Our Last Love

Our Last Love
V1 : Chapter 189 : I'm Scared


__ADS_3

.


.


.


Selena kembali duduk termenung di sofa rumahnya, suara-suara kembali ia dengar namun sebisa mungkin ia mencoba mengabaikan suara yang entah darimana datangnya itu. Sejujurnya ia sudah muak, ia sudah muak dengan kehidupannya yang seperti ini. Ia benci saat-saat di mana ia tak bisa melawan disaat itu juga, ia benci disaat tak bisa menjaga orang-orang disekitarnya, dan ia juga benci ketika ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.


“Balas dendamlah Selena…buat mereka bersujud di kakimu…buat mereka patuh seperti anjingmu…”


Wajah Selena semakin berubah masam ketika suara itu lagi-lagi memintanya melakukan balas dendam. Suara sial*n…


“Kau hanya Guardian Papaku yang menetap di tubuhku, jangan melunjak dihadapan Tuanmu” dingin Selena.


“Lalu…apa kau memintaku untuk menempati tubuh salah satu anakmu?”


“Jangan macam-macam dengan mereka sial*n…”


“Haha…jangan lupa Selena…kehadiranku yang membuatmu bisa menjadi seperti ini…”


“Jadi, mengapa kau tidak lenyap saja? Aku bisa bertindak sesuai keinginanku dan kau tidak perlu ikut campur karena kau hanya mengganggu rencanaku”


Suara itu akhirnya menghilang membuat Selena menghembuskan nafasnya,ia benci Guardian yang mnetap di tubuhnya. ini semua karena kakek buyutnya yang mengirim Guardian ke dalam tubuh Papanya yang membuat Guardian itu berpindah kedalam tubuhnya disata Papanya sudah tiada.


“Aku harus apa untuk melenyapkan rasa ini…”


Selena menyibakkan rambutnya ke belakang dan berbaring di sofa yang menjadi tempat tidurnya selama berhari-hari.


“Georgino…sebentar lagi…aku akan membuat kalian merasakan rasa malu yang kalian berikan kepadaku…”


Selena menatap jari manisnya yang masih memakai cincin pernikahan, dengan berat hati ia melepaskan cincin itu dan menyimpannya disaku celananya.


“Haha…Leo…bagaimana bisa aku begitu mencintaimu?”


Tok tok tok…


Mendengar suara ketukan pintu membuat Selena langsung berdiri dan membuka pintu. Ia menatap kurir yang membawa tumpukan berkas-berkas.


“Apa benar ini Nona?”


“Ya, terima kasih”


Selena mengambil berkas-berkas itu dan meletakannya diatas meja, ia kembali dan memberikan tip kepada kurir itu yang sudah dengan baik menjalankan perintahnya.


“Kerja bagus”


“Kalau begitu saya akan permisi”


Selena menutup pintunya ketika melihat kurir yang sudah pergi. Ia duduk dan kembali memeriksa berkas-berkas yang sebentar lagi akan ia berikan kepada pengacara pribadinya.


“Nikmati ini Georgino….”


“Aku akan mencari keadilan atas kematian kalian…”


Selena kembali meneteskan air matanya, ia mengambil fotonya bersama Leo lalu menciumnya dengan penuh rasa rindu yang teramat.


“Istirahat dengan tenang…suamiku…”


“Pa…lihatlah, putrimu ini…akan segera menyelesaikan tugasnya…aku berjanji akan membuat Papa dan Mama bangga…”


Mulai hari ini…ia akan melempar jauh-jauh kepribadiannya, akan ia buang jauh sifat lemah dalam dirinya. Dengan wajah baru ini, ia akan mengikuti jalan yang dilalui Papanya. Menjalani kehidupannya dengan sifat tenang dan berwibawa, ia tak akan melakukan hal-hal bodoh lagi.


Sebuah mobil mewah berhenti didepan rumah Selena, Selena yang mendengarnya langsung bergegas melihat siapa yang mendatangi rumahnya. Teryata Daniel, ia pikir siapa yang berkunjung kerumahnya selain kurir.


“Ada apa Daniel?” tanya Selena sembari membuka pintu.


“Aku membawa makanan untukmu, kau pasti sering memesan makan dari luar”


“Hm, masuklah”


Daniel masuk dan duduk di sofa bersama dengan Selena, Selena membereskan berkas-berkasnya dan disimpannya didalam brangkas yang baru ia beli saat perjalanan kemari tadi.


“Berkas apa itu Selena?”


