya!”
“Karena dia putri kandung keluarga Jasson meskipun lahir diluar nikah, kau yang orang luar…diam saja” sinis Papa Joe membawa pergi istrinya.
“Kedua cucumu itu sama-sama membangkang! Aku tidak mau tau! Setelah Daniel kembali nanti, minta dia meminta maaf”
“Aku tau”
__ADS_1
.
.
.
Selena menatap street food yang berjajar rapi sepanjang jalan. Wahhhh, ia ingin mencoba semuanya. Daniel yang melihat ekspresi Selena hanya bisa tertawa, ia mematikan mesin mobilnya.
“Mau beli beberapa?”
Daniel memberikan masker kepada Selena, kedua orang itu turun dari mobil dan menghampiri beberapa toko makanan untuk dibeli. Penampilan Selena dan Daniel sekarang tentu saja mampu membuat semua mata terfokus kepada keduanya.
“Mau itu…” tunjuk Selena kepada pedangang takoyaki.
“Iya, tunggu sebentar lagi” setelah makanan pertama mereka siap Daniel segera membayar dan menggandeng tangan Selena kepada penjual takoyaki.
Kedua orang itu lama berada di street food, membeli berbagai macam makanan yang diinginkan sebelum kembali kedalam mobil dengan membawa berbagai bungkusan makanan.
“Nah, makanlah. Tapi ingat, jangan bilang Rafindra jika aku membelikanmu ini”
Selena memakan takoyakinya, wahhhh sudah lama ia tidak makan ini. Daniel tersenyum, ia menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi ke tempat tujuan yang diinginkan Selena.
“Anak-anak bagaimana? Tidak ikut kemari?” tanya Daniel hati-hati takut mengubah suasana hati Selena.
“Ikut, dengan Paman Raf. Mungkin nanti sampainya”
“Baiklah…lalu, selama di Swiss kau tinggal di mana?”
“Menumpang di rumah lama Paman Raf. Kebetulan rumahnya ada di pinggir laut”
“Kau menumpang?”
“Iya, rumahnya bagus. Aku suka”
“Benarkah, bagaimana rumahnya?”
“Itu rumah kayu, aku kagum dengan selera Paman Raf”
Saat sudah sampai di pantai Daniel dan Selena keluar, hembusan angin langsung mengenai mereka berdua. Selena berjalan mendekati air laut, ia menatap ke langit yang dipenuhi oleh bintang dan juga bulan yang bersinar. Daniel melepaskan jaznya, memakaikannya di bahu sempit Selena.
“Kau tau bintang apa itu Daniel?”
“Tidak…”
“Itu Canopus, dan itu adalah Sirius. Kali ini aku melihat mereka bersama yang saling memancarkan sinarnya”
“Dulu, Papa pernah bilang. Aku adalah bintang sirius dan Papa adalah bintang canopus. Papa bilang kedua bintang itu akan terus bersama di langit malam yang indah. Aku tak pernah di ibaratkan seperti Canopus, karena aku pernah bilang, jika Canopus kehilangan Siriusnya, Canopus akan lenyap dengan keinginannya, begitu pula dengan Sirius, jika kehilangan Canopusnya, dia tidak akan bersinar dengan terang lagi. Sekarang aku tau, ucapanku waktu kecil…terjadi padaku sekarang”
Daniel mengepalkan tangannya, ia tak bisa berbicara apapun sekarang.
“Aku kehilangan banyak bintang Canopus, itulah kenapa sinar Sirius memudar. Aku ingin lenyap…tapi aku tidak bisa karena Tuhan...memberiku 3 Canopus lagi untuk dijaga”
Daniel berjalan mendekati Selena, membalik tubuh wanita itu dan menatap lekat-lekat kedua mata indahnya. Selena menggapai tangan Daniel dan meletakannya diatas kepalanya.
“Jadi…aku ingin, kau yang jadi bintang Sirius. Karena kau harapan terakhirku…” dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
Daniel tersenyum, ia menggapai kedua tangan Selena dan menciumnya.
“Aku berjanji…aku berjanji akan terus bersamamu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, kau tak kan pernah kehilanganku”
.
.
.
Daniel dan Selena turun dari mobil dan masuk ke dalam kediaman Jasson. Selena tercengang melihat banyaknya bodyguard dan Mafia yang tengah berjajar rapi di ruang tamu. Duhhh…orang penting mana lagi yang akan datang?.
“Nona besar, mohon anda kembali bersama kami” ucap semuanya membungkuk hormat.
“Mereka bawahanmu?”
“Bukan, sepertinya bawahan Oma”
“Nara!!! Cucuku tersayang!!” Mikayra berlari masuk memeluk cucunya. Selena terkejut mendapat pelukan yang secara tiba-tiba dari Omanya. Kenapa…Omanya bisa berada disini? Dan siapa yang memberitau jika ia ada disini?.
“Sayang…pulang ya…Oma merindukanmu, sampai kapan Nara mau seperti ini?” ucap Mikayra.
“Oma…”
“Ada apa ini?” Tuan besar Jasson menuruni anak tangga dengan alis yang berkerut.
“Ada apa ini? Siapa kalian semua?” tanya Nyonya Jasson dibelakang suaminya.
“Sayang…pulang ya dengan Oma hari ini? Oma jauh-jauh datang kemari untuk menjemputmu…”
Tuan besar Jasson mengerutkan keningnya, bukankah itu Mikayra? Jadi…pacar cucunya adalah cucu dari Mikayra?!.
“Kau…cucu Zachery?”
“Kau!! Dasar bajin*an tua sial*n!! Beraninya kau menyembunyikan cucuku disini!!” kesal Mikayra.
“Dia cucumu?”
“Kenapa kalau dia cucuku?! Punya masalah kau?!” bentak Mikayra.
Nyonya Jasson menatap heran suaminya yang tengah ditatap sengit oleh wanita yang sekarang tengah memeluk kekasih dari cucunya.
“Jika kau cucu Mikayra, siapa ayahmu? Deon? Jeff? Atau Alexa?”
“Tidak ketiganya” jawab Selena.
“Lalu?” ucap Tuan besar Jasson, jangan bilang dia adalah anak Lewis? Eh, tapi apa mereka sudah menikah?.
“Aku putri Ruvelis”
Blarrrrrrrr!!
.
.
.
__ADS_1