
.
.
.
Selena menatap senang bekas luka yang berada diperutnya perlahan memudar. Hans yang baru membuka pintu kamar tersenyum dan memeluk Selena dari belakang. Ia mengecup lama puncak kepala istrinya.
“Terima kasih Hans…”
“Sama-sama, ayo pergi. Katanya mau makan sushi”
“Hmmmm…”
Tangan Hans mengambil syal dan melilitkannya di leher Selena. Selena tersenyum dan mengandeng tangan suaminya. Mereka seperti orang yang berpacaran setelah menikah bukan berpacaran setelah itu menikah.
Hans mengecup pipi istrinya lalu berjalan keluar dari hotel tempat mereka menginap untuk beberapa hari hingga bekas luka Selena menghilang.
Hans dan Selena berjalan beriringan keluar dari hotel. Kali ini mereka tak ingin naik mobil, mereka akan jalan kaki sembari menikmati udara Jerman. Selena mendongkakan kepalanya, menatap salju yang turun.
“Wah! Hans! Salju!” ucap Selena, ini adalah salju pertamanya di tahun ini.
“Sebegitu senangnya melihat salju…” ucap Hans mencubit pipi Selena.
Selena hanya tersenyum setelah itu kembali berjalan bersama Hans menuju restaurant sushi terdekat. Mereka duduk dan memesan makanan, saat makanan sudah dihidangkan Selena langsung memakan sushinya dengan senang hati.
“Selena, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa?”
“Bagaimana…Micle bisa mengenal Mamamu?” tanya Hans, pertanyaan ini sudah berada dibenaknya selama 1 minggu penuh.
“Aku tidak tau, mungkin dokter Micle teman Mama sebelumnya”
Hans hanya menganggukkan kepalanya dan memakan makanannya. Saat tengah sibuk makan meja Hans diketuk beberapa kali dengan seseorang.
Hans dan Selena menghentikan acara makan mereka dan mendongkakan kepala melihat siapa yang mengganggu mereka.
“Wah, ternyata aku tidak salah melihat. Kukira tadi aku salah orang Tuan muda Georgino”
Hans mengerutkan keningnya, siapa gadis yang baru saja berbicara kepadanya ini?.
“Mungkin kau lupa dengan ku Tuan muda. Aku adalah teman tunanganmu, Lila. Dan siapa gadis ini? Dia pacarmu?”
Nafas Hans tercekat seketika mendengar ucapan wanita itu. Sedangkan Selena langsung menjatuhkan sumpit yang sedang ia pegang mendengar ucapan wanita itu.
__ADS_1
“Dia simpananmu? Ceh, rendah sekali seleramu Tuan muda. Kukira kau tertarik kepada Nona dari keluarga besar, tapi kau malah mengencani gadis yang tidak bisa merias dirinya sendiri”
Selena terdiam, entah kenapa hatinya tetap sakit mendengar perkataan wanita itu meskipun ia sudah tau jika suaminya mempunyai tunangan. Ini lebih sakit daripada rasa sakit yang ibu mertuanya berikan kepadanya saat mengungkapkan bahwa suaminya sudah mempunyai tunangan yang harus dinikahinya.
“Cukup! Tutup mulutmu!” ucap Hans. Ia langsung menatap istrinya yang tengah diam tanpa berbicara apa-apa.
“Aku pulang dulu”
Selena langsung berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari restaurant itu. Hans dengan cepat langsung menyusul istrinya. Hans mencekal tangan Selena dan membawa tubuh itu masuk kedalam pelukannya.
“Maafkan aku…”
“Lepaskan aku Hans, tak baik jika teman tunanganmu melihatmu memelukku”
Degh!
Hans langsung terdiam mendengar ucapan istrinya, Selena mendorong tubuh Hans dengan pelan. Saat Hans mencoba menggapai tubuh Selena, Selena langsung memundurkan langkahnya.
“Selena…”
“Aku mau pulang…”
“Iya, kita kembali ke hotel. Kau harus istirahat”
“Aku mau pulang ke A.S”
“Aku mau pulang ke A.S!”
Hans terdiam, akhirnya. Kebohongan terbesarnya terungkap, ia tak bisa menutupinya lagi istrinya. Sekarang ia hanya bisa membujuk istrinya agar mau istirahat di hotel dan tetap disini hingga perawatannya selesai.