“Kau akan tau nanti”


Selena memakan makanan yang dibawakan Daniel dengan pelan-pelan. Sejak keluar dari rumah sakit perutnya terasa benar-benar tidak nyaman. Ditambah luka operasi yang kadang-kadang terasa nyeri.


“Kau semakin mengurus…wajahmu juga pucat, apa yang terjadi?”


“Aku baik-baik saja”


“Ta-”


“Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan. Katakan itu”


Mendengar Selena mengatakan hal itu membuat Daniel mencengkram dengan kuat kelananya.


“Daniel…”


“Y-ya?”


“Kau bersikap seperti ini kepadaku…tidak takut tunanganmu tau kah?”

__ADS_1


Blarrrrrrrr!!!!


Daniel kaget bukan main mendengar Selena membahas mengenai tunangannya, da-darimana selna tau jika ia sudah mempunyai tunangan? Ia sudah memperingatkan keluarganya agar berita bahwa ia punya tunangan tidak sampai ke tangan orang lain. lalu…darimana Selena mengetahui hal itu? Apa karena alasan ini juga, Selena menjadi dingin kepadanya?.


“Mata-mataku lebih banyak dari yang kau pikirkan Daniel. Jangankan hal ini, aku tau wanita mana yang menjadi tunanganmu”


“Selena…ini…”


“Maafkan aku, jika aku tau ini dari awal seharusnya aku menjaga jarak denganmu, jadi kuharap…mulai sekarang, Jika bukan karena pekerjaan, jangan hubungi aku. Aku akan mencarikan Baby sister untuk mereka”


“Tidak!! Aku tidak ingin!! Aku ingin minta bantuanmu!! Aku tak ingin menikah dengan wanita itu!! Kau tau sendiri aku sudah punya wanita yang kucintai, aku tak ingin menikahinya!” ucap Daniel.


“Apa? Wanita yang kau cintai itu bukan tunanganmu?”


“Tentu saja bukan! 2 minggu lagi akan ada pertemuan keluarga! Jadi tolong bantu aku!” ucap Daniel memelas.


“Bantuan apa?”


“Berpura-puralah menjadi pacarku! Aku akan membawamu menemui mereka, dan kumohon bantu aku membatalkan pernikahan itu” ucap Daniel.


“Kenapa aku? Ajak saja wanita yang kau cintai itu” jawab Selena.


“Ya wanita itu kau!!!”


Ingin rasanya Daniel berteriak seperti itu namun suaranya seperti tercekat, ia tidak bisa mengatakannya.


“Aku tidak bisa membawanya, mau ya? Please…”


Selena berdecap kesal mendegar ucapan Daniel, haishhhh…ia malas berurusan dengan masalah sepertiini. Ini sama saja dengan menambah musuhnya.


“Aku tak ingin melakukannya Daniel”


“Aku akan membantumu untuk mencari bukti-bukti kejahatan keluarga Georgino! Bagaimana? Mau ya…please…” pinta Daniel.


“Deal”


Daniel bersenyum senang mendengar Selena yang setuju untuk membantunya! Yessss!!! Dengan begini ia bisa leluasa mendekati Selena tanpa harus memikirkan tunangannya. Ia akan mendapatkan kembali status lajangnya.


.


.


.


Selena menghembuskan nafasnya ketika melihat Daniel yang tengah tertiudr lelap di sofa rumahnya. Sejak pagi pria itu tetap berada disini dan tak mau pergi, ingin mengusir tapi tidak enak dan juga jika pria ini ada disini siapa yang menjaga kembar? Apa Paman-pamannya bisa menjaga kembar?.


Selena masuk kedalam kamar mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh Daniel


Ting!


Jantung Daniel berpacu dengan cepat, ya tuhan…untunglah Selena belum membuka pesan masuk yang dierimanya. Jika tadi Selena membukanya ia tak sanggup jika harus menjelaskan kepada foto Selena bisa menjadi wallpaper ponselnya.


“Siapa yang mengirim pesan sampai-sampai aku tidak boleh membukanya?” tanya Selena.


“O-oh, i-ini dari Deon. Aku akan mengatakan bahwa aku menginap disini dan akan kembali besok pagi” jawab Daniel menunjukan pesan yang baru saja masuk, ia tak ingin Selena salah paham.


Selena hanya menatap datar itu dan masuk kedalam kamarnya. Daniel menelan ludahnya, apa Selena marah? Duhhhhh…mampus…tapi sepertinya lebih baik ia mengganti wallpaper ponselnya sekarang.


Selena duduk di sisi tempat tidur, entah kenapa hari-harinya semakin terasa membosankan sekarang. tidak ada lagi pria yang bisa ia ganggu disetiap pagi, tidak ada lagi yang memeluknya dan memberikan kehangatan dari dinginnya malam, tidak ada lagi bisikan kata-kata romantis disaat ia bangun tidur.


“Rumah impian kita bahkan belum selesai dibangun sayang…dan kau sudah pergi meninggalkanku” ucap Selena seraya meletakkan tangannya diatas tempat tidur, sisi yang selalu menjadi tempat beristirahat suaminya.


Menyesal, ia benar-benar menyesal. Jika tau hari itu adalah hari terakhir masa bahagianya bersama sang suami ia akan mengambil cuti panjang untuk menemani suaminya. Merawat suaminya hingga suaminya itu tak perlu pergi.


“Bukankah kau ingin membesarkan anak-anak bersamaku? Kembalilah…dan kita berikan kasih sayang yang sempurna untuk anak-anak” Selena kembali meneteskan air matanya, ia menjadi wanita yang benar-benar lemah sekarang. ia menangis ketika mengingat Leo, suaminya…


Daniel yang berdiri di ambang pintu mendengar itu semuanya, ia memegangi dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Tanpa rasa ragu ia menghampiri Selena, berlutut dihadapan wanita itu membuat Selena langsung menghapus air matanya.


“Kenapa?” ucap Daniel seraya menggenggam tangan Selena.


“Hiks hiks…aku takut…dunia belum mengenal mereka, dunia belum tau siapa Ayah mereka tapi Ayah mereka sudah pergi begitu saja…siapa yang akan menjadi wali mereka nanti? Siapa yang akan mengantarkan Leona? Ryu bahkan belum sempat digendong oleh Papanya…aku takut…bisakah mereka tumbuh hanya dari kasih sayangku?”


Daniel menghapus air mata Selena dan dengan lembut membelai pipi itu.


“Jangan takut…ada aku…aku akan menjadi Ayah mereka…aku akan memberikan kasih sayang yang seharusnya Leo berikan…jangan takut…aku yang akan menjadi wali mereka, jika dunia tidak mengenal mereka sebagai anak Leo…maka biarkan dunia tau bahwa mereka adalah anak-anakku…”


“Hiks hiks…jangan seperti ini…jangan terlalu baik kepadaku…jangan mengasihaniku Daniel…aku tak ingin…”


“Hei…aku menyayangi mereka…aku juga ikut menjaga mereka, mereka juga anak-anakku…Leo adalah kakakku…mereka juga masih mempunyai hubungan darah denganku. Jangan khawatir…tak kan pernah kubiarkan dunia menghina mereka”


Daniel paham darimana ketakutan Selena berasal, Leo sudah tidak ada…sebelum anak-anak dewasa mereka hanya bisa bergantung kepada Selena. Sedangkan Selena sendiri tidak bisa membuat mereka diakui karena Selena juga merupakan anak yang disembunyikan.


“Sudah malam…istirahatlah…”


“Tapi-”


“Jangan khawatirkan apapun, percayalah kepadaku” ucap Daniel sembari membaringkan tubuh Selena dan menarik selimut hingga batas dada.


“Selamat malam” ucap Daniel sebelum keluar dari kamar Selena.


“Hiks…aku tak ingin…aku tak ingin percaya lagi kepada siapapun…”


***************

__ADS_1


Selena membuka matanya dengan perlahan, ia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Menatap sarapan yang sudah tersedia diatas meja dan juga pakaian baru untuknya.


| Aku akan pergi mengurus anak-anak dulu, aku akan kembali nanti siang…habiskan makanannya | itulah isi dari catatan kecil yang ditinggalkan Daniel diatas meja.


Selena duduk dan menyantap makanannya, namun acara makan itu langsung terhenti saat mendengar sebuah mobil melintas didepan rumahnya. Selena bergegas keluar dari rumahnya dan menatap mobil hitam yang berhenti di sebuah rumah yang terletak paling ujung.


Seorang pria turun dari mobil hitam itu menghampiri seorang wanita yang tengah berdiri menyambut kedatangan sang lelaki. Stefen, laki-laki itu mencium bibir sang wanita.


“Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu”


“Maaf, aku sibuk. Mau bercinta sekarang?”


Stefen tersenyum dan menggendong sang wanita yang tengah merona karena malu masuk kedalam rumah. Selena yang melihat itu kembali masuk kedalam rumahnya.