“Kenapa kau tidak pernah membahas ini kepadaku? Kenapa kau tidak pernah mengatakan kepadaku kalau kau mempunyai tunangan? Aku tau statusku hanya sebagai istri kontrakmu Hans, tapi bisakah kau menghargai istri kontrakmu ini?”
Hans terdiam tak berani menjawab perkataan istrinya. Selena menghapus air matanya kasar, ia dengan cepat berjalan masuk kedalam hotel tempatnya menginap. Hans mengacak rambutnya frustasi.
Hans segera berlari masuk kedalam hotel dan menuju ke kamarnya. Ia tersentak kaget melihat istrinya yang tengah memasukan baju kedalam koper. Ia segera mencekal kedua tangan Selena mencoba menghentikan Selena agar berhenti mengepak barang-barangnya.
“Kau mau kemana malam-malam seperti ini?” tanya Hans dengan nafas yang tak beraturan.
“Aku mau pulang! Aku tidak mau disini lagi!”
“Ini sudah malam, kau lebih baik istirahat”
“Aku tidak mau disini! Aku lebih baik pulang sendirian ke A.S daripada harus melihatmu menemani wanita lain disini!”
Degh!
__ADS_1
“Tidak! Aku tidak akan menemani wanita manapun, kau hanya akan menemanimu Okey? Sekarang ayo istirahat, sudah malam” ucap Hans. Ia benar-benar tak menyangka istrinya bisa berpikiran seperti itu. Ia harus menghabisi wanita itu yang telah membuat istrinya seperti ini.
“Aku mau pulang sekarang! Aku tak mau disini lagi!” tegas Selena.
“Besok! Besok kita pulang ke A.S! Aku janji, besok kita pulang. Tapi malam ini kau istirahat dulu disini. Ini sudah malam, jangan berbuat nekat”
Hans mengambil koper istrinya dan memasukannya kedalam lemari. Selena menggigit bibir bawahnya, ia lupa. Tidak seharusnya ia dekat dengan Hans yang akan segera menjadi suami orang lain. Tidak seharusnya ia merasa nyaman berada didekat Hans walaupun Hans suaminya.
“Aku kecewa kepadamu Hans…”
Hans menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan istrinya. Ia harus sabar, ia tidak boleh terpancing emosi dan kembali melukai istrinya untuk kesekian kali.
“Sudah malam, istirahatlah” ucap Hans.
“Aku akan pesan kamar lain”
“Tidak! Kau tidur disini!” jawab Hans langsung mengunci pintu. Ia tak akan membiarkan istrinya keluar dari kamar ini malam ini. Malam ini biarkan Selena meluapkan emosinya, Selena kecewa kepadanya setelah mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki tunangan. Selena harus menenangkan dirinya agar tidak terjadi pendarahan seperti 4 hari yang lalu karena terlalu banyak pikiran.
Hans mendekati Selena dan memeluk istrinya sembari meminta maaf.
“Aku tau aku sudah berbohong kepadamu mengenai ini. Tapi kumohon, jangan menjauhiku hanya karena ini. Kau boleh marah kepadaku, asalkan jangan menjauhiku”
“Hanya kau bilang?” Selena berucap dalam hati sembari menggigit bibir bawahnya.
“Aku lelah…aku ingin tidur”
“Iya, tidurlah”
Hans membantu istrinya berbaring. Selena memalingkan wajahnya saat Hans hendak mencium keningnya. Hans mengepalkan tangannya, gara-gara wanita itu istrinya menjadi seperti ini kepadanya.
*
Selena bangun dari tidurnya dengan perlahan. Ia menatap Hans yang tengah terlelap disebelahnya sembari menggenggam tangan kanannya. Ia memegang perutnya yang kembali terasa sakit.
“Hgh! Ah! Ugh…” Selena menggigit bibir bawahnya mencoba untuk mengontrol emosinya. Tanpa disadarinya tangan kanannya meremas kuat tangan Hans membuat Hans dengan perlahan bangun.
“Selena, ada apa sayang?” tanya Hans.
“Hans…perutku sakit lagi…”
Mata Hans langsung membulat sempurna. Ia langsung membuang selimut yang mereka pakai.
“!”
.
__ADS_1
.
.