“Dia akan menjadi saksi sekaligus bukti terakhirku, terima kasih Stefen…kau sudah memberikan jalan emas untukku”


.


.


.


Disaat mobil Stefen sudah pergi dari rumah wanitanya Selena berjalan, berniat ‘Bertamu’ dirumah wanita itu. Saat sudah sampai rumah wanita itu Selena mengetuk pintu membuat wanita yang sedang merapikan pakaiannya yang berserakan diruang tamu langsung berjingkat kaget.


“Se-sebentar!!”


Tak berselang lama pintu dibukakan, wanita itu menatap bingung Selena yang tak mengatakan apa-apa.


“Siapa?”


“Bisakah aku masuk? Kita bicarakan ini didalam”


Wanita itu menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan masuk kerumahnya. Selena duduk di sofa sedangkan wanita itu pergi mengambil minuman untuk mereka berdua.


“Kalau boleh saya tau…ada keperluan apa anda kemari?”


“Ada hubungan apa kau dengan Stefen?”


“A-ah, dia kekasih saya”


“Hm? Sudah lama kalian berhubungan?”


“Sekitar…6 tahun?”


“Dan dia masih belum mau menikahimu? Dan hanya menidurimu?”


Wanita itu langsung mengerutkan keningnya, siapa wanita ini? Kenapa datang-datang langsung membahas mengenai topik sensitive seperti ini?.


“Aku tak ingin berniat jahat kepadamu, tapi kusarankan. Lebih baik kau tinggalkan Stefen”


“Apa maksud anda?! Kenapa anda datang-datang dan mengatakan hal seperti ini?!”


“Jika kau ingin selamat, dengarkan baik-baik ucapanku. Tinggalkan Stefen, pergilah dari Negara ini…lagipula…kau ingin anak didalam kandunganmu selamat bukan?”


Wanita itu langsung memegang perutnya, da-darimana wanita ini tau mengenai kehamilannya? Ia belum memberitau siapapun mengenai ini termasuk Ayah dari anak ini, jadi darimana wanita ini tau?.


“Apa kau tidak tau jika Stefen, punya 8 orang wanita yang notabenenaya adalah kekasih Stefen dan juga 6 diantara mereka…sedang berbadan 2?”


Wanita itu langsung menutup mulutnya tak percaya mendengar ucapan Selena, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak boleh percaya dengan apa yang dikatakan wanita ini! Ia mengenal baik Stefen! Tak mungkin pria itu berselingkuh darinya!.


“Anda lebih baik pergi dari rumah saya sekarang juga”


“Yakin mau mengusirku?”


Selena mengeluarkan beberapa foto dari sakunya, wanita itu gemetar tak percaya melihat kekasihnya sedang bermain gila dengan wanita-wanita diluar sana. Ta-tapi, darimana wanita ini mendapatkan ini?.


“Aku adalah mantan wanita Hans, selama aku berada disisinya kau tau apa yang sudah dilakukan Yeni kepadaku? Dia melenyapkan anak yang sedang ku kandung. Hans kini punya 2 anak dari Sekretaris dan juga calon istrinya. Jadi mungkinkah anakmu bisa tetap selamat mengingat…wanita-wanita Stefen yang terdahulu…mati setelah dipaksa mengugurkan kandungannya?”


“Tidak…tidak…”


“Jika kau masih tidak percaya, aku akan membawamu bertemu dengan wanita simpanan milik Tuan muda Georgino yang lain”


Wanita itu langsung mencengkram dengan erat perutnya, pria bajin*an!! Bisa-bisanya pria itu mempermainkannya!.


“Aku hanya ingin menyelamatkanmu dan anakmu mengingat kau adalah wanita baik-baik”


“Kenapa…kenapa kau mengatakan semua ini kepadaku?”


“Karena aku butuh bantuanmu, bukankah aku harus menerima imbalan karena sudah menyelamatkanmu dan anakmu?”


“Apa…yang kau inginkan dariku?”


“Sebelumnya, tanda tangani ini. dan akan kujelaskan peranmu” ucap Selena mengeluarkan sebuah lipatan kertas dan juga pena dari saku blazernya.


Wanita itu langsung memberikan tanda tangannya diatas kertas putih itu tanpa membacanya terlebih dulu.


“Tapi…apa kau benar-benar bisa menjamin keselamatanku dan anakku?”


“Selama kau patuh, kupastikan keselamatanmu dan anakmu terjamin”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2